INICIAR SESIÓNAudrey terus memandangi layar ponselnya, memastikan bahwa ia sudah terlalu lama menunggu. Ia mulai berdecak pelan saat seseorang yang ingin ditemuinya tak kunjung datang.
“Sudah kuduga, mereka itu pasti hanya penipu yang menginginkan uang. Profesional katanya. Huh! Menurutku mereka adalah orang-orang yang tidak punya pekerjaan.” Audrey mulai mengoceh sendiri. Ia meraih tasnya dan berniat untuk meninggalkan kafe itu saat tiba-tiba seorang pria muda yang tampan, gagah dan tinggi semampai tiba-tiba mendatangi mejanya dengan napas terengah-engah. “Ma-maaf, aku terlambat. Ban motorku kempes,” kata pria itu dengan nada tersengal. Pria itu kemudian menatap Audrey dan mengulurkan tangannya. “Nona Audrey, kan?” Audrey mengangguk, menatap pria muda dengan penampilan yang mirip preman itu dari atas hingga ke bawah, memastikan bahwa ia tidak salah orang. “Ya, benar. Silakan duduk,” kata Audrey ketus, terlanjur kesal karena sudah dibuat menunggu. “Kita langsung saja, tidak perlu basa-basi karena aku tak punya banyak waktu.” Pria muda itu membenahi jaket kulitnya dan duduk di hadapan Audrey. “Hanya jadi pacar, kan?” tanya pria itu terus terang sambil menunjukkan senyumnya yang lebar. Audrey mengangguk lalu mengeluarkan selembar kertas berisi kontrak yang memperjelas semuanya. Apa saja yang harus dilakukan, apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan serta rincian yang lainnya. “Aku sudah menjelaskan semuanya di dalam kontrak ini, kau bacalah lebih dulu. Jika ada yang ingin ditanyakan, segera tanyakan padaku,” kata Audrey seraya menyerahkan pulpen ke hadapan pria muda itu. “Wah, rinci sekali,” gumamnya sambil mulai membaca satu persatu poin yang sudah dijelaskan Audrey di sana. “Oke, hanya ini saja, kan? Tapi, Nona Audrey, Anda sepertinya melupakan satu hal.” Audrey mengernyit lalu menarik kembali kertas itu. “Benarkah? Di mana? Poin berapa? Kurasa aku sudah menjelaskan semuanya dengan detail, kenapa masih ada yang terlewat?” tanyanya dengan panik. Pria muda itu terkekeh pelan. “Sebelum memutuskan kontrak dengan orang lain, bukankah seharusnya Anda menanyakan dulu nama pihak yang bersangkutan?” Audrey baru teringat bahwa ia belum berkenalan secara resmi dengan pria muda yang duduk di hadapannya itu. Ia kemudian mengulurkan tangannya dengan percaya diri meskipun sebenarnya ia malu karena melupakan hal sederhana taoi penting itu. Pria muda itu tersenyum sopan lalu menerima uluran tangan Audrey. “Nareza, Nona bisa memanggilku Narez atau Eza,” katanya dengan lembut. Dan Audrey baru sadar bahwa pria muda itu terlihat tampan meskipun penampilannya seperti preman yang mengenakan jeans belel, kaus polos dan jaket kulit hitamnya. “Berapa usiamu? Kau kelihatannya lebih muda daripada di foto yang kau tampilkan itu.” Audrey tak bisa menahan rasa penasarannya, sambil menelisik wajah Nareza Dengan seksama, memastikan wajah itu bukanlah wajah penipu yang akan kabur membawa uangnya. Nareza tersenyum. “24 tahun,” jawabnya singkat. Audrey tampak terkejut tetapi sedetik kemudian ia mengangguk-anggukkan kepalanya. “Sangat muda, apa pekerjaanmu sebelumnya?” “Maaf, Nona. Dalam kontrak tertulis untuk tidak terlalu penasaran dengan urusan pribadi masing-masing,” kata Nareza mengingatkan. “Baiklah, jika tidak ada lagi yang ingin ditanyakan, tanda tangani ini segera. Aku akan mentransfer uang mukanya ke rekeningmu, dan sisanya akan aku bayarkan setelah kau—” “Aku mengerti,” sela Nareza lalu meraih pulpen di meja dan segera membubuhkan tanda tangannya di atas kertas. Audrey mengambil kembali kertas itu lalu menunjukkan ponselnya. Nareza mengangguk paham dan memeriksa ponselnya. “Sampai bertemu beberapa hari lagi,” katanya dan Audrey langsung memilih meninggalkan setelah mengingatkan pria muda itu pakaian apa yang harus ia kenakan. *** Nareza mengendarai motornya meninggalkan kafe, melewati jalanan yang cukup lenggang siang itu lalu memarkir motornya tepat di depan sebuah bungkul. Ia mengembalikan kunci motornya kepada seorang pria. “Nih, Sat! Thank you, ya!” Laki-laki berperawakan tinggi yang