Home / Romansa / Bos Galak, I Love U / Bab 5 # Di Bawah Bulan yang Sama

Share

Bab 5 # Di Bawah Bulan yang Sama

last update Last Updated: 2026-01-04 15:51:53

Family gathering Niaga Perkasa akhirnya terlaksana sesuai rencana.

Area perkemahan yang luas di kaki perbukitan itu dipenuhi tenda-tenda karyawan yang berdiri rapi, berjajar seperti barisan kecil penuh harapan. Tawa dan suara riuh bercampur dengan aroma tanah basah dan asap api unggun yang mulai menyala satu per satu.

Di bagian yang sedikit lebih tinggi, agak terpisah dari keramaian, berdiri satu tenda berwarna gelap. Tenda itu milik Nizam Respati Anwar.

Sejak kecil, Nizam memang terbiasa dengan jarak bahkan saat berkemah. Kemah mengingatkannya pada halaman rumah masa kecilnya, tempat ia sering memasang tenda kecil bersama Nana.

Mereka tidak pernah membawa peralatan lengkap. Tidak ada matras mahal atau lampu gantung. Hanya tikar tipis, beberapa makanan ringan, kue-kue dari rumah, dan segenggam permen manis yang selalu Nana simpan di saku bajunya, namun justru di situlah tawa paling jujur pernah lahir.

Di dalam tendanya, Nizam bisa mendengar sorak-sorai karyawan yang sedang bermain permainan kelompok. Sesekali terdengar teriakan senang saat doorprize kecil dibagikan. Hadiah-hadiah sederhana seperti alat elektronik, voucher, uang tunai namun cukup membuat suasana hangat.

Doorprize utama malam itu sebenarnya sudah menjadi bahan bisik-bisik sejak sore.

Jalan-jalan ke Turki berdua bersama CEO Niaga Perkasa.

Tak ada satu pun karyawan lama yang berharap mendapatkannya. Semua sepakat lebih baik hadiah itu jatuh ke tangan orang lain. Jalan-jalan dengan bos galak sama sekali bukan definisi liburan bagi mereka, kecuali bagi orang-orang baru.

Saat permainan masih berlangsung, Nizam memilih keluar dari tendanya. Ia duduk di atas batu besar, menatap bulan purnama yang menggantung sempurna di langit. Udara malam dingin, tapi pikirannya jauh lebih dingin.

Kenangan kembali merambat pelan.

Dulu, Nana selalu menunjuk bulan dan berkata bahwa bulan itu teman setia. Ia akan tetap ada meski semua orang pergi. Nana percaya, selama bulan masih terlihat, mereka tidak akan pernah benar-benar sendiri.

Riza sejak tadi bolak-balik mengurus keperluan Nizam mulai dari memastikan logistiknya cukup, hingga memastikan acara karyawan berjalan lancar. Namun Nizam tetap memilih menyendiri.

Sekitar pukul setengah sepuluh malam, Nizam mendengar suara ranting patah dan langkah kaki. Tubuhnya refleks menegang, tangannya meraih batu kecil di dekatnya. Ia tidak suka kejutan terutama di tempat sepi. Langkah itu semakin dekat.

“Siapa?” suaranya rendah, waspada.

Sosok itu muncul dari balik bayangan pohon. Hoodie abu-abu menutup kepala, wajahnya agak tertunduk. Begitu wajah itu terangkat, Nizam membeku.

“Inara?”

“Hah!” Inara terkejut. “Pak, jangan bikin kaget dong.”

Nizam menurunkan batu di tangannya. “Kamu yang bikin kaget. Dari mana saja? Kenapa tidak ikut seru-seruan dengan yang lain?”

Tanpa ragu, Inara duduk di batu lain tak jauh darinya. Napasnya masih ngos-ngosan.

“Dari sana,” katanya sambil menunjuk arah hutan kecil. “Saya ke rumah Mang Apin.”

“Mang Apin?” dahi Nizam berkerut.

“Iya. Dulu saya sering camping di sini waktu kuliah. Kenal sama beliau. Orangnya sudah tua, tinggal berdua sama istrinya.”

“Oh,” Nizam mengangguk pelan. “Kamu sering ke sini?”

“Tidak sering,” jawab Inara jujur. “Tapi pernah beberapa kali.”

Hening sejenak menyelimuti mereka. Lalu Inara mengeluarkan sesuatu dari saku hoodie-nya, permen kecil dengan bungkus warna-warni.

“Bapak mau?” tanyanya polos sambil menyodorkan.

Nizam mengambil satu. “Kamu suka permen manis?”

“Iya,” jawab Inara sambil tersenyum. “Sejak kecil malah. Hidup tanpa permen itu hampa, kurang manis Pak.”

Kalimat itu menghantam sesuatu di dada Nizam. Nana juga selalu bilang begitu.

