LOGINTanpa sadar, air matanya mengalir. Isakannya mulai terdengar, pelan tapi cukup nyata hingga membuat dadanya terasa berat. Ia meraih ponselnya, menekan nomor Devan, berharap suaminya bisa memberinya sedikit ketenangan. Panggilan itu dijawab setelah beberapa detik. Wajah Devan muncul di layar melalui video call, ekspresinya langsung berubah panik begitu melihat mata Naila yang basah.“Sayang, kamu kenapa? Ada yang sakit?” tanyanya cepat, suaranya penuh kekhawatiran.Naila hanya terisak, menutupi wajahnya dengan satu tangan. “Aku … aku kangen sama kamu, Dev,” ujarnya lirih. “Aku nggak bisa tidur … aku terbiasa kamu ada di sini. Aku butuh kamu peluk.”Devan mengusap wajahnya sendiri, tampak frustasi karena jarak memisahkan mereka. “Sayang, aku juga kangen banget sama kamu. Tapi aku masih ada pekerjaan di sini. Aku nggak bisa pulang besok. Maafin aku, ya.”Naila menggeleng sambil terisak. “Aku ngerti kamu kerja. Tapi aku nggak tahu kenapa aku ngerasa sedih banget malam in
”Dev, mending kamu kerja, deh,” usir Naila mulai jengah karena Devan terus-terusan mengkhawatirkannya. “Kalau ada apa-apa aku bakal bilang sama kamu. Pergi sana.”Devan mengangguk, lalu berdiri untuk kembali ke ruangannya. Sebelum pergi, ia menatap Naila sekali lagi. “Jangan terlalu lama di depan laptop, nanti aku temani kalau kamu mau istirahat.””Devan Wijaya!” Naila melotot. Pria itu terkekeh dan membungkuk untuk mencium sisi kepala istrinya sebelum melangkah pergi. Naila menghela napas kesal, saat ia menoleh ke sekeliling, semua orang sedang tersenyum-senyum memandangnya.”Cuma lo yang bisa bentak bos tapi malah di kasih ciuman,” goda Gabriel.”Gue jantungan dengar lo bentak barusan, tapi waktu ingat lo lagi bentak suami lo, gue mau ketawa. Inget bini gue yang suka bentak gue begitu di rumah,” kekeh Edo.”Kenapa nggak di rumah aja? Lo tuh nggak kekurangan duit, kenapa masih kerja?” Agus menatapnya khawatir.”Bukan soal duit, tapi udah kebiasaan kerja. Kal
Naila tertawa kecil sambil mengulurkan tangannya. “Nggak apa-apa. Aku cuma mau lihat kamu masangin kutek buat aku. Hasilnya urusan belakangan.”Dengan ekspresi serius yang berlebihan, Devan membuka tutup botol kutek dan mulai bekerja. Tangannya yang biasanya tegas saat menggambar desain arsitektur kini bergerak perlahan-lahan, mencoba memoles kuku Naila dengan hati-hati. Sesekali ia mengernyit ketika kuteknya meleset sedikit dari kuku.“Kenapa susah banget, sih?” keluh Devan, membuat Naila tertawa hingga bahunya terguncang.“Pelan-pelan, dong, Mas,” goda Naila.Devan menghela napas panjang, mencoba lebih fokus. “Ini kayak bikin sketsa, tapi permukaannya kecil banget,” gumamnya, lalu kembali memoles kuku Naila dengan konsentrasi tinggi. Setelah selesai dengan satu tangan, Devan duduk tegak dan memamerkan hasil karyanya. “Tuh, selesai. Gimana?” tanyanya dengan senyum penuh kemenangan.Naila menatap kukunya yang kini berkilauan dengan warna pastel. Meski hasilnya se
Devan duduk di sofa, dengan sebuah laptop terbuka di meja kecil di depannya. Di telinganya, ponsel yang terjepit di antara bahu dan telinga terus memancarkan suara dari ujung telepon. Ia sedang dalam diskusi serius tentang desain sebuah rumah sakit di Kupang, berbicara dengan seorang klien yang membahas detail-detail teknis. Naila muncul dari dapur, mengenakan daster longgar yang nyaman. Perutnya yang mulai membuncit karena kehamilan terlihat jelas di balik kain. Ia membawa sepiring jeruk yang belum dikupas, ketika mencapai sofa, ia duduk di sebelah Devan, meletakkan piring itu di meja.Devan melirik Naila sekilas, memberi senyum kecil, meskipun ia tetap fokus pada percakapan telepon. “Ya, untuk bagian ruang rawat inap, saya rasa desainnya bisa disesuaikan dengan orientasi cahaya alami. Itu akan memberi kesan lebih segar bagi pasien,” katanya ke ponsel. Sementara itu, Naila mengambil salah satu jeruk dari piring, berniat mengupasnya. Namun, belum sempat ia memulai, tangan D
