Share

Ide Gila

Author: Hernn Khrnsa
last update publish date: 2026-08-03 03:51:14

Sejak meninggalkan restoran malam itu, Audrey tidak bisa berhenti memikirkan satu kesalahan fatal yang telah ia buat. Audrey sudah mencoba mengabaikannya. Ia pergi bekerja seperti biasa, menghadiri rapat, menyelesaikan beberapa dokumen yang menumpuk, bahkan sengaja menyibukkan diri agar tidak memiliki kesempatan memikirkan persoalan tersebut. Namun, semakin ia berusaha melupakannya, semakin jelas pula masalah itu terasa.

“Astaga, apa yang sudah kau lakukan, Audrey?! Bodoh! Kau bodoh sekali!” rutuk Audrey pada dirinya sendiri. 

Ia menatap layar ponselnya, membaca pesan-pesan yang dikirimkan rekan kerjanya. Mereka semua menanyakan hal yang sama. Tak tahan, ia mengusap wajahnya frustrasi. Bagaimana mungkin ia bisa sebodoh itu?

Audrey memang ingin membuktikan bahwa dirinya sudah move on. Ia ingin menunjukkan bahwa kabar pernikahan Erlan tidak berpengaruh apa-apa terhadap kehidupannya.

Tetapi ia tidak pernah berpikir bahwa untuk membuktikannya, ia harus menciptakan seorang kekasih yang bahkan tidak ada.

Menjelang sore, Audrey akhirnya menyerah. Ia menghubungi satu-satunya orang yang menurutnya mampu memberikan solusi untuk masalah konyol tersebut.

“Halo, Eve. Ayo bertemu, aku dalam masalah besar!” katanya dalam panggilan singkat tersebut.

Sahabatnya itu sudah mengenal Audrey sejak masa kuliah. Evelyn juga menjadi salah satu dari sedikit orang yang mengetahui hampir seluruh perjalanan rumah tangga Audrey dan Erlan, termasuk alasan di balik perceraian mereka. Jika ada seseorang yang bisa memberinya nasihat tanpa basa-basi, orang itu adalah Evelyn.

Mereka akhirnya bertemu di sebuah kafe yang tidak terlalu jauh dari kantor Audrey. Evelyn sudah duduk lebih dulu ketika Audrey datang. Wanita itu bahkan belum sempat membuka menu ketika Audrey menjatuhkan tasnya ke kursi dan menghempaskan tubuh di hadapannya.

Evelyn mengangkat alis. “Ada apa dengan wajahmu?"

Audrey menatapnya datar. "Aku dalam masalah besar. Tolong aku, Eve. Astaga, aku tidak tahu harus apa." Audrey mengacak rambutnya asal.

Evelyn menatap wajah sahabatnya yang terlihat kusut itu. Ia kemudian menutup menu yang baru saja dibukanya. "Jangan bilang kau hamil anaknya Erlan," celetuknya asal.

Audrey langsung melotot. "Eve! Ucapanmu itu membuatku merinding!"

Evelyn tertawa. "Ya ampun, aku bercanda. Lalu apa masalahmu? Kau tidak seperti biasanya."

Audrey menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya menceritakan kejadian di pesta ulang tahun rekannya malam sebelumnya. Mulai dari kabar pernikahan Erlan, tatapan orang-orang yang seolah menunggunya menangis, sampai bagaimana dirinya dengan bodohnya mengaku memiliki seorang kekasih.

Evelyn mendengarkan tanpa menyela. Namun, semakin jauh Audrey bercerita, semakin sulit pula Evelyn menahan tawanya. Sampai akhirnya Evelyn menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Jadi kau mengatakan pada mereka bahwa kau memiliki pacar? Yang benar saja."

Audrey mengangguk dengan wajah muram. “Aku bodoh sekali, kan? Ah! Aku sangat frustasi! Mereka sekarang jadi menerorku.” 

“Mau bagaimana lagi? Kau memang bodoh. Sekarang carilah pacar dan pamerkan pacarmu kepada mantan suamimu itu,” ucap Evelyn sambil membuka kembali buku menu yang tadi diletakkannya.

