Beranda / Romansa / Bos Galak, I Love U / Bab 6 # Yang Tak Terucapkan

Share

Bab 6 # Yang Tak Terucapkan

Penulis: Pelangi Jelita
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-06 16:00:16

“Zam… itu bukankah Inara?”

Nizam menoleh.

Diam.

Di sudut kafe, Inara duduk santai. Hoodie dilepas, rambutnya digerai. Ia tertawa lepas bersama dua pria dan satu wanita lokal. Bahasa Turki dan Inggris bercampur, terdengar akrab.

“Dia kelihatan enjoy dan nyaman,” Bella berkomentar pelan.

Nizam tidak menjawab, Bella melangkah lebih dulu.

“Inara?”

Inara menoleh.

“Oh… Pak Nizam. Mbak Bella.”

Ia berdiri refleks.

“Kamu di sini?” tanya Bella, senyumnya tipis.

“Iya. Ketemu teman lama,” jawab Inara santai.

Nizam akhirnya bicara.

“Kamu bilang tadi sedang di luar.”

“Iya, Pak. Ini maksudnya,” jawab Inara jujur, tanpa nada defensif.

Bella menoleh ke teman-teman Inara.

“Teman kuliah?”

“Teman magang dulu,” salah satu pria Turki menyahut ramah.

“Oh,” Bella mengangguk. “Pantas kelihatan akrab.”

Hening sebentar. Nizam berdehem.

“Kamu tidak ikut jalan hari ini.”

Inara tersenyum kecil.

“Bapak kelihatan sibuk. Saya tidak enak.”

“Itu bukan maksud saya,” suara Nizam sedikit meninggi.

Bella melirik Nizam.

“Zam…”

Inara cepat menimpali.

“Tidak apa-apa, Pak. Saya senang kok. Saya sudah sering ke sini.”

Nizam menatapnya.

“Kamu pernah ke Turki?”

“Iya. Dua tahun lalu.”

“Oh.”

Nada Nizam terdengar kecewa, Bella tersenyum canggung.

“Wah, berarti Inara lebih berpengalaman dari kita ya.”

Inara tertawa kecil.

“Kebetulan saja.”

Salah satu teman Inara berbisik,

“Is that your boss?”

Inara mengangguk.

“Yes.”

“Oh wow,” mereka terkekeh.

Bella merasa tidak nyaman.

“Zam, kita duduk saja ya. Mereka pasti mau lanjut ngobrol.”

Nizam menatap Inara.

“Kamu pulang jam berapa?”

“Belum tahu. Mungkin sebentar lagi.”

“Jangan pulang terlalu malam.”

Inara terkejut.

“Iya, Pak.”

Bella menyela, agak tajam.

“Kamu seperti ayahnya, Zam.”

Nizam tidak menjawab. Inara tersenyum sopan.

“Permisi, saya lanjut dulu.”

Ia duduk kembali.

Saat Nizam berbalik pergi, ia mendengar tawa Inara lagi. Entah kenapa, dadanya terasa sesak.

“Zam,” Bella memanggil.

“Kamu kenapa?”

Nizam menghela napas.

“Nggak apa-apa.”

“Tapi dari tadi kamu diam.”

Nizam berhenti melangkah.

“Bella kamu pernah merasa tidak suka melihat seseorang tertawa dengan orang lain?”

Bella terdiam.

“Itu nada cemburu?”

Nizam tidak menjawab. Ia melangkah pergi. Di belakang mereka, Inara masih tertawa tanpa tahu bahwa satu tawa kecilnya barusan, mengacaukan hati bos galaknya.

**

Bella semakin yakin sejak semalam.

Bukan ucapan Nizam, karena pria itu nyaris tak pernah membuka isi kepalanya melainkan dari caranya terdiam. Dari tatapan yang terlalu lama dan bahunya yang menegang saat nama itu disebut.

“Inara itu ramah sekali, ya,” kata Bella sambil mengaduk kopinya di area sarapan hotel.

