MasukKaisar menunjuk ke sudut perpustakaan yang paling gelap dan penuh rak tinggi. “Di sana berisi arsip-arsip lama tentang Kerajaan Utara. Sejarah, budaya, bahkan silsilah keluarga kerajaannya. Mungkin kau akan menemukan lebih banyak ‘gambar’ yang menarik di sana.”
Kaisar Xylas pergi, meninggalkan Lysandra sendirian dengan jantung yang berdebar kencang karena ketakutan. Lysandra menghela napasnya. Arsip tentang Kerajaan Utara. Silsilah keluarga kerajaan. Itu adalah tempat di mana identitas aslinya bisa dengan mudah terbongkar jika dia tidak berhati-hati. Dan Kaisar menyuruhnya membersihkan bagian itu. Dia seolah sengaja memberikan akses ke informasi yang paling berbahaya, untuk melihat apa yang akan dilakukan Lysandra. Apakah Lysandra akan menghindarinya? Atau apakah dia akan tergoda untuk melihat, dan membuktikan bahwa dia memang memiliki hubungan dengan masa lalu yang seharusnya tidak diketahui Kaisar? Keesokan harinya, Kaisar memanggil Lysandra melalui pengawalnya. “Lyra, saya diperintahkan Yang Mulia untuk memanggilmu ke perpustakaan pribadinya,” kata seorang pengawal di pintu. Jantungnya berdebar. Perpustakaan pribadi? Bukankah itu tempat yang sangat rahasia? Dengan langkah gugup, Lysandra diantar ke sebuah pintu kayu gelap yang besar. Pengawal itu mengetuk, lalu membukakannya. Kaisar Xylas berdiri di depan rak buku yang penuh, membelakangi pintu. Dia tidak menoleh. “Masuk, Lyra,” ucapnya. “Dan tutup pintunya.” Lysandra melangkah masuk, dan pintu tertutup, mengurungnya di ruangan berisi buku-buku dan pria paling berbahaya di kekaisaran. Kaisar akhirnya berbalik. Di tangannya, ada sebuah gulungan peta tua. Matanya menatap Lysandra dengan intens. “Kau bilang kau hanya budak biasa,” katanya, suaranya tenang. “Tapi aku yakin, ada sesuatu yang kau sembunyikan.” Kaisar meletakkan sebuah peta di atas meja, tepat di depan Lysandra. “Jadi, Lyra,” desisnya, namaku di mulutnya terdengar seperti ancaman dan janji sekaligus. “Mari kita mulai dengan pelajaran pertama. Tunjukkan padaku di peta ini ... dari mana sebenarnya asal-usulmu?” Peta di atas meja itu tampak tua, garis-garisnya samar dan penuh dengan nama-nama wilayah yang sebagian sudah tidak digunakan. Namun Lysandra mengenalinya. Itu peta wilayah Utara, termasuk kerajaan lamanya yang sekarang mungkin sudah dikuasai adik tirinya. Lysandra memandang peta itu, lalu menatap Kaisar. Wajah Kaisar tetap tanpa ekspresi, tetapi di mata abu-abu itu ada api keingintahuan. Dia sedang mengujinya. Lysandra memaksakan kepalanya untuk menggeleng pelan. Dia menurunkan pandangan, memainkan peran budak yang ketakutan dan bingung. “Maafkan hamba, Yang Mulia,” bisiknya, suaranya dibuat selemah dan bergetar sebisa mungkin. “Hamba ... tidak bisa membaca peta.” Lysandra mengangkat tangannya yang masih ada bekas luka dan kapalan, seolah-olah menunjukkan betapa tidak pantasnya dia menyentuh benda semulia itu. “Hamba hanya budak bodoh dari desa. Hamba tidak pernah diajari ... garis-garis rumit seperti ini.” Kaisar Xylas tidak bergerak. Dia diam begitu lama, sampai Lysandra semakin bisa mendengar detak jantungnya sendiri berdebar di telinga. Lalu, Kaisar berjalan memutari meja, mendekati Lysandra. Dia menahan napas. “Budak bodoh,” ucapnya perlahan, seperti mencicipi kata-kata itu. “Tapi budak bodohku yang lain, ketika ditanya asal-usulnya, akan langsung menyebut nama desa atau wilayah. ‘Dari Dusun Batu, Yang Mulia’ atau ‘Dari Pinggir Sungai Deras’.” Kaisar berhenti tepat di depannya. “Kau? Kau bahkan tidak mencoba menunjuk area yang salah. Kau langsung mengaku tidak bisa. Seolah-olah kau tau betapa berbahayanya memberi jawaban yang salah tentang peta ini.” Lysandra membeku. Kaisar terlalu jeli. Dan dia terjebak dalam logikanya sendiri. “Atau mungkin,” lanjutnya, suaranya