Kali ini Audrey hanya menatap sahabatnya dengan wajah kesal. “Eve … aku serius! Tolong aku.” 

Evelyn terdiam beberapa detik. Lalu tertawa terbahak-bahak hingga perutnya terasa sakit.

"Jangan tertawa!" Audrey memukul lengan Evelyn pelan. “Carikan aku solusi. Aku harus bagaimana sekarang?” 

"Maaf." Evelyn menutup mulutnya, tetapi tawanya masih terdengar. "Aku benar-benar minta maaf, Re. Tapi ... astaga, kau benar-benar bodoh sekali!"

"Terima kasih atas dukungannya." 

"Bagaimana bisa kamu mengatakan hal seperti itu tanpa berpikir?"

"Aku sedang kesal!"

“Baiklah, aku paham posisimu.” Evelyn mengangguk-angguk seolah baru saja menemukan jawaban dari sebuah teka-teki.

"Tapi kau hebat. Benar-benar hebat. Aku tidak tahu harus memuji keberanianmu atau mengkhawatirkan kewarasanmu."

Audrey mengembuskan napas panjang. "Makanya aku datang menemuimu. Kau biasanya bisa memberiku saran."

Evelyn kembali menyandarkan punggungnya, tampak berpikir sambil menunggu pesanannya datang. "Baik. Mari kita berpikir."

Audrey langsung memperhatikannya.

"Begini saja, kau bisa mengatakan kepada teman-teman kerjamu itu bahwa hubungan kalian berakhir." 

"Mustahil." Audrey ikut menyandarkan punggungnya.

"Kenapa?"

"Karena mereka sudah tahu aku akan membawanya ke  acara pertunangan Erlan." Audrey mengusap wajahnya lagi.

Evelyn mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja. Wajahnya tampak serius, seolah sedang memikirkan persoalan bisnis yang sangat penting. Beberapa detik kemudian, matanya tiba-tiba berbinar.

"Kalau begitu, kau bisa pesan jasa peran sewaan saja."

Audrey mengangkat wajah. "Apa itu? Memangnya ada hal semacam itu?"

“Aku bersungguh-sungguh, Re. Kau bisa menyewa orang untuk dijadikan pacar, teman kencan atau apa pun itu sesuai kebutuhan. Mereka juga bisa menjaga rahasia dan profesional.” 

Audrey membeku. "Apa maksudnya? Pa-pacar sewaan? Kau sudah gila, ya? Mana ada hal seperti itu di zaman sekarang, Eve."

"Ada, Re. Kau saja yang kurang update. Lihat ini, review mereka sudah seperti review di e-commerce! Setidaknya cobalah dulu.” Evelyn menunjukkan ponselnya agar Audrey dapat membacanya secara langsung.

Audrey menatap Evelyn beberapa detik, kemudian tertawa geli. Bukan karena lucu, tetapi karena ia benar-benar mengira sahabatnya sudah kehilangan akal sehat.

"Kau serius, Eve? Kau tidak kehilangan akal sehatmu, kan?" Audrey masih tak percaya.

"Astaga, aku serius. Hanya ini opsi yang kau punya jika kau tidak mau menjadi bulan-bulanan di kantor."

"Evelyn, aku bukan sedang menyewa mobil."

"Memangnya kenapa? Banyak orang menyewa jasa pendamping untuk acara tertentu."

"Tapi ini pacar!"

"Justru lebih mudah."

"Bagaimana bisa lebih mudah?"

Evelyn mengangkat bahu. "Kau bisa mencari pria yang bersedia berpura-pura menjadi pacarmu. Kau tinggal menandatangani kontrak yang sudah disepakati dan bayar jasanya. Dia datang ke acara bersamamu. Setelah itu selesai."

Audrey menatapnya tak percaya. "Itu ide paling absurd yang pernah kudengar."

"Absurd, tapi praktis."

"Bagaimana jika orang-orang tahu?"

"Jika kau pintar bersandiwara, mereka tidak akan tahu. Lagipula, jika semuanya sudah selesai, kau bisa mengatakan pada mereka bahwa kalian putus karena tidak cocok."

Audrey masih terlihat ragu.