Ia teringat bagaimana Nana bisa menghabiskan sepuluh permen dalam sekali duduk. Pipinya sering bengkak karena sakit gigi. Setiap kali itu terjadi, Nana akan meringis tapi tetap tersenyum, tetap makan permen. Nizam tertawa kecil kala itu. Nana tidak pernah marah.

Kini, di hadapannya, Inara sudah hampir menghabiskan dua belas permen. Sementara permen di mulut Nizam bahkan belum habis, ia hanya mengulum, membiarkan rasa manisnya bertahan lama.

“Kamu makan permen kayak makan kacang goreng,” komentar Nizam. “Nanti sakit gigi.”

Inara tertawa ringan. “Ah, sudah biasa.”

Mereka berbincang lama tentang pekerjaan, hobi, bahkan hal-hal kecil yang tak pernah sempat dibicarakan di kantor. Nizam terkejut di luar kantor, ternyata ia bisa tertawa. Inarapun sama, bos galak itu ternyata bisa diam, mendengar, bahkan tersenyum.

Saat jam semakin larut, Inara berdiri. “Sudah larut, saya balik ke tenda dulu, Pak.”

Begitu Inara pergi, sepi kembali merayap ke hati Nizam. Ia tetap duduk di batu itu hingga Riza datang.

“Bos, saatnya pengambilan doorprize utama.”

“Oke,” jawab Nizam singkat. “Pastikan semua karyawan berkumpul.”

Api unggun membesar. Semua karyawan berkumpul. Kertas undian dibagikan. Dengan berat hati, Inara keluar dari kemahmya dan ikut mengambil satu undian itu.

Saat semua kertas dibuka, di kertas Inara Prameswari tertulis :

"SELAMAT ANDA BERUNTUNG, TURKI MENANTI ANDA KUNJUNGI"

Semua terdiam sesaat, lalu histeris.

“SELAMAT, INARA!”

Sorak-sorai pecah. Semua mengerumuni Inara dengan wajah penuh kelegaan bukan iri, tapi lega karena bukan mereka.

Inara sendiri bingung. “Kenapa kalian senang aku yang dapat?”

Tak satu pun menjawab jujur.

Sementara dari kejauhan, Nizam menatapnya dengan perasaan yang bahkan belum ia pahami sepenuhnya. Di bawah bulan yang sama, takdir mulai bergerak.

“Selamat, atas nama perusahaan, selamat ya, Inara. Hadiah jalan-jalan ke Turki akan dilaksanakan pekan depan.”

Tepuk tangan terdengar. Inara tersenyum kecil.

“Terima kasih, Pak Riza.”

Bunga menepuk lengannya.

“Enak banget kamu, Inara. Baru masuk kerja sudah bisa jalan-jalan sama bos.”

Inara terkekeh.

“Belum tentu enak. Bisa-bisa tegang terus.”

“Ah, bos galak juga manusia, sudah nikmati saja,” sahut Dimas.

Inara hanya tersenyum, tak menanggapi.

**

Keesokan harinya, di mal, Inara berbelanja kebutuhan hariannya.

Inara sedang memilih jeruk ketika sebuah suara menyapanya.

“Nana?”

Ia menoleh.

“Mas Radit?”

Radit tersenyum lebar.

“Kamu belanja juga?”

“Iya. Buat stok di rumah.”

Radit menunjuk wanita di sampingnya.

“Kenalin, ini Elisa, teman kerja.”

Elisa tersenyum ramah.

“Hai, kamu Nana???.”

“Hai, itu nama panggilan, namaku Inara.”

Radit menatap troli Inara.

“Sejak kapan kamu di Jakarta?”

“Baru sebulan kerja di Jakarta Mas.”

“Oh… dari Turki langsung ke Jakarta?”

“Iya.”

“Wau keren ... sejak kapan kamu ke Turki Na?” tanya Elisa sopan.

“Dua tahun lalu. Magang.”

Radit mengangguk.

“Om Wira gimana?”

“Masih di Semarang, nemenin nenek.”

Hening sejenak.

Radit tersenyum lagi.

“Aku sudah lama nggak ke Semarang Na, kerjaan masih bolak balik Surabaya - Jakarta. Kapan-kapan ketemu lagi ya, Na.”

Inara mengangguk.

“Iya, Mas.”

Setelah berpisah, Radit masih menoleh. Inara pura-pura sibuk memilih apel.

**

Malamnya, Inara berbaring sambil membuka ponsel. Sebuah nama muncul, ia terdiam dan membuka pesan.

Radit :

Na, ini Mas Radit. Kapan-kapan ketemuan yuk? Mas belum puas ngobrol sama kamu tadi. Mas nggak tau kalau kamu sudah balik ke Indonesia.

