MasukFamily gathering Niaga Perkasa akhirnya terlaksana sesuai rencana.
Area perkemahan yang luas di kaki perbukitan itu dipenuhi tenda-tenda karyawan yang berdiri rapi, berjajar seperti barisan kecil penuh harapan. Tawa dan suara riuh bercampur dengan aroma tanah basah dan asap api unggun yang mulai menyala satu per satu. Di bagian yang sedikit lebih tinggi, agak terpisah dari keramaian, berdiri satu tenda berwarna gelap. Tenda itu milik Nizam Respati Anwar. Sejak kecil, Nizam memang terbiasa dengan jarak bahkan saat berkemah. Kemah mengingatkannya pada halaman rumah masa kecilnya, tempat ia sering memasang tenda kecil bersama Nana. Mereka tidak pernah membawa peralatan lengkap. Tidak ada matras mahal atau lampu gantung. Hanya tikar tipis, beberapa makanan ringan, kue-kue dari rumah, dan segenggam permen manis yang selalu Nana simpan di saku bajunya, namun justru di situlah tawa paling jujur pernah lahir. Di dalam tendanya, Nizam bisa mendengar sorak-sorai karyawan yang sedang bermain permainan kelompok. Sesekali terdengar teriakan senang saat doorprize kecil dibagikan. Hadiah-hadiah sederhana seperti alat elektronik, voucher, uang tunai namun cukup membuat suasana hangat. Doorprize utama malam itu sebenarnya sudah menjadi bahan bisik-bisik sejak sore. Jalan-jalan ke Turki berdua bersama CEO Niaga Perkasa. Tak ada satu pun karyawan lama yang berharap mendapatkannya. Semua sepakat lebih baik hadiah itu jatuh ke tangan orang lain. Jalan-jalan dengan bos galak sama sekali bukan definisi liburan bagi mereka, kecuali bagi orang-orang baru. Saat permainan masih berlangsung, Nizam memilih keluar dari tendanya. Ia duduk di atas batu besar, menatap bulan purnama yang menggantung sempurna di langit. Udara malam dingin, tapi pikirannya jauh lebih dingin. Kenangan kembali merambat pelan. Dulu, Nana selalu menunjuk bulan dan berkata bahwa bulan itu teman setia. Ia akan tetap ada meski semua orang pergi. Nana percaya, selama bulan masih terlihat, mereka tidak akan pernah benar-benar sendiri. Riza sejak tadi bolak-balik mengurus keperluan Nizam mulai dari memastikan logistiknya cukup, hingga memastikan acara karyawan berjalan lancar. Namun Nizam tetap memilih menyendiri. Sekitar pukul setengah sepuluh malam, Nizam mendengar suara ranting patah dan langkah kaki. Tubuhnya refleks menegang, tangannya meraih batu kecil di dekatnya. Ia tidak suka kejutan terutama di tempat sepi. Langkah itu semakin dekat. “Siapa?” suaranya rendah, waspada. Sosok itu muncul dari balik bayangan pohon. Hoodie abu-abu menutup kepala, wajahnya agak tertunduk. Begitu wajah itu terangkat, Nizam membeku. “Inara?” “Hah!” Inara terkejut. “Pak, jangan bikin kaget dong.” Nizam menurunkan batu di tangannya. “Kamu yang bikin kaget. Dari mana saja? Kenapa tidak ikut seru-seruan dengan yang lain?” Tanpa ragu, Inara duduk di batu lain tak jauh darinya. Napasnya masih ngos-ngosan. “Dari sana,” katanya sambil menunjuk arah hutan kecil. “Saya ke rumah Mang Apin.” “Mang Apin?” dahi Nizam berkerut. “Iya. Dulu saya sering camping di sini waktu kuliah. Kenal sama beliau. Orangnya sudah tua, tinggal berdua sama istrinya.” “Oh,” Nizam mengangguk pelan. “Kamu sering ke sini?” “Tidak sering,” jawab Inara jujur. “Tapi pernah beberapa kali.” Hening sejenak menyelimuti mereka. Lalu Inara mengeluarkan sesuatu dari saku hoodie-nya, permen kecil dengan bungkus warna-warni. “Bapak mau?” tanyanya polos sambil menyodorkan. Nizam mengambil satu. “Kamu suka permen manis?” “Iya,” jawab Inara sambil tersenyum. “Sejak kecil malah. Hidup tanpa permen itu hampa, kurang manis Pak.” Kalimat itu menghantam sesuatu di dada Nizam. Nana juga selalu bilang begitu. Ia teringat bagaimana Nana bisa