LOGIN(Sekuel novel "Kubiarkan Kau Bersama Selingkuhanmu) Lia harus merasakan pengalaman pahit setelah ia memilih untuk hidup bersama Yoga. Lelaki yang dulu sangat ia cintai. Naasnya, setelah perjalanan rumah tangga mereka arungi, ternyata Yoga adalah pria yang amat egois, tidak mengerti tangung jawab dan tidak tahu cara untuk menghargai istri. Selain itu, sikap Bu Lasmi (ibunda Yoga) dan Melisa (adik bungsu Yoga), tidak kalah buruknya. Mereka tak ubahnya keluarga toxic yang hanya menganggap Lia numpang hidup pada Yoga. Sungguh, pernikahan itu merupakan sebuah ujian bagi Lia. Sebagai istri yang masih mengharapkan adanya iktikad baik, Lia menyembunyikan keburukan sikap Yoga beserta mertua kepada kedua orang tuanya di Banjarmasin. Namun, setelah sekian lama bertahan, akhirnya pertahanan kesabaran itupun runtuh. Lia mulai berontak. Terlebih lagi setelah ia mengetahui pengkhianatan Yoga pada seorang wanita yang bernama Riana. Sakit hati itu berubah menjadi sebuah dendam.
View MoreCHAPTER ONE
l
"I, Christopher Morgan of the Blood Moon Pack, reject you, Pearl Xavier of the Mountain Hill Pack, as my mate and Luna-to-be," he declared with authority in his voice.
Loud gasps and whispers filled the hall. I stood there, puzzled and confused by this unexpected turn of events.
"He is rejecting us! The mate doesn't want us," my wolf cried within me. I felt sorry for myself, deceived into believing he would accept me as his mate.
I had waited for this day all my life. In fact, this was the day I had imagined freeing myself from my stepmother's web of perpetual wickedness.
She had finally manipulated my dad into thinking I was no good and would only bring shame.
I stood in front of the large crowd that had gathered for my mating ceremony. Tears welled up in my eyes when I realized he was serious with his words.
"What will we do?" Alice, my wolf, asked hysterically, panicking and sadly whimpering within me. She was deeply hurt, and so was I.
I was humiliated and disgraced publicly by the one person I thought would save me from this dungeon of lies, bullying, and deceit.
Tears welled up in my eyes, my feet became numb as I froze.
All eyes were on me, the crowd whispered and snickered between themselves.
I stood there, holding and tweaking the hem of the beautiful blue dress my stepmother had given me.
No wonder she was so nice; she knew this was going to happen.
I turned to face her, only to see a wicked smirk creeping along her lip.
She got me a dress—a dress of shame.
“Ladies and gentlemen,” My father's voice boomed from the microphone snapping me out of my trance.
"I present to you Alpha Christopher Morgan and his Luna, Moana,” he announced.
The crowd cheered and buzzed with excitement as my half-sister walked down the aisle to join my mate on the podium.
"I can't bear this shame," Alice said, her emotions hitting me hard.
The smile on my stepmother's face widened as her daughter assumed my place. Just when I thought I had heard it all, my father's voice rang out again.
"I hereby banish you, Pearl Xavier, from Mountain Hill Pack forever." The words weighed heavily on my shoulders. My chest tightened as I struggled to breathe. I stared at him in disbelief as the words echoed in my ears.
The unthinkable just happened. My father had always pushed me to find a mate. Now that I had finally found one, I faced rejection and banishment. "Why did he do this? What have I done to deserve any of this?" I pondered to myself.
"Boo," I heard as I tried to pass through the crowd. A leg suddenly stretched out in front of me, and I tripped. Thankfully, I caught myself in time, but it was too late as I heard raucous laughter from those who witnessed me almost falling.
I covered my face in shame and ran out of the hall in tears. The audience jeered and mocked me as I made my escape from the pit of rejection.
It was late at night with nowhere for me to go. I had to figure out a way to get out of this pack tonight, but on second thought, it wasn’t safe outside either.
The rogues aren’t out to play games with my kind. I went through the tiny back corridor leading to our main building.
I took the hem of my gown and held it in my hand as I tried to navigate the dark corridor.
Everything around me seems to annoy me. The chandeliers looked like large watermelons hanging from the ceiling. At this point, they didn’t look like decorations before my eyes.
As I approached my room, I heard a faint feminine voice speaking on the phone, or so it seemed. When I caught my name, I paused and edged closer to the door, pressing my ear against it, silently praying not to be caught eavesdropping.