Nizam mengangguk. “Dia memang begitu. Profesional.”

Bella tersenyum tipis. “Profesional atau memang nyaman?”

Nizam berhenti mengaduk tehnya. “Apa maksud kamu?”

Bella menyandarkan tubuh. “Aku cuma merasa, kamu terlihat beda kalau bicara sama dia.”

“Jangan berlebihan,” jawab Nizam pendek.

“Berlebihan?” Bella tertawa kecil. “aku cuma jujur membaca situasi?”

Nizam berdiri. “Sarapan saja dulu.”

Bella menatap wajah Nizam dalam diam. Hatinya yakun ia harus menguatkan satu hal : Nizam menyukai Inara dan ia tak akan diam.

**

Siang itu Bella sengaja mendekati Inara di lobi hotel.

“Inara,” sapanya ramah.

“Oh, Mbak Bella.”

“Kamu nggak jalan jalan?” tanya Bella.

Inara tersenyum ringan. “Belum tahu. Apakah Mbak Bella sama Pak Nizam sudah ada agenda.”

Bella mendekat sedikit, suaranya direndahkan.

“Kami memang mau menghabiskan waktu bersama sebelum rencana penjodohkan keluarga dilaksanakan”

Inara mengangguk. “oh begitu, pendekatan dulu ya mbak.”

“Iya, maklum orang tua kami sama sama serius,” lanjut Bella. “Mungkin setelah ini, apabila sudah merasa yakin, baru tunangan.”

“Selamat ya mbak, Semoga lancar,” jawab Inara tulus.

Bella berharap ada perubahan tapi Inara terlalu tenang. Nizam datang.

“Ngobrol apa?”

“Ngobrol biasa,” jawab Bella cepat, lalu menggandeng lengan Nizam.

Inara menangkap satu hal kecil, Nizam tak membalas genggaman itu namun ia pura-pura tak melihat.

**

Keesokan harinya, Bella tak keluar kamar.

“Zam, aku lagi dapet, ,” katanya dari balik pintu. “Sakit.”

“Perlu dokter?”

“Nggak. Aku cuma mau istirahat saja.”

“Baiklah kalau begitu.”

Sekitar jam sepuluh, Nizam turun ke lobi. tepat di depan pintu hotel, ia melihat Inara.

“Kamu mau ke mana?” tanya Nizam.

“Mau jalan-jalan, Pak.”

“Sendirian?”

“Iya, oh ya, Mbak Bella kemana, kok Bapak sendirian.”

Nizam menghela napas. “Bella lagi istirahat. lagi menstruasi hari pertama. Saya suntuk pingin keluar tapi nggak tahu mau ke mana.”

Inara tersenyum. “Kalau Bapak mau ikut saya saja pak?”

“Ke mana?”

“Kuzguncuk.”

“Kuz… apa?”

“Kuzguncuk,” ulang Inara. “Kampung kecil di sisi Istanbul.”

Nizam mengernyit. “Bagus?”

“Indah,” jawab Inara mantap. “tenang juga.”

Nizam tersenyum. “Ayo.”

Begitu sampai, Nizam terdiam.

“Ini…”

“Kuzguncuk,” kata Inara. “Kampung tua. Rumahnya masih warna-warni. Masjid, gereja, dan sinagog berdiri berdekatan.”

“Jarang turis ke sini,” ucap Nizam datar.

“Karena orang lebih suka tempat ramai,” jawab Inara. “Padahal di sini, Istanbul terasa manusiawi.”

Mereka berjalan pelan.

“Dulu tempat ini rumah seniman,” lanjut Inara. “Penyair, pelukis. Mereka bilang, kalau hati lagi penuh, datanglah ke Kuzguncuk.”

Nizam menatap Inara. “Kamu tahu banyak.”

“Karena dulu aku sering ke sini sendirian,” jawabnya jujur.

Mereka duduk di bangku kayu.