menghabiskan sepuluh permen dalam sekali duduk. Pipinya sering bengkak karena sakit gigi. Setiap kali itu terjadi, Nana akan meringis tapi tetap tersenyum, tetap makan permen. Nizam tertawa kecil kala itu. Nana tidak pernah marah. Kini, di hadapannya, Inara sudah hampir menghabiskan dua belas permen. Sementara permen di mulut Nizam bahkan belum habis, ia hanya mengulum, membiarkan rasa manisnya bertahan lama. “Kamu makan permen kayak makan kacang goreng,” komentar Nizam. “Nanti sakit gigi.” Inara tertawa ringan. “Ah, sudah biasa.” Mereka berbincang lama tentang pekerjaan, hobi, bahkan hal-hal kecil yang tak pernah sempat dibicarakan di kantor. Nizam terkejut di luar kantor, ternyata ia bisa tertawa. Inarapun sama, bos galak itu ternyata bisa diam, mendengar, bahkan tersenyum. Saat jam semakin larut, Inara berdiri. “Sudah larut, saya balik ke tenda dulu, Pak.” Begitu Inara pergi, sepi kembali merayap ke hati Nizam. Ia tetap duduk di batu itu hingga Riza datang. “Bos, saatnya pengambilan doorprize utama.” “Oke,” jawab Nizam singkat. “Pastikan semua karyawan berkumpul.” Api unggun membesar. Semua karyawan berkumpul. Kertas undian dibagikan. Dengan berat hati, Inara keluar dari kemahmya dan ikut mengambil satu undian itu. Saat semua kertas dibuka, di kertas Inara Prameswari tertulis : "SELAMAT ANDA BERUNTUNG, TURKI MENANTI ANDA KUNJUNGI" Semua terdiam sesaat, lalu histeris. “SELAMAT, INARA!” Sorak-sorai pecah. Semua mengerumuni Inara dengan wajah penuh kelegaan bukan iri, tapi lega karena bukan mereka. Inara sendiri bingung. “Kenapa kalian senang aku yang dapat?” Tak satu pun menjawab jujur. Sementara dari kejauhan, Nizam menatapnya dengan perasaan yang bahkan belum ia pahami sepenuhnya. Di bawah bulan yang sama, takdir mulai bergerak. “Selamat, atas nama perusahaan, selamat ya, Inara. Hadiah jalan-jalan ke Turki akan dilaksanakan pekan depan.” Tepuk tangan terdengar. Inara tersenyum kecil. “Terima kasih, Pak Riza.” Bunga menepuk lengannya. “Enak banget kamu, Inara. Baru masuk kerja sudah bisa jalan-jalan sama bos.” Inara terkekeh. “Belum tentu enak. Bisa-bisa tegang terus.” “Ah, bos galak juga manusia, sudah nikmati saja,” sahut Dimas. Inara hanya tersenyum, tak menanggapi. ** Keesokan harinya, di mal, Inara berbelanja kebutuhan hariannya. Inara sedang memilih jeruk ketika sebuah suara menyapanya. “Nana?” Ia menoleh. “Mas Radit?” Radit tersenyum lebar. “Kamu belanja juga?” “Iya. Buat stok di rumah.” Radit menunjuk wanita di sampingnya. “Kenalin, ini Elisa, teman kerja.” Elisa tersenyum ramah. “Hai, kamu Nana???.” “Hai, itu nama panggilan, namaku Inara.” Radit menatap troli Inara. “Sejak kapan kamu di Jakarta?” “Baru sebulan kerja di Jakarta Mas.” “Oh… dari Turki langsung ke Jakarta?” “Iya.” “Wau keren ... sejak kapan kamu ke Turki Na?” tanya Elisa sopan. “Dua tahun lalu. Magang.” Radit mengangguk. “Om Wira gimana?” “Masih di Semarang, nemenin nenek.” Hening sejenak. Radit tersenyum lagi. “Aku sudah lama nggak ke Semarang Na, kerjaan masih bolak balik Surabaya - Jakarta. Kapan-kapan ketemu lagi ya, Na.” Inara mengangguk. “Iya, Mas.” Setelah berpisah, Radit masih menoleh. Inara pura-pura sibuk memilih apel. ** Malamnya, Inara berbaring sambil membuka ponsel. Sebuah nama muncul, ia terdiam dan membuka pesan. Radit : Na, ini Mas Radit. Kapan-kapan ketemuan yuk? Mas belum puas ngobrol sama kamu tadi. Mas nggak tau kalau kamu sudah balik ke Indonesia. Inara menggigit bibirnya. “Mas Radit…” gumamnya pelan. Inara : Iya, Mas. Kalau aku ada waktu ya, masih banyak pekerjaan sekarang ini. Radit : Atur saja ya kapan kamu free?" Inara : Nanti aku kabari lagi ya, Mas. ** Jelang hari keberangkatan ke Turki. “Zam, mama harap kamu