LOGINSejak meninggalkan restoran malam itu, Audrey tidak bisa berhenti memikirkan satu kesalahan fatal yang telah ia buat. Audrey sudah mencoba mengabaikannya. Ia pergi bekerja seperti biasa, menghadiri rapat, menyelesaikan beberapa dokumen yang menumpuk, bahkan sengaja menyibukkan diri agar tidak memiliki kesempatan memikirkan persoalan tersebut. Namun, semakin ia berusaha melupakannya, semakin jelas pula masalah itu terasa.
“Astaga, apa yang sudah kau lakukan, Audrey?! Bodoh! Kau bodoh sekali!” rutuk Audrey pada dirinya sendiri. Ia menatap layar ponselnya, membaca pesan-pesan yang dikirimkan rekan kerjanya. Mereka semua menanyakan hal yang sama. Tak tahan, ia mengusap wajahnya frustrasi. Bagaimana mungkin ia bisa sebodoh itu? Audrey memang ingin membuktikan bahwa dirinya sudah move on. Ia ingin menunjukkan bahwa kabar pernikahan Erlan tidak berpengaruh apa-apa terhadap kehidupannya. Tetapi ia tidak pernah berpikir bahwa untuk membuktikannya, ia harus menciptakan seorang kekasih yang bahkan tidak ada. Menjelang sore, Audrey akhirnya menyerah. Ia menghubungi satu-satunya orang yang menurutnya mampu memberikan solusi untuk masalah konyol tersebut. “Halo, Eve. Ayo bertemu, aku dalam masalah besar!” katanya dalam panggilan singkat tersebut. Sahabatnya itu sudah mengenal Audrey sejak masa kuliah. Evelyn juga menjadi salah satu dari sedikit orang yang mengetahui hampir seluruh perjalanan rumah tangga Audrey dan Erlan, termasuk alasan di balik perceraian mereka. Jika ada seseorang yang bisa memberinya nasihat tanpa basa-basi, orang itu adalah Evelyn. Mereka akhirnya bertemu di sebuah kafe yang tidak terlalu jauh dari kantor Audrey. Evelyn sudah duduk lebih dulu ketika Audrey datang. Wanita itu bahkan belum sempat membuka menu ketika Audrey menjatuhkan tasnya ke kursi dan menghempaskan tubuh di hadapannya. Evelyn mengangkat alis. “Ada apa dengan wajahmu?" Audrey menatapnya datar. "Aku dalam masalah besar. Tolong aku, Eve. Astaga, aku tidak tahu harus apa." Audrey mengacak rambutnya asal. Evelyn menatap wajah sahabatnya yang terlihat kusut itu. Ia kemudian menutup menu yang baru saja dibukanya. "Jangan bilang kau hamil anaknya Erlan," celetuknya asal. Audrey langsung melotot. "Eve! Ucapanmu itu membuatku merinding!" Evelyn tertawa. "Ya ampun, aku bercanda. Lalu apa masalahmu? Kau tidak seperti biasanya." Audrey menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya menceritakan kejadian di pesta ulang tahun rekannya malam sebelumnya. Mulai dari kabar pernikahan Erlan, tatapan orang-orang yang seolah menunggunya menangis, sampai bagaimana dirinya dengan bodohnya mengaku memiliki seorang kekasih. Evelyn mendengarkan tanpa menyela. Namun, semakin jauh Audrey bercerita, semakin sulit pula Evelyn menahan tawanya. Sampai akhirnya Evelyn menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Jadi kau mengatakan pada mereka bahwa kau memiliki pacar? Yang benar saja." Audrey mengangguk dengan wajah muram. “Aku bodoh sekali, kan? Ah! Aku sangat frustasi! Mereka sekarang jadi menerorku.” “Mau bagaimana lagi? Kau memang bodoh. Sekarang carilah pacar dan pamerkan pacarmu kepada mantan suamimu itu,” ucap Evelyn sambil membuka kembali buku menu yang tadi diletakkannya. Kali ini Audrey hanya