Share

Hutan Jiwangkara Penuh Bahaya

last update Last Updated: 2025-04-13 07:48:31

“Hati-hati kalau mau bangun!” Bigar memperingatkan. “Kondisimu masih lemah. Kata Ki Tambung, butuh tiga hari lagi untuk pemulihan.”

Suro Joyo kembali berbaring karena merasa kepalanya pening ketika tubuhnya digunakan untuk bangun.

“Tentang sebutan legenda beku, bisa diartikan bebas sesuka hati,” ucap Bigar. “Yang jelas, nama Ki Tambung sebagai Pendekar Penakluk Naga Merah terkenal di seluruh penjuru jagat, tapi tidak banyak orang yang mengenal Ki Tambung secara pribadi. Sifat diam yang melekat pada beliau membuat orang lain kesulitan untuk mendekatinya. Orang-orang merasa sulit untuk mengenal Ki Tambung secara mendalam.”

“Sebentar, Paman ..., saya ingat pengakuan Ki Panjong,” sela Suro Joyo. “Ki Panjong mengaku pernah berguru pada Ki Tambung untuk menguasai beberapa jurus silat yang termasuk langka. Hanya Ki Tambung yang memiliki jurus-jurus itu. Salah satu jurus yang didapat dari Ki Tambung, Jurus Cicak Merayap Batu. Dengan jurus itu, Ki Panjong bisa merayapi tebing setinggi apa pun dengan cepat, tanpa pernah takut jatuh ke dasar jurang.”

Bigar kaget mendengar penuturan Suro Joyo. Ternyata banyak orang yang diam-diam mendapatkan ilmu, jurus atau pun kesaktian dari Ki Tambung.

“Itu yang kumaksud legenda beku,” ucap Bigar. “Ki Tambung melegenda secara diam-diam seperti air yang beku. Beda dengan pendekar legendaris lainnya yang dikenal banyak orang. Ki Tambung tidak begitu dikenal di kalangan pendekar, tapi kemampuannya dalam dunia persilatan dia tularkan secara diam-diam kepada para pendekar lain. Saat ini giliranmu, Suro. Kamu beruntung akan mendapatkan seluruh ilmu, kesaktian, dan ajian yang dimiliki Ki Tambung.”

Suro Joyo terlihat kaget, sekaligus senang.

“Kamu jangan merasa gembira dulu, Suro!” Bigar mengingatkan. “Untuk menerima ilmu dari Ki Tambung, ada satu syarat yang mesti kamu penuhi.”

“Syarat apa, Paman?”

“Sebaiknya kamu sekarang kembali istirahat! Besok Ki Tambung yang akan menjelaskan.”

Suro Joyo mengikuti kata Bigar. Dia kembali memejamkan mata setelah Bigar meninggalkan ruang padepokan.

Pagi hari berikutnya, Suro Joyo bangun tidur dalam keadaan segar bugar. Dia merasa heran atas perubahan yang begitu cepat pada dirinya. Kemarin masih lemas, sekarang sudah segar seperti biasanya.

Usai membersihkan diri di sendang yang ada air terjun kecil di dekat padepokan, Suro Joyo makan pagi bersama Ki Tambung dan Bigar. Usai makan pagi, Suro Joyo dibawa pendekar kawakan itu ke area yang biasa digunakan Tambung dan Bigar untuk meningkatkan ilmu silat dan kemampuan tarung jarak dekat satu lawan satu.

Mereka duduk di bebatuan yang tertata rapi di pinggir area.

“Kamu akan mewarisi seluruh ilmu yang kumiliki, Suro,” Ki Tambung mulai mengatakan keperluannya. “Hal ini sesuai janjiku yang pernah kuucapkan kepada mendiang dua gurumu, Ki Maeso Item dan Nyi Trinil Manis.”

Wajah Suro Joyo menegang.

“Maaf kalau berita ini mengejutkanmu, Suro,” ucap Ki Tambung lirih, bernada sedih. “Ini kenyataan yang mesti kita terima. Kita tidak perlu terlalu bersedih dan menangis menghiba sudra. Perilaku menghiba seperti itu tiada guna.”

“Bagaimana kejadiannya, Ki Tambung?” tanya Suro Joyo penasaran.

Ki Tambung menoleh kepada Bigar.

