Share

Bab 4

Author: Mita Yoo
last update Last Updated: 2025-12-12 08:07:53

Pelayan itu terlihat terkejut, tetapi cepat-cepat menutupi ekspresinya. “D-Dengar perintah, Yang Mulia.”

Koridor utara. Di istana Kerajaan Barat, tempat itu adalah bagian istana yang lebih privat, lebih dekat ke ruang kerja dan kamar pribadi sang Kaisar. Bukan tempat untuk budak biasa.

Kaisar Xylas akhirnya memalingkan pandangannya, seolah urusan dengan Lysandra sudah selesai. “Bawalah dia, mandikan, dan berikan pakaian yang layak. Bukan seragam pelayan. Tapi pakaian yang ... sederhana, dan bersih.”

Lalu, sebelum pergi, dia memberikan pandangan terakhir pada Lysandra. Di mata abu-abu itu, Lysandra melihat maksud tersembunyi.

“Aku memberimu nama baru. Aku memberimu tempat yang tak biasa. Sekarang, tunjukkan padaku kenapa aku tidak salah membawamu ke sini.”

Pelayan tua itu menghela napas, lalu memandang Lysandra dengan ekspresi tak suka. “Baiklah, Lyra. Ikuti aku. Dan bersyukurlah. Atau ... waspadalah. Karena perhatian Yang Mulia itu seperti matahari. Bisa menghangatkan, tapi juga bisa membakar habis.”

Lysandra mengikutinya dengan pikiran kalut. Dia punya nama baru. Punya tempat tidur yang hangat. Namun dia juga punya tuan baru yang misterius dan lebih menakutkan, yang menempatkannya terlalu dekat untuk kenyamanan siapa pun.

Dan satu pertanyaan besar menggantung di pikirannya.

‘Apa sebenarnya yang dilihat Kaisar Xylas dari seorang budak kotor seperti aku, sehingga dia menjadikan aku milik pribadinya?’

Kamar kecil di koridor utara itu memang sederhana, tetapi punya jendela dan tempat tidur. Setelah mandi air hangat dan mengenakan pakaian kain lembut berwarna abu-abu, Lysandra disuruh menunggu.

Lalu pelayan menyampaikan tugas yang diberikan oleh Kaisar. Membersihkan perpustakaan pribadinya.

Esok harinya, Lysandra mulai mengusap debu dengan hati-hati di atas sampul kulit buku-buku tua. Perpustakaan pribadi Kaisar Xylas adalah tempat yang sunyi, penuh dengan pengetahuan yang bisa menghancurkan atau mengangkat seseorang. Sejak beberapa hari lalu Kaisar belum memanggilnya lagi. Namun dia memberi Lysandra tugas tetap, membersihkan perpustakaan setiap pagi.

Saat Lysandra merapikan rak di dekat jendela, suara dari luar menarik perhatiannya. Dia mengintip dari balik tirai.

Di bawah, di taman batu yang tertata rapi, Kaisar Xylas berdiri dengan postur tegap. Di hadapannya, Lady Inggrid—sosok yang selalu berusaha menarik perhatiannya—tersenyum manis, matanya berbinar. Lysandra bisa melihat dari gerak bibirnya bahwa dia sedang memuji sesuatu, mungkin penampilan Kaisar atau kebunnya.

Namun Kaisar Xylas hanya mendengarkan dengan wajah datar.

Lysandra tak bisa mendengar dengan jelas, tetapi tiba-tiba suara Kaisar yang rendah dan tegas terbawa angin hingga terdengar olehnya. “Cukup, Inggrid. Fokuslah pada tugas yang kuberikan untuk persiapan pertemuan antar kerajaan. Bukan pada hal-hal yang tidak perlu.”

Wajah Inggrid memerah. Senyumnya pudar. Dia mengatakan sesuatu yang tidak didengar Lysandra, lalu membungkuk dan pergi dengan langkah cepat, wajahnya diselimuti kekecewaan dan amarah.

Kaisar tak memedulikannya. Dia malah menoleh, dan untuk sesaat, tatapannya seperti mengarah tepat ke jendela tempat Lysandra bersembunyi. Lysandra buru-buru menjauh.

Jantungnya berdegup kencang. Beberapa detik kemudian, langkah kaki tegas terdengar mendekati pintu perpustakaan.

Lysandra buru-buru kembali ke rak yang sedang dibersihkan, meraih buku pertama yang terlihat. Sebuah buku tebal tentang sejarah perdagangan gandum masa Kekaisaran Orlan IV. Lysandra membukanya dengan acak, memaksakan matanya untuk menatap halaman penuh tabel dan teks padat, berpura-pura sangat tertarik.

Pintu terbuka.

Kaisar Xylas masuk. Kehadirannya langsung mengisi ruangan, membuat udara terasa lebih tegang. Dia tidak langsung berbicara. Lysandra mendengar langkahnya berjalan perlahan di antara rak-rak buku, seolah memeriksa sesuatu.