"The good-for-nothing idiot has been rejected as planned; you can proceed with the rest of the plan," her voice rang out, confirming my suspicions.
I wiped my tears; if I wanted to get the bad news, at least I needed the strength to listen to all of it.
“She will be yours by morning; you do not have to worry,” she said humorously, laughing into the phone.“Oh no! We’ve been sold!” My wolf sobbed.Those words pierced my heart like burning arrows. My stepmother had not only planned my rejection; she had also made transactions for my exit by this morning.
"Was my father aware of all this? How could he be so cruel as to choose an outsider over his only child?" I pondered, wondering if perhaps he had been influenced or enchanted.Hot tears streamed down my cheeks, and just then, I heard the screech of someone rising from a seat and the taunting click of heels on the marble floor.
I retreated and fled, seeking refuge under the stairs. Though it was dark, I used my eyes to illuminate the space to avoid hitting my head on sharp edges. Pressing my body tightly against the wall, I listened intently. When the door creaked shut, my heart fluttered. I bit my lip and held my breath as footsteps approached. Closing my eyes to prevent them from shining in the darkness, I prayed silently to the moon goddess for salvation.
As she descended the stairs, she paused halfway down, then turned sharply in my direction. She peered into the darkness as if sensing someone hiding. After a few moments, she departed.
I exhaled deeply, relieved she hadn't thought to turn on the lights. I thanked the moon goddess for accepting my prayers.
The switch was right in front of her, and she didn’t. I had not much time to waste; I rushed out of the dark and dashed into my room.
My pack wasn’t safe for me, so I turned the lock on the door in twice and laid on my bed brainstorming about what to do next."Patricia," her name, came alive in my mind. I jumped up and raced for my phone.I typed the first three letters of her name, and her contact information popped up. I dialed it, and just at the first ring, she picked up like she was expecting my call.
“Hi Pearl, How did the mating go?" Her warm and bubbly voice spoke over the phone.“I think I will be coming to Pearlia first thing tomorrow morning,” I informed her. I had just finished my speech when I heard a loud bang on my door. My eyes widened with the phone still in my hand.Who was that? And why were they at my door?
Beberapa tahun kemudian, setelah sekian lama hidup dalam jeruji besi, Bu Lasmi dan Yoga keluar dalam keadaan menanggung kemiskinan.keadaan jauh lebih sulit. Tak ada rumah untuk Bernaung dan tak ada tempat untuk pekerjaan.Sedangkan Melissa, sekarang anak itu harus meringkuk di sudut ruangan sempit di pojok ruang kontrakan. Tak ada lagi yang bisa di harapkan dari gadis itu. Penyakit HIV yang menyerangnya membuatnya tak bisa melakukan apa-apa. Penyakit yang menggerogoti Melissa juga membuat orang-orang menjauh dari mereka. Mereka di kucilkan.Sementara Bu Lasmi yang juga sudah menua dan tulang punggung yang membungkuk juga tak bisa melakukan apa-apa. Keadaan yang benar-benar menyedihkan. Seiring usia tua yang menyongsong hidupnya, telinga Bu Lasmi tak bisa lagi berfungsi dengan baik, begitupun dengan indera penglihatan yang ia miliki. Wanita yang dulu selalu mau menang sendiri tersebut harus menerima takdirnya sebagai wanita tua yang tuli dan hampir buta.Akhirnya dengan segala perti