Inara menggigit bibirnya. “Mas Radit…” gumamnya pelan.

Inara :

Iya, Mas. Kalau aku ada waktu ya, masih banyak pekerjaan sekarang ini.

Radit :

Atur saja ya kapan kamu free?"

Inara :

Nanti aku kabari lagi ya, Mas.

**

Jelang hari keberangkatan ke Turki.

“Zam, mama harap kamu serius, ajak Bella ya” ujar Mama Nizam.

Nizam menghela napas.

“Ma, ini cuma jalan-jalan, dan aku harus konsisten dengan doorprise hadiah utama ini. nggak enak nanti mengabaikan karyawan"

“Justru itu. nggak ada salahnya kan. karyawan kamu jadi ada temen. kalian bisa jalan-jalan, dan kamu bisa sambil mengena Bella, bukannya itu bagusl.”

Bella tersenyum manis.

“Aku nggak maksa, Zam.”

Nizam diam.

**

Hari pertama di Turki.

“Zam, kita foto di sini yuk,” pinta Bella.

“Bentar,” jawab Nizam.

“Okey, Pokoknya hari pertama ini, kita keliling dulu ya Zam,” Bella menggandeng lengannya.

Nizam menurut.

**

Hari kedua.

“Zam, nanti makan malam di restoran ini ya.”

“Kita ikut itinerary Riza aja.”

Bella tersenyum.

“Aku sudah minta izin Mama.”

Nizam terdiam lagi.

**

Hari keempat.

Nizam menelpon.

“Inara.”

“Ya, Pak?”

“Kamu hari ini ke mana?”

“Saya di luar, Pak.”

“Keliling?”

“Iya. Bapak ajak Mbak Bella saja.”

Nizam terdiam.

“Oh… ya sudah.”

Telepon ditutup, Bella menatapnya.

“Kamu nelpon Inara?”

“Iya.”

“Kamu perhatian sekali.”

Nizam tak menjawab.

**

Malam itu, di sebuah kafe anak muda. Bella berbicara panjang.

“Aku pengin belajar banyak dari kamu, Zam.”

“Hmm.”

“Kita cocok kan?”

Nizam mengangguk tipis. Bella berhenti bicara dan melihat ke arah rombongan muda mudi.

“Zam… itu Inara kan?”

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Bos Galak, I Love U   Bab 58 # Membangun Rasa

    Pasca kejadian di hotel itu, pikiran Nizam tak pernah benar-benar tenang. Ia duduk sendirian di teras rumah nenek Inara, memandangi halaman depan yang teduh. Angin siang itu berembus pelan, menggoyangkan daun-daun mangga tua yang sudah puluhan tahun berdiri di sana. Suasana tenang itu kontras dengan isi kepalanya yang riuh. Ia mengingat kembali kejadian di ruang rapat hotel. Minuman yang terasa aneh. Tubuhnya yang tiba-tiba panas dan kehilangan kendali. Sosok perempuan asing yang mencoba memanfaatkan situasi. Calon investor. Nizam menghela napas panjang. “Apa sebenarnya yang ada di benaknya?” gumamnya pelan. Selama berbisnis di Jakarta dan Bali, ia belum pernah mengalami jebakan serendah itu. Kompetisi keras? Sudah biasa. Permainan harga? Wajar. Tapi menjebak secara personal hingga mencoreng nama baik? Itu di luar nalarnya. Ia meremas jemarinya sendiri. Tidak. Ia tidak ingin hidu

  • Bos Galak, I Love U   Bab 57 # Tekad

    Jakarta kembali bergerak dalam ritme cepatnya. Di lantai tertinggi gedung pusat Niaga Perkasa, Akbar sudah kembali duduk di balik meja kerjanya. Wajahnya terlihat lebih matang dibanding beberapa bulan lalu. Ada ketegasan baru di sana dan juga keyakinan. Hari ini ia berencana meninjau pabrik induk pasca kerusakan mesin utama yang sempat melumpuhkan sebagian produksi. Revitalisasi fasilitas pelengkap menjadi tanggung jawabnya sepenuhnya. Sebelum berangkat, ia masuk ke ruang kerja Pak Gunawan. “Pa, Akbar berangkat ke pabrik sekarang.” Pak Gunawan mengangguk. “Papa serahkan rencana revitalisasi itu ke kamu, Bar. Papa mau lihat cara kamu memimpin langsung di lapangan.” Akbar tersenyum mantap. “InsyaAllah pa, Akbar akan jalankan sebaik mungkin.” Ia keluar dari ruangan dengan langkah pasti. Sebelum memasuki lift, ia membuka

