Share

Bab 9

Author: Mita Yoo
last update Last Updated: 2025-12-12 12:03:48

Kaisar akhirnya benar-benar pergi, langkahnya menghilang di koridor.

Lysandra menutup pintu, bersandar di baliknya, cangkir teh masih mengepul di tangannya.

Kau mengingatkan aku dengan seseorang.

Kata-kata Kaisar itu terus bergema di telinga Lysandra.

‘Siapakah orang yang dimaksud Kaisar? Apa hubungannya denganku? Atau ... apakah ini hanya akal-akalannya untuk membuatku lengah, untuk menjeratku dengan manipulasinya?’ pikir Lysandra.

Lysandra mulai meminum tehnya. Rasanya hangat, menenangkan, tetapi juga pahit.

Kaisar memberi pilihan yang sebenarnya bukan pilihan pada Lysandra. Menjadi matanya, atau menghadapi konsekuensi dari rahasia yang suatu saat bisa dia ungkap.

Esok malamnya, ketukan di pintu kamarnya malam itu terdengar berbeda. Bukan ketukan pelayan yang terburu-buru, bukan pula ketukan pengawal yang tegas. Ini ketukan yang terukur, berat, dan penuh otoritas.

Ketukannya hanya tiga kali, tetapi memenuhi seluruh ruangan kecil kamar Lysandra.

Dan Lysandra sudah tahu siapa yang mengetuk pintu kamarnya bahkan sebelum membuka pintu.

Kaisar Xylas berdiri di koridor yang sepi, diterangi hanya oleh obor dinding yang berkedip-kedip. Dia tidak mengenakan jubah kebesarannya, hanya pakaian hitam sederhana yang membuatnya terlihat seperti prajurit biasa.

Ekspresi wajahnya tak terlihat di cahaya yang remang-remang.

“Ikut aku,” katanya, singkat, sebelum berbalik dan berjalan tanpa menunggu jawaban Lysandra.

Jantung Lysandra berdegup kencang.

‘Ini tentang apa? Tentang tugas memata-matai utusan besok? Atau … sesuatu yang lain?’ Pikirannya langsung melayang ke liontin bunga matahari yang dengan hati-hati dia sembunyikan di balik batu longgar di dekat tempat tidurku.

Kaisar membawanya ke perpustakaan pribadinya, tetapi malam itu ruangan perpustakaan terasa berbeda. Hanya satu lampu minyak yang menyala di atas mejanya yang besar, menciptakan cahaya kecil dalam kegelapan malam.

Kaisar menutup pintu di perpustakaan. Kini, hanya ada mereka berdua.

“Duduk,” ucapnya, menunjuk ke kursi di seberang meja.

Lysandra duduk, tangannya berkeringat dingin. Perasaannya tak nyaman. Kaisar duduk di posisi di seberangnya. Untuk beberapa saat, hanya ada keheningan yang menegangkan.

Lalu, Kaisar mengeluarkan sesuatu dari saku pakaiannya. Dia meletakkannya di atas meja, tepat di bawah cahaya lampu, dengan gerakan yang lambat dan disengaja.

Liontin bunga matahari perak.

Milik Lysandra. Lambang keluarga kerajaan lamanya.

Lysandra menahan napas. Darahnya seolah tak mengalir.

“Aku menemukan ini,” kata Kaisar, suaranya datar, tanpa emosi. “Tersembunyi dengan cukup baik, harus kukatakan. Tapi tidak cukup baik untuk luput dari pengawasanku.”

Kaisar tidak bertanya ‘apakah ini milikmu?’ padanya. Dia hanya menatap Lysandra, menunggu jawaban.

“Yang Mulia, hamba …” suara Lysandra tercekat.

“Berhentilah,” potongnya, suaranya rendah namun tegas. “Jangan buang waktuku dengan kebohongan lain tentang ‘melihat gambar’ atau ‘sakit perut’. Benda ini,” jarinya menunjuk liontin itu, “adalah Lambang Bunga Matahari Matahari Terbit. Lambang pribadi dari keluarga kerajaan Kerajaan Utara. Lebih spesifik lagi, dari garis keturunan langsung Sang Raja.”

Setiap kata seperti pukulan bagi Lysandra. Kaisar mengetahuinya. Dia tahu persis tentang liontin itu.

“Sekarang,” dia bersandar ke depan, wajahnya mendekat ke cahaya lampu. Mata abu-abunya membara dengan intensitas yang menakutkan. “Jelaskan. Bagaimana mungkin seorang ‘budak bodoh dari desa’ memiliki liontin kerajaan musuh yang disimpan seperti harta karun?”

Pikiran Lysandra segera berputar kencang, mencari celah, alasan, kebohongan apa pun yang bisa digunakan. Tapi di bawah tatapan tajamnya, semua kebohongan itu tampak tipis dan rapuh. Kaisar sudah memegang bukti nyata.

