Home / Romansa / Boss With Benefit / BOSS WITH BENEFIT - 6

Share

BOSS WITH BENEFIT - 6

Author: Pipit Chie
last update publish date: 2026-05-25 11:37:45

Naila berdiri, keluar dari ruang meeting menuju ruang kerja Devan, ia mengetuk pintu dengan pelan.

”Masuk!” Terdengar sahutan dari dalam.

Naila mendorong pintu. “Permisi, Pak.”

”Ada apa?” tanya Devan sambil sibuk menatap layar laptopnya.

“Saya mau tanya soal desain yang barusan, salahnya di mana lagi, Pak? Bukannya sudah sesuai sama permintaan Bapak?”

”Jauh dari yang saya harapkan,” jawabnya ketus.

Naila menghela napas. “Perasaan saya aja atau memang Bapak sedang mencari-cari kesalahan tim saya?” Naila menatapnya tajam.

”Nggak ada yang mencari-cari kesalahan tim kamu!”

“Terus kenapa desainnya ditolak terus? Padahal sudah sesuai banget sama yang Bapak minta.”

“Justru itu, kalian nggak ada kreatifnya sama sekali,”

”Sorry?” Naila memandang bingung,

“Kamu tahu? Dalam desain bangunan, sangat penting untuk mendengarkan klien, namun menambahkan sentuhan kreativitas dan inovasi akan menciptakan hasil yang lebih berkesan, efisien, dan sesuai dengan perkembangan zaman. Kalian harus belajar itu. Hal-hal yang harus dipenuhi sesuai permintaan klien itu kebutuhan fungsional, batasan anggaran, preferensi gaya, regulasi dan kode bangunan. Tapi juga dibutuhkan kreativitas dalam inovasi dan keunikan juga estetika dan identitas. Hal-hal dasar begini saja kalian tidak tahu? Sudah berapa lama jadi arsitek? Mahasiswa baru arsitektur aja mungkin sudah paham hal beginian, kalian yang udah kerja lama harus diingatkan lagi soal ini? Really?”

Naila diam membeku.

”Kalau kalian mati kreativitas seperti ini terus, kalian bakal kalah sama yang lain. Jadi bukan saya yang mencari-cari kesalahan tim kamu, tapi kalian sendiri yang terlalu malas berkembang. Sampai sini kamu paham?”

”Paham, Pak.”

”Good.”

”Saya permisi, Pak.”

”Batas waktu sampai besok siang, sampaikan pada yang lain, tolong kembangkan ide yang sekecil apa pun itu.”

”Baik, Pak.”

Begitu Naila keluar dari ruangan Devan, timnya sudah menunggu di depan pintu.

”Gimana, Nai?”

”Balik ke studio desain,” jawab Naila, “kali ini kita kerjain lebih serius. Gue punya beberapa masukan buat desainnya.”

”Naila tiba-tiba dapat ilham?” celetuk Gabriel.

“Iya, ilham dari nenek moyang lo,” balas Naila ketus.

”Nai, jangan marah, dong—“

Naila berbalik, menghela napas, menatap timnya lekat. “Kali ini gue serius, capek diomelin mulu. Kerja yang bener. Kalau nggak, mending kita mundur aja daripada sakit hati terus-terusan—“

”Jangan dong, Nai. Gue butuh bonus gede.”

”Kalau gitu, lebih serius, Mas. Capek gue ngadepin dia kalau apa-apa dia marah. Bukannya sehat, kena gangguan mental kita semua.”

Agus merangkul Naila dan mengusap bahunya. “Yuk, kerjain bareng. Gue yakin kali ini bisa. Ngomong-ngomong, gimana masukan lo buat desainnya?”

***

Xoxo: Masih lembur?

Naila: Iya, masih ngerjain desain.

Xoxo: Pulang jam berapa?

Naila: Nggak tahu, bos aku galak soalnya. Marah-marah terus, jadi harus kerja keras biar nggak diomelin lagi. Bisa gila. Maunya sih aku santet dia, tapi nggak kenal dukun. Ada kenalan? Atau ada saran santet terbaik?

Xoxo: Bos kamu bermaksud baik, Nai.

Naila: Iya tahu. Meskipun caranya nyebelin banget.

Xoxo: Kalau sudah pulang kabari, nanti aku nyusul ke apartemen kamu.

Naila: Iya.

Xoxo: Good luck buat tim kamu.

Naila: Thanks, Pak Devan Wijaya.

Xoxo: Saya yakin besok mood bos kamu bakal baik banget.

Naila: Oh ya? Karena bakal main 3 ronde?

Xoxo: Bisa jadi. Coba kasih 4 ronde, pasti bisa lebih baik lagi.