“Kamu suka permen, ya?” tanya Nizam.

Inara tertawa. “Kelihatan?”

“Bungkusnya banyak.”

“Kalau lagi tenang, aku bisa makan tanpa sadar.”

Nizam tersenyum.

Saat Inara berdiri menatap pemandangan Selat Bosphorus, Nizam diam-diam memotret.

“Kok Bapak motret saya?” tanya Inara.

“Kamu cocok sama tempat ini.”

“Sebagai guide?”

“Bukan, Sebagai kamulah.”

Hening.

“Boleh Foto bareng?”

“Boleh.”

Inara tertawa lepas saat swafoto itu diambil.

Sebelum pulang, Inara mengajak ke Eminönü.

“Ini pusat jajanan paling jujur di Istanbul,” katanya.

“Maksudnya?”

“Murah, rame, dan rasanya asli.”

Mereka mencicipi balik ekmek.

“Kalau mau yang anak muda,” lanjut Inara,

“kita ke Karaköy.”

Di sana mereka mencoba kopi Turki dan dessert kecil, terakhir, Inara berhenti di penjual es krim.

“Beli yang besar,” katanya.

“Kamu yakin?”

“Yakin.”

Mereka duduk, Inara menyendok es krim besar. Nizam menatapnya.

“Kamu kayak anak kecil.”

“Kenapa?”

“Takut es krimnya direbut.”

Inara menoleh. “Bapak mau?”

“Nggak.”

Inara menyendok lagi dan menyodorkannya.

“Buka.”

“Inara…”

“Buka.”

Nizam menyerah. Saat itu dadanya terasa hangat, seperti Nana dulu.

**

Malamnya, Nizam memesan obat flu.

“Kalau sudah makan es krim besar, besok pasti pilek,” gumamnya.

Benar saja, pagi itu Inara sakit. Nizam mengetuk kamarnya.

“Kamu kenapa?”

“Flu.”

“Sudah besar masih saja bablas makan es krim,” katanya sambil menyerahkan obat.

“Minum. Istirahat.”

“Makasih, Pak.”

“Aku keluar sama Bella sebentar.”

“Iya.”

Namun sepanjang jalan, pikirannya tertinggal. Di Kuzguncuk, Eminönü dan pada Inara. Nizam tahu, yang tak diucapkan itu mulai menunjukkan rasa yang ia punya..

**

Ke sini lagi?” tanya Bella sambil merapikan rambutnya.

“Iya,” jawab Nizam singkat.

“Bukannya kemarin sudah?”

“Turis biasanya begitu. kadang penasaran”

Bella tertawa kecil. “Aku kira kamu suka tempat klasik.”

Nizam mengangguk, tapi matanya kosong. Langkahnya memang menyusuri jalanan Istanbul yang terasa berulang, foto-foto diambil, kopi dipesan, senyum dilempar, semuanya rapi, semuanya tepat, tapi semuanya terasa datar.

“Zam, kamu nggak capek?” tanya Bella.

“Biasa saja.”

“Kalau capek bilang, Zam.”

“Iya.”

Bella berhenti, menatap wajahnya. “Kamu kenapa sih dari tadi diam terus, lagi mikirin apa?”

“Enggak apa-apa.”

Bella menghela napas. Ia bisa merasakan satu hal yang mengganggu, Nizam ada di sini, tapi pikirannya tidak.

**

Di kamar hotel lain, Inara masih meringkuk di balik selimut.

“Haduh…”

Ia bersin keras, lalu terdengar notif pesan dari ponse ldan meraihnya. Pesan masuk dari Bunga.

Bunga :

Inara, gimana Turki? Seru nggak?

Inara :

Biasa aja. Aku malah demam.

Tak sampai semenit, layar ponselnya bergetar. Video call masuk.

“Eh?! INARA?!”

Teriakan itu membuat Inara sampai menjauhkan ponsel di kasur. Di layar muncul wajah Bunga dan dua teman lain di satu ruangan.