Evelyn kemudian menambahkan, "Lagipula, kau tidak membutuhkan pria yang benar-benar jatuh cinta padamu. Kau hanya butuh seseorang yang bisa memainkan peran sebagai kekasihmu selama beberapa jam."

Audrey terdiam, ide itu terdengar gila tapi cukup masuk akal untuk situasinya sekarang. Ia tidak perlu berkencan sungguhan, membuka hati ataupun memikirkan masa depan.

Ia hanya membutuhkan seorang pria yang bersedia berpura-pura menjadi kekasihnya sampai pesta pernikahan Erlan selesai. Setelah itu, semuanya berakhir.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Brondong Itu Pacar Kontrakku    Penjelasan

    Lavina akhirnya meninggalkan restoran setelah beberapa kali beradu mulut dengan Nareza. Perempuan itu sempat menatap Audrey dengan sorot mata penuh kebencian sebelum berbalik dan melangkah pergi. Pintu restoran tertutup di belakangnya, tetapi ketegangan yang ditinggalkannya masih terasa di antara meja-meja yang sempat menjadi pusat perhatian para pengunjung.Nareza berdiri diam selama beberapa saat, berusaha meredam amarah yang masih menguasai dirinya. Ia kemudian menoleh kepada Audrey yang masih duduk dengan pakaian basah. Melihat keadaan perempuan itu, ekspresi wajahnya seketika berubah. Rasa kesal yang tadi memenuhi dadanya perlahan berganti dengan penyesalan.“Aku … aku benar-benar minta maaf. Atas apa yang terjadi tadi, aku benar-benar tak mengira dia akan berhasil menemukanku.”Audrey mengangkat wajahnya. Ia tidak segera menjawab, hanya mengambil beberapa lembar tisu tambahan untuk mengeringkan rambutnya.“Aku benar-benar minta maaf,” lanjut Nareza sambil menarik kursi di sampin

  • Brondong Itu Pacar Kontrakku    Kejutan Tiba-tiba

    Mereka berjalan berdampingan menuju restoran kecil yang tadi ditunjuk Audrey. Jaraknya tidak terlalu jauh dari kantor, hanya beberapa menit berjalan kaki. Restoran itu berada di sudut jalan yang cukup ramai, tetapi suasananya jauh lebih tenang dibandingkan kawasan perkantoran di sekitarnya.Begitu memasuki restoran, seorang pelayan segera menyambut mereka dan mengarahkan keduanya ke salah satu meja di dekat jendela. Audrey duduk lebih dahulu, kemudian Nareza mengambil tempat di hadapannya.“Aku sebenarnya masih heran kenapa kau mau mengikuti saranku,” ujar Audrey sambil membuka daftar menu. “Kupikir setelah melihat prosesnya tadi, kau akan berubah pikiran.”Nareza tersenyum tipis, lalu mengedikkan bahu santai. “Entahlah, mungkin aku hanya ingin mencoba keberuntunganku?” jawabnya asal.Audrey mengangguk kecil. Ia kemudian mulai memperhatikan daftar makanan di tangannya.Tak lama kemudian, pelayan datang untuk mencatat pesanan. Setelah memilih makanan dan minuman, Audrey meletakkan menu

  • Brondong Itu Pacar Kontrakku    Diterima Bekerja

    “Nareza? Kau … kau ada di sini?” tanya pria yang usianya terpaut 20 tahun dari Nareza. Rangga menatap keponakannya dari atas hingga bawah lalu membaca dokumen berisi lamaran pekerjaan yang dibawa Nareza dengan tidak percaya.Saat Rangga begitu terkejut melihatnya, Nareza justru merasa kaku berada di sana, ia sudah menduga akan bertemu dengan pamannya di sana. “Kau mau melamar pekerjaan di sini? Apa kau serius?” tanya Rangga lagi, tak percaya. Pria berperawakan tinggi itu menatap Nareza lama, seolah mencari sesuatu yang tengah disembunyikan Nareza. “Apakah ini karena—” “Tidak! Sama sekali bukan. Tolong jangan katakan hal ini pada siapapun. Aku … aku hanya asal saja.” Rangga menatapnya penuh selidik. “Benarkah?” tanyanya seolah tahu bahwa Nareza benar-benar menyembunyikan sesuatu di belakangnya, selain konflik dengan orang tuanya. Nareza akhirnya menghela napas. “Sejujurnya, aku ingin bekerja di sini karena seseorang.” “Seseorang?” ulang Rangga, tak percaya. “Apakah dia seorang per