Sementara itu, di sebuah gedung yang cukup mewah, sebuah pesta pernikahan di adakan. Dengan dekorasi yang menawan dan elegan, pesta perayaan itu terlihat begitu megah.Di deretan parkir, deretan mobil mewah berjejer, menunjukkan bahwa sebagian besar tamu yang hadir di sana bukanlah orang biasa.Benar-benar luar biasa.Yoga yang kebetulan baru saja datang ke kota Jakarta dengan harapan akan mendapatkan pekerjaan lebih baik, untuk pertama kalinya harus puas dengan menyandang tugas sebagai satpam di acara pernikahan tersebut."Mewah banget acara pernikahannya ya." celetuk teman Yoga."Iya bener, baru sekali ini sih aku melihat pesta pernikahan semewah ini. Wajar kalau bayaran kita gede. Ternyata sesuai sih sama kemewahan pestanya." Yoga menimpali."Ya iyalah, mereka bayarin kita gede. Toh kedua mempelainya memang berasal dari keluarga kaya semua, kok. Masa keluarga konglomerat bayarin kita kecil. Tuh liat tamu-tamu mereka! Rata-rata pakai mobil bagus kan. Tamu-tamu Mereka emang orang pen
Lia memegang kepalanya. Lia merasakan kepalanya sedikit pusing. Terasa kurang nyaman. Akhirnya, dengan menggunakan sepeda motornya, Lia memutuskan untuk pulang. Di tengah perjalanan, Lia merasakan pusing di kepalanya semakin menjadi-jadi. “Aduuh! sepertinya aku harus berhenti dulu.” Lia meminggirkan sepeda motornya.Lia memegang kepalanya. Lia bisa merasakan keningnya panas.“Ada apa denganku? Mengapa tubuhku seperti ini?”“Seharusnya aku harus sampai di rumah lebih cepat.” batin Lia.Lia mencoba menstarter kembali sepeda motornya. Namun kepalanya terasa tak bisa diajakdi ajak bekerja sama. Pusingnya malah bertambah-tambah.Dengan kepala yang terasa berputar-putar, Lia meraih ponsel, dan mencoba menghubungi seseorang yang bisa ia hubungi.Dengan pemandangan kabur, Lia menghubungi seseorang di ponselnya.“Halo, Ma. Tolong jemput aku sekarang didepan Keiza Butik, Ma. kepalaku pusing. Aku … aku…” suara Lia terputus. “Bruukh!Wanita itu ambruk.***Samar-samar Lia membuka matanya. ha
Riana tak tahu lagi apa yang telah terjadi. Tubuhnya lemas, batinnya menangis. Semua terasa bagaikan mimpi."Kamu menipuku, Doni!" hardik Riana tiba-tiba merasa jijik dengan pria paruh baya berkepala botak di hadapannya."Maafkan aku Riana. Tapi aku sudah berusaha benar untuk bikin kamu bahagia.""Kalau kamu memang berniat untuk membuat aku bahagia, masalah kayak gini nggak akan pernah terjadi, Doni!" hardik Riana kembali."Kamu benar-benar udah bikin aku kecewa, Doni! Kurang ajar banget!" sembari terisak, Riana melangkah pergi tanpa bisa Doni mencegahnya."Setelah anak ini lahir, kamu harus bertanggung jawab dengan anak dalam perutku Ini Doni!" ucap Riana sebelum benar-benar pergi."Iya Riana. Aku janji aku akan bertanggung jawab! Tapi please tetaplah bersamaku!" "Tidak! Aku akan datang padamu ketika anak ini nanti sudah lahir dan menyerahkannya sama mu!"***Beberapa bulan berlalu, Riana membawa bayinya menuju ke sebuah rumah di mana Doni tinggal. Riana mengetahuinya setelah diberi
Dengan langkah percaya diri, Riana berjalan ke sebuah rumah yang cukup megah dan mewah.Perutnya yang membesar tidak menyusutkan rasa percaya diri yang ia miliki. Justru ia merasa patut merasa bangga dengan janin yang ada di rahimnya saat ini.Sejenak Riana mematung, mengagumi rumah di hadapannnya, na
Jam menunjukkan pukul 05.00 pagi.Di sebuah kontrakan kecil, yang nampak belepotan dan isinya berantakan, dengan langkah tidak bersalah Melisa melangkah masuk ke dakam. Tanpa ia hiraukan yoga yang menatapnya tajam."Jam segini kamu baru pulang?" suara Yoga terdengar kasar."Emang apa peduli Kakak? Mau
"Apa itu Riana yang bicara?" Bu Lasmi bertanya."Apa Ibu denger obrolan kami barusan?"Yoga menatap ibunya"Ya." Bu Lasmi menjawan pendek. tapi matanya menatap kosong."Kalau begitu, ibu bisa dengar sendiri gimana sikap asli Riana terhadap kita! Ibu bisa dengar sendiri gimana dia menghina kita! Terlebih
"Riana, kamu sekarang di mana? Kenapa kamu nggak kasih kabar lagi sama aku? Aku ini suami kamu, Riana! Asalkan kamu tahu kalo aku udah hubungin ibu kamu, tapi katanya kamu nggak ada di rumah. Sebenarnya kamu ada di mana?" Riana cuma mendengus sinis mendengar perkataan Yoga di ponselnya yang sengaja






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore