공유

Bab 10

작가: Mita Yoo
last update 게시일: 2025-12-12 12:05:30

Kaisar menoleh, separuh wajahnya masih dalam bayangan. “Kebenaran. Bukan sekaligus. Tapi sedikit demi sedikit. Dan kesetiaan. Kesetiaan mutlak sebagai seorang budak.”

Kaisar kembali ke mejanya, menatap Lysandra dengan serius. “Aku tahu kau bukan budak biasa. Aku tahu kau mungkin menyembunyikan sesuatu. Rahasia yang besar.” Dia menunjuk liontin di tanganku.

Kaisar mengambil napas dalam-dalam. “Jadi, ini tawaranku. Kau tetap menjadi Lyra, budak pribadiku. Kau akan melakukan tugas yang kuberikan, termasuk mengamati tamu-tamu. Tapi kau akan melakukannya untukku.”

“Dan sebagai imbalan untuk hamba?” Lysandra bertanya, berusaha keras agar suaranya tidak gemetar.

“Sebagai imbalan,” ucap Xylas, “aku akan melindungi rahasiamu. Aku akan memberimu pengetahuan, akses, dan kekuatan yang kau butuhkan untuk apa pun tujuan sejatimu di kerjaan ini. Entah itu balas dendam, atau mengambil kembali sesuatu yang hilang. Tugasmu sudah jelas di sini.”

Jantung Lysandra kembali berdebar kencang. Kaisar menawarkan persekutuan.

‘Bersekutu dengan Tiran Barat. Ini gila. Tapi … ini juga satu-satunya jalan yang mungkin kumiliki,’ pikir Lysandra.

“Dan jika hamba menolak?” Lysandra kembali bertanya.

Kaisar tersenyum. “Maka liontin ini, dan kenyataan tentang budak misterius di istanaku, akan menjadi bahan pembicaraan yang menarik. Dan aku tidak bisa menjamin keamananmu, baik dari musuh-musuhmu di luar istana ini, maupun dari mereka yang ada di dalam istana.”

Lysandra menatap liontin di tangannya, lalu ke wajah Kaisar yang penuh teka-teki. Dia memberi pilihan antara menjadi pion yang dilindungi atau menjadi korban yang dibuang.

Dengan hati yang berat penuh dengan perhitungan, dan sedikit harapan Lysandra mengangguk.

“Baik,” katanya. “Hamba bersedia.”

Kaisar Xylas mengangguk, puas. “Pilihan yang bijaksana.”

Dia berbalik, menunjukkan punggungnya pada Lysandra. “Sekarang, simpan liontinmu dengan lebih baik. Dan besok, saat kau melayani utusan Kerajaan Utara, ingatlah! Kau sekarang memiliki tugas mendengarkan informasi untuk kita berdua.”

***

Pagi berikutnya, Lysandra berdiri di ruang penerimaan, mengenakan seragam pelayan yang sederhana, membawa nampan dengan gelas-gelas anggur. Dia berusaha untuk melakukan tugas dengan baik, meski hatinya bergejolak.

Utusan Kerajaan Utara memasuki ruangan. Bukan orang asing.

Dia adalah Menteri Kehakiman lama selama pemerintahan Raja Blackwood, Lord Verian. Seorang pria yang dulu sering membawakan permen dan bercerita tentang hukum di depan Lysandra. Sekarang, dia terlihat lebih tua, lebih lelah, dan matanya … penuh dengan kewaspadaan yang dalam.

Dia berbicara dengan Kaisar Xylas, basa-basi diplomatis. Lalu, tatapannya menyapu ruangan, dan berhenti sejenak pada Lysandra.

Lysandra menunduk, berusaha menghindari kontak mata dengan Lord Verian.

Namun saat dia mendekat untuk menawarkan anggur, Lord Verian tiba-tiba terbatuk. Saat Lysandra mengulurkan gelas, jarinya yang keriput secara tidak sengaja menyentuh pergelangan tangan Lysandra.

Dan kemudian, dengan suara yang sangat pelan, dia mengucapkan dua kata yang membuat seluruh dunia Lysandra berhenti.

