LOGINMalam itu setelah kediaman mulai sunyi dan sebagian besar pelayan sudah kembali kekamar mereka, Ming Zhu bergerak perlahan.
Ia menggunakan pakaian perempuan yang ia simpan diam-diam sejak awal tinggal di kediaman itu. Pakaian yang tidak terlalu mewah, tapi cukup untuk dikenal sebagai wanita baik-baik yang datang ke kota. Tanpa pikir panjang, ia berjalan menuju gerbang belakang. Gerbang yang hampir tidak pernah dijaga pengawal saat malam hari. Ming Zhu membuka pintunya perlahan. Udara malam kota langsung menyambutnya. Jalanan Ibu kota masih ramai. Lampion merah menggantung di sepanjang jalan, dan suara tawa serta musik dari kedai the terdengar jelas dari kejauhan. Namun langkah Ming Zhu tetap tenang. Sampai akhirnya ia sampai di depan bangunan yang ia cari. Sebuah bangunan besar tiga lantai yang bertuliskan PEONY MERAH. Rumah bordil paling terkenal di distrik itu. Ia menarik nafas sebelum akhirnya memasuki bangunan itu. “Ah Nona muda. Jarang sekali ada wanita datang sendiri ke tempat kami,” ucap seorang wanita tua yang mengenakan gaun merah menyala. “Aku datang mencari seseorang,” “Mencari seseorang?” “Ming Yue. Aku mencarinya,” ucap Ming Zhu cepat. “Ah. Jadi kau datang untuknya. Apa hubunganmu dengannya?” tanya Wanita itu. “Aku kerabatnya,” jawab Ming Zhu cepat. Belum sempat wanita itu membalas, datang dua pria muda dengan langkah gontainya dengan membawa sebuah kendi berisikan minuman keras. “Madam, kami ingin wanita cantik!” Pria itu langsung berhenti ketika melihat Ming Zhu. “Eh siapa ini?” Madam itu lalu menoleh cepat seolah mendapat ide lalu tersenyum sumringah. “Ah tuan muda feng dan tuan muda sang selamat datang, kalian tepat waktu sekali. Ini tamu baru kami,” ucap Madam itu. Ming Zhu langsung menegang. “Aku bukan—” “Jangan malu,” Sela madam itu. “Benar. Duduklah sebentar bersama kami,” ucap salah satu pria mabuk itu. Dan benar saja, keduanya langsung menarik tubuh Ming Zhu dan membawanya ke lantai atas. “Lepas!” berontak Ming Zhu. Tapi sayangnya, tenaga kedua pria itu lebih kuat. “Jangan takut gadis kecil, kami akan bermain dengan lembut hahahaha,” bisik salah satu pria itu. Air mata Ming Zhu sudah mengalir deras. Dan betapa terkejutnya ia saat tiba di lantai atas dan mendapati banyak sekali wanita dan pria sedang melakukan adegan tidak pantas di sepanjang koridor. Suara desahan pun memenuhi koridor itu hingga membuat Ming Zhu tak kuat mendengarnya. “Lepas! Aku bukan wanita penghibur! Aku hanya datang mencari kakakku!” jerit Ming Zhu. “Diam!” bentak pria yang bermarga Feng itu. “Minumlah, nona,” kata salah satu dari mereka sambil mendorong cawan ke arahnya. “Jangan buat keributan!” Ming Zhu menatap cawan itu sebentar. Ia tidak bisa membuat keributan. Namun ia juga tidak bisa benar-benar ikut dalam permainan mereka. “Aku tidak minum anggur,” jawabnya pelan. Pria itu tertawa. “Tidak minum? Di rumah bordil?” Teman-temannya ikut tertawa. Salah satu dari mereka mencondongkan tubuh ke depan, menatap wajah Ming Zhu lebih dekat. “Aneh sekali. Madam bilang kau tamu baru.” Tangannya hampir menyentuh dagu Ming Zhu. Refleks Ming Zhu langsung membuatnya menyingkir sedikit. Gerakan itu membuat pria-pria itu semakin tertarik. “Lihat itu,” kata salah satu dari mereka sambil