Naila: Hahahaha. FUCK YOU!

Xoxo: I’ll fuck you then.

Devan mengantongi ponselnya, ia melirik studio desain di mana lampunya masih menyala terang, Devan berniat untuk mengintip ke sana, tapi ia urungkan. Lebih baik membiarkan bawahannya bekerja tanpa gangguan.

”Baru pulang juga, Pak?”

Devan menoleh pada Alexa, wanita cantik itu sedang tersenyum padanya.

”Iya.”

”Timnya Mas Agus kayaknya lagi dikejar deadline banget, ya, Pak,” ujar Alexa kembali membuka pembicaraan.

”Iya. Sepertinya begitu.”

”Soal proyek yang di Surabaya itu, Pak?”

”Iya.”

Alexa kembali diam, mereka keluar bersama dari lift ketika kotak persegi itu berhenti di basement, Devan langsung menuju mobilnya. Namun baru saja ia duduk di dalam mobil, jendelanya diketuk dari luar.

”Kenapa, Alexa?”

”Pak, ada kenalan orang bengkel, nggak? Ban mobil saya kempes.”

Devan turun dari mobil, mengikuti Alexa menuju mobilnya. Benar saja, ban depan mobil wanita itu kempes.

”Ada ban serep?”

”Nggak tahu, Pak. Nggak ngerti soal mobil.”

”Coba cek bagasi.”

Alexa membuka bagasi belakang mobilnya, Devan mencari-cari ban serep yang rupanya tidak ada di mobil.

”Kok bisa mobil kamu nggak punya ban serep?”

”Ini mobil kakak saya, Pak. Kita hari ini lagi tukeran mobil. Bapak punya kenalan orang bengkel, nggak? Saya nggak punya soalnya.”

”Tunggu sebentar.” Devan menghubungi bengkel langganannya, bertanya apakah mereka bisa datang segera ke kantor untuk mengurus ban mobil Alexa, setelah mendengar kesanggupan teknisi bengkel untuk segera datang, Devan menyudahi panggilan. “Nanti mereka datang ke sini, tunggu sekitar tiga puluh menit.”

”Makasih, Pak. Hmm … Bapak bisa temani saya nunggu? Saya nggak paham nanti kalau teknisinya nanya-nanya, terus … sepi, Pak. Saya takut sendirian.”

“Ya udah, saya temani,” Devan bersandar di badan mobil Alexa, begitu juga dengan wanita itu. Tapi lama kelamaan, kaki Devan terasa pegal karena berdiri, juga udara di basement yang terasa panas. “Tunggu di lobi aja,” Devan melangkah menuju lift, “di sini panas.”

Buru-buru Alexa mengikuti, tepat ketika pintu lift terbuka, Naila, Edo, Agus dan Gabriel keluar dari lift.

”Malam, Pak. Belum pulang, Pak?” sapa Edo.

“Sebentar lagi,” jawab Devan.

Naila sendiri tidak terlalu memperdulikan Devan dan Alexa, wanita itu sibuk dengan ponselnya sambil melangkah menuju mobil.

”Si bos ngapain sama Alexa naik ke atas lagi?” Agus bertanya sambil merangkul bahu Naila.

”Mana gue tahu, tanya aja sendiri,” Naila kembali mengirim pesan pada Tere menanyakan keberadaan sahabatnya itu, pokoknya jangan sampai Tere datang ke apartemennya malam ini.

”Penasaran, mau ngapain ya mereka?”

”Elaah, Gussss, tanya sendiri. Mana gue tahu, goblok!” Naila menyikut Agus lalu membuka pintu mobilnya, “gue duluan, capek banget.” Wanita itu menghidupkan mesin mobil lalu pergi meninggalkan basement lebih dulu daripada teman-temannya. Naila juga sama sekali tidak terlalu peduli pada Devan dan Alexa yang berduaan, Naila tidak peduli pada urusan orang lain, yang ia pedulikan hanyalah urusannya sendiri. Wanita itu tidak terlalu suka ikut campur dan penasaran pada hal-hal di sekitarnya.

Naila baru saja selesai mandi ketika bel berbunyi, ia membuka pintu dan Devan berdiri di depannya.

”Aku pikir nggak jadi datang.”

”Siapa bilang nggak jadi?” Devan masuk ke dalam, tanpa basa-basi mendorong Naila ke dinding dan melumat bibirnya. Pria itu menciumnya penuh nafsu. Tangan Devan meremas payudara Naila yang tertutupi oleh baju kaos, senyum di bibirnya merekah merasakan payudara itu tidak dilapisi oleh bra.

”Dev, nggak pernah mau sabaran—“

”Mau di mana? Kamar atau sofa?” Devan bertanya sambil membuka dasi di lehernya.

