MasukBoy adalah seorang fotografer ternama. Dia juga merupakan putra dari salah satu keluarga konglongmerat di negeri ini. Boy sangat tergila-gila dengan sosok Clara Adista, sang model papan atas yang telah menjadi kekasihnya. Namun sayangnya, Clara memilih menikah dengan pria lain, hingga suatu malam Boy yang patah hati dan mabuk berakhir dengan meniduri asisten pribadi Clara yang bernama Milly. Singkat cerita, Milly hamil, hingga Boy mau tidak mau akhirnya menikahi Milly. Lalu, apakah yang akan terjadi dengan kehidupan pernikahan mereka? Dapatkah Milly yang sederhana mengimbangi gaya hidup Boy yang mewah itu?
Lihat lebih banyak“Aahh… aku mau sampai…” desahku, tubuhku menegang ketika gelombang kenikmatan hampir meledak dari dalam.
Gerakan pinggulku makin cepat, tapi pandanganku terhenti ketika melihat wajah Amanda. Istriku hanya terpejam, pasif, tanpa gairah seperti biasanya. Tidak ada lenguhan. Tidak ada balasan. Seolah aku sedang bercinta dengan tubuh tanpa jiwa. Aku menahan gerakan. “Kamu… mau keluar juga nggak?” tanyaku, suaraku tertahan di antara napas berat. Amanda menggeleng pelan, matanya tetap terpejam. “Nggak… kamu aja.” Aku tercekat mendengar jawabannya. Jawaban itu, tidak seperti biasanya. “Serius?” Aku bahkan menghentikan gerakan, berharap dia mengubah jawabannya. “Iya. Cepat! Kamu aja yang keluar!” suaranya datar, dingin. Aku terdiam sebentar. Namun getaran di bawah sana, membuat tubuhku bergerak sendiri. Aku pun kembali mengguncang pinggul. Hanya beberapa hentakan kemudian, aku tak lagi bisa menahan. Gelombang itu pecah, tubuhku menegang saat telah sampai di puncak kenikmatan dan kemudian lunglai. Nafasku terengah, namun belum sempat aku merasakannya sampai tuntas, Amanda segera mendorongku menjauh dari tubuhnya. Tanpa menatapku, dia bangkit, mengambil handuk, dan masuk ke kamar mandi. Aku terbaring di kasur, pandanganku kosong menatap langit-langit. Dadaku naik-turun. Aku berusaha meyakinkan diri—mungkin Amanda hanya tidak tahan ingin buang air kecil. Tapi… aku berpikir lagi. Kenapa ekspresinya begitu dingin? Kenapa dia tidak ikut larut seperti biasanya? Aku berusaha berpikir positif. Mungkin dia lelah dengan pekerjaannya di kantor. Namun kini, sepuluh menit telah berlalu. Amanda tak kunjung keluar dari kamar mandi. Aku pun sudah tak tahan ingin buang air kecil sekaligus membersihkan diri. Dengan langkah berat, aku mendekati kamar mandi. Tapi baru saja tanganku hendak menyentuh gagang pintu… Aku mendengar sesuatu. Desahan. Suara lirih, samar, tapi jelas… itu suara Amanda. Aku membeku. Jantungku berdegup kencang, seperti ada palu menghantam dada. Perlahan, hampir tanpa sadar, aku menempelkan telinga ke pintu. Suara itu semakin nyata—helai napas terputus, desahan yang mencoba ditahan tapi justru makin erotis. Apa… apa yang sedang dia lakukan di dalam? Apakah dia sedang berselingkuh? Tanganku mengepal pada gagang pintu, keringat dingin merembes di pelipis. Pikiran buruk menabrak kepalaku satu per satu. Apakah Amanda sedang melakukan video call dengan pria lain? Aku tidak bisa hanya berdiam. Dengan hati-hati, aku mendorong pintu, menciptakan celah kecil. Dari celah itu, pantulan cermin kamar mandi menyingkap sesuatu yang membuat darahku seketika mendidih. Amanda duduk di kloset, tubuhnya masih tanpa busana. Ponsel di tangan kirinya, sementara tangan kanannya… bergerak cepat di antara pangkal pahanya. Dunia seperti runtuh di mataku. Nafasku tercekat. Ada amarah, kecewa, sekaligus rasa tertusuk. Aku tak bisa menahan diri. Pintu kubuka lebar. “Amanda!” Dia terperanjat, matanya membelalak. “Rey!” teriaknya panik. Aku melangkah cepat, merebut ponselnya. Aku harus tahu siapa pria itu. Aku harus tahu kebenaran. Namun layar ponsel itu menampilkan hal yang berbeda. Film dewasa. Aku terpaku beberapa detik, baru kemudian mendongak. “Jadi… kamu bukan selingkuh. Kamu nonton ini?” Amanda menunduk, wajahnya merah, napasnya masih belum stabil. “A-aku… aku juga mau keluar, Rey…” Kata-kata itu menusukku lebih dalam. “Kenapa harus dengan cara begini? Kenapa bukan denganku? Tadi aku tanya, kamu mau keluar juga atau nggak, dan kamu jawab ‘nggak’. Sekarang… malah begini.” Suaraku gemetar, antara marah dan kecewa. Amanda menggigit bibirnya. “Tadi aku nggak bisa…” Keningku berkerut. “Kenapa? Bukankah selama ini kamu selalu bisa bersamaku? Atau… aku udah nggak cukup