menyeringai. “Dia pemalu.” Pria lain mengangkat cawan anggur. “Semakin pemalu, semakin menarik.” Ming Zhu mengepalkan tangannya di bawah meja. Ia menoleh cepat ke arah tangga. Namun dua pelayan rumah bordil berdiri di sana, seolah menjaga agar tidak ada tamu yang pergi begitu saja. Jantung Ming Zhu mulai berdetak lebih cepat. Ia harus menemukan cara keluar dari ruangan ini. “Ayo, duduk lebih dekat,” katanya sambil meraih lengan Ming Zhu. Kali ini Ming Zhu langsung menarik tangannya, “Aku tidak—” Belum sempat ia berbicara, suara gaduh dari lantai bawah terdengar. Para pelayan berlarian menuju lantai bawah. “Ada apa ini?” tanya salah satu Pria mabuk itu. Beberapa detik kemudian, langkah kaki terdengar menaiki tangga. Tok. Tok. Tok. Suara tongkat kayu menyentuh tangga terdengar jelas di ruangan yang kini jauh lebih sunyi. Ming Zhu menoleh tanpa sadar. Sosok tinggi muncul di ujung tangga. Jubah gelap. Rambut panjang yang jatuh rapi di punggung. Dan tongkat hitam di tangannya. Dunia Ming Zhu terasa berhenti. Pria itu berhenti di lantai dua. Matanya terlihat seperti biasa—tenang dan sedikit tidak fokus. Namun entah kenapa seluruh ruangan terasa tegang ketika ia berdiri di sana. Para pemuda yang sedang bersenang-senang dengan pekerja di rumah bordil itu seketika menghentikan aksinya. Tak berselang lama, Madam rumah bordil muncul di belakangnya dengan senyum gugup. “Tuan, tempat kami hanya untuk hiburan malam. Jika tuan ingin minum, kami bisa menyiapkan ruangan—” “Xiao Yao,” seru nya pelan. Tapi tegas. Ming Zhu membeku. “Xiao Yao?” Liang Wei melangkah satu langkah lagi. Tok. Tongkatnya menyentuh lantai kayu. “Jika kau tidak keluar sekarang…” ia berhenti sebentar. “aku akan datang sendiri.” Ming Zhu tersadar. Ia kemudian hendak berdiri dan menghampiri Liang Wei. Tapi sebelum ia berjalan, pria bermarga Feng itu menahan tangannya. “Jangan berpikir untuk kabur, gadis,” ujarnya. “Lepas!” ketus Ming Zhu. “Berapa harga gadis di meja itu?” “Maksud Tuan?” tanya Madam kebingungan. Liang Wei kemudian kembali berjalan menuju ruangan tempat Ming Zhu berada. Pria itu kemudian duduk di salah satu kursi dan menaruh tongkatnya dengan rapi. “Aku akan membelinya,” ucap Liang Wei. “Tidak bisa. Dia sedang menemani kami,” sahut Tuan Muda Sang. “Su Mu,” ucap Liang Wei pelan. Su Mu mengangguk. Ia kemudian menarik pedangnya dan mengarahkannya kepada Para Pemuda yang sedang mabuk itu. Seketika ruangan menjadi tegang. Semua mata melirik ke arah mereka diruangan itu. Madam pemilik rumah bordil itu maju, “Tuan jika ada kesalah pahaman-“ “Berapa harganya?” “Tuan,” kata madam cepat, mencoba tertawa kecil, “dia bukan salah satu gadis kami. Dia hanya tamu—” Lalu pedang yang tadi dipegang bawahannya sudah berpindah tangan. Suara srak yang pendek diikuti oleh keheningan yang mematikan. Detik berikutnya, kepala Tuan Muda Sang terlepas dari bahunya sebelum ia sempat menyelesaikan seringai mabuknya. Darah menyembur, membasahi meja kayu dan cawan-cawan arak yang tumpah. “Berapa harga untuk membawanya keluar dari tempat ini malam ini?” tanya Liang Wei cepat. "Aku bertanya," ucap Liang Wei, suaranya tetap rendah dan datar, namun kali ini mengandung ancaman yang bisa membuat tulang sumsum membeku. "Berapa harga untuk nyawa kalian semua