menatap sahabatnya dengan wajah kesal. “Eve … aku serius! Tolong aku.” Evelyn terdiam beberapa detik. Lalu tertawa terbahak-bahak hingga perutnya terasa sakit. "Jangan tertawa!" Audrey memukul lengan Evelyn pelan. “Carikan aku solusi. Aku harus bagaimana sekarang?” "Maaf." Evelyn menutup mulutnya, tetapi tawanya masih terdengar. "Aku benar-benar minta maaf, Re. Tapi ... astaga, kau benar-benar bodoh sekali!" "Terima kasih atas dukungannya." "Bagaimana bisa kamu mengatakan hal seperti itu tanpa berpikir?" "Aku sedang kesal!" “Baiklah, aku paham posisimu.” Evelyn mengangguk-angguk seolah baru saja menemukan jawaban dari sebuah teka-teki. "Tapi kau hebat. Benar-benar hebat. Aku tidak tahu harus memuji keberanianmu atau mengkhawatirkan kewarasanmu." Audrey mengembuskan napas panjang. "Makanya aku datang menemuimu. Kau biasanya bisa memberiku saran." Evelyn kembali menyandarkan punggungnya, tampak berpikir sambil menunggu pesanannya datang. "Baik. Mari kita berpikir." Audrey langsung memperhatikannya. "Begini saja, kau bisa mengatakan kepada teman-teman kerjamu itu bahwa hubungan kalian berakhir." "Mustahil." Audrey ikut menyandarkan punggungnya. "Kenapa?" "Karena mereka sudah tahu aku akan membawanya ke acara pertunangan Erlan." Audrey mengusap wajahnya lagi. Evelyn mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja. Wajahnya tampak serius, seolah sedang memikirkan persoalan bisnis yang sangat penting. Beberapa detik kemudian, matanya tiba-tiba berbinar. "Kalau begitu, kau bisa pesan jasa peran sewaan saja." Audrey mengangkat wajah. "Apa itu? Memangnya ada hal semacam itu?" “Aku bersungguh-sungguh, Re. Kau bisa menyewa orang untuk dijadikan pacar, teman kencan atau apa pun itu sesuai kebutuhan. Mereka juga bisa menjaga rahasia dan profesional.” Audrey membeku. "Apa maksudnya? Pa-pacar sewaan? Kau sudah gila, ya? Mana ada hal seperti itu di zaman sekarang, Eve." "Ada, Re. Kau saja yang kurang update. Lihat ini, review mereka sudah seperti review di e-commerce! Setidaknya cobalah dulu.” Evelyn menunjukkan ponselnya agar Audrey dapat membacanya secara langsung. Audrey menatap Evelyn beberapa detik, kemudian tertawa geli. Bukan karena lucu, tetapi karena ia benar-benar mengira sahabatnya sudah kehilangan akal sehat. "Kau serius, Eve? Kau tidak kehilangan akal sehatmu, kan?" Audrey masih tak percaya. "Astaga, aku serius. Hanya ini opsi yang kau punya jika kau tidak mau menjadi bulan-bulanan di kantor." "Evelyn, aku bukan sedang menyewa mobil." "Memangnya kenapa? Banyak orang menyewa jasa pendamping untuk acara tertentu." "Tapi ini pacar!" "Justru lebih mudah." "Bagaimana bisa lebih mudah?" Evelyn mengangkat bahu. "Kau bisa mencari pria yang bersedia berpura-pura menjadi pacarmu. Kau tinggal menandatangani kontrak yang sudah disepakati dan bayar jasanya. Dia datang ke acara bersamamu. Setelah itu selesai." Audrey menatapnya tak percaya. "Itu ide paling absurd yang pernah kudengar." "Absurd, tapi praktis." "Bagaimana jika orang-orang tahu?" "Jika kau pintar bersandiwara, mereka tidak akan tahu. Lagipula, jika semuanya sudah selesai, kau bisa mengatakan pada mereka bahwa kalian putus karena tidak cocok." Audrey masih terlihat ragu. Evelyn kemudian menambahkan, "Lagipula, kau