LOGINErlan seperti orang tuli yang tidak mau mendengarkan. Alih-alih melepaskan Audrey, ia justru semakin mengeratkan pegangannya pada lengan wanita itu dan menariknya menjauh dari meja.
"Kau itu tuli, ya? Lepaskan pacarku!" Suara Nareza terdengar tegas dari belakang mereka. Erlan langsung menoleh dan mendapati pria muda itu sudah berdiri dengan ekspresi serius. “Lepaskan dia Erlan!" sentak Evelyn yang sejak tadi berdiri di sisi Audrey, bersiap menjaga sahabatnya itu dari pria seperti Erlan. Erlan menatap Evelyn dengan kesal. "Sudah kukatakan, ini urusan aku dan Audrey. Jangan ikut campur." "Urusan kalian, tapi bukan berarti kau boleh menariknya seenaknya." Evelyn masih terlihat emosi. Sementara itu, Nareza yang berada di sana masih menunggu situasi di mana ia bisa bersikap sebagai pahlawan, melawan pria yang ia ketahui mantan suami Audrey itu dengan tepat. Audrey kembali berusaha melepaskan lengannya dari cengkeraman Erlan. "Erlan, lepaskan aku!" Namun, Erlan tetap mempertahankan pegangannya. "Aku hanya ingin bicara empat mata." "Dan aku sudah bilang aku tidak mau." Audrey meronta, tetapi cekalan tangan Erlan begitu kuat. Evelyn segera berdiri di antara mereka, berusaha menjadi penghalang agar Erlan tidak kembali menarik Audrey. "Jika Audrey tidak mau bicara denganmu, berarti selesai. Kau bisa pergi." "Aku tidak sedang bicara denganmu." "Sayangnya, sekarang kau memang harus bicara denganku karena kau datang ke meja kami dan memaksa sahabatku." "Evelyn, minggir!" "Tidak! Kau saja yang menyingkir dari sini!" Erlan mengembuskan napas panjang. Kesabarannya tampak mulai menipis. "Aku hanya ingin berbicara dengannya selama beberapa menit." Evelyn menarik lengan Audrey dengan kuat. "Kalau begitu, bicaralah di sini." "Tidak, ini masalah pribadi kami. Kau jangan ikut campur dengan urusanku, Eve." Erlan masih bersikeras. Evelyn menyilangkan kedua tangan di depan dada. "Kalau begitu, hormati keputusan Audrey yang tidak ingin membicarakannya." Audrey menatap Erlan dengan tegas, lalu menyentak tangannya kuat-kuat. "Aku tidak punya alasan untuk bicara berdua denganmu." "Aku punya banyak hal yang ingin kutanyakan." "Itu bukan masalahku." Jawaban Audrey membuat ekspresi Erlan semakin keras. Tatapannya berubah menjadi penuh ketidakpuasan, seolah ia tidak menyangka mantan istrinya berani menolaknya tanpa ragu. "Sejak kapan kau menjadi seperti ini?" tanya Erlan pelan bersamaan dengan cekalan tangannya yang mulai mengendur. Audrey menatapnya tidak percaya. "Sejak kita bercerai." Erlan terdiam, balas menatap Audrey dengan berani. Berusaha mencari sesuatu dalam tatapan mantan istrinya itu. Audrey menarik napas sebelum melanjutkan dengan suara tenang, tetapi tegas. "Dan aku rasa kau tidak perlu tahu apa yang kulakukan setelah itu." Tatapan Erlan berubah. Ia tampak semakin ingin mendapatkan jawaban. "Termasuk pria itu?" Audrey mengerutkan kening. "Nareza?" "Siapa dia sebenarnya?" "Itu bukan urusanmu." "Dia pacarmu?" "Iya, lalu kenapa? Apakah itu masalah bagimu?” balas Audrey tegas, ia tak ingin membiarkan pria di hadapannya itu mengetahui isi hatinya yang sebenarnya. Erlan tertawa pendek, tetapi sama sekali tidak terdengar seperti tawa bahagia. "Aku tidak percaya." Audrey menatapnya tajam. "Kau tidak perlu percaya." Alih-alih menyerah, Erlan justru kembali menarik lengan Audrey. "Ikut aku." Audrey terkejut. "Erlan, lepaskan!" Evelyn segera meraih tangan Audrey yang lain. "Berhenti! Kau tidak dengar dia?" Namun, Erlan masih berusaha menarik Audrey. "Aku hanya ingin