jika kalian masih berani menghalangi jalanku?" Madam itu jatuh berlutut, tubuhnya gemetar hebat hingga giginya gemetar. "T-Tuan... mohon ampun... hamba... hamba tidak tahu..." Liang Wei tidak terlihat tertarik dengan tawar-menawar itu. Ia berkata lagi dengan nada yang sama tenangnya, “Dua ratus,” ucapnya. Para tuan muda langsung terdiam. Madam juga terkejut. Itu bukan harga biasa untuk seorang wanita yang bahkan belum resmi bekerja di rumah bordil. Namun Liang Wei melanjutkan dengan suara rendah, “Sebagai budak.”“Keluarga Ming?” Jantung Ming Zhu berdetak lebih kencang. Ia tahu apa maksudnya. Nama Ming bukan nama keluarga biasa. Itu adalah nama keluarga dari dinasti yang telah digulingkan. Liang Wei memiringkan kepalanya sedikit. “Apakah itu kebetulan?” Nada suaranya tetap santai. Namun setiap kata terasa seperti pisau yang perlahan mengupas rahasia. Ming Zhu menunduk lagi. “Aku tidak tahu apa yang Tuan maksud,” ucap Ming Zhu. Liang Wei tertawa kecil. Bukan tawa keras. Lebih seperti seseorang yang mendengar jawaban yang sudah ia duga. “Benarkah?” Kereta perlahan berhenti. Mereka sudah tiba di kediaman. Namun Liang Wei belum bergerak untuk turun. Sebaliknya, ia berkata pelan, “Kalau begitu mari kita buat ini sederhana,” ucapnya. Ia sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan. Suara berikutnya lebih rendah. “Mulai malam ini…” ia berhenti sejenak. “kau bukan lagi kasimku.” Ming Zhu mengangkat kepalanya dengan cepat. “Apa?” Liang Wei tersenyum tipis lagi. “Kau lupa?” Ia m
“Mulai malam ini, gadis ini menjadi milik tuan.” Liang Wei tidak bahkan membaca kertas itu. Ia hanya mengeluarkan kantong perak dan meletakkannya di meja. Bunyi logam berat itu langsung membuat madam tersenyum lebar. Liang Wei kemudian memiringkan kepalanya sedikit ke arah Ming Zhu. “Kemari.” Suara itu tidak keras. Namun cukup untuk membuat Ming Zhu bergerak tanpa sadar. Ia melangkah mendekat. Jantungnya masih berdetak keras sementara kembennya hampir terkoyak sisa tadi. Setelah beberapa langkah, ia berdiri tepat di samping Liang Wei. Pria itu mengangkat tangannya sedikit. Ujung jarinya menyentuh dagu Ming Zhu. Ia menarik dagu Ming Zhu dan mendekatkan wajahnya dan menutup kembennya dengan jubahnya. Liang Wei kemudian tersenyum. “Aku tahu itu kamu,” bisiknya. “A-apa maksud anda, Tuan?” “Kau Xiao Yao,” bisik Liang Wei sembari mengusap pipi Ming Zhu. “Kasimku pintar menyamar.” Sentuhan itu ringan, tetapi cukup untuk membuatnya menegang. Liang Wei berkata pelan, hanya cukup unt
Malam itu setelah kediaman mulai sunyi dan sebagian besar pelayan sudah kembali kekamar mereka, Ming Zhu bergerak perlahan. Ia menggunakan pakaian perempuan yang ia simpan diam-diam sejak awal tinggal di kediaman itu. Pakaian yang tidak terlalu mewah, tapi cukup untuk dikenal sebagai wanita baik-baik yang datang ke kota. Tanpa pikir panjang, ia berjalan menuju gerbang belakang. Gerbang yang hampir tidak pernah dijaga pengawal saat malam hari. Ming Zhu membuka pintunya perlahan. Udara malam kota langsung menyambutnya. Jalanan Ibu kota masih ramai. Lampion merah menggantung di sepanjang jalan, dan suara tawa serta musik dari kedai the terdengar jelas dari kejauhan. Namun langkah Ming Zhu tetap tenang. Sampai akhirnya ia sampai di depan bangunan yang ia cari. Sebuah bangunan besar tiga lantai yang bertuliskan PEONY MERAH. Rumah bordil paling terkenal di distrik itu. Ia menarik nafas sebelum akhirnya memasuki bangunan itu. “Ah Nona muda. Jarang sekali ada wanita datang sendiri ke te
