Home / Romansa / Bos Besar Alergi Wanita Lain Selain Aku! / 134. Pesta di Atas Reruntuhan

Share

134. Pesta di Atas Reruntuhan

Author: Cia예요
last update publish date: 2026-10-01 20:25:46

Cahaya dari layar monitor besar berukuran dinding itu memantulkan pendar biru yang tajam di ruangan bawah tanah yang kedap suara. Di atas meja kerja marmer hitam, botol-botol kecil berisi cairan formula sabotase berjejer rapi berdampingan dengan gelas wiski yang isinya nyaris tandas.

Reno menyandarkan punggungnya pada sofa kulit dengan gestur sangat santai sambil memutar-mutar gelas di tangan kanannya.

Tatapannya sama sekali tidak lepas dari siaran berita televisi swasta yang sedang menayangka
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Bos Besar Alergi Wanita Lain Selain Aku!   217. Pengawasan Ketat

    Terik matahari siang menyengat halaman mansion Elvano. Zea tampak mondar-mandir di dekat gerbang utama yang menjulang tinggi, sesekali melongokkan kepalanya ke arah jalanan aspal. Beberapa pengawal bersetelan hitam berdiri sigap di sekitarnya dengan posisi tegap, menjaga setiap jengkal pergerakan sang nyonya rumah.Tak lama kemudian, suara deru mesin mobil terdengar dari kejauhan. Gerbang besi berukir rumit itu perlahan terbuka otomatis. Begitu mobil berhenti dan pintunya terbuka, sesosok pemuda melangkah keluar dengan wajah penuh drama.Ethan."Kakak Ipar!" seru Ethan dengan nada mendayu-dayu. Pemuda itu berlari kecil dengan tangan terbentang lebar, bersiap menghambur untuk memeluk Zea. "Penyelamat hidupku!"Namun, sebelum tubuhnya sempat menyentuh Zea, dua lengan kekar pengawal langsung membentang di udara, menahan dada Ethan dengan kuat hingga langkahnya terhenti seketika."Hei, Santai! Saya tidak akan menculik nyon

  • Bos Besar Alergi Wanita Lain Selain Aku!   216. Kambing Hitam Paling Malang

    Zea mendadak menahan napasnya di tengah pelukan Daren. Matanya yang tadinya masih memerah karena sisa isakan langsung mengerjap cepat. Otaknya berputar seribu kilometer per jam untuk mencari alasan paling masuk akal agar suaminya itu tidak curiga bahwa mereka baru saja mengotak-atik ruang kerja pribadi di lantai atas.Di sisi lain, Ethan yang tadinya pasrah karena merasa terpojok tiba-tiba bisa tersenyum lebar dan bernapas lega. 'Kena kau kakak ipar...'Pemuda itu melipat kedua tangannya di dada sambil menatap kakak iparnya dengan sorot penuh antisipasi, penasaran bagaimana cara Zea melepaskan diri dari pertanyaan maut tersebut."Kenapa diam saja?" tanya Daren sekali lagi dengan nada rendah yang menuntut jawaban, sementara tatapannya masih menghujam tajam ke arah Ethan. "Bagaimana bisa sepupuku itu bisa mengambil dokumen rahasia di dalam laci kerjaku?"Zea segera melepaskan pelukannya, menegakkan tubuhnya, lalu menyek

  • Bos Besar Alergi Wanita Lain Selain Aku!   215. Aduan Zea

    Suara ketukan dan informasi dari pelayan di balik pintu tadi berhasil membuyarkan ketegangan di dalam ruang kerja Daren. Zea langsung menatap ke arah Ethan dengan bibir yang kembali mengerucut kesal. Tanpa membuang waktu, ia menyambar kotak jahit beserta kain sulamannya, lalu menyodorkannya secara paksa ke dada pemuda itu."Cepat, simpan ini di belakang lemari di kamarku sekarang juga!" perintah Zea dengan nada berbisik tapi panik.Ethan menerima kotak itu dengan kedua tangan dalam kondisi masih melongo tidak percaya. "Tunggu, kenapa malah aku yang harus repot-repot menyembunyikannya?"Belum sempat Ethan memproses kebingungannya, Zea sudah melangkah terburu-buru ke arah pintu sambil menaikkan sedikit ujung gaunnya. "Pokoknya simpan yang benar. Aku mau turun ke bawah dan mau mengadukanmu pada Daren karena sudah membuatku menangis."Zea langsung beranjak lari keluar ruangan menyusuri koridor menuju tangga utama, meningg

