مشاركة

Kehadirannya

مؤلف: Hernn Khrnsa
last update تاريخ النشر: 2026-08-27 23:30:21

Erlan seperti orang tuli yang tidak mau mendengarkan. Alih-alih melepaskan Audrey, ia justru semakin mengeratkan pegangannya pada lengan wanita itu dan menariknya menjauh dari meja.

"Kau itu tuli, ya? Lepaskan pacarku!" Suara Nareza terdengar tegas dari belakang mereka. Erlan langsung menoleh dan mendapati pria muda itu sudah berdiri dengan ekspresi serius.

“Lepaskan dia Erlan!" sentak Evelyn yang sejak tadi berdiri di sisi Audrey, bersiap menjaga sahabatnya itu dari pria seperti Erlan.

Erlan
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Brondong Itu Pacar Kontrakku    Penjelasan

    Lavina akhirnya meninggalkan restoran setelah beberapa kali beradu mulut dengan Nareza. Perempuan itu sempat menatap Audrey dengan sorot mata penuh kebencian sebelum berbalik dan melangkah pergi. Pintu restoran tertutup di belakangnya, tetapi ketegangan yang ditinggalkannya masih terasa di antara meja-meja yang sempat menjadi pusat perhatian para pengunjung.Nareza berdiri diam selama beberapa saat, berusaha meredam amarah yang masih menguasai dirinya. Ia kemudian menoleh kepada Audrey yang masih duduk dengan pakaian basah. Melihat keadaan perempuan itu, ekspresi wajahnya seketika berubah. Rasa kesal yang tadi memenuhi dadanya perlahan berganti dengan penyesalan.“Aku … aku benar-benar minta maaf. Atas apa yang terjadi tadi, aku benar-benar tak mengira dia akan berhasil menemukanku.”Audrey mengangkat wajahnya. Ia tidak segera menjawab, hanya mengambil beberapa lembar tisu tambahan untuk mengeringkan rambutnya.“Aku benar-benar minta maaf,” lanjut Nareza sambil menarik kursi di sampin

  • Brondong Itu Pacar Kontrakku    Kejutan Tiba-tiba

    Mereka berjalan berdampingan menuju restoran kecil yang tadi ditunjuk Audrey. Jaraknya tidak terlalu jauh dari kantor, hanya beberapa menit berjalan kaki. Restoran itu berada di sudut jalan yang cukup ramai, tetapi suasananya jauh lebih tenang dibandingkan kawasan perkantoran di sekitarnya.Begitu memasuki restoran, seorang pelayan segera menyambut mereka dan mengarahkan keduanya ke salah satu meja di dekat jendela. Audrey duduk lebih dahulu, kemudian Nareza mengambil tempat di hadapannya.“Aku sebenarnya masih heran kenapa kau mau mengikuti saranku,” ujar Audrey sambil membuka daftar menu. “Kupikir setelah melihat prosesnya tadi, kau akan berubah pikiran.”Nareza tersenyum tipis, lalu mengedikkan bahu santai. “Entahlah, mungkin aku hanya ingin mencoba keberuntunganku?” jawabnya asal.Audrey mengangguk kecil. Ia kemudian mulai memperhatikan daftar makanan di tangannya.Tak lama kemudian, pelayan datang untuk mencatat pesanan. Setelah memilih makanan dan minuman, Audrey meletakkan menu

  • Brondong Itu Pacar Kontrakku    Diterima Bekerja

    “Nareza? Kau … kau ada di sini?” tanya pria yang usianya terpaut 20 tahun dari Nareza. Rangga menatap keponakannya dari atas hingga bawah lalu membaca dokumen berisi lamaran pekerjaan yang dibawa Nareza dengan tidak percaya.Saat Rangga begitu terkejut melihatnya, Nareza justru merasa kaku berada di sana, ia sudah menduga akan bertemu dengan pamannya di sana. “Kau mau melamar pekerjaan di sini? Apa kau serius?” tanya Rangga lagi, tak percaya. Pria berperawakan tinggi itu menatap Nareza lama, seolah mencari sesuatu yang tengah disembunyikan Nareza. “Apakah ini karena—” “Tidak! Sama sekali bukan. Tolong jangan katakan hal ini pada siapapun. Aku … aku hanya asal saja.” Rangga menatapnya penuh selidik. “Benarkah?” tanyanya seolah tahu bahwa Nareza benar-benar menyembunyikan sesuatu di belakangnya, selain konflik dengan orang tuanya. Nareza akhirnya menghela napas. “Sejujurnya, aku ingin bekerja di sini karena seseorang.” “Seseorang?” ulang Rangga, tak percaya. “Apakah dia seorang per