“Apa kau mencurinya?” tanyanya, tapi nada suaranya menunjukkan dia tidak percaya itu.

“Apa benda ini diberikan oleh seseorang dari keluarga raja terdahulu?” dia melanjutkan, mengamati reaksi Lysandra.

Kaisar diam sejenak, lalu mengucapkan kemungkinan yang paling berbahaya. “Atau … apakah ini peninggalan dari kehidupanmu yang sebelumnya? Sebelum kau menjadi budak ‘Rambut Cokelat’?”

Udara di ruangan itu terasa seperti habis. Lysandra menatap liontin itu, lalu ke matanya yang tak kenal ampun. Dia tak mungkin mengaku sekarang. Namun tetap membohongi seorang pria yang sudah memegang kebenaran di tangannya, juga merupakan pilihan bodoh.

“Hamba …” suara Lysandra parau. Dia menunduk, tak tahan menatap mata Kaisar. “Hamba tidak bisa, Yang Mulia.”

“Tidak bisa?” desaknya, tapi tidak marah. Hanya penasaran. “Tidak bisa apa? Tidak bisa berbohong lagi? Atau tidak bisa mengungkapkan kebenaran?”

“Hamba takut,” bisikku, dan kali ini, itu adalah kebenaran yang paling murni. Air mata mulai menggenang di mata Lysandra, bukan pura-pura. “Jika hamba berkata yang sebenarnya … hidup hamba akan berakhir.”

Kaisar Xylas terdiam lama. Lalu, dengan gerakan tak terduga, dia mendorong liontin itu melintasi meja, mendekatiku.

“Ambil,” perintahnya.

Dengan gemetar, Lysandra mengambil liontin itu.

“Aku tidak akan membunuhmu, Lyra,” ucapnya, dan namanya di mulutnya terdengar seperti sebuah pengakuan. “Tidak malam ini. Tidak karena ini.”

Kaisar berdiri, berjalan ke jendela, memandang kegelapan di luar. “Tapi kau harus memberiku sesuatu sebagai gantinya.”

“Apa … yang Yang Mulia inginkan?” tanyaku, suaraku masih bergetar.

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Budak Kesayangan Sang Tiran   Bab 203

    Seraphina baru saja tiba di pesta beberapa saat sebelumnya. Dia sengaja datang agak terlambat, tidak ingin merebut perhatian dari cucunya yang berulang tahun. Dengan gaun perak sederhana dan rambut putihnya yang tergerai indah, dia melangkah masuk dengan anggun. Dia tersenyum pada para tamu yang mengenalnya.Namun senyum itu langsung membeku di wajahnya.Matanya yang biru pucat, sama seperti mata milik Evangeline membelalak melihat sosok yang duduk di kursi kehormatan dekat Xylas. Sosok yang sangat familiar, sosok yang telah lama hilang, sosok yang dia kira sudah mati dua puluh tahun lalu.“K-kau?” suaranya keluar hampir tidak terdengar, bergetar hebat.Cassius menoleh. Begitu matanya bertemu dengan Seraphina, seluruh ekspresinya berubah. Dari seorang kakek yang tenang menikmati pesta cucu, menjadi seorang pria yang melihat kembali cinta sejatinya setelah dua dekade terpisah.Dia berdiri. Lalu melangkah perlahan, matanya tidak pernah lepas dari Seraphina. “Sera …”Seraphina mundur sel

  • Budak Kesayangan Sang Tiran   Bab 202

    Siang itu, ruang pesta mulai dipenuhi tamu undangan. Suasana pesta semakin meriah. Para tamu bercengkerama, anggur mengalir, dan hidangan lezat disajikan di meja-meja panjang. Evangeline, dengan gaun biru dan boneka barunya, berlarian dari satu tamu ke tamu lain, memperkenalkan ‘teman barunya’ pada semua orang.Lysandra berdiri di sisi ruangan, mengobrol dengan beberapa bangsawan wanita dari Kerajaan Selatan. Xylas, di sudut lain, sedang berbincang dengan Raja Aldric dari Timur tentang kebijakan perdagangan.Frederick dan Arion berjaga di pintu masuk, mata mereka awas memantau setiap tamu yang datang.Tiba-tiba, suasana di dekat pintu masuk berubah. Beberapa tamu berhenti berbicara, menoleh ke arah yang sama. Bisik-bisik mulai terdengar.Frederick menegang. Dia melihat seorang pria masuk. Posturnya tinggi, tegap, dengan rambut hitam dan mata abu-abu yang tajam. Pria itu mengenakan jubah hitam sederhana, tidak mencolok