semakin rendah, hampir seperti bisikan yang hanya untuk mereka berdua, “kau takut. Bukan takut padaku. Tapi takut bahwa jari yang salah akan menunjuk ke tempat yang ... terlalu familiar untukmu?” Kaisar tak menunggu jawabannya. Dengan gerakan tiba-tiba, dia mengambil peta itu, menggulungnya. “Tidak apa. Pelajaran pertama selesai,” katanya, tiba-tiba bersikap biasa saja, seolah percakapan menegangkan itu tidak terjadi. “Kau bisa pergi. Kembali ke tugasmu membersihkan perpustakaan.” Lysandra segera membungkuk dalam-dalam, lalu berbalik untuk pergi, kakinya masih terasa lemas. Dan tepat saat tangannya menyentuh gagang pintu, suara Kaisar terdengar lagi. “Tunggu, Lyra.” Lysandra menoleh. Kaisar tidak melihatnya. Dia sedang menatapi gulungan peta di tangannya. “Besok, kita akan ada pelajaran kedua. Tentang ... tanaman obat. Aku dengar kau sering melihat-lihat taman. Pilih beberapa tanaman yang kau kenal, dan katakan padaku kegunaannya. Sebagai budak desa, itu seharusnya mudah, bukan?" Kaisar akhirnya menatap matanya. Di sudut bibirnya, ada lengkungan yang sangat tipis. Bukan senyum. Namun sesuatu yang lebih menyeramkan bagi Lysandra. Lalu pintu tertutup. Lysandra berdiri di koridor yang sepi, punggungnya bersandar pada kayu pintu yang dingin, mencoba mengatur napas. ‘Dia tidak percaya padaku. Tidak sedikitpun,’ pikirnya. Dan sekarang, dia memberi ujian baru. Tanaman obat. Sebagai Putri Lysandra dulu, aku memang diajari sedikit pengetahuan herbal. Tapi apakah pengetahuan seorang putri sama dengan pengetahuan budak desa? Aku tidak tahu. Lysandra berjalan pelan menuju kamar, pikirannya kalut. “Apa yang harus aku lakukan?” gumamnya. ***Kekacauan itu terjadi begitu cepat. Saat Frederick dan pengawalnya membawa Eisen yang mengumpat menuruni tangga spiral yang sempit, seorang pelayan—yang mungkin telah dibayar atau dipaksa—tiba-tiba melemparkan sebuah guci berisi tinta hitam pekat ke arah mereka. Tinta itu menyembur, membutakan pandangan Frederick sejenak dan mengenai mata salah satu pengawal.“MATI KALIAN, BAJINGAN!” teriak Eisen, mengambil keuntungan dari kebingungan itu.Dengan kekuatan yang cukup mengejutkan bagi seorang bangsawan, dia menyambar belati kecil yang tersembunyi di lengan pengawal yang lengah dan menikamnya di tangan yang mencengkeramnya. Pengawal itu menjerit dan akhirnya melepaskannya.Eisen mendorong tubuh pengawal yang terluka itu ke arah Frederick, membuat mereka tersandung, lalu dia melesat seperti kelinci yang ketakutan. Bukan ke arah pintu utama perpustakaan yang masih terkunci, tetapi ke arah rak-rak buku paling belakang, menuju bagian yang jarang dikunjungi.“Dia melarikan diri! Cepat cari da
“Berhenti, Nona Lyra!!” Duke Eisen segera bangkit untuk mengejar Lysandra yang menuju ke arah perpustakaan.Dia beberapa kali meringis, tetapi kemudian dia berhasil sampai di perpustakaan. Mereka berdua kini bermain kucing dan tikus.“Aku tidak akan menyakitimu, Nona. Aku hanya ingin bernegosiasi untuk wilayah itu. Kau adalah satu-satunya wanita yang berhasil menarik Kaisar.”Suara Eisen yang bernada merayu namun penuh ancaman menggema di antara rak-rak buku yang tinggi dan sunyi. Lysandra, yang bersembunyi di balik sebuah meja belajar besar di sudut, menahan napas. Dia bisa mendengar langkah kaki Eisen yang berhati-hati, sepatu bootsnya berderak di lantai batu.“Tidak perlu bersembunyi, Sayang,” lanjut Eisen, suaranya terdengar semakin dekat. “Kita bisa bekerja sama. Kau punya pengaruh atas Xylas yang tak tertandingi. Dengan bantuanku, kau bisa menjadi Permaisuri sekaligus ratu yang paling berkuasa di benua ini, mendampingi Kaisar. Xylas akan memberikan apapun yang kau minta. Termasu