  • Bos Besar Alergi Wanita Lain Selain Aku!   214. Drama Istri Barang Dagangan

    Ethan berdiri tegak di dekat sudut meja kerja Daren sambil memegang selembar dokumen tebal di tangan kanannya. Kepalanya menoleh ke arah Zea dengan alis yang bertaut rapat."Kakak Ipar, tunggu sebentar, dokumen apa ini sebenarnya?" tanya Ethan dengan nada penasaran yang kental. "Mengapa ada dua marga besar di sini? Ada nama keluarga Mahendra dan keluarga Elvano yang tercantum bersamaan dalam surat perjanjian ini."Zea yang tadinya asyik memegang jarum jahit seketika menghentikan gerakan tangannya. Ia mendongak pelan menatap kertas di tangan Ethan. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, sudut bibirnya langsung melengkung drastis ke bawah secara dramatis. Dalam hitungan detik, matanya memerah dan berkaca-kaca, memperlihatkan genangan air mata yang siap tumpah kapan saja.Ethan melotot kaget bukan kepalang. Dokumen di tangannya nyaris terlepas. "Hei! Kakak Ipar, kau kenapa? Ada apa mendadak begini? Kenapa wajahmu jadi murung begitu?"Zea tidak menjawab pertanyaan itu. Ia malah menunduk s

  • Bos Besar Alergi Wanita Lain Selain Aku!   213. Sulam Rahasia di Ruang Kerja

    Sepeninggal Daren yang melangkah pergi keluar mansion dengan setelan jas rapi serta aura dominannya, suasana lantai dua seketika terasa jauh lebih longgar. Zea yang tadinya berdiri di dekat jendela kamar langsung berbalik badan, menyusun rencana di dalam kepalanya. Tanpa membuang waktu, ia membuka pintu kamar dan memanggil Ethan yang kebetulan masih bersantai di lorong luar."Ethan!" panggil Zea setengah berbisik namun tegas.Ethan yang sedang meregangkan otot lehernya menoleh dengan sebelah alis terangkat. Langkah kakinya mendekat ke ambang pintu kamar Zea. "Ada apa lagi, Kakak Ipar? Jangan bilang kau mau minta tolong untuk membelikan makanan manis di luar, karena penjaga di bawah tidak akan membiarkan kaki ku melangkah keluar gerbang.""Bukan itu," jawab Zea cepat seraya menarik lengan pemuda itu agar masuk ke dalam kamar. "Cepat, pergi ke ruang kerja Daren sekarang juga."Ethan mengerutkan keningnya, menatap Zea dengan ekspresi heran bercampur curiga. "Untuk apa aku masuk ke ru

  • Bos Besar Alergi Wanita Lain Selain Aku!   212. Pengawasan Ethan

    Sinar matahari pagi merayap masuk menembus celah jendela kaca besar di lantai bawah mansion Elvano, memantulkan kilau keemasan di atas permukaan lantai marmer yang bersih.Di ruang makan yang luas dan megah, Ethan sudah duduk santai di salah satu kursi utama. Ia mengenakan kaus kasual berwarna putih, menikmati secangkir kopi hangat sambil sesekali mengetuk-ngetukkan jarinya ke atas meja. Di hadapannya, beberapa piring saji berisi roti panggang, telur orak-arik, dan buah segar telah tersaji rapi, menunggu untuk disentuh.Tidak lama kemudian, suara derap langkah kaki terdengar menuruni anak tangga utama. Ethan mendongakkan kepalanya, mendapati sosok Zea dan Daren berjalan berdampingan memasuki ruang makan.Melihat kehadiran pasangan suami istri itu, Ethan langsung memasang ekspresi jenaka. Ia meletakkan cangkir kopinya pelan-pelan ke atas piring kecil."Wah, wah, wah," seru Ethan dengan nada dibuat-buat keras, menyandarkan punggungnya ke kursi. "Pasangan pengantin baru kita akhirnya t

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status