Devan memimpin meeting saat ponselnya bergetar. Nama Istri🖤 tertera di layarnya. “Tunggu sebentar, istri saya telepon,” ia menghentikan rapat dan menjawab panggilan dengan sedikit menggeser kursinya ke belakang. “Halo, Sayang.””Sayang, kamu masih meeting, ya?”“Iya, kenapa? Kamu butuh sesuatu?”Naila terdengar ragu di seberang sana.”Nai? Kamu mau apa? Bilang aja,” ujarnya dengan nada lembut.”Beneran nggak apa-apa? Tapi kamu lagi sibuk, kan?””Nggak, kok. Kamu mau makan apa?””Aku … pengin banget Rujak Pak Santo yang di deket kantor kita, dari tadi kebayang terus. Tapi kamu lagi meeting—“”Kamu mau rujak? Mau yang pedes atau nggak?””Mau yang pedes, banyakin mangganya.””Oke, aku beliin sekarang, aku antar ke rumah.””Tapi tunggu kamu selesai meeting aja, aku nggak apa-apa nunggu—“”Sekarang aja, kamu mau makan apa lagi? Biar aku sekalian bawain.””Boleh makan sushi, nggak?””Nggak, Sayang. Dokter bilang nggak boleh mak
Naila menyeruput teh itu perlahan, hangatnya mengalir di tenggorokan dan sedikit membuat perasaannya lebih nyaman. “Makasih, Sayang,” ucapnya pelan sambil memandang Devan dengan mata yang terlihat lelah tapi penuh rasa terima kasih.Devan tersenyum kecil, ia meraih kaki Naila dengan hati-hati, memijitnya lembut. “Jangan bilang makasih, aku bakal ngelakuin apa pun buat kamu,” katanya sambil terus memijat telapak kaki istrinya.Sentuhan Devan yang lembut membuat Naila merasa lebih rileks. Ia memandangi pria itu yang dengan sabar mengurusnya, bahkan di tengah rasa kantuknya sendiri. “Kamu nggak capek?” tanya Naila pelan, merasa sedikit bersalah.Devan menggeleng sambil tersenyum. “Buat kamu dan bayi kita, nggak ada yang bikin aku capek. Yang penting kamu nyaman.”Naila merasa dadanya hangat karena ucapan suaminya. Ia menyeruput teh lagi, sementara tangan Devan masih setia memijat kakinya. Meski mual melanda, Naila merasa tenang karena kehadiran suaminya yang begitu tulu
Naila sedang menunggu flat white-nya bersama Agus, Edo dan Gabriel. ”Gue nggak tidur mikir revisian semalaman, memang anjing tuh bos,” umpat Agus dengan wajah kusut. ”Yang nyuruh lo mikir semalaman siapa? Tidur, makanya,” sahut Naila. ”Masalahnya kalau proyek ini dilempar ke tim lain, hilang h
”Shit!” Naila mengumpat lantang, Devan sudah berhasil melepaskan roknya, seluruh kancing kemejanya terbuka, memperlihatkan sepasang bukit kembar yang bagian branya juga sudah tidak terpasang sempurna, wanita itu mengenakan model bra dengan pengait di bagian depan, mempermudah Devan membukanya deng
Xoxo: Tempat aku apa tempat kamu? Naila melirik ponsel yang menampilkan pop up chat dari seseorang, ia diam-diam membawa ponsel ke bawah meja untuk membuka chat yang masuk, setelah membaca sebaris kalimat itu, lirikannya melayang kepada si pengirim pesan yang kelihatannya sedang fokus mendengarkan
Devan berdiri di tepi pantai untuk menikmati angin laut pada malam hari, Naila sudah tidur karena lelah, ia menikmati waktunya sendirian sampai akhirnya Ravel bergabung dengannya.”Belum tidur?” Ravel berdiri, memasukkan kedua tangan ke saku celana.”Belum, Abang sendiri kenapa belum tidur?””Habis







