LOGIN“Zam… itu bukankah Inara?”
Nizam menoleh. Diam. Di sudut kafe, Inara duduk santai. Hoodie dilepas, rambutnya digerai. Ia tertawa lepas bersama dua pria dan satu wanita lokal. Bahasa Turki dan Inggris bercampur, terdengar akrab. “Dia kelihatan enjoy dan nyaman,” Bella berkomentar pelan. Nizam tidak menjawab, Bella melangkah lebih dulu. “Inara?” Inara menoleh. “Oh… Pak Nizam. Mbak Bella.” Ia berdiri refleks. “Kamu di sini?” tanya Bella, senyumnya tipis. “Iya. Ketemu teman lama,” jawab Inara santai. Nizam akhirnya bicara. “Kamu bilang tadi sedang di luar.” “Iya, Pak. Ini maksudnya,” jawab Inara jujur, tanpa nada defensif. Bella menoleh ke teman-teman Inara. “Teman kuliah?” “Teman magang dulu,” salah satu pria Turki menyahut ramah. “Oh,” Bella mengangguk. “Pantas kelihatan akrab.” Hening sebentar. Nizam berdehem. “Kamu tidak ikut jalan hari ini.” Inara tersenyum kecil. “Bapak kelihatan sibuk. Saya tidak enak.” “Itu bukan maksud saya,” suara Nizam sedikit meninggi. Bella melirik Nizam. “Zam…” Inara cepat menimpali. “Tidak apa-apa, Pak. Saya senang kok. Saya sudah sering ke sini.” Nizam menatapnya. “Kamu pernah ke Turki?” “Iya. Dua tahun lalu.” “Oh.” Nada Nizam terdengar kecewa, Bella tersenyum canggung. “Wah, berarti Inara lebih berpengalaman dari kita ya.” Inara tertawa kecil. “Kebetulan saja.” Salah satu teman Inara berbisik, “Is that your boss?” Inara mengangguk. “Yes.” “Oh wow,” mereka terkekeh. Bella merasa tidak nyaman. “Zam, kita duduk saja ya. Mereka pasti mau lanjut ngobrol.” Nizam menatap Inara. “Kamu pulang jam berapa?” “Belum tahu. Mungkin sebentar lagi.” “Jangan pulang terlalu malam.” Inara terkejut. “Iya, Pak.” Bella menyela, agak tajam. “Kamu seperti ayahnya, Zam.” Nizam tidak menjawab. Inara tersenyum sopan. “Permisi, saya lanjut dulu.” Ia duduk kembali. Saat Nizam berbalik pergi, ia mendengar tawa Inara lagi. Entah kenapa, dadanya terasa sesak. “Zam,” Bella memanggil. “Kamu kenapa?” Nizam menghela napas. “Nggak apa-apa.” “Tapi dari tadi kamu diam.” Nizam berhenti melangkah. “Bella kamu pernah merasa tidak suka melihat seseorang tertawa dengan orang lain?” Bella terdiam. “Itu nada cemburu?” Nizam tidak menjawab. Ia melangkah pergi. Di belakang mereka, Inara masih tertawa tanpa tahu bahwa satu tawa kecilnya barusan, mengacaukan hati bos galaknya. ** Bella semakin yakin sejak semalam. Bukan ucapan Nizam, karena pria itu nyaris tak pernah membuka isi kepalanya melainkan dari caranya terdiam. Dari tatapan yang terlalu lama dan bahunya yang menegang saat nama itu disebut. “Inara itu ramah sekali, ya,” kata Bella sambil mengaduk kopinya di area sarapan hotel. Nizam mengangguk. “Dia memang begitu. Profesional.” Bella tersenyum tipis. “Profesional atau memang nyaman?” Nizam berhenti mengaduk tehnya. “Apa maksud kamu?” Bella menyandarkan tubuh. “Aku cuma merasa, kamu terlihat beda kalau bicara sama dia.” “Jangan berlebihan,” jawab Nizam pendek. “Berlebihan?” Bella tertawa kecil. “aku cuma jujur membaca situasi?” Nizam berdiri. “Sarapan saja dulu.” Bella menatap wajah Nizam dalam diam. Hatinya yakun ia harus menguatkan satu hal : Nizam menyukai Inara dan ia tak akan diam. ** Siang itu Bella sengaja mendekati Inara di lobi hotel. “Inara,” sapanya ramah. “Oh, Mbak Bella.” “Kamu nggak jalan jalan?” tanya Bella. Inara tersenyum ringan. “Belum tahu. Apakah Mbak Bella sama Pak Nizam sudah ada agenda.” Bella