”Kamar aja, aku nggak mau pinggangku patah—astaga!” Naila terkejut karena tiba-tiba tubuhnya melayang, Devan menggendong dan menjatuhkannya ke atas kasur, pria itu kembali membungkam bibir Naila sambil melepaskan pakaiannya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 137

    Tanpa sadar, air matanya mengalir. Isakannya mulai terdengar, pelan tapi cukup nyata hingga membuat dadanya terasa berat. Ia meraih ponselnya, menekan nomor Devan, berharap suaminya bisa memberinya sedikit ketenangan. Panggilan itu dijawab setelah beberapa detik. Wajah Devan muncul di layar melalui video call, ekspresinya langsung berubah panik begitu melihat mata Naila yang basah.“Sayang, kamu kenapa? Ada yang sakit?” tanyanya cepat, suaranya penuh kekhawatiran.Naila hanya terisak, menutupi wajahnya dengan satu tangan. “Aku … aku kangen sama kamu, Dev,” ujarnya lirih. “Aku nggak bisa tidur … aku terbiasa kamu ada di sini. Aku butuh kamu peluk.”Devan mengusap wajahnya sendiri, tampak frustasi karena jarak memisahkan mereka. “Sayang, aku juga kangen banget sama kamu. Tapi aku masih ada pekerjaan di sini. Aku nggak bisa pulang besok. Maafin aku, ya.”Naila menggeleng sambil terisak. “Aku ngerti kamu kerja. Tapi aku nggak tahu kenapa aku ngerasa sedih banget malam in

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 136

    ”Dev, mending kamu kerja, deh,” usir Naila mulai jengah karena Devan terus-terusan mengkhawatirkannya. “Kalau ada apa-apa aku bakal bilang sama kamu. Pergi sana.”Devan mengangguk, lalu berdiri untuk kembali ke ruangannya. Sebelum pergi, ia menatap Naila sekali lagi. “Jangan terlalu lama di depan laptop, nanti aku temani kalau kamu mau istirahat.””Devan Wijaya!” Naila melotot. Pria itu terkekeh dan membungkuk untuk mencium sisi kepala istrinya sebelum melangkah pergi. Naila menghela napas kesal, saat ia menoleh ke sekeliling, semua orang sedang tersenyum-senyum memandangnya.”Cuma lo yang bisa bentak bos tapi malah di kasih ciuman,” goda Gabriel.”Gue jantungan dengar lo bentak barusan, tapi waktu ingat lo lagi bentak suami lo, gue mau ketawa. Inget bini gue yang suka bentak gue begitu di rumah,” kekeh Edo.”Kenapa nggak di rumah aja? Lo tuh nggak kekurangan duit, kenapa masih kerja?” Agus menatapnya khawatir.”Bukan soal duit, tapi udah kebiasaan kerja. Kal

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 135

    Naila tertawa kecil sambil mengulurkan tangannya. “Nggak apa-apa. Aku cuma mau lihat kamu masangin kutek buat aku. Hasilnya urusan belakangan.”Dengan ekspresi serius yang berlebihan, Devan membuka tutup botol kutek dan mulai bekerja. Tangannya yang biasanya tegas saat menggambar desain arsitektur kini bergerak perlahan-lahan, mencoba memoles kuku Naila dengan hati-hati. Sesekali ia mengernyit ketika kuteknya meleset sedikit dari kuku.“Kenapa susah banget, sih?” keluh Devan, membuat Naila tertawa hingga bahunya terguncang.“Pelan-pelan, dong, Mas,” goda Naila.Devan menghela napas panjang, mencoba lebih fokus. “Ini kayak bikin sketsa, tapi permukaannya kecil banget,” gumamnya, lalu kembali memoles kuku Naila dengan konsentrasi tinggi. Setelah selesai dengan satu tangan, Devan duduk tegak dan memamerkan hasil karyanya. “Tuh, selesai. Gimana?” tanyanya dengan senyum penuh kemenangan.Naila menatap kukunya yang kini berkilauan dengan warna pastel. Meski hasilnya se

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 134

    Devan duduk di sofa, dengan sebuah laptop terbuka di meja kecil di depannya. Di telinganya, ponsel yang terjepit di antara bahu dan telinga terus memancarkan suara dari ujung telepon. Ia sedang dalam diskusi serius tentang desain sebuah rumah sakit di Kupang, berbicara dengan seorang klien yang membahas detail-detail teknis. Naila muncul dari dapur, mengenakan daster longgar yang nyaman. Perutnya yang mulai membuncit karena kehamilan terlihat jelas di balik kain. Ia membawa sepiring jeruk yang belum dikupas, ketika mencapai sofa, ia duduk di sebelah Devan, meletakkan piring itu di meja.Devan melirik Naila sekilas, memberi senyum kecil, meskipun ia tetap fokus pada percakapan telepon. “Ya, untuk bagian ruang rawat inap, saya rasa desainnya bisa disesuaikan dengan orientasi cahaya alami. Itu akan memberi kesan lebih segar bagi pasien,” katanya ke ponsel. Sementara itu, Naila mengambil salah satu jeruk dari piring, berniat mengupasnya. Namun, belum sempat ia memulai, tangan D