tidak membutuhkan pria yang benar-benar jatuh cinta padamu. Kau hanya butuh seseorang yang bisa memainkan peran sebagai kekasihmu selama beberapa jam." Audrey terdiam, ide itu terdengar gila tapi cukup masuk akal untuk situasinya sekarang. Ia tidak perlu berkencan sungguhan, membuka hati ataupun memikirkan masa depan. Ia hanya membutuhkan seorang pria yang bersedia berpura-pura menjadi kekasihnya sampai pesta pernikahan Erlan selesai. Setelah itu, semuanya berakhir.Erlan seperti orang tuli yang tidak mau mendengarkan. Alih-alih melepaskan Audrey, ia justru semakin mengeratkan pegangannya pada lengan wanita itu dan menariknya menjauh dari meja."Kau itu tuli, ya? Lepaskan pacarku!" Suara Nareza terdengar tegas dari belakang mereka. Erlan langsung menoleh dan mendapati pria muda itu sudah berdiri dengan ekspresi serius.“Lepaskan dia Erlan!" sentak Evelyn yang sejak tadi berdiri di sisi Audrey, bersiap menjaga sahabatnya itu dari pria seperti Erlan. Erlan menatap Evelyn dengan kesal. "Sudah kukatakan, ini urusan aku dan Audrey. Jangan ikut campur.""Urusan kalian, tapi bukan berarti kau boleh menariknya seenaknya." Evelyn masih terlihat emosi. Sementara itu, Nareza yang berada di sana masih menunggu situasi di mana ia bisa bersikap sebagai pahlawan, melawan pria yang ia ketahui mantan suami Audrey itu dengan tepat. Audrey kembali berusaha melepaskan lengannya dari cengkeraman Erlan. "Erlan, lepaskan aku!" Namun, Erlan tetap mempertahankan pega
Dua hari setelah pesta pertunangan Erlan, Audrey akhirnya bertemu dengan Evelyn di sebuah kafe yang biasa mereka datangi. Sejak duduk di sana, Audrey sudah beberapa kali tersenyum sendiri ketika mengingat kejadian malam itu. Bukan karena masih memikirkan Erlan, melainkan karena ia tidak menyangka rencananya benar-benar berhasil. Evelyn yang duduk di hadapannya segera menyadari perubahan ekspresi sahabatnya. "Jangan bilang semuanya berjalan sesuai rencana." Audrey mengangkat alis, lalu bertanya pelan dengan senyum tipis terangkat. "Kenapa? Apakah terlihat di wajahku" Evelyn menganggukan kepala. "Wajahmu itu terlihat seperti orang yang baru memenangkan pertandingan." Audrey tertawa kecil sebelum menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Kau tidak akan percaya apa yang terjadi di sana, Eve." "Ada hal menarik apa? Ceritakanlah! Aku penasaran!" Audrey kemudian menceritakan semuanya. Mulai dari saat ia dan Nareza memasuki pesta hingga bagaimana seluruh tamu langsung memperhatikan mereka. Ia j
Audrey mengira semuanya akan berjalan mudah setelah berhasil membuat Erlan terdiam. Ia hanya perlu bertahan sampai pesta pertunangan itu selesai, kemudian pulang bersama Nareza. Setelah itu, ia bisa kembali menjalani hidup seperti biasa tanpa harus memikirkan tatapan orang-orang yang sejak tadi sibuk memperhatikan mereka. Namun, kenyataannya tidak sesederhana itu. Baru beberapa langkah meninggalkan Erlan, Audrey sudah dihampiri beberapa kenalan lama. Mereka datang dengan senyum penuh rasa ingin tahu, tetapi tatapan mereka tidak pernah benar-benar lepas dari Nareza. "Audrey!" Audrey menoleh dan menemukan dua orang teman lama dari masa kuliahnya berdiri di hadapan mereka. "Ternyata benar-benar kau!" seru salah seorang dari mereka. "Aku kira kau tidak akan datang hingga aku mengira kau orang lain." Audrey tersenyum sopan dan melambaikan tangannya. "Hai, semua, aku tidak menyangka akan bertemu dengan kalian di sini.” "Kau datang bersama pria yang sangat tampan, apalagi kau begitu c