“Singkatnya, suatu hari Badas Wikatra menyamar sebagai dirimu, lalu mencegat kedua gurumu sepulang dari sini,” kata Bigar. “Karena yang mencegat sosok manusia yang menyamar sebagai dirimu, kedua gurumu merasa gembira. Mereka berdua memelukmu dengan erat. Pada saat itulah Badas secara licik membunuh kedua gurumu.”

“Jangan dendam, tak perlu terbakar kemarahan!” bijak ucap Ki Tambung. “Kemarahan yang membakar hatimu saat melawan Badas, membuatmu mudah sekali dikalahkan begundal iblis itu. Yang lalu telah berlalu, tak perlu disesali. Sekarang kita songsong masa depan dengan nalar sehat dan semangat tinggi. Kamu akan kuberi seluruh ilmuku yang kudapat dari Ki Taksaparama, Si Naga Merah dari Selatan. Kemudian, setelah semua ilmuku terserap dalam jiwa dan ragamu, ada satu warisan dari mendiang kedua gurumu.”

“Apa, Ki?” Suro Joyo terlihat bersemangat.

“Mantra Sakti Pemanggil Tombak Bowong,” ucap Ki Tambung tegas. “Jujur saja, aku tidak berani membuka mantra yang tertulis dalam segulung kulit rusa. Mantra sakti itu kusimpan di tempat yang sangat aman. Tak seorang pun bisa mengambil mantra itu selain diriku. Nanti kuberikan setelah kamu selesai menempa ilmu di Padepokan Carang Giring.”

Suro Joyo meresapi setiap kata yang diucapkan Ki Tambung. Tak disangka, kedua gurunya punya senjata tersembunyi yang hanya bisa dipanggil dengan mantra.

“Kamu akan kuberi ilmu yang kudapat dari Ki Taksaparama dengan syarat,” lanjut Ki Tambung, “lulus uji berani. Keberanianmu akan diuji di dalam Hutan Jiwangkara.”

“Hutan Jiwangkara itu di mana letaknya, Ki?”

“Sebelah barat Padepokan Carang Giring. Besok kujelaskan setelah sampai di tepi hutan itu.”

Keesokan hari selanjutnya, Ki Tambung dan Bigar membawa Suro Joyo ke arah barat. Mereka pagi-pagi berangkat melewati jalan perbukitan yang berbatu cadas, beronak duri, dan berbagai tanaman tua di kanan-kiri jalan setapak.

Sinar mentari pagi yang hangat menimbulkan semangat juang dalam diri Suro Joyo. Ada beban di pundak yang mesti diemban sebagai baktinya kepada kedua orang tua, kedua guru, dan para pengikut setia ayahandanya. Serta tak kalah pentingnya, Suro Joyo juga memiliki tugas sangat berat untuk mengembalikan kejayaan Krendobumi pada masa Raja Agung Paramarta.

“Hutan Jiwangkara terkenal wingit, mistis, penuh kekuatan magis, dan banyak bahaya tersembunyi di dalamnya,” penjelasan Ki Tambung ketika mereka bertiga telah sampai tepi hutan yang dituju. “Hutan ini pernah dijadikan uji berani banyak pendekar. Ki Panjong, Ki Maeso Item, Nyi Trinil Manis, aku, dan banyak pendekar lain pernah diuji di sini.”

Ki Tambung menatap Suro Joyo. “Kamu segera masuk Hutan Jiwangkara sekarang! Kamu harus bisa bertahan hidup di dalam sana selama tujuh hari tujuh malam. Kalau bisa selamat, setelah melewati masa itu, berarti punya potensi menjadi pendekar yang lebih hebat di masa depan!”

“Maaf, Ki...,” kata Suro Joyo, “apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan di dalam Hutan Jiwangkara?”

“Di dalam hutan sana ada binatang buas, misalnya ular, harimau, buaya, singa, dan masih banyak lagi. Kalau binatang itu menggangu, kamu boleh mengusir. Kalau mereka menyerang, kamu boleh melawan atau menghindar. Bahkan boleh menghajar mereka. Tapi ada satu pantangannya, kamu dilarang membunuh binatang di dalam Hutan Jiwangkara.”

“Mengapa, Ki?”

“Dalam Hutan Jiwangkara ada banyak siluman jahat yang mampu mengubah darah binatang yang kamu bunuh menjadi binatang raksasa.  Bentuk makhluk jadi-jadian menyerupai binatang yang kamu bunuh tadi. Makhluk raksasa itu sangat ganas dan tidak mudah dimusnahkan karena telah menjadi makhluk setengah iblis.”

