LOGINNaila: Tok tok
Xoxo: Hmm? Naila: Udah makan siang? Xoxo: Belum, sebentar lagi. Ada apa? Naila: Nanya aja kali, Pak. Xoxo: Kamu di mana? Naila: Kantin. Xoxo: Aku titip makanan. Naila: Dih, ogah. Sini aja turun sendiri. Males jadi babu. Xoxo: Aku sudah berbaik hati ngasih tim kamu masukan soal pekerjaan. Naila: Kan bakal dapat bayaran nanti malam. Xoxo: Sekalian beliin makanan dong, Nai. Naila: Suruh babu lain, Pak Devan. Xoxo: Aku transfer ke kamu sekarang. Naila: Nggak mau. Xoxo: Gitu aja pelit. Naila: Bapak punya banyak babu, Pak. Jangan saya. Saya udah capek ngelayanin Bapak hampir tiap malam. Xoxo: Tapi kan sama-sama enak. Aku nggak pernah enak sendirian. Naila: Iya, sih. Enaknya sebanding sama sakit pinggangnya. Xoxo: Tapi tetap lebih banyak enaknya, kan? Kalo nggak, kamu nggak mungkin sampe jerit-jerit. Naila: Jerit sakit kali, Pak. Xoxo: Jerit sakit sambil bilang ‘oh yesss! Faster, Dev!’ Naila: Namanya juga lagi enak. Xoxo: Iya nanti malam dienakin lagi. Naila: Kamu udah mulai mikirin posisi, kan? Xoxo: Nggak. Naila: Nggak salah, maksudnya? Xoxo: Tuh, pinter. Naila: Dev, lingerie aku yang kamu robek dua minggu lalu belum kamu ganti, loh. Xoxo: Shit! Lupa. Aku transfer sekarang, ya. Naila: Udah telat! Kalau transfer sekarang jadinya harga dua kali lipat. Xoxo: Iya. Cek aja rekening kamu. Naila: Dev? Harganya nggak semahal itu. Ini bisa buat beli 5 lingerie. Xoxo: Ya udah, beli 5. Naila: Bapak tumben nggak pelit. Kesambet? Xoxo: Aku nggak pernah pelit. Naila: Masa? Diminta masukan malah nggak dikasih. Xoxo: Kan dikasih masukan yang lain. Naila: Funny, Devan! Xoxo: Nanti malam aku kasih 3 masukan. Naila: LOL! ”Nai, udah? Senyum-senyum aja lo. Kesambet?” Tere menatap Naila yang sejak tadi senyum-senyum memandangi ponselnya. ”Habis chat sama gebetannya kali,” sahut Gabriel. ”Nai, lo punya gebetan sekarang?” Edo dan Agus menatapnya. ”Nggak, sih. Temen aja.” ”Temen apa temen?” tanya Gabriel lagi. ”Temen tidur, dah puas lo semua?” Tere yang menjawab sambil menarik Naila berdiri, membawa piring kotor mereka untuk ditaruh di tray return station, “beresin piring kalian semua sebelum pergi, terutama lo, Gembot!” Tunjuk Tere pada Gabriel. ”Iya, Nyai Tarot,” balas Gabriel ketus. Naila dan Tere tertawa sambil meninggalkan meja mereka. “Dih, mual banget gue denger cerita si pick me, mana makannya dipelan-pelanin lagi, greget pengen nyuapin tuh rumput-rumput ke dalam mulutnya!” geram Tere. ”Lagian pake didengerin, anggap aja dongeng,” sahut Naila. “Kuping gue gatel dengerin dia ngomong pake nada diseret-seret begitu. Sok imut dan sok cantik banget.” ”Tapi emang cantik, sih.” ”Cantik tapi oplas.” ”Katanya, penggemar dia paling banyak di kantor ini.” ”Gue yakin mereka buta. Apa nggak bisa lihat kepalsuan tuh betina?” Naila menanggapinya dengan tawa, baginya selagi Alexa tidak mencari masalah dengannya, Naila tidak mau berkomentar, ia dan Alexa bekerja di lantai yang sama, jadi sedikit banyak Naila cukup tahu tentang Alexa yang dipuja-puja layaknya princess, bahkan julukannya saja Queen of Grace, sementara Tere berada dua lantai di atasnya. Naila duduk kembali di kursinya, wanita itu langsung menghidupkan komputer untuk melanjutkan pekerjaan. Tiba-tiba Devan berdiri di depan mejanya. ”Ehem!” Pria tu berdehem. Naila langsung mendongak. “Ada