Share

Misi Bandung

Penulis: KaoruTheLovers
last update Tanggal publikasi: 2026-07-09 10:52:57

Dika menepuk dahi, merasa frustrasi melihat sikap Kiana yang mendadak berubah keras kepala. "Ya udah terserah lo deh, Ki. Pokoknya kalau lo berubah pikiran, langsung kabarin gue. Jangan sampai nyesel liburan seru kita hangus."

"Iya, gampang," jawab Kiana pendek.

Begitu Dika melangkah menjauh, Kiana langsung mengeluarkan ponselnya. Rencana membatalkan liburan lewat Dika jelas gagal total. Satu-satunya jalan rasanya ia memang harus berangkat lebih awal ke Bandung sendirian. Ia harus melacak Bramantya Yudha di sekolahnya sebelum libur akhir tahun dimulai.

Tiga hari kemudian, Kiana sudah berada di Bandung. Bermodalkan sisa uang tabungan magangnya, ia menyewa kamar murah di daerah Dago, tidak jauh dari alamat SMA negeri unggulan yang ia temukan di artikel G****e kemarin.

Siang itu, hujan turun cukup deras mengguyur kota Bandung. Kiana berdiri di depan sebuah minimarket yang terletak tepat di seberang gerbang sekolah yang ia cari. Ia memegang segelas cokelat hangat, matanya tidak lepas menatap kerumunan siswa berseragam putih-abu-abu yang mulai berhamburan keluar karena bel pulang sudah berbunyi.

Gimana cara gue nemuin dia di antara ratusan murid kayak gini? batin Kiana mulai panik.

Ia mencoba mengingat foto di artikel kompetisi arsitektur itu. Bram versi remaja berambut agak ikal, berpostur tinggi tegap, dan memiliki sorot mata yang tajam. Namun, mencari seseorang di dunia nyata hanya berbekal satu foto buram ternyata jauh lebih sulit dari dugaannya.

"Aduh, Raisha! Jangan lari-lari, jalannya licin!"

Sebuah teriakan lantang dari arah samping kiri minimarket seketika membuat Kiana menoleh cepat. Jantungnya berdegup kencang mendengarkan nama yang sangat akrab di telinganya itu disebut.

Beberapa meter dari tempatnya berdiri, seorang gadis remaja berusia sekitar dua belas tahun dengan seragam SMP tampak berlari kecil menembus rintik hujan. Di belakangnya, seorang pemuda jangkung sibuk mengejar sambil membentangkan sebuah payung hitam besar.

"Ayo cepat Aa! Keburu angkotnya lewat!" seru anak perempuan itu sambil tertawa kecil.

Kiana terpaku di tempatnya. Suara itu. Meskipun terdengar sedikit lebih cempreng khas remaja belasan tahun, Kiana tahu betul intonasi dan berat suara itu. Ia menatap lekat-lekat wajah pemuda yang membawa payung. Garis rahangnya belum sekokoh tujuh tahun ke depan, badannya pun masih kurus, tapi sepasang mata elang yang menatap tajam itu tidak salah lagi.

Itu Bramantya Yudha.

Bram versi delapan belas tahun yang belum tersentuh oleh kemewahan, dendam, ataupun kegilaan. Dia hanya seorang kakak yatim piatu yang sedang berusaha melindungi adik perempuan satu-satunya dari air hujan.

Karena terlalu fokus menatap kedua bersaudara itu, Kiana tidak sadar bahwa ia telah melangkah maju ke area parkiran yang basah. Tepat di saat yang sama, sebuah sepeda motor melaju kencang membelah genangan air di depan minimarket untuk menghindari bus di jalur utama.

"Hei, awas!"

Sebuah tarikan kuat di lengan jaketnya membuat Kiana tersentak ke belakang. Tubuhnya limbung, membuat gelas cokelat hangat di tangannya terlepas dan tumpah mengotori tanah. Sepeda motor tadi lewat begitu saja, menyisakan cipratan air yang hampir mengenai wajah Kiana.

"Kak kalau jalan lihat-lihat, dong. Untung nggak ketabrak," tegur sebuah suara dari arah atas kepalanya.

Kiana mendongak. Napasnya tercekat. Pemuda yang baru saja menariknya adalah Bram. Tatapan mata elang itu mengunci matanya.

"Kak? Enggak apa-apa?" tanya Bram lagi, alisnya bertautan melihat reaksi Kiana yang tampak syok berat dan menatapnya seperti melihat hantu.

Kiana buru-buru mengatur napasnya yang mendadak terasa sesak. Ketakutan dari masa depan mendadak menyergap batinnya, namun ia sadar, pemuda di depannya ini sekarang adalah kunci keselamatannya.

"Ah... iya, maaf. Saya nggak fokus tadi. Makasih ya... dik," ucap Kiana terbata-bata, mencoba memaksakan senyum sealami mungkin.