  • Budak Kesayangan Sang Tiran   Bab 201

    Menjelang sore harinya, kereta megah berwarna hijau tua dengan lambang keluarga Richter berhenti tepat di depan pintu masuk utama. Dua pengawal berseragam hitam langsung turun dan membuka pintu dengan sigap.Duke Richter turun lebih dulu. Pria paruh baya itu terlihat lebih tua dari yang diingat Lysandra. Rambutnya semakin memutih di pelipis, dan ada garis-garis lelah di wajahnya. Tapi matanya masih tajam, kebiasaan seorang bangsawan yang terbiasa bermain politik.Dia mengulurkan tangan ke dalam kereta, membantu seorang wanita turun. Wanita itu, istri barunya—mungkin berusia awal tiga puluhan. Rambutnya berwarna cokelat hangat dan mata cokelat yang lembut. Gaunnya sederhana tetapi elegan, tidak berlebihan, dan sikapnya tenang, tidak seperti Giselle dan Inggrid yang dulu penuh dengan ambisi yang membara.Mereka berjalan bergandengan tangan menuju pintu masuk, diikuti oleh dua pelayan yang membawa hadiah terbungkus kain sutra.Di

  • Budak Kesayangan Sang Tiran   Bab 200

    Matahari semakin tinggi, memancarkan cahaya keemasan di atas Istana Kekaisaran Barat. Para tamu mulai berdatangan satu per satu. Kereta-kereta mewah memasuki halaman istana, diikuti oleh para pengawal dan pelayan masing-masing.Di tengah keramaian itu, sebuah kereta sederhana namun elegan berhenti di depan pintu utama. Tidak terlalu mencolok, tetapi juga tidak bisa diabaikan. Dari dalam, turun seorang gadis muda dengan gaun biru laut yang anggun, rambutnya disanggul rapi dengan hiasan mutiara kecil.Inggrid.Dia berdiri sejenak, memandangi istana megah di depannya. Matanya menunjukkan campuran antara rasa hormat, gugup, dan sedikit kerinduan. Lalu dia berbalik, dan dari dalam kereta, keluar seorang pria tinggi dengan jubah hitam, wajahnya tertutup topeng setengah yang hanya memperlihatkan rahang tegas dan mata tajam. Pria itu tidak berseragam pengawal biasa. Pakaiannya berkualitas baik, dan cara dia berdiri menunjukkan bahwa dia bukan orang

  • Budak Kesayangan Sang Tiran   Bab 199

    Matahari baru saja naik di ufuk timur, menyinari halaman istana yang sudah dihias meriah. Para pelayan masih sibuk dengan persiapan terakhir, tapi di tengah hiruk-pikuk itu, ada satu suara kecil yang mendominasi.“Ayah! Ayah! Naik kereta! Naik kereta!”Evangeline berlari kecil keluar dari pintu istana, gaun tidurnya masih melekat di tubuh mungilnya, rambutnya berantakan, tapi matanya berbinar-binar penuh semangat. Dia berlari langsung menuju Xylas yang sedang berbicara dengan Frederick tentang rute kedatangan tamu.Xylas menoleh, melihat putri kecilnya yang berlari dengan kaki mungilnya, hampir tersandung gaun tidur yang terlalu panjang. Dengan refleks cepat, dia membungkuk dan menangkap Evangeline tepat sebelum jatuh.“Evangeline! Kenapa sudah bangun? Matahari baru terbit,” tanya Xylas sambil menggendongnya.Evangeline merangkul leher ayahnya dengan erat. “Evangeline mimpi naik kereta! Kereta kuda! Yang besar! Ma

  • Budak Kesayangan Sang Tiran   Bab 198

    Dua minggu kemudian …Istana Kerajaan Barat berubah menjadi lautan warna dan kemeriahan. Ratusan pelayan sibuk mendekorasi setiap sudut dengan rangkaian bunga segar, pita-pita sutra berwarna pastel, dan lampion-lampion kertas yang akan dinyalakan saat malam tiba. Di taman istana, tenda-tenda megah didirikan untuk para tamu, lengkap dengan meja-meja panjang yang dipenuhi hidangan lezat.Xylas berdiri di balkon sayap barat, memandangi hiruk-pikuk persiapan di bawah. Di tangannya, setumpuk surat balasan dari berbagai kerajaan. Wajahnya menunjukkan kepuasan yang tidak bisa disembunyikan.Frederick melangkah mendekat, membawa lebih banyak surat. “Yang Mulia, ini balasan dari Kerajaan Timur. Raja Aldric sendiri yang akan hadir.”Xylas mengambil surat itu, membaca cepat, lalu tersenyum. “Raja Aldric. Dia tidak pernah melewatkan kesempatan untuk berkunjung ke Aethel sejak perdamaian. Kurasa dia menyukai anggur di sini.”F

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status