Home / Romansa / Bos Galak, I Love U / Bab 3 # Bos Galak yang Panik

Share

Bab 3 # Bos Galak yang Panik

last update Last Updated: 2026-01-04 15:18:21

Tubuh Inara ambruk tepat di depan mereka.

“INARA!”

Suara panik itu keluar lebih dulu dari mulut Nizam bahkan sebelum siapa pun sempat bergerak.

Detik berikutnya, ruangan mendadak kacau. Bunga refleks menjerit, Dimas berdiri kaku dengan wajah pucat, Pak Seno langsung melangkah cepat, sementara Riza nyaris menjatuhkan map yang ia pegang.

“Inara! Bangun!” Bunga mengguncang bahu gadis itu.

Inara tak bergerak. Wajahnya pucat, bibirnya kebiruan, napasnya sangat pelan.

“Cepat panggil dokter!” perintah Nizam keras.

Semua tersentak. Nizam Respati Anwar. CEO yang biasanya dingin, galak, dan anti kepanikan. kini suaranya meninggi, rahangnya mengeras, dan kedua tangannya mengepal kuat.

“Jangan heboh!” lanjutnya. “Kalau karyawan lain tahu, semua bisa panik!”

Pak Seno mengangguk cepat. “Baik, Pak. Saya hubungi dokter perusahaan sekarang.”

“Riza!” Nizam menoleh tajam. “Bawa dia ke ruang istirahat saya. Sekarang.”

Riza tidak bertanya. Ia langsung mengangkat tubuh Inara dengan hati-hati, dibantu Dimas. Bunga menyusul dengan wajah cemas.

Semua mata memperhatikan satu hal yang sama, Bos mereka panik, itu membuat semua orang bingung. Sejak kapan Nizam Respati Anwar tidak alergi perempuan?

***

Ruang istirahat pribadi CEO terasa hangat dan tenang. Inara dibaringkan di sofa panjang, kepalanya dialasi bantal empuk. Nizam berdiri tak jauh dari sana, mondar-mandir seperti singa gelisah.

“Pak,” ujar Pak Seno hati-hati, “mungkin karena bajunya basah sejak pagi jadi tubuhnya drop.”

Nizam menoleh cepat. “Panggil Jihan. Suruh ambil pakaian kerja dari butik perusahaan. Ukuran M.”

Pak Seno sedikit terkejut, tapi langsung mengangguk. “Baik, Pak.”

“Bunga,” kata Nizam lagi. “Kamu yang ganti bajunya nanti.”

Bunga tersentak. “Iya, Pak?”

“Ayo.. cepat.”

Nada itu tak bisa dibantah.

Dokter datang tak lama kemudian. Pemeriksaan berlangsung singkat namun serius. Tekanan darah Inara rendah, tubuhnya kelelahan, dan kedinginan cukup parah.

“Dia pingsan karena kelelahan dan hipotermia ringan, syukurnya tidak berbahaya” jelas dokter.

Semua menghembuskan napas lega kecuali Nizam yang masih berdiri kaku.

Setelah pakaian diganti dan cairan infus ringan dipasang, beberapa menit kemudian kelopak mata Inara bergetar. Ia sadar.

“Hmm…” gumamnya lemah.

“Inara!” Bunga langsung mendekat. “Kamu sudah sadar.”

Inara membuka mata perlahan. Pandangannya buram, langit-langit itu terasa asing, dan tercium nau obat dan melihat wajah bos galaknya.

“Belum juga bekerja,” suara Nizam terdengar dingin, “kamu sudah bikin repot satu kantor.”

Kalimat itu terdengar menyebalkan, air mata Inara akhirnya menetes. Ia menoleh ke samping, menggigit bibir, berusaha menahan isak, adanya sesak. Baginya hari ini terlalu berat, terlalu banyak kejutan dan terasa melelahkan.