“Kok kamu tiduran?!”

“Lah, kirain lagi foto-foto estetik!”

“Bos galaknya mana?”

***

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Bos Galak, I Love U   Bab 10 # Yang Terucap

    Ruangan itu mendadak terasa sempit. Nizam berdiri kaku di dekat pintu, sementara Inara masih berdiri beberapa langkah dari papanya. Wajahnya jelas menyimpan keterkejutan bukan hanya karena pertemuan tak terduga, tapi karena situasi yang terasa… janggal. “Inara,” ulang Gunawan dengan suara hangat. “Silakan duduk.” Inara menoleh sekilas ke arah Nizam, lalu menurut. “Papa kenal Inara dari mana?” tanya Nizam akhirnya, berusaha terdengar biasa. Gunawan menyesap kopinya dengan santai. “Kemarin di mall.” Nizam mengernyit. “Mall?” Gunawan mengangguk. “Papa kecopetan. Jatuh dan karyawanmu ini yang menolong.” Inara langsung menunduk. “Kebetulan saja, Pak.” “Kebetulan yang sangat berarti,” jawab Gunawan cepat. “Bahkan membayarkan belanjaan Papa lima juta lebih.” Niz

  • Bos Galak, I Love U   Bab 9 # Makin Galak

    Di lantai dua puluh lima Niaga Perkasa, suasana kantor masih terasa tegang meski jam kerja hampir usai. Beberapa karyawan memilih bertahan di depan layar, berpura-pura sibuk, hanya agar tak perlu berpapasan langsung dengan sang bos galak yang sejak pagi seperti kehilangan rem. Di ruangannya, Nizam Respati Anwar berdiri membelakangi pintu, menatap jendela besar tanpa benar-benar melihat apa pun. Bayangan Inara bersama pria itu terus terulang di kepalanya. Cara Inara tersenyum, cara pria itu menunduk sedikit saat berbicara, cara mereka berjalan berdampingan terlihat cocok. Nizam mengembuskan napas keras. Kenapa aku peduli? Pintu diketuk pelan. “Masuk,” ucapnya dingin. Bella melangkah masuk, mengenakan gaun kerja elegan. Senyum tipis terukir di bibirnya, senyum yang sudah ia latih bertahun-tahun. “Belum pulang zam?” tanyanya lembut.

  • Bos Galak, I Love U   Bab 8 # Larangan Aneh

    “JANGAN MEMBELA.” Nada Nizam meninggi. “Kamu lulusan luar negeri, kan?” “Iya, Pak.” “Harusnya kamu tahu, angka sekecil ini bisa berdampak besar!” Inara mencoba tenang. “Kalau Bapak beri saya waktu ...” “WAKTU?!” Nizam berdiri. Kursinya bergeser keras. “Kamu pikir perusahaan ini mainan?!” Inara tercekat. “Saya tidak pernah bilang begitu, Pak.” “Ekspresi kamu bilang.” Hening. Inara menggenggam jemarinya. Dadanya naik turun. “Pak,” katanya pelan tapi tegas, “kalau ada kesalahan, saya siap diperbaiki. Tapi saya tidak bisa bekerja dengan teriakan.” Kalimat itu jatuh seperti bom kecil. Riza yang berdiri di sudut ruangan refleks menoleh. Nizam menatap Inara lama. “Kamu mengajari saya cara memimpin?” “Tidak,” jawab Inara lirih. “Saya hanya ingin bekerja dengan sehat.” Hening makin menekan. “Keluar.” Suara Nizam rendah. Dingin. “Sekarang.” Inara menunduk singkat. “Baik, Pak.” Begitu pintu tertutup, Riza menghela napas panjang. “Bos…” “JANGAN B