Bram mengangguk pelan, lalu melepaskan cengkeraman tangannya dari jaket Kiana. "Iya, hati-hati, Kak. Di sini kalau hujan sering banyak motor yang ngebut."

"Aa! Angkotnya udah dateng tuh!" teriak Raisha dari pinggir jalan sambil melambaikan tangan ke arah sebuah angkot hijau yang mulai melambat.

"Iya, bentar!" sahut Bram setengah berteriak. Ia kembali menatap Kiana sekilas, memberikan anggukan sopan, lalu berbalik setengah berlari menuju adiknya di pinggir jalan.

Kiana berdiri mematung di bawah kanopi minimarket, menatap punggung Bram yang naik ke dalam angkot bersama Raisha. Angkot itu perlahan bergerak menjauh, melebur di tengah kemacetan jalanan Dago yang diguyur hujan.

Tangan Kiana masih gemetar. Takjub akan pertemuan pertama mereka yang tidak disangka-sangka.

Gue udah ketemu sama dia. Tapi... gimana cara gue menghentikan kecelakaan itu kalau gue nggak kenal dekat sama mereka? Gue butuh alasan buat terus ada di sekitar Bram dan Raisha sebelum akhir tahun.

Kiana memeras otaknya. Membuntuti mereka setiap hari jelas akan memicu kecurigaan, apalagi Bram remaja terlihat cukup waspada sebagai kepala keluarga. Ia butuh sebuah jembatan masuk yang legal dan masuk akal.

"Arsitektur..." gumam Kiana pelan. Ia mengingat artikel online itu lagi. Bram memenangkan kompetisi arsitektur tingkat SMA yang diadakan oleh perusahaan Widya Anindya. Artinya, Bram pasti punya ketertarikan besar di bidang itu dan kemungkinan sedang mencari mentor atau info beasiswa kuliah.

Kiana tersenyum tipis. Kiana aktif di organisasi kemahasiswaan, dan sering mengadakan program bimbingan belajar dan info beasiswa luar negeri untuk anak-anak SMA berprestasi di Jabodetabek. Mungkin kali ini perlu diperluas areanya karena ini bisa jadi tiket masuknya. Tiket untuk mendekati Bram dan mengubah masa depan.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Brondongku Psikopat   Babak Akhir (10)

    Bram langsung menyambar remot TV di atas meja coffee dengan gerakan sigap, sementara Natasya dengan cepat menyetel siaran berita bisnis nasional melalui layar datar tersebut. Layar televisi di ruang keluarga seketika menampilkan tayangan langsung wawancara eksklusif Rendra Mahardika di pelataran Mahardika Group pagi tadi. Suasana ruangan yang tadinya tegang oleh kepanikan kecil Natasya mendadak menghening."...dan hari ini, saya ingin menegaskan bahwa kejayaan Mahardika Group bukan milik saya pribadi," ucap Rendra di layar kaca. Pria muda itu mengenakan jas hitam rapi buatan penjahit ternama, berdiri tegap dengan raut wajah yang tampak begitu berwibawa namun tetap rendah hati. "Semua pencapaian ini adalah hasil fondasi kuat dan nilai-nilai integritas yang ditanamkan oleh sosok mentor sekaligus panutan saya, Bapak Bramantya Yudha. Beliau mengajari saya bahwa pemimpin sejati tidak dilihat dari seberapa tinggi ia berdiri, melainkan seberapa banyak orang yang bisa ia angkat dari keterpuru

  • Brondongku Psikopat   Babak Akhir (9)

    Dua hari kemudian, rumah Bram dan Kiana disulap menjadi tempat syukuran keluarga besar. Suasana hangat dan meriah langsung terasa begitu melangkahkan kaki melewati pintu pagar. Aroma daging yang dipanggang dengan bumbu rempah pilihan merambah memanjakan hidung hingga ke area halaman depan, menggugah selera setiap orang yang hadir.Di ruang tengah, karpet bulu merah tebal tergelar luas menutup lantai keramik yang dingin. Seluruh anggota keluarga besar berkumpul lengkap dalam suasana yang begitu hangat dan akrab: Bram, Kiana, Natasya, Nathan, Jeremy, Laura, Elano, serta Rendra, Arini, dan Arka kecil yang kini sibuk mengoceh menggemaskan sambil memegangi kaki celana Rendra."Papa! Pa... liat Arka! Liat ini!" oceh balita dua tahun itu memamerkan mobil-mobilan plastiknya yang berwarna merah menyala.Rendra bertekuk lutut di atas karpet, mengusap kepala Arka dengan binar mata penuh kasih sayang seorang ayah. "Wah, mobilnya kencang banget ya, Jagoan? Jalan mobilnya lurus banget. Mainnya sama

  • Brondongku Psikopat   Babak Akhir (8)