Nizam terdiam, ia tidak menyangka reaksi Inara seperti itu. Ada sesuatu yang mencubit dadanya ketika melihat gadis itu menangis diam-diam tanpa drama dan keluhan.

“Sudah,” katanya lebih pelan. “Istirahat saja.”

Tanpa menunggu jawaban siapa pun, ia berbalik dan keluar dari ruang istirahat. Semua saling pandang.

Bos mereka… pergi?

**

Di ruang kerjanya, Nizam duduk sendiri.

Ia membuka laci meja, mengambil dua keping uang koin tua, benda yang selalu menemaninya sejak dulu. Ia menggenggamnya erat, menunduk, napasnya berat.

Riza masuk tanpa suara. Ia tahu tanda itu. Saat bosnya memegang dua koin itu, artinya hatinya sedang tidak baik-baik saja.

“Bagaimana Inara Bos?” tanya Riza pelan.

“Sudah mendingan, oh iya besok saja pengarahan dari saya. Hari ini mereka bertiga suruh pulang dulu.”

“Baik, Bos.”

“Antar Inara pulang ke rumahnya.”

Riza mengangkat alis. “Bos...”

“Antar,” potong Nizam tajam.

Riza mengangguk. “Siap.”

Ia melangkah keluar sambil menghela napas kecil. Bosnya semakin aneh.

**

Di dalam mobil, Inara duduk di kursi penumpang. Wajahnya masih pucat, tapi sudah lebih segar.

“Pak, maaf ya,” katanya lirih. “Saya jadi merepotkan.”

Riza tersenyum kecil. “Santai saja.”

“Saya Inara,” lanjutnya. “Bapak siapa namanya?”

“Jangan panggil bapak,” jawab Riza cepat. “Panggil Riza saja. Sepertinya usia kamu paling di bawah saya dua atau tiga tahun.”

Inara berpikir sejenak. “Baiklah, Bang Riza.”

Riza terkekeh. “Boleh.”

Mereka mulai mengobrol ringan.

“Bang,” kata Inara penasaran. “Bapak eh, pimpinan kita itu, memang galak banget, ya?”

Riza hampir tertawa, tapi menahan diri. “Iya. Emang begitu.”

“Oh.” Inara mengangguk. “Berarti tiap hari galak?”

“Tergantung,” jawab Riza santai. “Tapi lebih sering galaknya.”

Mereka tertawa kecil.

“Berarti kita harus siapin obat tensi bang, biar beliau nggak marah-marah terus.”

Riza akhirnya tertawa lepas. “Wah, ini harus saya sampaikan ke Pak Nizam.”

“Dasar tukang ngadu!” Inara protes.

Tawa mereka pecah bersamaan.

“Rumah kamu di mana?” tanya Riza.

“Perumahan Citra Delima, nomor lima.”

“Kamu tinggal sendiri?”

“Iya, Bang. Mama saya sudah meninggal. Papa tinggal di Semarang, ngurus nenek.”

“Oh…” Riza mengangguk pelan.

Setelah sampai, Inara turun.

"Bang makasih ya sudah nganter aku sampe depan rumah"

“Abang nggak mampir, ya. Nanti Pak Nizam tambah galak ke saya. Istirahat yang baik"

Riza melaju meninggalkan Inara yang sudah masuk ke rumahnya.

**

Sore itu, Riza kembali ke kantor. Baru saja ia masuk, suara dingin menyambutnya.

“Kamu sudah antar sampai rumahnya?”

Riza terhenti. “Iya, Bos. Emang kenapa?”

“Tidak kenapa-kenapa,” jawab Nizam cepat. “Saya hanya memastikan kamu benar-benar mengantarkannya.”

Riza menatap bosnya lama. “Dasar bos somplak,” gumamnya pelan.

“Jelas saya antar. Kalau tidak, pasti Bos marah ke saya.”

Nizam tidak menanggapi.