apa, Pak?” ”Tim kamu yang lain mana?” tanya Devan dengan nada datar, sebagian karyawan memang sudah kembali ke meja masing-masing, juga ada yang sedang makan bekal di ruang pantry. ”Masih di bawah, Pak. Lagi makan.” ”Nanti kalau mereka kembali, tunggu saya di rumah meeting, ya.” ”Iya, Pak.” Naila kembali fokus menatap layar komputernya. ”Ada lagi, Pak?” Wanita itu mendongak saat Devan tidak kunjung pergi dari hadapannya. “Buatin saya kopi, dong, Nai.” ”Loh, Bapak nggak bisa buat sendiri, memangnya? Kalau nggak tahu caranya, ada tutorialnya di Youtube, Pak,” sahut Naila jengkel. Di kantor ini, hal-hal semacam itu dilarang, siapa pun harus membuat sendiri minumannya tidak terkecuali bos. Devan berdecak kesal lalu pergi begitu saja, meninggalkan Naila yang menatapnya dengan tatapan heran, “aneh banget,” gumam Naila lalu mengabaikan pria itu sepenuhnya. ”Siang, Pak,” sapa Alexa yang baru keluar dari lift, berpapasan dengan Devan. Pria itu hanya mengangguk sekilas tanpa menoleh, Devan masuk ke ruang pantry dan berniat membuat sendiri kopinya. ”Bapak mau ngopi?” Alexa ternyata ikut masuk ke ruang pantry, “kebetulan saya juga mau buat kopi, mau sekalian dibuatin, Pak?” Pria itu menimbang tawaran itu sejenak. “Boleh, deh.” ”Bapak tunggu aja di ruangan, nanti saya antar. Atau Bapak mau minum di sini?” ”Ruangan aja, thanks, Alexa.” ”Sama-sama, Pak.” “Nggak jadi ngopi, Pak?” tanya Naila begitu Devan lewat di depan mejanya. ”Dibikinin sama Alexa,” jawab Devan. ”Duh, romantis banget. Selamat ya, Pak. Udah ketemu kacung baru.” Naila tersenyum manis. ”Nggak lucu,” jawab Devan datar lalu masuk ke dalam ruangannya dengan membanting pintu. Naila tersentak tapi kemudian tertawa geli melihat kelakuan bosnya yang hobi marah-marah itu. Tidak lama, Alexa lewat di depan mejanya sambil membawa secangkir kopi, diam-diam Naila menertawainya. Sekarang, siapa lagi target Alexa, Devan Wijaya? Well, semoga berhasil, deh. “Kalian ini sebenarnya mampu atau nggak?!” Naila menghela napas panjang, ia memandang lurus pada Devan yang melotot marah. ”Desain gini aja nggak bisa!” ”Pak, kita sudah membuat sesuai dengan permintaan Bapak—“ ”Makanya kalo saya ngomong, disimak!” “Babi,” desis Edo begitu pelan di samping Naila, “pengen gue bacok rasanya.” ”Hajar, Mas. Gue dukung,” balas Naila berbisik. ”Saya tunggu besok siang harus sudah selesai. Kesempatan terakhir, kalau nggak, kalian mundur aja dan kasih ke orang lain yang lebih berkompeten untuk handle. Nggak becus!” Devan keluar dari ruang meeting dengan langkah kesal. ”Anjing,” Agus menghempas diri di kursi, “maunya tuh orang apa, sih?! Kayak yang punya perusahaan aja!” ”Memang bapaknya yang punya, Gus,” balas Gabriel membicarakan fakta yang terlalu terang untuk mereka lihat. ”Anjing,” maki Agus lagi saat mengingat siapa Devan, “kayaknya kita udah kerjakan sedetail yang dia mau, kurangnya di mana, lagi?”Tanpa sadar, air matanya mengalir. Isakannya mulai terdengar, pelan tapi cukup nyata hingga membuat dadanya terasa berat. Ia meraih ponselnya, menekan nomor Devan, berharap suaminya bisa memberinya sedikit ketenangan. Panggilan itu dijawab setelah beberapa detik. Wajah Devan muncul di layar melalui video call, ekspresinya langsung berubah panik begitu melihat mata Naila yang basah.