Sejak pagi, Audrey sudah menerima beberapa pesan dari teman-temannya yang mengingatkan mengenai acara tersebut. Bahkan Celine sempat mengirim pesan agar Audrey tidak lupa membawa "pacar misteriusnya". Audrey hanya membalas dengan emoji kesal. Ia sebenarnya tidak ingin memikirkan acara ini terlalu banyak, tetapi semakin dekat waktunya, semakin ia menyadari bahwa keputusan spontan yang dibuatnya di pesta ulang tahun rekannya telah berkembang menjadi sesuatu yang jauh lebih besar. Hari ini, ia benar-benar harus datang bersama seorang pria, dan pria itu bukan sekadar teman. Nareza adalah kekasih kontraknya."Jangan terlalu tegang. Ini hanya pesta pertunangan biasa, kan?"Suara Nareza dari balik kemudi membuat Audrey menoleh. "Aku tidak tegang!" balas Audrey tak terima.Nareza meliriknya sekilas, kemudian kembali memusatkan perhatian pada jalan. "Tapi jari Nona mengetuk-ngetuk tas sejak tadi."Audrey langsung menghentikan gerakannya. Ia menatap jemarinya sendiri yang memang sejak tadi m
Audrey terus memandangi layar ponselnya, memastikan bahwa ia sudah terlalu lama menunggu. Ia mulai berdecak pelan saat seseorang yang ingin ditemuinya tak kunjung datang.“Sudah kuduga, mereka itu pasti hanya penipu yang menginginkan uang. Profesional katanya. Huh! Menurutku mereka adalah orang-orang yang tidak punya pekerjaan.” Audrey mulai mengoceh sendiri. Ia meraih tasnya dan berniat untuk meninggalkan kafe itu saat tiba-tiba seorang pria muda yang tampan, gagah dan tinggi semampai tiba-tiba mendatangi mejanya dengan napas terengah-engah. “Ma-maaf, aku terlambat. Ban motorku kempes,” kata pria itu dengan nada tersengal. Pria itu kemudian menatap Audrey dan mengulurkan tangannya. “Nona Audrey, kan?” Audrey mengangguk, menatap pria muda dengan penampilan yang mirip preman itu dari atas hingga ke bawah, memastikan bahwa ia tidak salah orang. “Ya, benar. Silakan duduk,” kata Audrey ketus, terlanjur kesal karena sudah dibuat menunggu. “Kita langsung saja, tidak perlu basa-basi kare
Sejak meninggalkan restoran malam itu, Audrey tidak bisa berhenti memikirkan satu kesalahan fatal yang telah ia buat. Audrey sudah mencoba mengabaikannya. Ia pergi bekerja seperti biasa, menghadiri rapat, menyelesaikan beberapa dokumen yang menumpuk, bahkan sengaja menyibukkan diri agar tidak memiliki kesempatan memikirkan persoalan tersebut. Namun, semakin ia berusaha melupakannya, semakin jelas pula masalah itu terasa.“Astaga, apa yang sudah kau lakukan, Audrey?! Bodoh! Kau bodoh sekali!” rutuk Audrey pada dirinya sendiri. Ia menatap layar ponselnya, membaca pesan-pesan yang dikirimkan rekan kerjanya. Mereka semua menanyakan hal yang sama. Tak tahan, ia mengusap wajahnya frustrasi. Bagaimana mungkin ia bisa sebodoh itu?Audrey memang ingin membuktikan bahwa dirinya sudah move on. Ia ingin menunjukkan bahwa kabar pernikahan Erlan tidak berpengaruh apa-apa terhadap kehidupannya.Tetapi ia tidak pernah berpikir bahwa untuk membuktikannya, ia harus menciptakan seorang kekasih yang bah