Riza hendak berjalan pergi dari ruangan bosnya untuk melanjutkan pekerjaan, tapi otaknya berpikir, sejak kapan bosnya peduli pada seorang perempuan? Kenapa nama Inara Prameswari terdengar semakin sering berputar di ruangan itu?

Setelah Riza menutup pintu ruangannya, Nizam kembali duduk sendirian.

Tangannya terangkat, memandangi dua koin lama yang sejak tadi ia genggam. Koin itu sudah kusam, warnanya memudar, namun ia masih menjaganya seperti harta paling berharga. Jemarinya mengusap permukaannya pelan, seolah takut kenangan di baliknya ikut hilang.

“Nana…” gumamnya lirih.

Ingatan Nizam melayang jauh ke masa kecil.

Ia tumbuh dalam kesepian. Mama dan papanya sibuk dengan bisnis, sering bepergian ke luar negeri, meninggalkannya berdua dengan seorang maid di rumah besar yang terasa dingin. Hari-harinya sunyi sampai Nana datang.

Gadis kecil itu tinggal tak jauh dari rumahnya. Selalu ceria dan selalu menarik tangannya untuk bermain ke taman kompleks. Ia selalu menemani Nizam bermain, tertawa, sehingga ia merasa tidak sendiri. Saat itu usianya baru sembilan tahun, sedangkan Nana baru tujuh tahun.

“Bang Izam,” kata Nana kala itu sambil duduk di ayunan. “Kalau kita sudah besar, Nana mau menikah sama Bang Izam.”

Nizam kecil tertawa. “Kenapa kamu mau menikah sama abang?”

“Soalnya Bang Izam baik dan tampan,” jawab Nana polos. “Bener kan?”

“Emangnya abang baik Na,” sahut Nizam.

“Iya, abang sangat baik, Nana suka Bang Izam. Abang janji ya, kalau sudah besar, abang nikahi Nana.”

Nizam kecil terdiam sejenak, lalu mengangguk. “Iya nanti kalau kita sudah besar ya. Abang janji.”

Senyum Nizam kini mengembang tipis.

“Na…” bisiknya, “bagaimana abang bisa mencari kamu dan menikahi kamu, kalau abang bahkan tidak tahu harus ke mana mencarimu…”

Koin di tangannya kembali mengingatkannya pada hari perpisahan itu. Hari ketika Nana dan orang tuanya pindah ke luar kota.

Saat orang tuanya sibuk mengurus koper, Nana menghampirinya diam-diam dan menyelipkan dua koin ke tangannya.

“Bang,” katanya lembut, “ini simpan uang jajan Nana. Nanti kita beli es krim ya, waktu Nana balik ke sini lagi.”

Namun Nana tak pernah kembali. Sejak hari itu, Nizam menunggu dan menunggu. Ketukan pintu memecah lamunannya.

“Masuk,” ucap Nizam.

Pintu terbuka.

“Papa?” Nizam berdiri. “Kenapa nggak bilang mau datang? Aku bisa jemput.”

Tak lama, mamanya menyusul. Di belakang mereka, seorang gadis cantik melangkah anggun.

“Nizam, sayang,” ujar mamanya. “Masih ingat? Ini sepupu kamu Bella. Dia mau belajar bekerja di perusahaan ini.”

“Silakan saja,” jawab Nizam singkat.

Bella tersenyum. “Hai, Nizam. Ketemu lagi kita.”

“Hai, Bella.”

Hari itu, Nizam tidak kembali bekerja. Ia makan siang bersama orang tuanya, pulang ke rumah lama, dan di sanalah, sebuah kalimat terlontar ringan namun menghantam keras hatinya.

“Papa dan Mama pikir, Bella cocok jadi tunangan kamu.”

Nizam terdiam, dua koin di saku celananya ia genggam begitu kuat hingga ia merasa ucapan itu terasa seperti beban berat.