bicara!" "Aku tidak mau!" Audrey menegaskan. Sebelum keadaan menjadi lebih buruk, sebuah suara terdengar dari belakang mereka. "Lepaskan tangannya." Seketika suasana di sekitar meja itu berubah hening. Audrey menoleh dan mendapati Nareza berdiri beberapa langkah dari mereka. Wajahnya yang kemarin terlihat santai kini terlihat jauh lebih serius. Tatapannya tertuju pada tangan Erlan yang masih mencengkeram lengan Audrey. "Nareza?" bisik Audrey, menatap tak percaya. Ia tak menyadari keberadaan pria itu sedari tadi. “Sejak kapan kau ada di sini?” Nareza tak menjawab, berjalan mendekat dengan langkah tenang. Ia berhenti tepat di hadapan Erlan. "Aku bilang, lepaskan tangannya." Erlan menatapnya dengan kesal. "Ini bukan urusanmu." Nareza tidak menjawab. Ia langsung meraih tangan Erlan dan melepaskan cekalannya dari lengan Audrey dengan gerakan tegas, lalu mengusap lengan itu dengan lembut. Seolah-olah, lengan Audrey adalah barang berharga yang tak boleh dijamah sembarang orang. Audrey segera menarik tangannya ke belakang. Nareza kemudian berdiri di antara dirinya dan Erlan, seolah memastikan pria itu tidak kembali mendekat. "Jika dia bilang tidak mau ikut, jangan memaksanya," ucap Nareza tegas. Ia tak peduli perbedaan usia antara dirinya dan mantan suami Audrey itu. Erlan menatap Nareza dengan tajam. "Kau pikir kau siapa? Huh?! Jangan mencampuri urusanku!” sentaknya kesal. Nareza menjawab dengan tenang, tanpa sedikit pun gentar. "Oh? Apa aku tidak boleh mencampuri urusan pacarku sendiri? Apa perlu aku ingatkan bahwa kau dan pacarku sudah tidak memiliki hubungan apa pun lagi?” Erlan tampak semakin marah, rahangnya mengeras bersamaan dengan tangan yang terkepal kuat. Ia tak terima direndahkan seperti ini. "Memangnya kau tahu apa soal kami? Kau bahkan tidak tahu apa yang terjadi di antara kami." "Benar, aku memang tidak tahu apa yang terjadi di antara kalian." Nareza tidak menyangkalnya. "Tapi aku tahu satu hal. Pria yang baik tidak akan memaksa seorang wanita, apalagi saat ia dengan tegas menolak." Evelyn yang berdiri di samping Audrey mengangguk puas. "Bagus. Akhirnya ada orang yang bisa membuatnya mengerti." Erlan melirik Evelyn sebelum kembali menatap Nareza. "Aku hanya ingin bicara dengan mantan istriku." "Kau boleh bicara dengannya hanya jika dia bersedia." Nareza menatapnya lurus, tatapannya yang tajam terasa menusuk. "Tapi jika tidak, kau harus menghormati keputusannya." Erlan mengepalkan tangannya. Beberapa pengunjung kafe mulai memperhatikan mereka. Situasi yang awalnya hanya menjadi percakapan pribadi perlahan berubah menjadi pusat perhatian. Menyadari semakin banyak mata yang tertuju padanya, Erlan akhirnya mundur. Namun, sebelum pergi, ia kembali menatap Audrey. "Ini belum selesai, aku pasti akan kembali lagi nanti." Audrey tidak menjawab, tetapi tatapannya pada Erlan cukup menjelaskan bahwa ia membenci pria itu sekarang. Erlan kemudian menatap Nareza sekali lagi dengan sorot penuh ketidaksukaan sebelum akhirnya berbalik dan pergi dengan langkah terburu-buru. Begitu Erlan benar-benar keluar dari kafe, Evelyn mengembuskan napas panjang. "Astaga, drama macam apa ini? Sangat melelahkan." Audrey masih berdiri diam. Ia menatap pintu kafe yang baru saja dilewati Erlan, seolah memastikan pria itu benar-benar sudah pergi. Nareza kemudian menoleh kepadanya. "Kau tidak apa-apa, kan? Lain kali, kau harus langsung mematahkan tangannya saat dia memaksamu seperti tadi." Audrey mengangguk perlahan. "Aku tidak apa-apa,” jawabnya sambil mengusap pelan pergelangan tangannya