Pagi turun dengan perlahan. Ming Zhu hampir tidak ingat kapan akhirnya tertidur, dan ketika suara lonceng kecil dari dapur belakang terdengar, langit baru saja mulai memucat. Ming Zhu duduk perlahan di ranjang kayunya. Beberapa detik ia hanya menatap lantai, mencoba menenangkan pikirannya. Namun begitu ia mengingat kejadian tadi malam di paviliun pemandian, wajahnya kembali terasa panas. “Lupakan, Ming Zhu. Wanita terhormat tak memikirkan itu.” gumamnya pelan. Ia cepat-cepat mengenakan jubah kasimnya, mengikat rambutnya rapi di bawah topi hitam, lalu keluar dari kamar sebelum pikiran aneh itu kembali mengganggunya. Udara pagi terasa dingin. Daun-daun plum di halaman bergoyang pelan tertiup angin. Kediaman itu sudah mulai hidup dengan aktivitas para pelayan, meskipun suasananya tetap jauh lebih tenang dibandingkan bagian istana lainnya. Ketika Ming Zhu melewati taman kecil, ia kembali melihat dua pelayan perempuan yang sama seperti kemarin. Tangannya sibuk mengolah sementara mulu
“Ayah, Ibu, Maaf aku belum bisa menemukan Kakak,” gumam Ming Zhu didepan kaca. Ia melepas topi kasim yang menutupi rambutnya, baju, serta tali yang melilit untuk menyamarkan dada miliknya. Ia kemudian mulai melepas ikatan rambutnya dan menyisir rambut panjangnya di depan kaca sembari bersenandung kecil. Untungnya, kamar Ming Zhu terletak di bagian belakang halaman kediaman itu. Hingga ia tidak perlu terlalu khawatir ada yang mendengarnya. “Gerah sekali. Aku akan membersihkan diri, lalu tidur,” ucapnya. “Harusnya tidak ada yang memakai kolam ditengah malam seperti ini,” gumamnya. Ia kemudian mengambil kain untuk melilit dirinya, kemudian mengendap keluar menuju kolam pemandian para pelayan. Ia belum terlalu mengenal bagian belakang kediaman itu, tetapi ia tahu paviliun yang dimaksud berada melewati taman kecil dan jembatan batu sempit. Langkahnya pelan di atas papan kayu koridor. Tempat itu terasa begitu tenang hingga suara burung yang bertengger di atap terdengar jelas. Setelah
Ming Zhu berjalan menyusuri koridor kayu menuju ruang belajar. Ia tidak tidur nyenyak semalam. Kata-kata pria itu terus terngiang di kepalanya. Ia lebih khawatir tuan muda ini jauh lebih bahaya daripada bangsawan terdahulu yang melengserkan keluarganya. Apakah itu hanya ucapan biasa? Atau sebuah peringatan? Ming Zhu tidak tahu. Ia berhenti di depan pintu ruang belajar dan mengetuk dua kali. “Tuan. Aku datang,” ucap Ming Zhu perlahan. “Masuk.” Sahut nya dari dalam. Ming Zhu membuka pintu perlahan. Ruangan itu hampir sama seperti kemarin—rak kitab memenuhi dinding, aroma cendana masih menggantung di udara, dan cahaya pagi masuk lembut melalui tirai tipis. Pria itu sudah duduk di tempatnya. Jubahnya hari ini berwarna abu tinta dengan bordir sederhana di bagian lengan. Tongkat hitam yang sama bersandar di sisi kursinya. Matanya masih terlihat tidak fokus. Namun Ming Zhu tidak lagi yakin bahwa tatapan itu benar-benar kosong. Ia segera menunduk. “Hamba memberi salam, Tuan.” “Duduk,”