  • Brondong Itu Pacar Kontrakku    Kebetulan yang Tidak Diduga

    Senin pagi kembali membawa Audrey pada rutinitas yang sudah beberapa minggu terakhir terasa begitu biasa. Ia bangun lebih awal, menyiapkan sarapan sederhana, lalu berangkat ke kantor dengan secangkir kopi di tangan. Tidak ada kejadian dramatis, tidak ada pertemuan tak terduga, bahkan tidak ada pesan aneh dari Erlan yang biasanya mampu mengacaukan suasana hatinya.Namun, entah mengapa, pagi itu terasa sedikit berbeda.Mungkin karena pikirannya masih tertinggal pada kejadian di taman dua malam lalu. Audrey masih mengingat bagaimana Nareza menggenggam tangannya ketika mereka berjalan melewati kafe tempat Erlan dan Melissa berada. Ia juga masih mengingat ekspresi Nareza ketika pria itu berpura-pura begitu meyakinkan sebagai kekasihnya.Yang lebih mengganggunya adalah satu hal sederhana, bahwa Audrey menyukai semua itu. Ia menyukai kehadiran Nareza. Menyukai percakapan kecil yang terjadi di antara mereka. Begitu tiba di kantor, ia segera mengembalikan dirinya pada kesibukan.“Pagi, Audrey

  • Brondong Itu Pacar Kontrakku    Bersikap Mesra

    “Sudah, jangan banyak tanya. Serahkan saja semuanya kepadaku,” jawab Nareza dengan meyakinkan. Audrey menghela napas panjang. “Kau benar-benar tidak bisa dipercaya.”Nareza justru tertawa kecil. “Bukankah sejak awal aku memang dibayar untuk menjadi pacarmu?”Audrey mendengus kesal, tetapi pada akhirnya ia menyerah. Ia meletakkan tangannya di telapak tangan Nareza. Pria itu segera menggenggamnya dengan santai, lalu mengajaknya kembali berjalan menuju kafe.Sebenarnya Audrey masih merasa ragu. Ia tahu mereka sedang berpura-pura, tetapi entah mengapa, berjalan sambil bergandengan tangan seperti ini terasa sedikit berbeda dari biasanya.Ketika mereka semakin dekat dengan jendela kafe, Audrey tanpa sengaja melihat Erlan mengangkat kepala.Tatapan mereka bertemu dan begitu melihatnya dengan Nareza, ekspresi Erlan langsung berubah. Pandangan pria itu turun pada tangan Audrey yang sedang digenggam Nareza, lalu perlahan beralih kepada pria yang berjalan di samping mantan istrinya itu.“Seda

  • Brondong Itu Pacar Kontrakku    Memergoki Mantan

    Setelah meninggalkan taman, Audrey dan Nareza berjalan menuju jalan utama untuk mencari kendaraan yang akan membawa mereka pulang. Suasana di antara keduanya masih terasa lebih tenang setelah kejadian sebelumnya. Audrey bahkan sesekali tersenyum kecil ketika mengingat percakapan mereka di taman. Malam itu seharusnya berakhir dengan makan malam, berjalan-jalan, lalu pulang. Namun, ketika melewati sebuah kafe yang masih cukup ramai meskipun malam sudah larut, langkah Audrey tiba-tiba melambat.Tatapannya tanpa sengaja tertuju pada salah satu meja di dekat jendela. Senyum di wajahnya seketika menghilang. Di sana, Audrey melihat dua orang yang sangat dikenalnya.Pasangan itu terlihat duduk berhadapan. Melissa terlihat tersenyum sambil menyentuh lengan Erlan, sementara pria itu tampak santai dan sesekali mencondongkan tubuhnya ke arah wanita yang kini menjadi tunangannya. Dari kejauhan, mereka terlihat begitu mesra, seolah tidak ada sedikitpun masalah di antara keduanya.Audrey berdiri di

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status