登入Naila berdiri, keluar dari ruang meeting menuju ruang kerja Devan, ia mengetuk pintu dengan pelan.
”Masuk!” Terdengar sahutan dari dalam. Naila mendorong pintu. “Permisi, Pak.” ”Ada apa?” tanya Devan sambil sibuk menatap layar laptopnya. “Saya mau tanya soal desain yang barusan, salahnya di mana lagi, Pak? Bukannya sudah sesuai sama permintaan Bapak?” ”Jauh dari yang saya harapkan,” jawabnya ketus. Naila menghela napas. “Perasaan saya aja atau memang Bapak sedang mencari-cari kesalahan tim saya?” Naila menatapnya tajam. ”Nggak ada yang mencari-cari kesalahan tim kamu!” “Terus kenapa desainnya ditolak terus? Padahal sudah sesuai banget sama yang Bapak minta.” “Justru itu, kalian nggak ada kreatifnya sama sekali,” ”Sorry?” Naila memandang bingung, “Kamu tahu? Dalam desain bangunan, sangat penting untuk mendengarkan klien, namun menambahkan sentuhan kreativitas dan inovasi akan menciptakan hasil yang lebih berkesan, efisien, dan sesuai dengan perkembangan zaman. Kalian harus belajar itu. Hal-hal yang harus dipenuhi sesuai permintaan klien itu kebutuhan fungsional, batasan anggaran, preferensi gaya, regulasi dan kode bangunan. Tapi juga dibutuhkan kreativitas dalam inovasi dan keunikan juga estetika dan identitas. Hal-hal dasar begini saja kalian tidak tahu? Sudah berapa lama jadi arsitek? Mahasiswa baru arsitektur aja mungkin sudah paham hal beginian, kalian yang udah kerja lama harus diingatkan lagi soal ini? Really?” Naila diam membeku. ”Kalau kalian mati kreativitas seperti ini terus, kalian bakal kalah sama yang lain. Jadi bukan saya yang mencari-cari kesalahan tim kamu, tapi kalian sendiri yang terlalu malas berkembang. Sampai sini kamu paham?” ”Paham, Pak.” ”Good.” ”Saya permisi, Pak.” ”Batas waktu sampai besok siang, sampaikan pada yang lain, tolong kembangkan ide yang sekecil apa pun itu.” ”Baik, Pak.” Begitu Naila keluar dari ruangan Devan, timnya sudah menunggu di depan pintu. ”Gimana, Nai?” ”Balik ke studio desain,” jawab Naila, “kali ini kita kerjain lebih serius. Gue punya beberapa masukan buat desainnya.” ”Naila tiba-tiba dapat ilham?” celetuk Gabriel. “Iya, ilham dari nenek moyang lo,” balas Naila ketus. ”Nai, jangan marah, dong—“ Naila berbalik, menghela napas, menatap timnya lekat. “Kali ini gue serius, capek diomelin mulu. Kerja yang bener. Kalau nggak, mending kita mundur aja daripada sakit hati terus-terusan—“ ”Jangan dong, Nai. Gue butuh bonus gede.” ”Kalau gitu, lebih serius, Mas. Capek gue ngadepin dia kalau apa-apa dia marah. Bukannya sehat, kena gangguan mental kita semua.” Agus merangkul Naila dan mengusap bahunya. “Yuk, kerjain bareng. Gue yakin kali ini bisa. Ngomong-ngomong, gimana masukan lo buat desainnya?” *** Xoxo: Masih lembur? Naila: Iya, masih ngerjain desain. Xoxo: Pulang jam berapa? Naila: Nggak tahu, bos aku galak soalnya. Marah-marah terus, jadi harus kerja keras biar nggak diomelin lagi. Bisa gila. Maunya sih aku santet dia, tapi nggak kenal dukun. Ada kenalan? Atau ada saran santet terbaik? Xoxo: Bos kamu bermaksud baik, Nai. Naila: Iya tahu. Meskipun caranya nyebelin banget. Xoxo: Kalau sudah pulang kabari, nanti aku nyusul ke apartemen kamu. Naila: Iya. Xoxo: Good luck buat tim kamu. Naila: Thanks, Pak Devan Wijaya. Xoxo: Saya yakin besok mood bos kamu bakal baik banget. Naila: Oh ya? Karena bakal main 3 ronde? Xoxo: Bisa jadi. Coba kasih 4 ronde, pasti bisa lebih baik lagi. Naila: Hahahaha. FUCK YOU! Xoxo: I’ll fuck you then. Devan mengantongi ponselnya, ia melirik studio desain di mana lampunya masih menyala terang, Devan berniat untuk mengintip ke sana, tapi ia urungkan. Lebih baik membiarkan bawahannya bekerja tanpa gangguan. ”Baru pulang juga, Pak?” Devan menoleh pada Alexa, wanita cantik itu sedang tersenyum padanya. ”Iya.” ”Timnya Mas Agus kayaknya lagi dikejar deadline banget, ya, Pak,” ujar Alexa kembali membuka pembicaraan. ”Iya. Sepertinya begitu.” ”Soal proyek yang di Surabaya itu, Pak?” ”Iya.” Alexa kembali diam, mereka keluar bersama dari lift ketika kotak persegi itu berhenti di basement, Devan langsung menuju mobilnya. Namun baru saja ia duduk di dalam mobil, jendelanya diketuk dari luar. ”Kenapa, Alexa?” ”Pak, ada kenalan orang bengkel, nggak? Ban mobil saya kempes.” Devan turun dari mobil, mengikuti Alexa menuju mobilnya. Benar saja, ban depan mobil wanita itu kempes. ”Ada ban serep?” ”Nggak tahu, Pak. Nggak ngerti soal mobil.” ”Coba cek bagasi.” Alexa membuka bagasi belakang mobilnya, Devan mencari-cari ban serep yang rupanya tidak ada di mobil. ”Kok bisa mobil kamu nggak punya ban serep?” ”Ini mobil kakak saya, Pak. Kita hari ini lagi tukeran mobil. Bapak punya kenalan orang bengkel, nggak? Saya nggak punya soalnya.” ”Tunggu sebentar.” Devan menghubungi bengkel langganannya, bertanya apakah mereka bisa datang segera ke kantor untuk mengurus ban mobil Alexa, setelah mendengar kesanggupan teknisi bengkel untuk segera datang, Devan menyudahi panggilan. “Nanti mereka datang ke sini, tunggu sekitar tiga puluh menit.” ”Makasih, Pak. Hmm … Bapak bisa temani saya nunggu? Saya nggak paham nanti kalau teknisinya nanya-nanya, terus … sepi, Pak. Saya takut sendirian.” “Ya udah, saya temani,” Devan bersandar di badan mobil Alexa, begitu juga dengan wanita itu. Tapi lama kelamaan, kaki Devan terasa pegal karena berdiri, juga udara di basement yang terasa panas. “Tunggu di lobi aja,” Devan melangkah menuju lift, “di sini panas.” Buru-buru Alexa mengikuti, tepat ketika pintu lift terbuka, Naila, Edo, Agus dan Gabriel keluar dari lift. ”Malam, Pak. Belum pulang, Pak?” sapa Edo. “Sebentar lagi,” jawab Devan. Naila sendiri tidak terlalu memperdulikan Devan dan Alexa, wanita itu sibuk dengan ponselnya sambil melangkah menuju mobil. ”Si bos ngapain sama Alexa naik ke atas lagi?” Agus bertanya sambil merangkul bahu Naila. ”Mana gue tahu, tanya aja sendiri,” Naila kembali mengirim pesan pada Tere menanyakan keberadaan sahabatnya itu, pokoknya jangan sampai Tere datang ke apartemennya malam ini. ”Penasaran, mau ngapain ya mereka?” ”Elaah, Gussss, tanya sendiri. Mana gue tahu, goblok!” Naila menyikut Agus lalu membuka pintu mobilnya, “gue duluan, capek banget.” Wanita itu menghidupkan mesin mobil lalu pergi meninggalkan basement lebih dulu daripada teman-temannya. Naila juga sama sekali tidak terlalu peduli pada Devan dan Alexa yang berduaan, Naila tidak peduli pada urusan orang lain, yang ia pedulikan hanyalah urusannya sendiri. Wanita itu tidak terlalu suka ikut campur dan penasaran pada hal-hal di sekitarnya. Naila baru saja selesai mandi ketika bel berbunyi, ia membuka pintu dan Devan berdiri di depannya. ”Aku pikir nggak jadi datang.” ”Siapa bilang nggak jadi?” Devan masuk ke dalam, tanpa basa-basi mendorong Naila ke dinding dan melumat bibirnya. Pria itu menciumnya penuh nafsu. Tangan Devan meremas payudara Naila yang tertutupi oleh baju kaos, senyum di bibirnya merekah merasakan payudara itu tidak dilapisi oleh bra. ”Dev, nggak pernah mau sabaran—“ ”Mau di mana? Kamar atau sofa?” Devan bertanya sambil membuka dasi di lehernya. ”Kamar aja, aku nggak mau pinggangku patah—astaga!” Naila terkejut karena tiba-tiba tubuhnya melayang, Devan menggendong dan menjatuhkannya ke atas kasur, pria itu kembali membungkam bibir Naila sambil melepaskan pakaiannya.Naila memandang ragu, tapi perlahan ia mengangguk. “Iya, percaya.””Good girl,” ucapnya bangga.Devan mendekatkan wajahnya ke Naila, jemarinya menyentuh lembut pipi Naila, menggamit bibirnya dengan penuh kelembutan. Ciuman mereka terasa penuh rasa sayang, namun perlahan, ciuman itu semakin dalam, seolah-olah mencoba menyampaikan semua perasaan yang terpendam antara keduanya. Lidah Devan dengan lembut menyusup ke dalam mulut Naila, dan wanita itu segera membalas ciuman itu dengan cara yang sama, penuh gairah. Suasana di sekitar mereka terasa semakin intens, udara seolah mengalir lebih cepat, membawa sensasi yang membuat tubuh Naila bergetar. Seketika serial di Netflix tidak lagi menarik bagi Naila maupun Devan, mereka berciuman dalam dan rakus, lidah saling membelai, tangan saling meraba dan bergerak untuk melepaskan pakaian masing-masing. Naila terengah di pangkuan Devan, pria itu sudah berhasil melepaskan gaun tidurnya, hanya menyisakan celana dalam tipis berenda. Kemeja Devan juga
“Jurus buayanya lagi dipake?” Naila menggoda, meski hatinya merasa hangat.Devan tertawa pelan, menundukkan kepala dan membiarkan ujung rambutnya sedikit jatuh ke dahi. “Iya, jurusnya kira-kira mempan nggak ke kamu?”Bagaikan respon alamiah, Naila tersenyum dengan senyum yang semakin lebar, merasa dunia sekitar mereka semakin menyempit hanya untuk berdua. Perlahan, ia mengalungkan tangannya ke leher Devan, merasakan kehangatan tubuh pria itu semakin dekat. Tangan Naila bergerak lembut, mengusap tengkuk Devan, dan memainkan rambut bagian belakangnya dengan lembut. Ada ketenangan dalam gerakan itu, namun juga ketegangan yang mengalir di dalam hatinya.“Aku mau cerita sesuatu, Dev,” suara Naila terdengar pelan, sedikit gemetar.Devan menatapnya dengan penuh perhatian, tanpa berkata-kata, memberi Naila ruang untuk berbicara. Ini adalah hal yang sudah lama ia tunggu, mengetahui lebih banyak tentang Naila, wanita yang kini begitu berarti baginya. Naila menghela napas, tampak sedikit gugup,
Pagi ini Devan datang ke kantor membawa dua cup kopi, ia mengangguk pelan saat disapa oleh karyawannya, Devan berhenti di depan meja kerja Naila, wanita itu sedang fokus pada ponselnya.”Morning, Nai,” sapa Devan meletakkan salah satu kopi ke atas meja Naila.Naila mendongak, tersenyum kecil, “morning, Pak. Ini buat saya?””Iya, buat kamu,” Devan menarik kursi Erni yang pemiliknya belum terlihat, pria itu tidak peduli dengan orang-orang di lantai dua puluh yang diam-diam melirik mereka, ia duduk di samping Naila. Naila menatap bingung, diam-diam melirik Agus, Edo dan Gabriel yang berdiri di dekat pantry melirik ke arahnya sambil senyum-senyum.Devan meminum kopinya dengan santai.”Makan siang di mana nanti?” “B—belum tahu, kenapa, Pak?””Makan bareng?””Bapak ngajakin saya makan bareng?””Iya, sekalian temani cari kado ulang tahun buat adik bungsu aku, gimana?”A—aku?! Bukan hanya Naila, tapi seluruh penghuni lantai dua puluh yang mencuri dengar pembicaraan itu langsung memelotot den