“Sayang, kamu kenapa? Ada yang sakit?” tanyanya cepat, suaranya penuh kekhawatiran.Naila hanya terisak, menutupi wajahnya dengan satu tangan. “Aku … aku kangen sama kamu, Dev,” ujarnya lirih. “Aku nggak bisa tidur … aku terbiasa kamu ada di sini. Aku butuh kamu peluk.”Devan mengusap wajahnya sendiri, tampak frustasi karena jarak memisahkan mereka. “Sayang, aku juga kangen banget sama kamu. Tapi aku masih ada pekerjaan di sini. Aku nggak bisa pulang besok. Maafin aku, ya.”Naila menggeleng sambil terisak. “Aku ngerti kamu kerja. Tapi aku nggak tahu kenapa aku ngerasa sedih banget malam in
”Dev, mending kamu kerja, deh,” usir Naila mulai jengah karena Devan terus-terusan mengkhawatirkannya. “Kalau ada apa-apa aku bakal bilang sama kamu. Pergi sana.”Devan mengangguk, lalu berdiri untuk kembali ke ruangannya. Sebelum pergi, ia menatap Naila sekali lagi. “Jangan terlalu lama di depan laptop, nanti aku temani kalau kamu mau istirahat.””Devan Wijaya!” Naila melotot. Pria itu terkekeh dan membungkuk untuk mencium sisi kepala istrinya sebelum melangkah pergi. Naila menghela napas kesal, saat ia menoleh ke sekeliling, semua orang sedang tersenyum-senyum memandangnya.”Cuma lo yang bisa bentak bos tapi malah di kasih ciuman,” goda Gabriel.”Gue jantungan dengar lo bentak barusan, tapi waktu ingat lo lagi bentak suami lo, gue mau ketawa. Inget bini gue yang suka bentak gue begitu di rumah,” kekeh Edo.”Kenapa nggak di rumah aja? Lo tuh nggak kekurangan duit, kenapa masih kerja?” Agus menatapnya khawatir.”Bukan soal duit, tapi udah kebiasaan kerja. Kal
Naila tertawa kecil sambil mengulurkan tangannya. “Nggak apa-apa. Aku cuma mau lihat kamu masangin kutek buat aku. Hasilnya urusan belakangan.”Dengan ekspresi serius yang berlebihan, Devan membuka tutup botol kutek dan mulai bekerja. Tangannya yang biasanya tegas saat menggambar desain arsitektur kini bergerak perlahan-lahan, mencoba memoles kuku Naila dengan hati-hati. Sesekali ia mengernyit ketika kuteknya meleset sedikit dari kuku.“Kenapa susah banget, sih?” keluh Devan, membuat Naila tertawa hingga bahunya terguncang.“Pelan-pelan, dong, Mas,” goda Naila.Devan menghela napas panjang, mencoba lebih fokus. “Ini kayak bikin sketsa, tapi permukaannya kecil banget,” gumamnya, lalu kembali memoles kuku Naila dengan konsentrasi tinggi. Setelah selesai dengan satu tangan, Devan duduk tegak dan memamerkan hasil karyanya. “Tuh, selesai. Gimana?” tanyanya dengan senyum penuh kemenangan.Naila menatap kukunya yang kini berkilauan dengan warna pastel. Meski hasilnya se
Devan duduk di sofa, dengan sebuah laptop terbuka di meja kecil di depannya. Di telinganya, ponsel yang terjepit di antara bahu dan telinga terus memancarkan suara dari ujung telepon. Ia sedang dalam diskusi serius tentang desain sebuah rumah sakit di Kupang, berbicara dengan seorang klien yang membahas detail-detail teknis. Naila muncul dari dapur, mengenakan daster longgar yang nyaman. Perutnya yang mulai membuncit karena kehamilan terlihat jelas di balik kain. Ia membawa sepiring jeruk yang belum dikupas, ketika mencapai sofa, ia duduk di sebelah Devan, meletakkan piring itu di meja.Devan melirik Naila sekilas, memberi senyum kecil, meskipun ia tetap fokus pada percakapan telepon. “Ya, untuk bagian ruang rawat inap, saya rasa desainnya bisa disesuaikan dengan orientasi cahaya alami. Itu akan memberi kesan lebih segar bagi pasien,” katanya ke ponsel. Sementara itu, Naila mengambil salah satu jeruk dari piring, berniat mengupasnya. Namun, belum sempat ia memulai, tangan D