  • Bos Galak, I Love U   Bab 56 # Konspirasi Terselubung

    Inara berdiri tegak di ambang pintu kamar 1001.Tatapannya menelusuri wanita yang berdiri di hadapannya dari ujung kepala sampai kaki. Gaun ketat berwarna merah menyala membalut tubuhnya. Riasannya tebal, parfumnya menyengat. Senyumnya terlalu percaya diri.Inara langsung bisa menebak wanita seperti apa yang sedang berdiri di depannya.“Siapa kamu?” ulang Inara, nada suaranya dingin namun tajam.Wanita itu mengangkat dagu. “Saya yang harusnya bertanya. Kamu siapa dan sedang apa di kamar ini bersama Pak Nizam?”Inara tertawa kecil. Bukan karena lucu tapi karena kesal.“Untuk apa kamu bertanya seperti itu?” balasnya tegas. “Apa yang kalian lakukan pada Pak Nizam, hah?”Wanita itu terkekeh, terdengar dibuat-buat.“Hey, wanita… eh siapapun kamu,” ujarnya sinis, “aku ini kekasihnya Pak Nizam.”Inara memejamkan mata sesaat, menahan amarah yang mulai mendidih.“Kalian pikir aku orang bodoh?” suaranya meninggi. “Kalian pasti punya niat buruk. Kalian ingin menjebaknya!”Tatapan Inara berubah t

  • Bos Galak, I Love U   Bab 55 # Di luar dugaan

    Hening itu terasa panjang bagi Nizam. Ia bisa mendengar detak jam dinding di ruang keluarga rumah tua keluarga Wijaya. Juga detak jantungnya sendiri yang terasa lebih keras dari biasanya. “Nak Nizam…” suara Nenek akhirnya terdengar. “Iya, Nek…” jawabnya hati-hati. “Menikah itu bukan perkara gampang. Apa kamu sudah benar-benar mengenal Nana?” Nizam menelan ludah. “Dia cucu kesayangan Nenek,” lanjut wanita sepuh itu. “Nenek sangat menyayanginya. Sejak kecil Nenek memanjakannya. Apa kamu akan tahan dengan sikap manjanya?” Papa Wijaya melirik ibunya sekilas. Meski kalimat itu terdengar seperti ujian, ada nada protektif yang wajar di dalamnya. Ia tahu betul putrinya memang sering bersikap sesuka hati walau tak pernah melampaui batas. “Nenek tidak pernah melarang apa pun yang ia lakukan selama itu baik,” sambung Nenek. “Dan Nenek tidak mau mendengar hal buruk tentang cuc

  • Bos Galak, I Love U   Bab 54 # Banyak hal yang terjadi

    Pintu ruang rawat itu menutup pelan di belakang Saka.Langkahnya terasa lebih berat dari sebelumnya. Bukan hanya karena luka di kepala dan lengannya yang masih berdenyut, tetapi juga karena sesuatu yang mengganjal di dadanya.Ia tak pernah membayangkan pertemuan itu akan terasa seperti tadi. Wajah pucat Mira. Tangis yang berusaha ia tahan. Kalimat lirihnya tentang musibah. Saka berhenti sejenak di lorong rumah sakit. Bau antiseptik kembali menusuk indra penciumannya. Ia memejamkan mata beberapa detik. Kejadian itu berputar lagi di kepalanya. Mobilnya melaju cukup cepat sore itu. Ia ingat jelas jalan yang sedikit lengang, pikirannya sibuk memikirkan urusan pekerjaan. Lalu dari jalur lain, sebuah mobil melesat kencang ke arahnya. Refleks. Setir dibanting. Rem diinjak, namun jarak terlalu dekat. Benturan keras. Suara kaca pecah. Tubuhnya terhuyung ke depan, sabuk pengam

  • Bos Galak, I Love U   Bab 53 # Kunjungan

    Aroma antiseptik memenuhi lorong rumah sakit yang dingin. Lampu-lampu putih menyala terang, memantulkan bayangan langkah-langkah yang hilir mudik sejak sore tadi. Mira masih berada di ruang pemulihan pasca operasi. Tubuhnya terbaring lemah, tertutup selimut tipis, wajahnya pucat karena pengaruh anestesi yang belum sepenuhnya hilang. Di luar kamar perawatan, Akbar duduk di kursi pengunjung. Kedua tangannya saling bertaut, sikunya bertumpu pada lutut. Tatapannya kosong, sesekali menoleh ke arah pintu yang tertutup rapat. Operasi itu berlangsung lebih lama dari yang ia perkirakan. Bayangan mobil ringsek dan tubuh Mira yang terjepit kembali terlintas di benaknya. Ia mengembuskan napas panjang, mencoba menenangkan diri. Tak lama berselang, sepasang suami-istri paruh baya menghampiri. Pak Assegaf, Ayah dan Bunda Adelia. “Bagaimana, Nak Akbar? Mira sudah sadar?” tanya sang ayah dengan wajah penuh kekh

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status