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Bos Galak, I Love U   Bab 9 # Makin Galak

    Di lantai dua puluh lima Niaga Perkasa, suasana kantor masih terasa tegang meski jam kerja hampir usai. Beberapa karyawan memilih bertahan di depan layar, berpura-pura sibuk, hanya agar tak perlu berpapasan langsung dengan sang bos galak yang sejak pagi seperti kehilangan rem. Di ruangannya, Nizam Respati Anwar berdiri membelakangi pintu, menatap jendela besar tanpa benar-benar melihat apa pun. Bayangan Inara bersama pria itu terus terulang di kepalanya. Cara Inara tersenyum, cara pria itu menunduk sedikit saat berbicara, cara mereka berjalan berdampingan terlihat cocok. Nizam mengembuskan napas keras. Kenapa aku peduli? Pintu diketuk pelan. “Masuk,” ucapnya dingin. Bella melangkah masuk, mengenakan gaun kerja elegan. Senyum tipis terukir di bibirnya, senyum yang sudah ia latih bertahun-tahun. “Belum pulang zam?” tanyanya lembut.

  • Bos Galak, I Love U   Bab 8 # Larangan Aneh

    “JANGAN MEMBELA.” Nada Nizam meninggi. “Kamu lulusan luar negeri, kan?” “Iya, Pak.” “Harusnya kamu tahu, angka sekecil ini bisa berdampak besar!” Inara mencoba tenang. “Kalau Bapak beri saya waktu ...” “WAKTU?!” Nizam berdiri. Kursinya bergeser keras. “Kamu pikir perusahaan ini mainan?!” Inara tercekat. “Saya tidak pernah bilang begitu, Pak.” “Ekspresi kamu bilang.” Hening. Inara menggenggam jemarinya. Dadanya naik turun. “Pak,” katanya pelan tapi tegas, “kalau ada kesalahan, saya siap diperbaiki. Tapi saya tidak bisa bekerja dengan teriakan.” Kalimat itu jatuh seperti bom kecil. Riza yang berdiri di sudut ruangan refleks menoleh. Nizam menatap Inara lama. “Kamu mengajari saya cara memimpin?” “Tidak,” jawab Inara lirih. “Saya hanya ingin bekerja dengan sehat.” Hening makin menekan. “Keluar.” Suara Nizam rendah. Dingin. “Sekarang.” Inara menunduk singkat. “Baik, Pak.” Begitu pintu tertutup, Riza menghela napas panjang. “Bos…” “JANGAN B

  • Bos Galak, I Love U   Bab 7 # Kembali ke Setelah Awal

    HAH?!” “Turki loh, Inara!” “Pak bos ke mana?” “Lagi jalan sama Mbak Bella.” “Yah… nggak seru dong.” Inara mengangkat bahu. “Nggak apa-apa. Anggap aja istirahat pindah tempat.” “Dasar kamu,” kata Bunga. “Masih saja mencoba menghibur hati.” Inara tersenyum. Panggilan ditutup. Baru saja ponsel ditaruh, layar menyala lagi. Radit menelepon. “Nana?” “Iya, Mas.” “Loh ... kenapa dengan suara kamu terdengar sengau?” “Aku flu Mas” “Kamu di mana?” “Di Turki.” Hening. “…Turki?” “Iya, Mas. Dapet doorprize dari kantor. Liburan bareng bos.” “Kamu ke Turki bareng bos?” “Iya.” Inara bersin. “Matikan dulu. Aku video call,” kata Radit cepat. Panggilan terputus, lalu muncul video call Radit. Begitu wajah Inara muncul di layar, Radit mengernyit. “Kamu demam flu,” katanya tegas. “Kelihatan banget ya?” “Kamu pucat.” “Cuma flu Mas.” “Kamu pasti kebanyakan permen sama es krim.” Inara tertawa kecil. “Mas selalu tau.” “Kamu dari dulu gitu.” “Mas ngapain n