tengah memperbaiki mobil itu menerima kunci motornya kembali. “Habis dari mana, Lo? Tumben mau pakai motor gue?” Nareza hanya mengedikkan bahu. “Adalah pokoknya.” Satya Mahendra, laki-laki pemilik bengkel itu membersihkan tangannya lalu duduk di samping Nareza. “Kapan Lo mau pulang ke rumah?” tanyanya tiba-tiba yang langsung membuat Nareza menoleh. “Jangan bahas itu sekarang,” katanya dengan malas. Mendengar kata pulang saja sudah cukup membuatnya mendelik. “Jangan kayak gitu, Za. Orang tua Lo pasti khawatir sama Lo. Mau sampai kapan Lo terus kabur-kaburan kayak gini? Memangnya Lo gak capek?” Mendengar gerutuan temannya, Nareza mengacak kepalanya frustasi lalu mengusap wajahnya kasar. “Gue masih muak sama mereka, Sat,” katanya lemah. “Oke, kalau Lo masih malas pulang, gue kasih izin tinggal di sini selama beberapa hari. Tapi, Lo tahu kan? Gue nggak mungkin membiarkan Lo terus di sini.” Satya kembali berdiri, pergi untuk kembali mengerjakan pekerjaannya yang tertunda tadi. Sementara masih duduk di sana, memperhatikan pekerja bengkel yang tampak sibuk dan kendaraan yang berlalu lalang di jalanan. Pikirannya kembali mengembara bebas. “Gue harus gimana sekarang?” gumamnya, merasa frustasi sekaligus tak enak hati jika harus merepotkan Satya. Satu bulan terakhir, ia sudah menginap di rumah temannya itu dan membantu pekerjaannya di bengkel. Ia pikir, melampiaskan rasa frustasinya pada pekerjaan dapat membuat pikirannya lebih jernih, tapi nyatanya tidak. Nareza kemudian menatap layar ponselnya lama, lalu tertawa pelan, merutuki kebodohannya. “Bisa-bisanya aku mendaftarkan diri menjadi peran sewaan seperti ini.” Sementara itu, Nareza sama sekali tidak sadar bahwa di seberang jalan sama ada sepasang mata yang tengah memperhatikannya. Audrey membuka sedikit kaca mobilnya. “Oh, jadi dia hanya seorang montir?” gumamnya sendiri. Pandangannya tertuju kepada pria muda yang baru saja ia bayar untuk menjadi pacar kontraknya. “Astaga, aku pasti sudah benar-benar gila. Bisa-bisanya aku menyetujui usulan Eve?” Audrey tak habis pikir dengan dirinya sendiri. Ia bahkan memukul kepalanya sendiri.Erlan seperti orang tuli yang tidak mau mendengarkan. Alih-alih melepaskan Audrey, ia justru semakin mengeratkan pegangannya pada lengan wanita itu dan menariknya menjauh dari meja."Kau itu tuli, ya? Lepaskan pacarku!" Suara Nareza terdengar tegas dari belakang mereka. Erlan langsung menoleh dan mendapati pria muda itu sudah berdiri dengan ekspresi serius.“Lepaskan dia Erlan!" sentak Evelyn yang sejak tadi berdiri di sisi Audrey, bersiap menjaga sahabatnya itu dari pria seperti Erlan. Erlan menatap Evelyn dengan kesal. "Sudah kukatakan, ini urusan aku dan Audrey. Jangan ikut campur.""Urusan kalian, tapi bukan berarti kau boleh menariknya seenaknya." Evelyn masih terlihat emosi. Sementara itu, Nareza yang berada di sana masih menunggu situasi di mana ia bisa bersikap sebagai pahlawan, melawan pria yang ia ketahui mantan suami Audrey itu dengan tepat. Audrey kembali berusaha melepaskan lengannya dari cengkeraman Erlan. "Erlan, lepaskan aku!" Namun, Erlan tetap mempertahankan pega
Dua hari setelah pesta pertunangan Erlan, Audrey akhirnya bertemu dengan Evelyn di sebuah kafe yang biasa mereka datangi. Sejak duduk di sana, Audrey sudah beberapa kali tersenyum sendiri ketika mengingat kejadian malam itu. Bukan karena masih memikirkan Erlan, melainkan karena ia tidak menyangka rencananya benar-benar berhasil. Evelyn yang duduk di hadapannya segera menyadari perubahan ekspresi sahabatnya. "Jangan bilang semuanya berjalan sesuai rencana." Audrey mengangkat alis, lalu bertanya pelan dengan senyum tipis terangkat. "Kenapa? Apakah terlihat di wajahku" Evelyn menganggukan kepala. "Wajahmu itu terlihat seperti orang yang baru memenangkan pertandingan." Audrey tertawa kecil sebelum menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Kau tidak akan percaya apa yang terjadi di sana, Eve." "Ada hal menarik apa? Ceritakanlah! Aku penasaran!" Audrey kemudian menceritakan semuanya. Mulai dari saat ia dan Nareza memasuki pesta hingga bagaimana seluruh tamu langsung memperhatikan mereka. Ia j