Agus tertawa kecil, kali ini dengan nada yang terdengar lebih tulus. “Ya udah, Nai. Kalau emang lo nggak mau sama gue, nggak apa-apa. Gue sih juga mikir, lo lebih cocok sama Pak Devan, kok.”“Agus!” Naila berseru dengan nada hampir putus asa, membuat teman-temannya tertawa lebih keras.Edo menimpali sambil menyikut Agus. “Eh, bener juga, Gus. Kalau dibandingin lo, Pak Devan itu udah kayak paket lengkap. Cakep, tajir, bos lagi.”Gabriel mengangguk setuju sambil berseru, “Setuju banget! Dan kelihatan banget, kan, gimana Pak Dev itu selalu perhatian sama Naila. Kao lo berani deketin Naila, siap-siap aja dipecat.”Tere yang melihat wajah Naila memerah karena malu langsung tertawa pelan. “Udah, Nai. Ngaku aja, deh. Nggak usah malu-malu segala, kita-kita nggak ada yang bakal usik kalo lo emang jadi pacarnya Pak De.”“Terserah kalian mau ngomong apa,” kata Naila akhirnya, menyerah dengan semua ledekan. Ia menutup wajahnya dengan tangan, merasa semua mata di meja itu terlalu tajam menatapnya.
“Nanti saya mau bahas soal desain hotel di Riau,” ujar Devan, memecah keheningan kecil yang sempat tercipta. Ia berbicara dengan nada serius, meski sikapnya tetap terlihat santai. “Desainnya harus beda dari proyek Bandung, lebih banyak elemen lokalnya.”Gabriel mengangguk antusias, mencoba kembali fokus. “Saya setuju, Pak. Kalau elemen lokalnya lebih ditonjolkan, itu bisa jadi daya tarik utama.”Sambil berbicara, Devan menyadari Naila sedikit ceroboh dan tanpa sengaja menumpahkan air dari botol yang ia pegang. Devan refleks mengambil tisu di meja, mendekatkan diri ke Naila, dan membantu mengelap meja yang basah.“Nggak apa-apa,” ujarnya lembut, sembari menyerahkan tisu kepada Naila. Tatapannya penuh perhatian, membuat Naila hanya bisa menelan ludah dengan gugup.“Eh, saya bisa sendiri, Pak,” gumam Naila lirih, namun Devan tidak menggubris dan tetap membantu.Tere menutupi senyum jailnya dengan tangan. Ia jelas ingin meledek, tapi sepertinya masih berusaha menahan diri. Sementara itu,
Suasana kantor Renaldi Corp perlahan kembali normal setelah gosip tentang Naila memudar. Sekalipun masih ada beberapa karyawan yang membahasnya, topik itu kini kalah menarik dibandingkan dengan satu nama lain yang menjadi sorotan: Alexa. Sejak video Alexa yang mendorong Naila di curug tersebar, reputasi wanita itu hancur seketika. Jika dulu Alexa sering menjadi pujaan karena wajah cantik dan gaya anggunnya, kini semua orang membicarakan kelakuan buruknya. Di pantry, meja kerja, bahkan lift kantor, komentar-komentar sinis tentang Alexa terus terdengar. Ada yang menyebutnya cantik tapi licik, ada yang mengatakan bahwa wajahnya yang tenang ternyata hanya topeng belaka. Alexa yang biasanya penuh percaya diri kini selalu menundukkan kepala saat berjalan melewati rekan-rekan kerjanya.Sementara itu, Naila dan Tere yang tengah duduk bersama di pantry tersenyum puas mendengar percakapan dua rekan kerja mereka yang baru saja masuk.“Gue heran, ya, kok dulu gue bisa kagum sama Alexa. Ternyata d