“Putri … Lysandra?”

Dunia di sekitar Lysandra mendadak hening. Dia menjaga ekspresi wajahnya tetap netral saat mendengar nama itu. Kakinya membeku di tempat. Reaksinya itu naluriah, bodoh, dan membahayakan.

Lysandra menoleh perlahan, tatapannya bertemu dengan mata Lord Verian yang penuh dengan pertanyaan yang tak terucap. Lord Verian menaikkan alisnya, seolah berusaha mengenali wajah di depannya. Namun kemudian, dia menggeleng.

“Oh, maaf,” ucapnya dengan cepat, “Aku kira kau Putri Lysandra. Aku merasakan aura yang sama dengannya ha ha ha.”

Lord Verian tersenyum kecil. Namun matanya tetap mengamati Lysandra dengan tatapan curiga.

Lysandra memaksakan dirinya untuk menghela napas pelan, meniru ekspresi bingung dan sedikit tersipu seorang pelayan yang dikira bangsawan. Dia mengangguk pendek, sopan, lalu berbalik dan melanjutkan langkah dengan nampan yang sedikit goyah.

Namun di dalam hatinya, badai sedang mengamuk.

‘Apakah aku dalam penampilan budak ini mirip seperti diriku sebagai Putri Lysandra?’ dia bertanya-tanya.

‘Jika seorang Lord Verian saja hampir mengenaliku, bagaimana dengan orang lain? Bagaimana dengan mata-mata Clara yang mungkin menyusup di antara rombongan dari Utara?’ pikirnya.

Lysandra menyelesaikan tugas membagikan minuman dengan tangan mulai gemetar. Setiap kali dia mendekati Lord Verian, Lysandra bisa merasakan pandangan Lord Verian menatap curiga. Dia tidak mengatakan apa-apa padanya, tetapi kehadirannya terasa seperti api.

Pertemuan berlanjut dengan pembicaraan tentang perdagangan dan perbatasan. Kaisar Xylas, dari tempat duduknya yang tinggi, terlihat tenang dan menguasai. Namun sekali atau dua kali, matanya yang abu-abu itu menyapu ke arah Lysandra, seolah memeriksa budaknya itu.

Begitu audiensi berakhir dan para tamu dipersilakan keluar, Lysandra segera mundur ke belakang, berusaha bersandar di dinding istana yang dingin. Namun Kaisar mengangkat tangannya, sebuah isyarat kecil yang ditujukan padanya.

“Lyra,” panggilnya, suaranya tetap datar. “Bawakan dokumen dari perpustakaan untukku. Yang berlabel perjanjian dagang wilayah timur.”

Itu adalah alasan untuk memanggilnya mendekat. Lysandra membungkuk dan bergegas keluar, lega bisa keluar dari ruangan itu. Namun sebelum dia benar-benar pergi, Lysandra mendengar Lord Verian berbicara pada Kaisar, suaranya sengaja dikeraskan sedikit.

“Budak yang menarik, Yang Mulia. Dia membuatku teringat pada seseorang. Seseorang dari masa laluku.”

Lysandra membeku di ambang pintu.

“Apa kau sedang membual, Verian?” tanya Kaisar dengan nada datar.

“Dia hanya salah satu dari banyak budak di istanaku,” lanjutnya.

“Matanya tajam, ya,” balas Lord Verian.

Tidak ada jawaban dari Kaisar. Hanya keheningan.

Lysandra segera pergi, berlari kecil menuju perpustakaan. Di sana, di antara rak-rak buku, dia bersandar, berusaha menenangkan napas.

Lysandra tahu, Lord Verian tak berhenti menatapnya. Dia seolah sangat mencurigai. Dan dia sengaja memberi tahu Kaisar tentang kecurigaannya.

“Apa Lord Verian sudah tahu siapa aku sebenarnya?”

Lysandra berjalan mondar-mandir di ruang persembunyian kecilnya itu. Lalu, tiba-tiba, ketukan di pintu terdengar lagi. Ketukannya kencang.

“Lyra. Kaisar memanggilmu. Sekarang.”