Audrey mengira semuanya akan berjalan mudah setelah berhasil membuat Erlan terdiam. Ia hanya perlu bertahan sampai pesta pertunangan itu selesai, kemudian pulang bersama Nareza. Setelah itu, ia bisa kembali menjalani hidup seperti biasa tanpa harus memikirkan tatapan orang-orang yang sejak tadi sibuk memperhatikan mereka. Namun, kenyataannya tidak sesederhana itu. Baru beberapa langkah meninggalkan Erlan, Audrey sudah dihampiri beberapa kenalan lama. Mereka datang dengan senyum penuh rasa ingin tahu, tetapi tatapan mereka tidak pernah benar-benar lepas dari Nareza. "Audrey!" Audrey menoleh dan menemukan dua orang teman lama dari masa kuliahnya berdiri di hadapan mereka. "Ternyata benar-benar kau!" seru salah seorang dari mereka. "Aku kira kau tidak akan datang hingga aku mengira kau orang lain." Audrey tersenyum sopan dan melambaikan tangannya. "Hai, semua, aku tidak menyangka akan bertemu dengan kalian di sini.” "Kau datang bersama pria yang sangat tampan, apalagi kau begitu c
Sejak pagi, Audrey sudah menerima beberapa pesan dari teman-temannya yang mengingatkan mengenai acara tersebut. Bahkan Celine sempat mengirim pesan agar Audrey tidak lupa membawa "pacar misteriusnya". Audrey hanya membalas dengan emoji kesal. Ia sebenarnya tidak ingin memikirkan acara ini terlalu banyak, tetapi semakin dekat waktunya, semakin ia menyadari bahwa keputusan spontan yang dibuatnya di pesta ulang tahun rekannya telah berkembang menjadi sesuatu yang jauh lebih besar. Hari ini, ia benar-benar harus datang bersama seorang pria, dan pria itu bukan sekadar teman. Nareza adalah kekasih kontraknya."Jangan terlalu tegang. Ini hanya pesta pertunangan biasa, kan?"Suara Nareza dari balik kemudi membuat Audrey menoleh. "Aku tidak tegang!" balas Audrey tak terima.Nareza meliriknya sekilas, kemudian kembali memusatkan perhatian pada jalan. "Tapi jari Nona mengetuk-ngetuk tas sejak tadi."Audrey langsung menghentikan gerakannya. Ia menatap jemarinya sendiri yang memang sejak tadi m
Audrey terus memandangi layar ponselnya, memastikan bahwa ia sudah terlalu lama menunggu. Ia mulai berdecak pelan saat seseorang yang ingin ditemuinya tak kunjung datang.“Sudah kuduga, mereka itu pasti hanya penipu yang menginginkan uang. Profesional katanya. Huh! Menurutku mereka adalah orang-orang yang tidak punya pekerjaan.” Audrey mulai mengoceh sendiri. Ia meraih tasnya dan berniat untuk meninggalkan kafe itu saat tiba-tiba seorang pria muda yang tampan, gagah dan tinggi semampai tiba-tiba mendatangi mejanya dengan napas terengah-engah. “Ma-maaf, aku terlambat. Ban motorku kempes,” kata pria itu dengan nada tersengal. Pria itu kemudian menatap Audrey dan mengulurkan tangannya. “Nona Audrey, kan?” Audrey mengangguk, menatap pria muda dengan penampilan yang mirip preman itu dari atas hingga ke bawah, memastikan bahwa ia tidak salah orang. “Ya, benar. Silakan duduk,” kata Audrey ketus, terlanjur kesal karena sudah dibuat menunggu. “Kita langsung saja, tidak perlu basa-basi kare
Sejak meninggalkan restoran malam itu, Audrey tidak bisa berhenti memikirkan satu kesalahan fatal yang telah ia buat. Audrey sudah mencoba mengabaikannya. Ia pergi bekerja seperti biasa, menghadiri rapat, menyelesaikan beberapa dokumen yang menumpuk, bahkan sengaja menyibukkan diri agar tidak memiliki kesempatan memikirkan persoalan tersebut. Namun, semakin ia berusaha melupakannya, semakin jelas pula masalah itu terasa.“Astaga, apa yang sudah kau lakukan, Audrey?! Bodoh! Kau bodoh sekali!” rutuk Audrey pada dirinya sendiri. Ia menatap layar ponselnya, membaca pesan-pesan yang dikirimkan rekan kerjanya. Mereka semua menanyakan hal yang sama. Tak tahan, ia mengusap wajahnya frustrasi. Bagaimana mungkin ia bisa sebodoh itu?Audrey memang ingin membuktikan bahwa dirinya sudah move on. Ia ingin menunjukkan bahwa kabar pernikahan Erlan tidak berpengaruh apa-apa terhadap kehidupannya.Tetapi ia tidak pernah berpikir bahwa untuk membuktikannya, ia harus menciptakan seorang kekasih yang bah