mendekat sedikit, suaranya direndahkan. “Kami memang mau menghabiskan waktu bersama sebelum rencana penjodohkan keluarga dilaksanakan” Inara mengangguk. “oh begitu, pendekatan dulu ya mbak.” “Iya, maklum orang tua kami sama sama serius,” lanjut Bella. “Mungkin setelah ini, apabila sudah merasa yakin, baru tunangan.” “Selamat ya mbak, Semoga lancar,” jawab Inara tulus. Bella berharap ada perubahan tapi Inara terlalu tenang. Nizam datang. “Ngobrol apa?” “Ngobrol biasa,” jawab Bella cepat, lalu menggandeng lengan Nizam. Inara menangkap satu hal kecil, Nizam tak membalas genggaman itu namun ia pura-pura tak melihat. ** Keesokan harinya, Bella tak keluar kamar. “Zam, aku lagi dapet, ,” katanya dari balik pintu. “Sakit.” “Perlu dokter?” “Nggak. Aku cuma mau istirahat saja.” “Baiklah kalau begitu.” Sekitar jam sepuluh, Nizam turun ke lobi. tepat di depan pintu hotel, ia melihat Inara. “Kamu mau ke mana?” tanya Nizam. “Mau jalan-jalan, Pak.” “Sendirian?” “Iya, oh ya, Mbak Bella kemana, kok Bapak sendirian.” Nizam menghela napas. “Bella lagi istirahat. lagi menstruasi hari pertama. Saya suntuk pingin keluar tapi nggak tahu mau ke mana.” Inara tersenyum. “Kalau Bapak mau ikut saya saja pak?” “Ke mana?” “Kuzguncuk.” “Kuz… apa?” “Kuzguncuk,” ulang Inara. “Kampung kecil di sisi Istanbul.” Nizam mengernyit. “Bagus?” “Indah,” jawab Inara mantap. “tenang juga.” Nizam tersenyum. “Ayo.” Begitu sampai, Nizam terdiam. “Ini…” “Kuzguncuk,” kata Inara. “Kampung tua. Rumahnya masih warna-warni. Masjid, gereja, dan sinagog berdiri berdekatan.” “Jarang turis ke sini,” ucap Nizam datar. “Karena orang lebih suka tempat ramai,” jawab Inara. “Padahal di sini, Istanbul terasa manusiawi.” Mereka berjalan pelan. “Dulu tempat ini rumah seniman,” lanjut Inara. “Penyair, pelukis. Mereka bilang, kalau hati lagi penuh, datanglah ke Kuzguncuk.” Nizam menatap Inara. “Kamu tahu banyak.” “Karena dulu aku sering ke sini sendirian,” jawabnya jujur. Mereka duduk di bangku kayu. “Kamu suka permen, ya?” tanya Nizam. Inara tertawa. “Kelihatan?” “Bungkusnya banyak.” “Kalau lagi tenang, aku bisa makan tanpa sadar.” Nizam tersenyum. Saat Inara berdiri menatap pemandangan Selat Bosphorus, Nizam diam-diam memotret. “Kok Bapak motret saya?” tanya Inara. “Kamu cocok sama tempat ini.” “Sebagai guide?” “Bukan, Sebagai kamulah.” Hening. “Boleh Foto bareng?” “Boleh.” Inara tertawa lepas saat swafoto itu diambil. Sebelum pulang, Inara mengajak ke Eminönü. “Ini pusat jajanan paling jujur di Istanbul,” katanya. “Maksudnya?” “Murah, rame, dan rasanya asli.” Mereka mencicipi balik ekmek. “Kalau mau yang anak muda,” lanjut Inara, “kita ke Karaköy.” Di sana mereka mencoba kopi Turki dan dessert kecil, terakhir, Inara berhenti di penjual es krim. “Beli yang besar,” katanya. “Kamu yakin?” “Yakin.” Mereka duduk, Inara menyendok es krim besar. Nizam menatapnya. “Kamu kayak anak kecil.” “Kenapa?” “Takut es krimnya direbut.” Inara menoleh. “Bapak mau?” “Nggak.” Inara menyendok lagi dan menyodorkannya. “Buka.” “Inara…” “Buka.” Nizam menyerah. Saat itu dadanya terasa hangat, seperti Nana dulu. ** Malamnya, Nizam memesan obat flu. “Kalau sudah makan es krim besar, besok pasti pilek,” gumamnya. Benar saja, pagi itu Inara sakit. Nizam mengetuk kamarnya. “Kamu kenapa?” “Flu.” “Sudah besar masih saja bablas makan es krim,” katanya sambil menyerahkan obat. “Minum. Istirahat.” “Makasih, Pak.” “Aku keluar sama Bella sebentar.” “Iya.” Namun sepanjang jalan, pikirannya tertinggal. Di Kuzguncuk, Eminönü dan pada Inara. Nizam tahu, yang tak diucapkan itu mulai menunjukkan rasa yang ia punya.. ** Ke sini lagi?” tanya Bella sambil merapikan rambutnya. “Iya,” jawab Nizam singkat. “Bukannya kemarin sudah?” “Turis biasanya begitu. kadang penasaran” Bella tertawa kecil. “Aku kira kamu suka tempat klasik.” Nizam mengangguk, tapi matanya kosong. Langkahnya memang menyusuri jalanan Istanbul yang terasa berulang, foto-foto diambil, kopi dipesan, senyum dilempar, semuanya rapi, semuanya tepat, tapi semuanya terasa datar. “Zam, kamu nggak capek?” tanya Bella. “Biasa saja.” “Kalau capek bilang, Zam.” “Iya.” Bella berhenti, menatap wajahnya. “Kamu kenapa sih dari tadi diam terus, lagi mikirin apa?” “Enggak apa-apa.” Bella menghela napas. Ia bisa merasakan satu hal yang mengganggu, Nizam ada di sini, tapi pikirannya tidak. ** Di kamar hotel lain, Inara masih meringkuk di balik selimut. “Haduh…” Ia bersin keras, lalu terdengar notif pesan dari ponse ldan meraihnya. Pesan masuk dari Bunga. Bunga : Inara, gimana Turki? Seru nggak? Inara : Biasa aja. Aku malah demam. Tak sampai semenit, layar ponselnya bergetar. Video call masuk. “Eh?! INARA?!” Teriakan itu membuat Inara sampai menjauhkan ponsel di kasur. Di layar muncul wajah Bunga dan dua teman lain di satu ruangan. “Kok kamu tiduran?!” “Lah, kirain lagi foto-foto estetik!” “Bos galaknya mana?” ***Hening itu terasa panjang bagi Nizam. Ia bisa mendengar detak jam dinding di ruang keluarga rumah tua keluarga Wijaya. Juga detak jantungnya sendiri yang terasa lebih keras dari biasanya. “Nak Nizam…” suara Nenek akhirnya terdengar. “Iya, Nek…” jawabnya hati-hati. “Menikah itu bukan perkara gampang. Apa kamu sudah benar-benar mengenal Nana?” Nizam menelan ludah. “Dia cucu kesayangan Nenek,” lanjut wanita sepuh itu. “Nenek sangat menyayanginya. Sejak kecil Nenek memanjakannya. Apa kamu akan tahan dengan sikap manjanya?” Papa Wijaya melirik ibunya sekilas. Meski kalimat itu terdengar seperti ujian, ada nada protektif yang wajar di dalamnya. Ia tahu betul putrinya memang sering bersikap sesuka hati walau tak pernah melampaui batas. “Nenek tidak pernah melarang apa pun yang ia lakukan selama itu baik,” sambung Nenek. “Dan Nenek tidak mau mendengar hal buruk tentang cuc
Pintu ruang rawat itu menutup pelan di belakang Saka.Langkahnya terasa lebih berat dari sebelumnya. Bukan hanya karena luka di kepala dan lengannya yang masih berdenyut, tetapi juga karena sesuatu yang mengganjal di dadanya.Ia tak pernah membayangkan pertemuan itu akan terasa seperti tadi. Wajah pucat Mira. Tangis yang berusaha ia tahan. Kalimat lirihnya tentang musibah. Saka berhenti sejenak di lorong rumah sakit. Bau antiseptik kembali menusuk indra penciumannya. Ia memejamkan mata beberapa detik. Kejadian itu berputar lagi di kepalanya. Mobilnya melaju cukup cepat sore itu. Ia ingat jelas jalan yang sedikit lengang, pikirannya sibuk memikirkan urusan pekerjaan. Lalu dari jalur lain, sebuah mobil melesat kencang ke arahnya. Refleks. Setir dibanting. Rem diinjak, namun jarak terlalu dekat. Benturan keras. Suara kaca pecah. Tubuhnya terhuyung ke depan, sabuk pengam