  • Bos Galak, I Love U   Bab 6 # Yang Tak Terucapkan

    “Zam… itu bukankah Inara?” Nizam menoleh. Diam. Di sudut kafe, Inara duduk santai. Hoodie dilepas, rambutnya digerai. Ia tertawa lepas bersama dua pria dan satu wanita lokal. Bahasa Turki dan Inggris bercampur, terdengar akrab. “Dia kelihatan enjoy dan nyaman,” Bella berkomentar pelan. Nizam tidak menjawab, Bella melangkah lebih dulu. “Inara?” Inara menoleh. “Oh… Pak Nizam. Mbak Bella.” Ia berdiri refleks. “Kamu di sini?” tanya Bella, senyumnya tipis. “Iya. Ketemu teman lama,” jawab Inara santai. Nizam akhirnya bicara. “Kamu bilang tadi sedang di luar.” “Iya, Pak. Ini maksudnya,” jawab Inara jujur, tanpa nada defensif. Bella menoleh ke teman-teman Inara. “Teman kuliah?” “Teman magang dulu,” salah satu pria Turki menyahut ramah. “Oh,” Bella mengangguk. “Pantas kelihatan akrab.” Hening sebentar. Nizam berdehem. “Kamu tidak ikut jalan hari ini.” Inara tersenyum kecil. “Bapak kelihatan sibuk. Saya tidak enak.” “Itu bukan maksud saya,” suara Niz

  • Bos Galak, I Love U   Bab 5 # Di Bawah Bulan yang Sama

    Family gathering Niaga Perkasa akhirnya terlaksana sesuai rencana. Area perkemahan yang luas di kaki perbukitan itu dipenuhi tenda-tenda karyawan yang berdiri rapi, berjajar seperti barisan kecil penuh harapan. Tawa dan suara riuh bercampur dengan aroma tanah basah dan asap api unggun yang mulai menyala satu per satu. Di bagian yang sedikit lebih tinggi, agak terpisah dari keramaian, berdiri satu tenda berwarna gelap. Tenda itu milik Nizam Respati Anwar. Sejak kecil, Nizam memang terbiasa dengan jarak bahkan saat berkemah. Kemah mengingatkannya pada halaman rumah masa kecilnya, tempat ia sering memasang tenda kecil bersama Nana. Mereka tidak pernah membawa peralatan lengkap. Tidak ada matras mahal atau lampu gantung. Hanya tikar tipis, beberapa makanan ringan, kue-kue dari rumah, dan segenggam permen manis yang selalu Nana simpan di saku bajunya, namun justru di situlah tawa paling jujur pernah lahir. Di dalam tendanya, Nizam bisa mendengar sorak-sorai karyawan yang sedang

  • Bos Galak, I Love U   Bab 4 # Aura yang Mengusik

    Di rumah orang tuanya, Nizam duduk dengan punggung tegak. Suasana ruang keluarga terasa hangat, namun pikirannya tak sepenuhnya berada di sana. Ia berusaha menghormati keinginan papa dan mamanya, tapi ada batas yang ingin ia jaga. “Pa,” ucapnya akhirnya, suaranya tenang. “Apa tidak terlalu dini kalau kita langsung bicara soal pertunangan?” Papa menatapnya lama. “Zam, Papa pikir kamu sudah waktunya memikirkan dirimu sendiri. Papa lihat kamu tidak pernah ada inisiatif mendekati perempuan. Kamu masih normal, kan?” Nizam menghela napas pelan. “Pa, bukan begitu. Nizam hanya belum siap berkomitmen. Nizam ingin fokus bekerja dulu.” Mamanya tersenyum lembut, mencoba menengahi. “Pelan-pelan saja. Anggap penjajakan, saling mengenal dulu.” “Ya,” sambung Papa. “Papa dan Mama juga tidak memaksa Zam.” Nizam mengangguk. “Kalau sebatas penjajakan, Nizam bisa terima. Tapi untuk bertunangan sepertinya tidak. Nizam belum ada rencana ke sana Pa, Ma.” Papa tersenyum kecil. “Terserah kamu.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status