Ciuman Xylas memberinya kekuatan. Lysandra meninggalkan ruang rapat dengan langkah yang lebih percaya diri. Dia punya misi, menemui Seraphina, lalu menghadapi Henrick. Waktunya semakin sempit, dan musuh-musuh mereka semakin mendekat.Namun dia tidak akan lari lagi. Dia akan menghadapi mereka semua, dengan cahaya warisan ibunya sebagai perisai sekaligus pedangnya. Dia melangkah ke arah Menara Utara.Menara Utara adalah bagian tertua dari istana, jarang digunakan kecuali untuk menyimpan arsip dan bahan-bahan yang tidak biasa. Jalannya sempit, berliku, dan hanya diterangi oleh celah-celah jendela kecil yang berdebu. Udara terasa dingin dan berbau apek, campuran antara kertas tua, kayu lapuk, dan sesuatu yang manis dan tajam seperti herbal yang dikeringkan.Lysandra, yang telah mengganti gaunnya dengan pakaian pelayan yang sederhana dan kerudung tebal, mengikuti Inggrid dari jarak yang aman. Dia berhati-hati menaiki tangga batu spiral yang curam
Lysandra melirik para penasihat. Xylas mengerti arti tatapan itu. “Keluar semuanya. Laporkan lagi padaku dalam satu jam.”Para penasihat dan dewan segera keluar berdesakan. Setelah ruangan kosong, Lysandra segera melaporkan apa yang dia dengar antara Inggrid dan Lyrael, tentang Moonlace, dan pertemuannya yang mengganggu dengan Eisen di koridor.Xylas mendengarkan dengan ekspresi yang sulit dimengerti. “Moonlace,” gumamnya.“Ibuku pernah menyebutnya. Tanaman yang hilang dari taman ibu Surga Utara.” Dia menatap Lysandra. “Jika Lyrael benar-benar memilikinya, atau tahu di mana mencarinya ... itu artinya dia memiliki akses pada kekuatan yang sangat kuat, peninggalan sihir kuno. Dan dia menawarkannya pada Inggrid.”“Kenapa?” tanya Lysandra. “Apa tujuannya?”“Bisa jadi banyak hal. Mungkin untuk menguji kesetiaan Inggrid. Mungkin untuk menciptakan sekutu yang berguna di sini. Atau …” Xylas memandangnya dalam-dalam. “Mung
Lysandra membeku di balik tirai dinding marmer, jantungnya berdebar kencang. Suara pertama jelas adalah Inggrid. Suara kedua ... lebih tua, berwibawa, dan memiliki aksen Utara yang halus. Lyrael.“Tidak semudah itu, Nona Inggrid,” jawab Lyrael, suaranya seperti guru yang bersabar.“Tanaman itu, Moonlace, hanya bereaksi di bawah tangan yang memahami ritme kehidupan dan kematian. Tanaman itu bukan hanya ramuan. Tanaman itu adalah makhluk hidup yang membutuhkan simfoni emosi yang tepat untuk diungkapkan. Memberikannya pada orang yang berniat salah akan mengubahnya menjadi racun yang lebih mematikan daripada sihir yang ingin ditawarnya.”“Tapi saya tidak berniat buruk!” bantah Inggrid, suaranya terdengar hampir merengek. “Saya hanya ingin ... melindungi diri. Istana ini penuh dengan hal-hal yang tidak saya pahami. Saya ingin memiliki sesuatu, kekuatan apapun, agar tidak merasa tak berdaya.”Ada jeda yang panjang. Lysandra hampir tidak bernapas.“Ambisi untuk melindungi diri bisa dengan mu
Lysandra menemukan dirinya berada di kamarnya, di kerajaan lamanya. Kerajaan Utara. Dua pelayannya, Roxane dan Elona masuk ke kamar.Mereka mendorong kereta berisi makanan dan minuman. Roxane menuangkan teh untuknya. “Silakan, Yang Mulia Putri,” ucap Roxane.Lysandra menerima teh itu tanpa curiga. Dia bahkan meminumnya segera. Namun, saat teh itu melewati kerongkongannya, tenggorokannya terasa panas.Sensasi terbakar di tenggorokannya membuat suaranya menghilang. Dan sebuah langkah terdengar dari pintu.Dia tahu itu Clara, adik tirinya. Clara tertawa. Terlebih saat melihatnya mati lemas.Kilasan mimpi buruk itu membuat Lysandra terbangun dengan napas terengah-engah.Dia terbangun di kamarnya. Saat menoleh ke sisinya, Xylas sudah tak berada di tempat tidur.Delia dan Elise segera mendekatinya, menawarkan teh untuk menenangkannya. “Silakan, Nona,” kata Delia.‘Ini pertama kalinya aku mimpi buruk lagi,’ batin Lysandra.Lysandra lalu duduk tegak di tempat tidur, keringat dingin membasahi