Aroma antiseptik memenuhi lorong rumah sakit yang dingin. Lampu-lampu putih menyala terang, memantulkan bayangan langkah-langkah yang hilir mudik sejak sore tadi. Mira masih berada di ruang pemulihan pasca operasi. Tubuhnya terbaring lemah, tertutup selimut tipis, wajahnya pucat karena pengaruh anestesi yang belum sepenuhnya hilang. Di luar kamar perawatan, Akbar duduk di kursi pengunjung. Kedua tangannya saling bertaut, sikunya bertumpu pada lutut. Tatapannya kosong, sesekali menoleh ke arah pintu yang tertutup rapat. Operasi itu berlangsung lebih lama dari yang ia perkirakan. Bayangan mobil ringsek dan tubuh Mira yang terjepit kembali terlintas di benaknya. Ia mengembuskan napas panjang, mencoba menenangkan diri. Tak lama berselang, sepasang suami-istri paruh baya menghampiri. Pak Assegaf, Ayah dan Bunda Adelia. “Bagaimana, Nak Akbar? Mira sudah sadar?” tanya sang ayah dengan wajah penuh kekh
Suasana meja pertemuan kembali mencair setelah kalimat tegas Nizam menggantung di udara. “Dia calon istriku.” Beberapa detik sunyi sempat tercipta, sebelum akhirnya tawa dan candaan pecah bersahut-sahutan.Inara yang sempat membelalak kini berusaha mengendalikan ekspresinya. Ia menarik napas pelan, lalu memasang senyum profesional. Untungnya, ia bukan orang baru di lingkungan mitra Niaga Perkasa. Beberapa wajah di meja itu sudah sering ia temui di kantor pusat Jakarta. Ia pernah presentasi di hadapan mereka, pernah berdiskusi soal strategi keuangan dan pemasaran, bahkan ikut dalam rapat-rapat penting. “Inara kan yang pegang keuangan marketing regional, ya?” sapa salah satu mitra. “Iya, Pak,” jawabnya ramah. Obrolan pun mengalir santai. Inara cepat berbaur. Ia berbincang ringan tentang perkembangan pasar, membahas peluang distribusi di Jawa Tengah, hingga menanggapi cand
Di Semarang, suasana rumah tua milik keluarga Wijaya terasa jauh lebih tenang dibanding hiruk-pikuk Jakarta. Angin sore berembus pelan melewati halaman luas dengan pohon-pohon rindang yang sudah puluhan tahun berdiri kokoh. Nizam baru saja menutup telepon dari Akbar. Kabar tentang kecelakaan Mira membuatnya cukup terpukul, meski ia berusaha tetap tenang. Bukan apa-apa. Mira adalah putri sahabat lama papanya. Sejak awal bekerja di Niaga Perkasa, gadis itu memang “dititipkan” secara tidak langsung. Nizam merasa punya tanggung jawab moral. Ia mengembuskan napas panjang. Inara yang duduk di kursi teras memperhatikannya. “Gimana, Bang? Kondisi Mira?” “Sudah dioperasi. Akbar yang urus di sana. Paling Papa juga turun tangan, apalagi ini anak temannya.” Inara mengangguk pelan. “Semoga cepat sadar, ya.” “Iya.” Beberapa detik hening.
Jakarta masih sibuk seperti biasa, tetapi hari itu terasa jauh lebih berat bagi Akbar. Setelah memastikan sendiri kondisi para korban, ia berdiri cukup lama di lorong rumah sakit sebelum akhirnya memberanikan diri menghubungi Adelia.Tangannya sempat gemetar ketika mencari nama Lia di daftar kontak.Telepon berdering beberapa kali.“Halo, Mas Akbar?”Suara itu lembut seperti biasa. Tidak ada firasat apa pun di sana. Justru itu yang membuat dada Akbar semakin sesak.“Lia… kamu lagi di mana?”“Di ruangan mas. Kenapa, Mas?”Akbar menelan ludah. Ia harus berhati-hati. Tidak boleh membuat Lia panik.“Kamu lagi banyak kerjaan?”“Nggak, baru saja selesai. Ada apa sih, Mas? Suaranya kok beda?”Akbar mengembuskan napas pelan. “Lia… kamu harus tetap tenang, ya. Mas cuma mau kasih kabar. Tadi siang ada kecelakaan di Jalan Sudirman.”Hening beberapa detik.“Kecelakaan?” suara Lia mulai be