Suro Joyo bergidik bulu kuduknya membayangkan betapa seramnya makhluk raksasa yang kerasukan siluman bengis. Dia ingat-ingat benar perkataan ini.

“Sekarang..., masuklah Hutan Jiwangkara!” perintah Ki Tambung. “Tujuh hari lagi, kamu keluar dari hutan dan kembali ke sini!”

“Siap melaksanakan perintah, Ki!” Suro Joyo menunduk hormat. Lalu bergegas membalikkan badan.

Suro Joyo masuk Hutan Jiwangkara, siap menantang bahaya!

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Brubuh Krendobumi - Pendekar Kembara Semesta Seri 3   Menjadi Raja di Krendobumi

    Suro Joyo memejamkan mata sejenak. Ia sudah mengalahkan tiran. Ia sudah membalaskan dendam keluarganya. Ia telah melihat wajah Ayumanis dan Westi Ningtyas di tengah kerumunan, dan ia tahu bahwa ia telah membuat pilihan hati yang rumit—pilihan yang akan ia bawa sebagai beban maupun berkat. Tapi, tahta ini, singgasana megah di belakangnya, terasa seperti sangkar yang terbuat dari emas murni."Aku mengerti kewajibanku," jawab Suro Joyo, suaranya dalam dan terdengar jelas di seluruh aula yang hening. "Aku telah menerima takdir ini sejak aku mengangkat Tombak Bowong untuk pertama kalinya. Tetapi, aku telah melalui api dan badai sebagai seorang ksatria pengembara, bukan sebagai raden istana. Aku telah melihat penderitaan rakyat jelata dari dekat, bukan dari balik jendela benteng ini."Lodra Dahana, yang berdiri gagah dengan zirah upacara Garbaloka, melangkah maju. "Tuanku Raja, tradisi menetapkan bahwa seorang Raja harus berakar di Istana. Hanya dari sini, hukum dan ketertiban dapat ditegak

  • Brubuh Krendobumi - Pendekar Kembara Semesta Seri 3   Menuju Aula Penobatan

    Suro Joyo bangkit dari kursinya. Ia berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke puing-puing istana yang tengah diperbaiki. Angin sepoi-sepoi membawa dinginnya kenyataan baru. Ia merasakan beban di punggungnya, bukan lagi beban balas dendam, melainkan beban tanggung jawab atas seluruh rakyatnya.Tiba-tiba, benda sakti pemberian Brajawala, yang Suro Joyo sebut ‘Benda Brajawala’ (atau ‘Brajawala’) di tangannya bergetar hebat. Itu bukan hanya sensasi panas, melainkan sebuah denyutan ritmis. Suro Joyo meremasnya, dan tanpa sadar, ia memfokuskan ajian penyerap energi ke benda itu.Energi Ki Tambung berinteraksi dengan esensi misterius dari benda Brajawala, dan sebuah kejutan listrik menjalari kesadaran Suro Joyo. Seketika, dinding-dinding aula dewan menghilang.Suro Joyo tidak lagi di Krendobumi. Ia berada dalam visi yang dingin dan suram.Ia berdiri di puncak tebing yang tak dikenal. Di bawahnya, hamparan lautan yang gelap dihiasi oleh ratusan kapal perang dengan layar hitam yang mena

  • Brubuh Krendobumi - Pendekar Kembara Semesta Seri 3   Serangan dari Samudra Kencana

    Ranunggabaya, salah satu sosok bertopeng perak itu maju selangkah. Ia mengangkat tangan kanannya, dan seketika itu juga, udara di antara mereka mengeras. Sebuah panah es kristal setajam belati terbang cepat ke arah dada Suro Joyo.Suro Joyo menangkisnya dengan Tombak Bowong, tetapi panah itu meledak dalam kontak, menyebarkan pecahan es tajam ke segala arah.Syut! Syut!“Di mana teman-temanmu?” gertak Suro Joyo. “Datangkan semuanya kemari untuk kulenyapkan!”Ranunggabaya hanya hanya tertawa dingin sambil menghunus pedang saktinya. Dia serang Suro Joyo dengan penuh semangat.Suro Joyo melayani serangan lawan dengan berkelit. Dia simpan tombak saktinya di angan-angan. Dia ingin menuntaskan perseteruannya dengan Ranunggabaya.Pertarungan Ranunggabaya lawan Suro Joyo berlangsung seru dan keras. Sekali waktu Suro Joyo berhasil menendang Ranunggabaya. Pedang lepas dari tangan. Pada saat yang tepat, Suro Joyo mengeluarkan ajian lamanya yang disimpan rapat-rapat. Ajian Rajah Cakra Geni!Dari t