Devan memimpin meeting saat ponselnya bergetar. Nama Istri🖤 tertera di layarnya. “Tunggu sebentar, istri saya telepon,” ia menghentikan rapat dan menjawab panggilan dengan sedikit menggeser kursinya ke belakang. “Halo, Sayang.””Sayang, kamu masih meeting, ya?”“Iya, kenapa? Kamu butuh sesuatu?”Naila terdengar ragu di seberang sana.”Nai? Kamu mau apa? Bilang aja,” ujarnya dengan nada lembut.”Beneran nggak apa-apa? Tapi kamu lagi sibuk, kan?””Nggak, kok. Kamu mau makan apa?””Aku … pengin banget Rujak Pak Santo yang di deket kantor kita, dari tadi kebayang terus. Tapi kamu lagi meeting—“”Kamu mau rujak? Mau yang pedes atau nggak?””Mau yang pedes, banyakin mangganya.””Oke, aku beliin sekarang, aku antar ke rumah.””Tapi tunggu kamu selesai meeting aja, aku nggak apa-apa nunggu—“”Sekarang aja, kamu mau makan apa lagi? Biar aku sekalian bawain.””Boleh makan sushi, nggak?””Nggak, Sayang. Dokter bilang nggak boleh mak
Naila menyeruput teh itu perlahan, hangatnya mengalir di tenggorokan dan sedikit membuat perasaannya lebih nyaman. “Makasih, Sayang,” ucapnya pelan sambil memandang Devan dengan mata yang terlihat lelah tapi penuh rasa terima kasih.Devan tersenyum kecil, ia meraih kaki Naila dengan hati-hati, memijitnya lembut. “Jangan bilang makasih, aku bakal ngelakuin apa pun buat kamu,” katanya sambil terus memijat telapak kaki istrinya.Sentuhan Devan yang lembut membuat Naila merasa lebih rileks. Ia memandangi pria itu yang dengan sabar mengurusnya, bahkan di tengah rasa kantuknya sendiri. “Kamu nggak capek?” tanya Naila pelan, merasa sedikit bersalah.Devan menggeleng sambil tersenyum. “Buat kamu dan bayi kita, nggak ada yang bikin aku capek. Yang penting kamu nyaman.”Naila merasa dadanya hangat karena ucapan suaminya. Ia menyeruput teh lagi, sementara tangan Devan masih setia memijat kakinya. Meski mual melanda, Naila merasa tenang karena kehadiran suaminya yang begitu tulu
”Shit!” Naila mengumpat lantang, Devan sudah berhasil melepaskan roknya, seluruh kancing kemejanya terbuka, memperlihatkan sepasang bukit kembar yang bagian branya juga sudah tidak terpasang sempurna, wanita itu mengenakan model bra dengan pengait di bagian depan, mempermudah Devan membukanya deng
Xoxo: Tempat aku apa tempat kamu? Naila melirik ponsel yang menampilkan pop up chat dari seseorang, ia diam-diam membawa ponsel ke bawah meja untuk membuka chat yang masuk, setelah membaca sebaris kalimat itu, lirikannya melayang kepada si pengirim pesan yang kelihatannya sedang fokus mendengarkan
Naila berdiri, keluar dari ruang meeting menuju ruang kerja Devan, ia mengetuk pintu dengan pelan. ”Masuk!” Terdengar sahutan dari dalam. Naila mendorong pintu. “Permisi, Pak.” ”Ada apa?” tanya Devan sambil sibuk menatap layar laptopnya. “Saya mau tanya soal desain yang barusan, salahnya di
“Lo nggak ke apartemen gue, kan?” Naila memastikan Tere akan ke apartemennya atau tidak, karena kalau sahabatnya itu datang, rencana terpaksa berubah, Naila tidak bisa membiarkan Devan datang ke tempatnya. ”Nggak, Randi mau nginap di tempat gue,” jawab Tere sambil menunggu makanannya diantar. “Ken