serius, ajak Bella ya” ujar Mama Nizam. Nizam menghela napas. “Ma, ini cuma jalan-jalan, dan aku harus konsisten dengan doorprise hadiah utama ini. nggak enak nanti mengabaikan karyawan" “Justru itu. nggak ada salahnya kan. karyawan kamu jadi ada temen. kalian bisa jalan-jalan, dan kamu bisa sambil mengena Bella, bukannya itu bagusl.” Bella tersenyum manis. “Aku nggak maksa, Zam.” Nizam diam. ** Hari pertama di Turki. “Zam, kita foto di sini yuk,” pinta Bella. “Bentar,” jawab Nizam. “Okey, Pokoknya hari pertama ini, kita keliling dulu ya Zam,” Bella menggandeng lengannya. Nizam menurut. ** Hari kedua. “Zam, nanti makan malam di restoran ini ya.” “Kita ikut itinerary Riza aja.” Bella tersenyum. “Aku sudah minta izin Mama.” Nizam terdiam lagi. ** Hari keempat. Nizam menelpon. “Inara.” “Ya, Pak?” “Kamu hari ini ke mana?” “Saya di luar, Pak.” “Keliling?” “Iya. Bapak ajak Mbak Bella saja.” Nizam terdiam. “Oh… ya sudah.” Telepon ditutup, Bella menatapnya. “Kamu nelpon Inara?” “Iya.” “Kamu perhatian sekali.” Nizam tak menjawab. ** Malam itu, di sebuah kafe anak muda. Bella berbicara panjang. “Aku pengin belajar banyak dari kamu, Zam.” “Hmm.” “Kita cocok kan?” Nizam mengangguk tipis. Bella berhenti bicara dan melihat ke arah rombongan muda mudi. “Zam… itu Inara kan?” ***Malam itu, Nizam tidak langsung pulang. Ia duduk lama di kursi belakang mobil, menatap keluar jendela tanpa fokus. Lampu-lampu jalanan berpendar seperti bayangan yang tak bisa ia sentuh. Dadanya sesak, perasaan yang ia benci, yang tak pernah ia beri izin untuk tinggal. “Riza,” ucapnya akhirnya, suaranya datar tapi berat. “Iya, Bos?” “Antar saya ke rumah Inara.” Riza menoleh cepat. “Sekarang, Bos?” “Sekarang.” Mobil berbelok. Tidak ada pertanyaan lanjutan. Riza terlalu mengenal bosnya untuk berdebat. Begitu mobil berhenti di depan rumah Inara, Nizam langsung menyadari sesuatu yang membuat rahangnya mengeras. Sebuah mobil mewah terparkir rapi di halaman. Bukan mobil Inara. Bukan pula mobil kantor. Nizam menatapnya lama, seolah berharap mobil itu lenyap jika ia cukup lama menatap. N
Ruangan itu mendadak terasa sempit. Nizam berdiri kaku di dekat pintu, sementara Inara masih berdiri beberapa langkah dari papanya. Wajahnya jelas menyimpan keterkejutan bukan hanya karena pertemuan tak terduga, tapi karena situasi yang terasa… janggal. “Inara,” ulang Gunawan dengan suara hangat. “Silakan duduk.” Inara menoleh sekilas ke arah Nizam, lalu menurut. “Papa kenal Inara dari mana?” tanya Nizam akhirnya, berusaha terdengar biasa. Gunawan menyesap kopinya dengan santai. “Kemarin di mall.” Nizam mengernyit. “Mall?” Gunawan mengangguk. “Papa kecopetan. Jatuh dan karyawanmu ini yang menolong.” Inara langsung menunduk. “Kebetulan saja, Pak.” “Kebetulan yang sangat berarti,” jawab Gunawan cepat. “Bahkan membayarkan belanjaan Papa lima juta lebih.” Niz
Di lantai dua puluh lima Niaga Perkasa, suasana kantor masih terasa tegang meski jam kerja hampir usai. Beberapa karyawan memilih bertahan di depan layar, berpura-pura sibuk, hanya agar tak perlu berpapasan langsung dengan sang bos galak yang sejak pagi seperti kehilangan rem. Di ruangannya, Nizam Respati Anwar berdiri membelakangi pintu, menatap jendela besar tanpa benar-benar melihat apa pun. Bayangan Inara bersama pria itu terus terulang di kepalanya. Cara Inara tersenyum, cara pria itu menunduk sedikit saat berbicara, cara mereka berjalan berdampingan terlihat cocok. Nizam mengembuskan napas keras. Kenapa aku peduli? Pintu diketuk pelan. “Masuk,” ucapnya dingin. Bella melangkah masuk, mengenakan gaun kerja elegan. Senyum tipis terukir di bibirnya, senyum yang sudah ia latih bertahun-tahun. “Belum pulang zam?” tanyanya lembut.