  • Brubuh Krendobumi - Pendekar Kembara Semesta Seri 3    Mengejar Ranunggabaya

    Ada satu nama yang sering menjadi topik pembicaraan di kalangan Badas Wikatra nasibnya masih mengambang. Dialah Ranunggabaya.“Ia sudah mundur ke wilayah perbatasan Karangtirta, Tuanku,” lapor Lodra Dahana suatu sore, saat mereka memeriksa perbaikan Balai Kota yang rusak parah akibat pertempuran. “Kami curiga ia sedang menggalang kekuatan, menuntut janji yang dulu pernah dilontarkan Badas Wikatra padanya. Garbaloka telah mengirim mata-mata, tapi Karangtirta adalah sarang persembunyian yang sulit ditembus.”“Biarkan dia menuntut takhta yang dia inginkan,” sahut Arum Hapsari, menyapu debu dari peta yang terbentang di meja. “Fokus kita harus di sini. Gudang pangan utama di Bendasana sudah hampir penuh, tapi kita kekurangan tenaga ahli untuk memperbaiki irigasi di Kadipaten selatan. Itu mendesak untuk ditangani jika kita ingin panen besar enam bulan mendatang bisa ditampung.”Suro Joyo mengangguk, sorot matanya yang tajam tertuju pada wilayah yang ditunjuk Arum. Ia mengenakan pakaian yang

  • Brubuh Krendobumi - Pendekar Kembara Semesta Seri 3    Pemusnahan Agniawuri

    Suro Joyo berdiri di balkon istana. Ia mengamati langit yang berhias bintang dan merasakan aura dingin yang aneh, meskipun udara musim kemarau harusnya hangat.Ia tiba-tiba merasakan kepalanya pusing, dan pandangannya sekilas tertutup oleh bayangan hitam yang bergerak sangat cepat.“Sebuah ilusi?” Suro Joyo mengernyit. “Bukan. Ini racun.”Ia segera mengaktifkan Ajian Penyerapnya, mencoba mengusir rasa sakit yang tiba-tiba menyerang indra penciumannya—bau belerang yang sangat tajam, bau yang tidak seharusnya ada di sana.Tiba-tiba, telinganya berdenging. Bukan dengungan biasa, melainkan bisikan ribuan suara yang berteriak dalam kegelapan.Suro Joyo mencengkeram kepalanya, merasa seolah otaknya ditarik ke dalam jurang yang gelap.Di Gua Raga Sungsang, Agniawuri kembali tertawa, kali ini histeris. Ia melihat melalui mata kabut gelapnya, menyaksikan Suro Joyo mulai menderita.“Ya! Rasakan! Rasakan nerakaku, Raja!”Tapi, saat Agniawuri mengira ia telah menang, ia merasakan gigitan balik da

  • Brubuh Krendobumi - Pendekar Kembara Semesta Seri 3    Pesan Ki Pandansekti yang Mengagetkan

    “Mereka menguji Krendobumi saat Badas Wikatra masih berkuasa. Sekarang, setelah Badas Wikatra tumbang, mereka melihat kesempatan untuk menelan wilayah ini sepenuhnya, menggunakan pasukan baja mereka sebagai ujung tombak,” jelas Ki Pandansekti. “Tugasmu, Suro Joyo, bukan lagi hanya memimpin prajuritmu. Tugasmu adalah menemukan inti spiritual Krendobumi yang sejati.”“Apa yang harus saya lakukan, Ki?”“Kau telah menguasai ajian penyerap energi dari Ki Tambung. Kau telah menemukan Tombak Bowong. Itu semua adalah kekuatan eksternal, alat untuk bertarung. Tetapi Darmawangsa tidak akan bisa dikalahkan oleh besi atau tombak. Mereka harus dilawan dengan energi yang paling murni, yang tidak bisa dibeli atau ditempa.”Suro Joyo menunggu, menahan napas. Ini adalah nasihat terakhir yang ia butuhkan, bukan tentang formasi tempur, tetapi tentang inti keberadaannya.“Di balik pusaka dan ajianmu, kau memiliki sesuatu yang istimewa. Sebuah ‘Manik’,” Ki Pandansekti berbisik. “Manik itu adalah alasan me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status