    Waktu berjalan tanpa terasa, membawa ritme kehidupan yang lebih tenang di kediaman Bram. Dua tahun berlalu sejak kehadiran Arka Mahardika di tengah keluarga kecil Rendra dan Arini. Bayi mungil yang dulu mengadopsi kasih sayang mereka kini telah tumbuh menjadi anak laki-laki yang aktif, cerdas, dan menjadi pusat kebahagiaan baru di Mahardika Group.Sore itu, halaman belakang rumah Bram tampak begitu semarak oleh tawa anak-anak. Nathan yang kini menginjak usia empat tahun sibuk berlari mengejar bola plastik di atas rumput hijau. Di belakangnya, Arka yang baru berusia dua tahun berusaha mengejar dengan langkah-langkah kecilnya yang menggemaskan."Nathan! Oper bolanya ke Dek Arka, Nak!" seru Arini dari kursi taman."Arka, ayo tembak bolanya ke gawang!" sahut Nathan riang sambil mengoper bola plastik merah itu.Arka tertawa geli, menendang bola itu kencang hingga bergulir ke arah pot bunga. Arini berdiri sebentar, merapikan baju Arka yang sedikit kotor terkena noda rumput basah.Kiana yang

  • Brondongku Psikopat   Babak Akhir (7)

    Rendra refleks menggeser posisi tubuh tegapnya, pasang badan membentengi Arini dan bayi mungil dalam dekapannya dari tatapan tajam nan penuh amarah ibunya. Suasana pelataran panti asuhan yang tenang mendadak berubah tegang."Mama? Mau apa Mama ke sini?" tanya Rendra dengan suara dingin, dalam, dan mengintimidasi.Ibu Rendra, Heni, melangkah mendekat dengan wajah merah padam oleh emosi yang membakar. Perhiasan di pergelangan tangannya berkilau saat jemarinya menunjuk kasar ke arah bayi di dekapan Arini. Bayi kecil itu mulai gelisah dan menggeliat pelan akibat nada suara tinggi di sekitarnya."Mama minta kamu sadar, Rendra!" bentak Heni tanpa rasa canggung di tempat umum. "Mama dengar kabar burung kalau Arini ini mandul, dan sekarang Mama lihat kamu malah mau adopsi anak entah berantah ini? Kamu itu Direktur Utama Mahardika Group! Kamu mendapatkan titel itu dengan susah payah bertahun-tahun! Apa kata relasi bisnis kita kalau pewaris tunggal Mahardika ternyata anak adopsi tanpa asal-usul

  • Brondongku Psikopat   Babak Akhir (6)

    Suara jeritan melengking memecah keheningan Minggu pagi yang tenang di kediaman Bram. Suasana rumah yang tadinya damai mendadak berubah riuh saat baby Nathan, yang baru berusia dua tahun, berlari wira-wiri di ruang tengah tanpa selembar benang pun yang melekat di tubuh mulusnya. Balita itu tertawa riang sambil menepuk-nepuk perutnya, sementara Bram mengikutinya dari belakang dengan napas memburu sambil memegang selembar popok perekat dan minyak telon."Nathan! Jangan lari, Nak! Sini dulu, Papanya capek!" seru Bram dengan suara yang mulai serak dan napas terengah-engah.Pria itu akhirnya tersungkur pasrah di atas sofa empuk ruang tamu, memegangi pinggang bawahnya yang mendadak terasa nyut-nyutan hebat. Rambutnya yang biasanya tersisir rapi kini sedikit berantakan, sementara kemeja santai berwarna krem yang dikenakannya agak kusut terkena tumpahan susu balitanya beberapa menit yang lalu."Aduh... pinggangku rasanya mau copot," keluh Bram pelan sambil meringis kesakitan, memejamkan matan

  • Brondongku Psikopat   Babak Akhir (5)

    Elano ngebut kemudian menghentikan kendaraannya tepat di samping motor matic yang dinaiki Natasya dan teman laki-lakinya. Pintu mobil sebelah kanan terbuka keras, dan Elano keluar dari sana dengan raut wajah dingin yang begitu menakutkan."Sya, turun," perintah Elano pendek, nada suaranya menusuk dan tak menerima bantahan.Natasya yang baru saja memegang tali helm tertegun di atas jok belakang. "Kak Elano? Kok Kakak bisa ada di sini?""Aku bilang turun sekarang, Natasya," ulang Elano dengan nada suara menekan yang memendam amarah.Laki-laki berseragam SMA putih-abu-abu di atas motor matic itu mengernyit bingung, membetulkan posisi spionnya. "Misi, Kak. Kakak ini siapa ya? Saya cuma mau anter Natasya pulang ke rumahnya."Elano melirik cowok SMA itu dengan amat tajam, tatapannya begitu mengancam seolah ingin menelan lawan bicaranya hidup-hidup saat itu juga. "Gua kakaknya. Mending lu pergi sekarang sebelum gua benar-benar hilang sabar.""Kak Elano, apa-apaan sih!" Natasya menghentakkan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status