Lysandra berusaha terlihat tenang, jarinya mengusap halaman buku yang sudah menguning. Namun dalam hatinya, panik. ‘Buku perdagangan gandum? Ini pilihan yang bodoh! Siapa budak yang tertarik pada buku seperti ini?’

Langkah Kaisar berhenti. Lysandra bisa merasakan tatapan di belakangnya.

“Lyra.”

Lysandra terkejut, seolah baru menyadari kehadirannya. Dia menutup buku dengan cepat dan membungkuk. “Y-Yang Mulia.”

“Apa yang kau lakukan?” suaranya datar.

“Mem-membersihkan debu, Yang Mulia.”

“Membersihkan debu,” ucapnya, lalu mendekat. “Biasanya orang membersihkan sampul bukunya. Bukan membuka halamannya.”

Tangan Kaisar yang bersarung tangan hitam mengambil buku dari genggamannya. Dia melihat judulnya, lalu alisnya yang hitam naik sedikit. Ekspresi yang hampir tak terlihat, tapi cukup untuk membuat Lysandra ketakutan.

"Sejarah Perdagangan Gandum Era Orlan IV," katanya dengan suara perlahan. Matanya yang abu-abu tajam menatapnya. “Pilihan bacaan yang ... tidak biasa.”

Lysandra menelan ludah. “Hamba ...  hanya melihat gambarnya, Yang Mulia.”

“Gambar?” Kaisar membuka buku, membalik beberapa halaman. “Di buku ini, hanya ada satu peta kecil di awal. Selebihnya,” dia menepuk halaman penuh tabel angka, “adalah ini. Statistik impor, ekspor, harga pasar. Tidak ada gambar bunga atau istana.”

Lysandra diam. Pikirannya berputar cepat, tapi tidak menemukan alasan yang masuk akal.

“Kau tahu, Lyra,” katanya, meletakkan buku di atas meja di dekatnya. “Orlan IV adalah kaisar yang memperluas kekuasaan melalui perang ekonomi. Dia menggunakan gandum sebagai senjata untuk melemahkan tetangganya, Kerajaan Utara.”

“Menarik, bukan?” lanjut Kaisar, memandangnya dengan pandangan membuat Lysandra gemetar. “Seorang budak yang entah dari mana, secara tidak sengaja memilih buku yang berisi sejarah bagaimana musuh lama kekaisaranku ini dikalahkan. Kebetulan yang aneh.”

Kaisar melangkah lebih dekat lagi. “Atau ... ini semua bukan kebetulan?” bisiknya, suaranya rendah.

“Apakah kau memang mencari tahu sesuatu? Atau mungkin, kau bisa membaca dan mengerti semuanya?” tatapan Kaisar lekat ke wajahnya.

Lysandra menggigit bibir dalam-dalam. Setiap jawaban bisa menjadi petaka. Sebelum dia bisa menemukan kata-kata, Kaisar tiba-tiba mengubah sikap. Ekspresi curiganya menghilang, diganti dengan sikap netral.

“Sudahlah,” ucapnya, lalu berbalik. “Lanjutkan pekerjaanmu. Tapi, ganti bukumu. Coba bersihkan rak di sebelah sana.”

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Budak Kesayangan Sang Tiran   Bab 203

    Seraphina baru saja tiba di pesta beberapa saat sebelumnya. Dia sengaja datang agak terlambat, tidak ingin merebut perhatian dari cucunya yang berulang tahun. Dengan gaun perak sederhana dan rambut putihnya yang tergerai indah, dia melangkah masuk dengan anggun. Dia tersenyum pada para tamu yang mengenalnya.Namun senyum itu langsung membeku di wajahnya.Matanya yang biru pucat, sama seperti mata milik Evangeline membelalak melihat sosok yang duduk di kursi kehormatan dekat Xylas. Sosok yang sangat familiar, sosok yang telah lama hilang, sosok yang dia kira sudah mati dua puluh tahun lalu.“K-kau?” suaranya keluar hampir tidak terdengar, bergetar hebat.Cassius menoleh. Begitu matanya bertemu dengan Seraphina, seluruh ekspresinya berubah. Dari seorang kakek yang tenang menikmati pesta cucu, menjadi seorang pria yang melihat kembali cinta sejatinya setelah dua dekade terpisah.Dia berdiri. Lalu melangkah perlahan, matanya tidak pernah lepas dari Seraphina. “Sera …”Seraphina mundur sel

