تسجيل الدخولNaila sedang sibuk membereskan kopernya saat pintu kamarnya diketuk, Devan berdiri di sana.”Loh, ngapain ke sini?” Naila membuka pintu kamar lebih lebar.”Hai, Pak De,” sapa Tere yang sedang menikmati keindahan alam dari balkon kamarnya.”Re,” Devan mendekati wanita itu, “mau tukeran kamar, nggak?””Hah?””Dev?” Naila menatap pria itu dengan mata membulat.”Nanti malam kamu tidur di kamar saya, saya tidur di sini, gimana?””Devan, astaga!”Tere menyeringai, “bayarannya apa dulu, nih?” godanya.“Kamu mau berapa?” Pria itu mengeluarkan ponselnya. Naila hanya bisa menghela napas dan membiarkan Tere dan Devan bicara karena ia sibuk menyusun pakaiannya. “Sebutin aja,” Devan benar-benar serius dengan tawarannya.Tere tertawa, “bercanda, Pak De. Ya kali minta bayaran beneran, boleh, sih, tukeran. Tapi ada yang tahu nomor kamar Bapak, nggak?””Kayaknya nggak ada yang tahu, saya nggak bilang siapa-siapa soal letak kamar saya.””Pa, apa nggak bahaya kita tukeran kamar? Nggak takut ketahuan?””
Outing kantor adalah kegiatan yang ditunggu-tunggu oleh arsitek di lantai dua puluh. Kali ini tujuan mereka adalah Ciwidey, Jawa barat. Tim-tim yang di bawah kepemimpinan Devan sangat menantikan outing menjelang akhir tahun ini. Sebagai Project Manager, Devan memang memiliki beberapa tim yang dibimbingnya, jadi membutuhkan tiga bus untuk menampung anggota timnya. Naila menurunkan kopernya dari taksi, ia menariknya ke tempat berkumpul teman-temannya. Bus-bus sudah berjejer rapi dan mereka menunggu semua anggota berkumpul.”Gue di bus mana?” Naila bertanya setelah berdiri di samping Agus.”Kita satu bus,” jawab Agus.Devan mendekat dengan menarik kopernya, pria itu mengambil koper Naila tanpa kata-kata lalu menaruhnya ke dalam bagasi bus. Semua orang—kecuali Naila dan Tere—memandang heran.”Pak, bisa tolong masukin juga?” Alexa tiba-tiba mendekat dan menyerahkan kopernya.Mau tidak mau Devan memasukkan koper Alexa ke dalam bagasi lalu meninggalkan wanita itu untuk bergabung dengan kelom
”Gue kan ngikuti jejak lo yang kumpul kebo sama Randi bertahun-tahun,” sahut Naila dengan senyum puas.”Bangke.””Pulang, sana.””Mau ngewe lo?””Lagi mens.””Ya udah, deh. Gue balik.” Tere melangkah menuju pintu, namun sebelum membukanya, ia menatap Naila, “mending nikah deh kalian berdua, ngewe terus.””Lo sama Randi juga ngewe, mending nikah sana,” balas Naila.Tere keluar sambil menahan tawa, wanita itu harus kembali ke apartemennya sendiri yang jaraknya tidak terlalu jauh dari apartemen Naila.Naila mematikan TV di ruang tengah, mengunci pintu dan kembali ke kamar, Devan sedang berpakaian saat ia masuk. Pria itu hanya mengenakan celana dan memilih tidak memakai atasan.”Bajunya nggak dipake?””Nggak usah, begini aja udah nyaman.” Devan duduk di tepi ranjang, menerima ponsel yang Naila ulurkan, “tidur sekarang?””Nggak, mau nonton dulu,” Naila menghidupkan TV di kamar, membuka Netflix untuk melanjutkan tontonannya kemarin malam, Devan bersandar di kepala ranjang, membawa Naila ke
“Gini doang masa kayak orang mau mati,” ledek Naila sambil menyodorkan sepotong kerupuk seblak padanya. “Nih, kerupuknya aja. Mungkin lebih aman buat lidah bule kamu.”Devan menatapnya sebal, tapi sudut bibirnya sedikit terangkat. “Lain kali, jangan coba racuni aku, ya.” Namun, ketika ia melihat Naila yang masih tertawa, matanya melunak. Meski lidahnya terbakar, ia tidak keberatan jika itu membuat Naila terlihat seceria ini. “Kamu aja yang makan, aku nggak mau, itu bukan makanan, itu alat membunuh perlahan-lahan.” Devan kembali berbaring di sofa.Melihat pria itu, Naila tersenyum tapi tiba-tiba saja Naila teringat lagi pada Jenifer, dan suasana hati Naila seketika berubah, yang tadinya merasa senang atas kedatangan Devan langsung berubah kacau karena rasa kesal, senyumnya menghilang tanpa jejak. Bahkan seblak di mulutnya sudah berubah rasa menjadi hambar.”Nai? Kamu kenapa?” tanya Devan, sedikit bingung melihat perubahan suasana.“Kamu pulang aja,” katanya tiba-tiba.Devan tertegun. “
“Kenapa lo?” Agus menatap Naila yang kembali ke meja dengan wajah linglung, “habis diomelin bos?”Kepala Naila menggeleng, bukan dimarahi, justru dipanggil dengan panggilan yang membuat Naila gelisah saat mendengarnya.Pria itu memanggilnya apa tadi? Sayang? Apakah Devan sedang mengejeknya? Dan siapa yang merasa cemburu? TIDAK! Naila sama sekali tidak cemburu!Tapi kata-kata itu terasa hampa. Naila menegakkan punggungnya, ia menolak untuk menyebut perasaan itu sebagai cemburu. Tidak mungkin. Ia bukan tipe wanita yang akan peduli dengan hubungan orang lain, apalagi Devan, yang hanya… apa? Teman tidur? Atasan? Naila meremas tangannya di bawah meja, mencoba menenangkan kegelisahannya. Tapi rasa itu tetap ada, menggantung, menunggu untuk dihadapi. Cemburu adalah kata yang terlalu besar, dan Naila tidak siap untuk menerima bahwa itulah yang sebenarnya sedang ia rasakan.Xoxo: Nai, aku bisa mampir?Naila: Aku mens.Xoxo: Oh, oke. Naila duduk di tepi tempat tidurnya, memandangi bayangannya
Devan baru saja kembali ke kantor karena ada rapat proyek di beberapa lokasi sejak pagi, saat ia melintasi lobi, Devan terkejut karena Jenifer ada di sana menunggunya.”Hai, Dev,” sapa wanita itu mendekat.Devan ingin balas menyapa, tapi matanya menangkap sosok Naila yang keluar dari lift bersama Agus dan Edo.”Aku bawain cake, aku datang nggak kasih tahu dulu, kamu nggak marah, kan?”Naila menatapnya dari ujung sana, matanya memandang datar lalu beralih menatap Jenifer yang masih berdiri di depan Devan, wanita itu kemudian mengalihkan tatapannya ke arah lain dan kembali bicara pada Agus dan Edo.Naila, Agus dan Edo melewati tempat Devan berdiri, mereka menyapa sekilas dan hanya dijawab anggukan samar oleh Devan, pria itu terus menatap Naila yang tidak mau menatapnya.”Dev?”“Ah, iya, thanks,” Devan menerima paper bag pemberian Jenifer, ia melirik ke pintu utama di mana Naila menghilang bersama dua temannya, pria itu menghela napas diam-diam.”Kamu sudah makan siang? Gimana kalau kita