yang sedikit memerah. Tatapan Nareza turun sekilas ke lengan Audrey. Ia memastikan tidak ada masalah sebelum kembali menatap wajah wanita itu. "Apa dia sering bersikap seperti itu? Kasar padamu? Pria macam apa yang memaksa mantan istrinya? Apa mantan suamimu itu preman?" Audrey menatapnya jengah, sifat penasaran pria itu muncul lagi. “Sudahlah, lupakan saja soal itu. By the way, terima kasih sudah menolongku. Dan … sedang apa kau di sini?” tanyanya pada akhirnya sambil terduduk kembali di kursinya. Nareza memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana dan menjawab santai, seolah pertanyaan itu tidak penting. "Hanya kebetulan melintas." Evelyn langsung tertawa kecil. "Kebetulan melintas? Kafe ini bahkan bukan tempat yang biasanya kau datangi." Nareza hanya tersenyum tanpa memberikan jawaban lebih lanjut. Sementara Audrey memandangnya dengan curiga. Ia jelas tidak percaya dengan alasan sesederhana itu. Namun, sebelum sempat bertanya lebih jauh, Nareza sudah menarik sebuah kursi dan duduk di sampingnya.Erlan seperti orang tuli yang tidak mau mendengarkan. Alih-alih melepaskan Audrey, ia justru semakin mengeratkan pegangannya pada lengan wanita itu dan menariknya menjauh dari meja."Kau itu tuli, ya? Lepaskan pacarku!" Suara Nareza terdengar tegas dari belakang mereka. Erlan langsung menoleh dan mendapati pria muda itu sudah berdiri dengan ekspresi serius.“Lepaskan dia Erlan!" sentak Evelyn yang sejak tadi berdiri di sisi Audrey, bersiap menjaga sahabatnya itu dari pria seperti Erlan. Erlan menatap Evelyn dengan kesal. "Sudah kukatakan, ini urusan aku dan Audrey. Jangan ikut campur.""Urusan kalian, tapi bukan berarti kau boleh menariknya seenaknya." Evelyn masih terlihat emosi. Sementara itu, Nareza yang berada di sana masih menunggu situasi di mana ia bisa bersikap sebagai pahlawan, melawan pria yang ia ketahui mantan suami Audrey itu dengan tepat. Audrey kembali berusaha melepaskan lengannya dari cengkeraman Erlan. "Erlan, lepaskan aku!" Namun, Erlan tetap mempertahankan pega
Dua hari setelah pesta pertunangan Erlan, Audrey akhirnya bertemu dengan Evelyn di sebuah kafe yang biasa mereka datangi. Sejak duduk di sana, Audrey sudah beberapa kali tersenyum sendiri ketika mengingat kejadian malam itu. Bukan karena masih memikirkan Erlan, melainkan karena ia tidak menyangka rencananya benar-benar berhasil. Evelyn yang duduk di hadapannya segera menyadari perubahan ekspresi sahabatnya. "Jangan bilang semuanya berjalan sesuai rencana." Audrey mengangkat alis, lalu bertanya pelan dengan senyum tipis terangkat. "Kenapa? Apakah terlihat di wajahku" Evelyn menganggukan kepala. "Wajahmu itu terlihat seperti orang yang baru memenangkan pertandingan." Audrey tertawa kecil sebelum menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Kau tidak akan percaya apa yang terjadi di sana, Eve." "Ada hal menarik apa? Ceritakanlah! Aku penasaran!" Audrey kemudian menceritakan semuanya. Mulai dari saat ia dan Nareza memasuki pesta hingga bagaimana seluruh tamu langsung memperhatikan mereka. Ia j