buatmu? Aku nggak menarik lagi?” Dia menggeleng cepat. “Bukan itu. Cuma… rasanya beda.” “Beda?” ulangku, tajam. Amanda terdiam lama. Aku menatapnya tanpa berkedip, menunggu jawaban yang bisa menenangkan batinku. Tapi yang keluar justru kalimat yang membuatku terdiam kaku. “Aku bosan, Rey… Bukan sama kamu. Tapi caranya. Kita selalu begitu-begitu aja. Lembut. Pelan. Terlalu… biasa.” Aku merasakan dadaku dihantam sesuatu yang berat. Bosan? Selama ini aku berpikir aku suami yang cukup, memberi cintaku seutuhnya. Ternyata, bagi Amanda, semua itu hambar. “Terus… aku harus bagaimana agar kamu nggak bosan?” tanyaku lirih, hampir seperti memohon. Dia menelan ludah, lalu menunjuk ponselnya. “A-aku… ingin seperti di video itu…” Aku kembali menatap layar ponsel yang masih menyala, untuk memastikan apa yang Amanda inginkan. Dan… di video itu… “Kamu… mau melakukan ini?” tanyaku, suaraku serak, penuh keterkejutan.EPILOGBoy keluar dari kamar Milly, dan dia sudah mendapati makanan yang tertata di meja makan keluarga Milly. Memang, semalam Boy dan Milly menginap di rumah keluarga Milly, karena Boylah yang meminta. Milly tidak thu apa rencana Boy, bahkan saat Boy meminta ayah dan ibunya izin untuk tidak masuk kerja hari ini.“Kamu sudah siap? Ayo kita sarapan.” Ajak Milly sembari menyiapkan tempat duduk Boy.Boy akhirnya duduk di sana. Tepat di sebuah kursi di sebelah kursi Milly. Sedangkan kedua orang tuma Milly duduk berhadapan dengan mereka.“Ibu sama Bapak beneran sudah izin nggak masuk kerja, kan?” tanya Boy setelah dia duduk.“Iya, kan kamu yang minta semalam. Jadi ayah sama ibu enggak masuk kerja hari ini, memangnya ada apa, sih?” tanya Milly sembari mengambilkan Boy menu sarapan di piringnya.“Rahasia. Kita akan berangkat bersama setelah sarapan.”“Dih&he
Bab 35 – Akhir BahagiaSetelah urusannya dengan Kirana selesai, Boy tak mengajak Milly kembali pulang. Dia malah membawa Milly menuju ke studio fotonya, tempat dimana dirinya bekerja. Milly menatap Boy seketika saat mobil suaminya itu sudah terparkir di sana.“Boy, kenapa kita ke sini?”“Kenapa? Kamu memangnya mikirnya kita ngapain ke sini?”“Aku nggak tahu apa rncana kamu.”“Aku nggak punya rencana apapun. Lagian memangnya salah ya? Kalau aku ngajak istriku ke tempat kerjaku?” tanya Boy kemudian.“Ya… nggak salah, sih…”“Tapi?” tanya Boy saat dia tahu bahwa Milly belum menyelesaikan kalimatnya.“Boy, di sini kan banyak model papan atas yang dulunya kenal aku. Para pegawai kamu juga kebanyakan kenal aku, dan tahuya aku ini adalah mantan asisten Clara. Apa… kamu nggak malu?” tanya Milly de
Bab 34 - Pengakuan“Boy? Kenapa kamu ngomong gitu?” tanya Milly kemudian. “Apa kamu mau tinggalin aku?”“Enggak!” Boy menjawab cepat. “Aku berkata begitu karena yang kulihat, kamu tak cukup bahagia denganku.”“Tidak ada hal yang lebih membahagiakan selain bisa hidup bersama dengan orang yang kita cintai. Aku bahagia bisa hidup denganmu meski tanpa cinta yang tak akan mungkin bisa kugapai.”“Kata siapa kamu tidak bisa menggapainya?” tanya Boy dengan cepat.Milly menunduk dengan ekspresi sedihnya. “Aku tahu, Boy. Selera kamu cukup tinggi. Mantan kekasih kamu biasanya adalah model, dan juga bukan orang biasa seperti aku. Mencintai kamu seperti pungguk yang merindukan bulan. Kamu terlalu jauh aku gapai, karena itulah, meski aku cinta kamu, aku tidak akan pernah berharap lebih agar kamu membalas cintaku.”“Dasar p
Bab 33 – Mencurahkan rasaMilly sudah selesai makan. Dia sudah menghabiskan satu mangkuk mie instan dengan Boy yang setia mengamatinya. Sebenarnya, Milly malu. Tapi, mau bagaimana lagi. Tak mungkin Milly memutuskan untuk pindah tempat.Boy sendiri masih duduk dengan tenang sembari melipat lengannya di atas meja. Matanya seolah-olah tak ingin meninggalkan Milly, membuat Milly salah tingkah dibuatnya.Milly meminum jus jeruk yang sudah dia siapkan di sebelah piringnya, kemudian dia bangkit dan akan membereskan sisa makanannya.“Aku beresin ini dulu ya,” ucap Milly pada Boy sebelum dia pergi meninggalkan Boy menuju ke arah dapur.Boy mengamatinya saja. Dengan spontan Boy bangkit, kemudian kakinya melngkah menuju ke arah Mily. Boy berdiri tepat di sebelah Milly, menyandarkan tubuhnya di sana sebelum dia berkata. “Maaf karena sudah meninggalkanmu semalam.”Milly sempat menghentikan perg


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasanLebih banyak