  • Brondong Itu Pacar Kontrakku    Kebetulan yang Tidak Diduga

    Senin pagi kembali membawa Audrey pada rutinitas yang sudah beberapa minggu terakhir terasa begitu biasa. Ia bangun lebih awal, menyiapkan sarapan sederhana, lalu berangkat ke kantor dengan secangkir kopi di tangan. Tidak ada kejadian dramatis, tidak ada pertemuan tak terduga, bahkan tidak ada pesan aneh dari Erlan yang biasanya mampu mengacaukan suasana hatinya.Namun, entah mengapa, pagi itu terasa sedikit berbeda.Mungkin karena pikirannya masih tertinggal pada kejadian di taman dua malam lalu. Audrey masih mengingat bagaimana Nareza menggenggam tangannya ketika mereka berjalan melewati kafe tempat Erlan dan Melissa berada. Ia juga masih mengingat ekspresi Nareza ketika pria itu berpura-pura begitu meyakinkan sebagai kekasihnya.Yang lebih mengganggunya adalah satu hal sederhana, bahwa Audrey menyukai semua itu. Ia menyukai kehadiran Nareza. Menyukai percakapan kecil yang terjadi di antara mereka. Begitu tiba di kantor, ia segera mengembalikan dirinya pada kesibukan.“Pagi, Audrey

  • Brondong Itu Pacar Kontrakku    Bersikap Mesra

    “Sudah, jangan banyak tanya. Serahkan saja semuanya kepadaku,” jawab Nareza dengan meyakinkan. Audrey menghela napas panjang. “Kau benar-benar tidak bisa dipercaya.”Nareza justru tertawa kecil. “Bukankah sejak awal aku memang dibayar untuk menjadi pacarmu?”Audrey mendengus kesal, tetapi pada akhirnya ia menyerah. Ia meletakkan tangannya di telapak tangan Nareza. Pria itu segera menggenggamnya dengan santai, lalu mengajaknya kembali berjalan menuju kafe.Sebenarnya Audrey masih merasa ragu. Ia tahu mereka sedang berpura-pura, tetapi entah mengapa, berjalan sambil bergandengan tangan seperti ini terasa sedikit berbeda dari biasanya.Ketika mereka semakin dekat dengan jendela kafe, Audrey tanpa sengaja melihat Erlan mengangkat kepala.Tatapan mereka bertemu dan begitu melihatnya dengan Nareza, ekspresi Erlan langsung berubah. Pandangan pria itu turun pada tangan Audrey yang sedang digenggam Nareza, lalu perlahan beralih kepada pria yang berjalan di samping mantan istrinya itu.“Seda

  • Brondong Itu Pacar Kontrakku    Memergoki Mantan

    Setelah meninggalkan taman, Audrey dan Nareza berjalan menuju jalan utama untuk mencari kendaraan yang akan membawa mereka pulang. Suasana di antara keduanya masih terasa lebih tenang setelah kejadian sebelumnya. Audrey bahkan sesekali tersenyum kecil ketika mengingat percakapan mereka di taman. Malam itu seharusnya berakhir dengan makan malam, berjalan-jalan, lalu pulang. Namun, ketika melewati sebuah kafe yang masih cukup ramai meskipun malam sudah larut, langkah Audrey tiba-tiba melambat.Tatapannya tanpa sengaja tertuju pada salah satu meja di dekat jendela. Senyum di wajahnya seketika menghilang. Di sana, Audrey melihat dua orang yang sangat dikenalnya.Pasangan itu terlihat duduk berhadapan. Melissa terlihat tersenyum sambil menyentuh lengan Erlan, sementara pria itu tampak santai dan sesekali mencondongkan tubuhnya ke arah wanita yang kini menjadi tunangannya. Dari kejauhan, mereka terlihat begitu mesra, seolah tidak ada sedikitpun masalah di antara keduanya.Audrey berdiri di

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status