Suara itu milik pengawal pribadi Kaisar, Frederick. Dingin dan tanpa ampun.

Lysandra menghela napas. ‘Apakah ini tentang Lord Verian? Apakah Lord Verian mengatakan sesuatu? Atau apakah Kaisar mengetahui masa laluku?’ pikirnya.

Dengan langkah gontai, Lysandra mengikuti Frederick menuju ruang kerja pribadi Kaisar, bukan perpustakaan. Ruangan itu lebih kecil, dan terasa lebih berbahaya.

Kaisar Xylas berbalik, menatap Lysandra. Dia tidak langsung berbicara. Hanya memandang wajahnya.

Lysandra tertunduk. Tangannya sedikit gemetar.

“Lyra,” ucapnya Kaisar akhirnya.

Lysandra memberanikan diri menatap mata Kaisar Xylas.

“Aku akan memberimu tugas baru mulai besok.”

***

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Budak Kesayangan Sang Tiran   Bab 220

    Dia mencium pipi ayahnya, lalu meronta ingin turun. “Sudah, Ayah. Evangeline mau lihat adik!”Xylas menurunkannya, menggandengnya masuk ke kamar. Frederick, Arion, Delia, dan Elise mengikuti dari belakang, berdiri di ambang pintu dengan senyum bahagia.Lysandra terbaring di tempat tidur, terlihat lelah tapi berseri-seri. Di sampingnya, bayi mungil itu terbungkus kain sutra putih, tertidur pulas.Evangeline mendekat perlahan, matanya membelalak melihat adiknya. “Dia ... kecil sekali.”Lysandra tersenyum lemah. “Dia baru lahir, Sayang. Nanti dia akan besar, seperti Evangeline.”“Boleh Evangeline gendong?”“Nanti, kalau sudah agak besar. Sekarang lihat saja dulu,” kata Lysandra.Evangeline mengangguk, lalu berbisik pada adiknya, “Halo, adik. Aku kakakmu, Evangeline. Aku akan jagain kamu, ya. Aku akan ajarin kamu main pedang sama Paman Frederick, dan memanah sama Paman Arion. Pokoknya, seru

  • Budak Kesayangan Sang Tiran   Bab 219

    Usai dua hari menginap, rombongan Kerajaan Barat harus kembali. Evangeline berdiri di depan gerbang istana, berhadapan dengan Rian yang juga sedih.“Kau harus sering-sering ke Barat, Rian,” pinta Evangeline. “Atau aku yang ke sini lagi nanti.”Rian mengangguk. “Aku janji. Nanti kalau sudah besar, aku akan berkuda ke  kerajaanmu sendiri.”“Janji kelingking!”Mereka mengaitkan kelingking, seperti lima tahun lalu.“Janji kelingking,” ulang Rian. “Kalau ingkar jadi cacing.”Mereka tertawa bersama, lalu berpelukan sebentar—canggung. Evangeline naik ke keretanya. Kereta mulai bergerak. Evangeline melambai dari jendela sampai Rian dan istana menghilang di kejauhan.“Ibu,” katanya, bersandar di pangkuan Lysandra, “Rian baik, ya.”Lysandra mengusap rambutnya. “Iya, Sayang. Dia anak yang baik.”“Aku senang punya teman sepertinya.”“Ayah dan Ibu juga senan

  • Budak Kesayangan Sang Tiran   Bab 218

    Evangeline berlari keluar dari kamarnya dengan gaun biru muda pilihannya. Warna favoritnya karena sama dengan warna matanya. Rambutnya yang indah dikepang dua oleh Delia, dengan pita-pita kecil berwarna perak. Di tangannya, sebuah kotak hadiah terbungkus kertas warna-warni dengan pita besar.“Ayah! Ibu! Evangeline sudah siap!” teriaknya, berlari ke ruang makan dengan semangat membara.Xylas dan Lysandra sudah duduk di meja, sarapan pagi. Mereka tersenyum melihat putri mereka yang bersemangat.“Sudah siap, Sayang?” tanya Lysandra. “Makan dulu, supaya tidak lapar di perjalanan nnanti.”Evangeline duduk di kursinya, tapi matanya terus melirik ke arah jendela, seolah-olah bisa melihat Kerajaan Selatan dari sana. “Ibu, Rian sekarang sudah sepuluh tahun! Evangeline ingat dulu waktu Evangeline masih kecil, Rian ke sini dan kami main di taman.”Lysandra tersenyum, mengenang momen itu. “Iya, Sayang. Sekarang Rian sudah bes