  • Bos Galak, I Love U   Bab 7 # Kembali ke Setelah Awal

    HAH?!” “Turki loh, Inara!” “Pak bos ke mana?” “Lagi jalan sama Mbak Bella.” “Yah… nggak seru dong.” Inara mengangkat bahu. “Nggak apa-apa. Anggap aja istirahat pindah tempat.” “Dasar kamu,” kata Bunga. “Masih saja mencoba menghibur hati.” Inara tersenyum. Panggilan ditutup. Baru saja ponsel ditaruh, layar menyala lagi. Radit menelepon. “Nana?” “Iya, Mas.” “Loh ... kenapa dengan suara kamu terdengar sengau?” “Aku flu Mas” “Kamu di mana?” “Di Turki.” Hening. “…Turki?” “Iya, Mas. Dapet doorprize dari kantor. Liburan bareng bos.” “Kamu ke Turki bareng bos?” “Iya.” Inara bersin. “Matikan dulu. Aku video call,” kata Radit cepat. Panggilan terputus, lalu muncul video call Radit. Begitu wajah Inara muncul di layar, Radit mengernyit. “Kamu demam flu,” katanya tegas. “Kelihatan banget ya?” “Kamu pucat.” “Cuma flu Mas.” “Kamu pasti kebanyakan permen sama es krim.” Inara tertawa kecil. “Mas selalu tau.” “Kamu dari dulu gitu.” “Mas ngapain n

  • Bos Galak, I Love U   Bab 6 # Yang Tak Terucapkan

    “Zam… itu bukankah Inara?” Nizam menoleh. Diam. Di sudut kafe, Inara duduk santai. Hoodie dilepas, rambutnya digerai. Ia tertawa lepas bersama dua pria dan satu wanita lokal. Bahasa Turki dan Inggris bercampur, terdengar akrab. “Dia kelihatan enjoy dan nyaman,” Bella berkomentar pelan. Nizam tidak menjawab, Bella melangkah lebih dulu. “Inara?” Inara menoleh. “Oh… Pak Nizam. Mbak Bella.” Ia berdiri refleks. “Kamu di sini?” tanya Bella, senyumnya tipis. “Iya. Ketemu teman lama,” jawab Inara santai. Nizam akhirnya bicara. “Kamu bilang tadi sedang di luar.” “Iya, Pak. Ini maksudnya,” jawab Inara jujur, tanpa nada defensif. Bella menoleh ke teman-teman Inara. “Teman kuliah?” “Teman magang dulu,” salah satu pria Turki menyahut ramah. “Oh,” Bella mengangguk. “Pantas kelihatan akrab.” Hening sebentar. Nizam berdehem. “Kamu tidak ikut jalan hari ini.” Inara tersenyum kecil. “Bapak kelihatan sibuk. Saya tidak enak.” “Itu bukan maksud saya,” suara Niz

  • Bos Galak, I Love U   Bab 5 # Di Bawah Bulan yang Sama

    Family gathering Niaga Perkasa akhirnya terlaksana sesuai rencana. Area perkemahan yang luas di kaki perbukitan itu dipenuhi tenda-tenda karyawan yang berdiri rapi, berjajar seperti barisan kecil penuh harapan. Tawa dan suara riuh bercampur dengan aroma tanah basah dan asap api unggun yang mulai menyala satu per satu. Di bagian yang sedikit lebih tinggi, agak terpisah dari keramaian, berdiri satu tenda berwarna gelap. Tenda itu milik Nizam Respati Anwar. Sejak kecil, Nizam memang terbiasa dengan jarak bahkan saat berkemah. Kemah mengingatkannya pada halaman rumah masa kecilnya, tempat ia sering memasang tenda kecil bersama Nana. Mereka tidak pernah membawa peralatan lengkap. Tidak ada matras mahal atau lampu gantung. Hanya tikar tipis, beberapa makanan ringan, kue-kue dari rumah, dan segenggam permen manis yang selalu Nana simpan di saku bajunya, namun justru di situlah tawa paling jujur pernah lahir. Di dalam tendanya, Nizam bisa mendengar sorak-sorai karyawan yang sedang

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status