Audrey mengira semuanya akan berjalan mudah setelah berhasil membuat Erlan terdiam. Ia hanya perlu bertahan sampai pesta pertunangan itu selesai, kemudian pulang bersama Nareza. Setelah itu, ia bisa kembali menjalani hidup seperti biasa tanpa harus memikirkan tatapan orang-orang yang sejak tadi sibuk memperhatikan mereka. Namun, kenyataannya tidak sesederhana itu. Baru beberapa langkah meninggalkan Erlan, Audrey sudah dihampiri beberapa kenalan lama. Mereka datang dengan senyum penuh rasa ingin tahu, tetapi tatapan mereka tidak pernah benar-benar lepas dari Nareza. "Audrey!" Audrey menoleh dan menemukan dua orang teman lama dari masa kuliahnya berdiri di hadapan mereka. "Ternyata benar-benar kau!" seru salah seorang dari mereka. "Aku kira kau tidak akan datang hingga aku mengira kau orang lain." Audrey tersenyum sopan dan melambaikan tangannya. "Hai, semua, aku tidak menyangka akan bertemu dengan kalian di sini.” "Kau datang bersama pria yang sangat tampan, apalagi kau begitu c
Sejak pagi, Audrey sudah menerima beberapa pesan dari teman-temannya yang mengingatkan mengenai acara tersebut. Bahkan Celine sempat mengirim pesan agar Audrey tidak lupa membawa "pacar misteriusnya". Audrey hanya membalas dengan emoji kesal. Ia sebenarnya tidak ingin memikirkan acara ini terlalu banyak, tetapi semakin dekat waktunya, semakin ia menyadari bahwa keputusan spontan yang dibuatnya di pesta ulang tahun rekannya telah berkembang menjadi sesuatu yang jauh lebih besar. Hari ini, ia benar-benar harus datang bersama seorang pria, dan pria itu bukan sekadar teman. Nareza adalah kekasih kontraknya."Jangan terlalu tegang. Ini hanya pesta pertunangan biasa, kan?"Suara Nareza dari balik kemudi membuat Audrey menoleh. "Aku tidak tegang!" balas Audrey tak terima.Nareza meliriknya sekilas, kemudian kembali memusatkan perhatian pada jalan. "Tapi jari Nona mengetuk-ngetuk tas sejak tadi."Audrey langsung menghentikan gerakannya. Ia menatap jemarinya sendiri yang memang sejak tadi m
Audrey terus memandangi layar ponselnya, memastikan bahwa ia sudah terlalu lama menunggu. Ia mulai berdecak pelan saat seseorang yang ingin ditemuinya tak kunjung datang.“Sudah kuduga, mereka itu pasti hanya penipu yang menginginkan uang. Profesional katanya. Huh! Menurutku mereka adalah orang-orang yang tidak punya pekerjaan.” Audrey mulai mengoceh sendiri. Ia meraih tasnya dan berniat untuk meninggalkan kafe itu saat tiba-tiba seorang pria muda yang tampan, gagah dan tinggi semampai tiba-tiba mendatangi mejanya dengan napas terengah-engah. “Ma-maaf, aku terlambat. Ban motorku kempes,” kata pria itu dengan nada tersengal. Pria itu kemudian menatap Audrey dan mengulurkan tangannya. “Nona Audrey, kan?” Audrey mengangguk, menatap pria muda dengan penampilan yang mirip preman itu dari atas hingga ke bawah, memastikan bahwa ia tidak salah orang. “Ya, benar. Silakan duduk,” kata Audrey ketus, terlanjur kesal karena sudah dibuat menunggu. “Kita langsung saja, tidak perlu basa-basi kare
Sejak meninggalkan restoran malam itu, Audrey tidak bisa berhenti memikirkan satu kesalahan fatal yang telah ia buat. Audrey sudah mencoba mengabaikannya. Ia pergi bekerja seperti biasa, menghadiri rapat, menyelesaikan beberapa dokumen yang menumpuk, bahkan sengaja menyibukkan diri agar tidak memiliki kesempatan memikirkan persoalan tersebut. Namun, semakin ia berusaha melupakannya, semakin jelas pula masalah itu terasa.“Astaga, apa yang sudah kau lakukan, Audrey?! Bodoh! Kau bodoh sekali!” rutuk Audrey pada dirinya sendiri. Ia menatap layar ponselnya, membaca pesan-pesan yang dikirimkan rekan kerjanya. Mereka semua menanyakan hal yang sama. Tak tahan, ia mengusap wajahnya frustrasi. Bagaimana mungkin ia bisa sebodoh itu?Audrey memang ingin membuktikan bahwa dirinya sudah move on. Ia ingin menunjukkan bahwa kabar pernikahan Erlan tidak berpengaruh apa-apa terhadap kehidupannya.Tetapi ia tidak pernah berpikir bahwa untuk membuktikannya, ia harus menciptakan seorang kekasih yang bah