  • Budak Kesayangan Sang Tiran   Bab 217

    Setelah memastikan Evangeline tertidur pulas dengan boneka di pelukannya, Xylas dan Lysandra kembali ke kamar mereka. Bulan purnama bersinar terang, menciptakan suasana romantis.Lysandra baru saja hendak duduk di tepi tempat tidur ketika Xylas memeluknya dari belakang. Dagu Xylas bertumpu di bahunya.“Evangeline sudah besar,” bisiknya, suaranya dalam dan hangat di telinga Lysandra. “Bagaimana kalau kita memberinya seorang adik?”Lysandra tersentak, lalu tertawa pelan. Wajahnya merona merah, bahkan setelah bertahun-tahun menikah, Xylas masih bisa membuatnya tersipu seperti gadis muda.“Kau ini!” Lysandra memukul lengannya karena gemas, tapi tidak benar-benar berusaha melepaskan diri. “Baru saja Evangeline tidur, kau sudah—”Xylas tidak membiarkannya menyelesaikan kalimat. Dengan gerakan cepat, dia menggendong Lysandra. Xylas mengangkatnya seperti pasangan pengantin baru dan membawanya ke tempat tidur. Lysandra men

  • Budak Kesayangan Sang Tiran   Bab 216

    Lima tahun kemudian … Waktu berlalu begitu cepat di Istana Kekaisaran Barat. Evangeline, yang dulu hanya bayi mungil dalam gendongan, kini telah tumbuh menjadi gadis kecil berusia tujuh tahun yang ceria dan penuh semangat. Rambut pirangnya yang indah—warisan dari Xylas, orang tuanya—sering dikepang dua oleh Delia atau Elise. Matanya yang biru, persis seperti mata Seraphina, selalu berbinar penuh rasa ingin tahu. Pagi itu, halaman latihan istana dipenuhi oleh suara gemerincing pedang kayu dan teriakan semangat Evangeline. “Ayo, Paman Frederick! Lagi! Lagi!” Frederick, yang kini rambutnya mulai memutih di pelipis, berdiri dengan pedang kayu di tangannya. Wajahnya yang biasanya kaku kini menunjukkan senyum tipis. Sesuatu yang dulu sangat langka, tapi sekarang lebih sering muncul, terutama sejak dia menikah dengan Delia tiga tahun lalu. “Putri kecil, kau harus perbaiki posisi kakimu dulu,

  • Budak Kesayangan Sang Tiran   Bab 215

    Matahari pagi bersinar hangat di halaman belakang istana, tempat para pelayan biasa menjemur pakaian keluarga kerajaan. Tali-tali jemuran terbentang panjang, dihiasi dengan gaun-gaun cantik milik Lysandra, pakaian kecil Evangeline, dan jubah-jubah hitam Xylas yang berkibar lembut ditiup angin.Elise berdiri dengan keranjang anyaman di sampingnya, dengan cekatan menjepit pakaian satu per satu. Rambutnya yang diikat sederhana sedikit berantakan terkena angin, tapi dia tidak peduli. Matanya fokus pada tugasnya sambil bersenandung kecil. Lagu yang sama dengan yang dia nyanyikan saat kecil dulu.Dia baru saja meraih gaun biru milik Lysandra ketika tiba-tiba sebuah bayangan muncul di sampingnya.“Astaga! Kau membuatku terkejut!” Elise berteriak kecil, hampir menjatuhkan gaun itu. Tangannya spontan memukul lengan Arion yang berdiri di sampingnya dengan senyum lebar.Arion tertawa—tawa yang dalam dan hangat. “Maaf, maaf. Aku tidak seng

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status