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 132

    Devan memimpin meeting saat ponselnya bergetar. Nama Istri🖤 tertera di layarnya. “Tunggu sebentar, istri saya telepon,” ia menghentikan rapat dan menjawab panggilan dengan sedikit menggeser kursinya ke belakang. “Halo, Sayang.””Sayang, kamu masih meeting, ya?”“Iya, kenapa? Kamu butuh sesuatu?”Naila terdengar ragu di seberang sana.”Nai? Kamu mau apa? Bilang aja,” ujarnya dengan nada lembut.”Beneran nggak apa-apa? Tapi kamu lagi sibuk, kan?””Nggak, kok. Kamu mau makan apa?””Aku … pengin banget Rujak Pak Santo yang di deket kantor kita, dari tadi kebayang terus. Tapi kamu lagi meeting—“”Kamu mau rujak? Mau yang pedes atau nggak?””Mau yang pedes, banyakin mangganya.””Oke, aku beliin sekarang, aku antar ke rumah.””Tapi tunggu kamu selesai meeting aja, aku nggak apa-apa nunggu—“”Sekarang aja, kamu mau makan apa lagi? Biar aku sekalian bawain.””Boleh makan sushi, nggak?””Nggak, Sayang. Dokter bilang nggak boleh mak

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 131

    Naila menyeruput teh itu perlahan, hangatnya mengalir di tenggorokan dan sedikit membuat perasaannya lebih nyaman. “Makasih, Sayang,” ucapnya pelan sambil memandang Devan dengan mata yang terlihat lelah tapi penuh rasa terima kasih.Devan tersenyum kecil, ia meraih kaki Naila dengan hati-hati, memijitnya lembut. “Jangan bilang makasih, aku bakal ngelakuin apa pun buat kamu,” katanya sambil terus memijat telapak kaki istrinya.Sentuhan Devan yang lembut membuat Naila merasa lebih rileks. Ia memandangi pria itu yang dengan sabar mengurusnya, bahkan di tengah rasa kantuknya sendiri. “Kamu nggak capek?” tanya Naila pelan, merasa sedikit bersalah.Devan menggeleng sambil tersenyum. “Buat kamu dan bayi kita, nggak ada yang bikin aku capek. Yang penting kamu nyaman.”Naila merasa dadanya hangat karena ucapan suaminya. Ia menyeruput teh lagi, sementara tangan Devan masih setia memijat kakinya. Meski mual melanda, Naila merasa tenang karena kehadiran suaminya yang begitu tulu

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 109

    Devan berdiri di tepi pantai untuk menikmati angin laut pada malam hari, Naila sudah tidur karena lelah, ia menikmati waktunya sendirian sampai akhirnya Ravel bergabung dengannya.”Belum tidur?” Ravel berdiri, memasukkan kedua tangan ke saku celana.”Belum, Abang sendiri kenapa belum tidur?””Habis

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 30

    Naila menoleh dengan cepat, ekspresinya berubah defensif. “Apa sih, Dev? Aku nggak kenal nomor itu. Lagian, kenapa juga aku harus angkat kalau nggak penting?” Ia tertawa kecil, mencoba terdengar santai, tapi tawa itu tidak cukup meyakinkan. Namun, Devan tidak butuh kata-kata untuk tahu ada sesuatu

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 5

    Naila: Tok tok Xoxo: Hmm? Naila: Udah makan siang? Xoxo: Belum, sebentar lagi. Ada apa? Naila: Nanya aja kali, Pak. Xoxo: Kamu di mana? Naila: Kantin. Xoxo: Aku titip makanan. Naila: Dih, ogah. Sini aja turun sendiri. Males jadi babu. Xoxo: Aku sudah berbaik hati ngasih tim kamu m

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 4

    “Lo nggak ke apartemen gue, kan?” Naila memastikan Tere akan ke apartemennya atau tidak, karena kalau sahabatnya itu datang, rencana terpaksa berubah, Naila tidak bisa membiarkan Devan datang ke tempatnya. ”Nggak, Randi mau nginap di tempat gue,” jawab Tere sambil menunggu makanannya diantar. “Ken

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status