“JANGAN MEMBELA.” Nada Nizam meninggi. “Kamu lulusan luar negeri, kan?” “Iya, Pak.” “Harusnya kamu tahu, angka sekecil ini bisa berdampak besar!” Inara mencoba tenang. “Kalau Bapak beri saya waktu ...” “WAKTU?!” Nizam berdiri. Kursinya bergeser keras. “Kamu pikir perusahaan ini mainan?!” Inara tercekat. “Saya tidak pernah bilang begitu, Pak.” “Ekspresi kamu bilang.” Hening. Inara menggenggam jemarinya. Dadanya naik turun. “Pak,” katanya pelan tapi tegas, “kalau ada kesalahan, saya siap diperbaiki. Tapi saya tidak bisa bekerja dengan teriakan.” Kalimat itu jatuh seperti bom kecil. Riza yang berdiri di sudut ruangan refleks menoleh. Nizam menatap Inara lama. “Kamu mengajari saya cara memimpin?” “Tidak,” jawab Inara lirih. “Saya hanya ingin bekerja dengan sehat.” Hening makin menekan. “Keluar.” Suara Nizam rendah. Dingin. “Sekarang.” Inara menunduk singkat. “Baik, Pak.” Begitu pintu tertutup, Riza menghela napas panjang. “Bos…” “JANGAN B
HAH?!” “Turki loh, Inara!” “Pak bos ke mana?” “Lagi jalan sama Mbak Bella.” “Yah… nggak seru dong.” Inara mengangkat bahu. “Nggak apa-apa. Anggap aja istirahat pindah tempat.” “Dasar kamu,” kata Bunga. “Masih saja mencoba menghibur hati.” Inara tersenyum. Panggilan ditutup. Baru saja ponsel ditaruh, layar menyala lagi. Radit menelepon. “Nana?” “Iya, Mas.” “Loh ... kenapa dengan suara kamu terdengar sengau?” “Aku flu Mas” “Kamu di mana?” “Di Turki.” Hening. “…Turki?” “Iya, Mas. Dapet doorprize dari kantor. Liburan bareng bos.” “Kamu ke Turki bareng bos?” “Iya.” Inara bersin. “Matikan dulu. Aku video call,” kata Radit cepat. Panggilan terputus, lalu muncul video call Radit. Begitu wajah Inara muncul di layar, Radit mengernyit. “Kamu demam flu,” katanya tegas. “Kelihatan banget ya?” “Kamu pucat.” “Cuma flu Mas.” “Kamu pasti kebanyakan permen sama es krim.” Inara tertawa kecil. “Mas selalu tau.” “Kamu dari dulu gitu.” “Mas ngapain n
“Zam… itu bukankah Inara?” Nizam menoleh. Diam. Di sudut kafe, Inara duduk santai. Hoodie dilepas, rambutnya digerai. Ia tertawa lepas bersama dua pria dan satu wanita lokal. Bahasa Turki dan Inggris bercampur, terdengar akrab. “Dia kelihatan enjoy dan nyaman,” Bella berkomentar pelan. Nizam tidak menjawab, Bella melangkah lebih dulu. “Inara?” Inara menoleh. “Oh… Pak Nizam. Mbak Bella.” Ia berdiri refleks. “Kamu di sini?” tanya Bella, senyumnya tipis. “Iya. Ketemu teman lama,” jawab Inara santai. Nizam akhirnya bicara. “Kamu bilang tadi sedang di luar.” “Iya, Pak. Ini maksudnya,” jawab Inara jujur, tanpa nada defensif. Bella menoleh ke teman-teman Inara. “Teman kuliah?” “Teman magang dulu,” salah satu pria Turki menyahut ramah. “Oh,” Bella mengangguk. “Pantas kelihatan akrab.” Hening sebentar. Nizam berdehem. “Kamu tidak ikut jalan hari ini.” Inara tersenyum kecil. “Bapak kelihatan sibuk. Saya tidak enak.” “Itu bukan maksud saya,” suara Niz