  • Budak Kesayangan Sang Tiran   Bab 202

    Siang itu, ruang pesta mulai dipenuhi tamu undangan. Suasana pesta semakin meriah. Para tamu bercengkerama, anggur mengalir, dan hidangan lezat disajikan di meja-meja panjang. Evangeline, dengan gaun biru dan boneka barunya, berlarian dari satu tamu ke tamu lain, memperkenalkan ‘teman barunya’ pada semua orang.Lysandra berdiri di sisi ruangan, mengobrol dengan beberapa bangsawan wanita dari Kerajaan Selatan. Xylas, di sudut lain, sedang berbincang dengan Raja Aldric dari Timur tentang kebijakan perdagangan.Frederick dan Arion berjaga di pintu masuk, mata mereka awas memantau setiap tamu yang datang.Tiba-tiba, suasana di dekat pintu masuk berubah. Beberapa tamu berhenti berbicara, menoleh ke arah yang sama. Bisik-bisik mulai terdengar.Frederick menegang. Dia melihat seorang pria masuk. Posturnya tinggi, tegap, dengan rambut hitam dan mata abu-abu yang tajam. Pria itu mengenakan jubah hitam sederhana, tidak mencolok

  • Budak Kesayangan Sang Tiran   Bab 201

    Menjelang sore harinya, kereta megah berwarna hijau tua dengan lambang keluarga Richter berhenti tepat di depan pintu masuk utama. Dua pengawal berseragam hitam langsung turun dan membuka pintu dengan sigap.Duke Richter turun lebih dulu. Pria paruh baya itu terlihat lebih tua dari yang diingat Lysandra. Rambutnya semakin memutih di pelipis, dan ada garis-garis lelah di wajahnya. Tapi matanya masih tajam, kebiasaan seorang bangsawan yang terbiasa bermain politik.Dia mengulurkan tangan ke dalam kereta, membantu seorang wanita turun. Wanita itu, istri barunya—mungkin berusia awal tiga puluhan. Rambutnya berwarna cokelat hangat dan mata cokelat yang lembut. Gaunnya sederhana tetapi elegan, tidak berlebihan, dan sikapnya tenang, tidak seperti Giselle dan Inggrid yang dulu penuh dengan ambisi yang membara.Mereka berjalan bergandengan tangan menuju pintu masuk, diikuti oleh dua pelayan yang membawa hadiah terbungkus kain sutra.Di

  • Budak Kesayangan Sang Tiran   Bab 200

    Matahari semakin tinggi, memancarkan cahaya keemasan di atas Istana Kekaisaran Barat. Para tamu mulai berdatangan satu per satu. Kereta-kereta mewah memasuki halaman istana, diikuti oleh para pengawal dan pelayan masing-masing.Di tengah keramaian itu, sebuah kereta sederhana namun elegan berhenti di depan pintu utama. Tidak terlalu mencolok, tetapi juga tidak bisa diabaikan. Dari dalam, turun seorang gadis muda dengan gaun biru laut yang anggun, rambutnya disanggul rapi dengan hiasan mutiara kecil.Inggrid.Dia berdiri sejenak, memandangi istana megah di depannya. Matanya menunjukkan campuran antara rasa hormat, gugup, dan sedikit kerinduan. Lalu dia berbalik, dan dari dalam kereta, keluar seorang pria tinggi dengan jubah hitam, wajahnya tertutup topeng setengah yang hanya memperlihatkan rahang tegas dan mata tajam. Pria itu tidak berseragam pengawal biasa. Pakaiannya berkualitas baik, dan cara dia berdiri menunjukkan bahwa dia bukan orang

  • Budak Kesayangan Sang Tiran   Bab 199

    Matahari baru saja naik di ufuk timur, menyinari halaman istana yang sudah dihias meriah. Para pelayan masih sibuk dengan persiapan terakhir, tapi di tengah hiruk-pikuk itu, ada satu suara kecil yang mendominasi.“Ayah! Ayah! Naik kereta! Naik kereta!”Evangeline berlari kecil keluar dari pintu istana, gaun tidurnya masih melekat di tubuh mungilnya, rambutnya berantakan, tapi matanya berbinar-binar penuh semangat. Dia berlari langsung menuju Xylas yang sedang berbicara dengan Frederick tentang rute kedatangan tamu.Xylas menoleh, melihat putri kecilnya yang berlari dengan kaki mungilnya, hampir tersandung gaun tidur yang terlalu panjang. Dengan refleks cepat, dia membungkuk dan menangkap Evangeline tepat sebelum jatuh.“Evangeline! Kenapa sudah bangun? Matahari baru terbit,” tanya Xylas sambil menggendongnya.Evangeline merangkul leher ayahnya dengan erat. “Evangeline mimpi naik kereta! Kereta kuda! Yang besar! Ma

  • Budak Kesayangan Sang Tiran   Bab 198

    Dua minggu kemudian …Istana Kerajaan Barat berubah menjadi lautan warna dan kemeriahan. Ratusan pelayan sibuk mendekorasi setiap sudut dengan rangkaian bunga segar, pita-pita sutra berwarna pastel, dan lampion-lampion kertas yang akan dinyalakan saat malam tiba. Di taman istana, tenda-tenda megah didirikan untuk para tamu, lengkap dengan meja-meja panjang yang dipenuhi hidangan lezat.Xylas berdiri di balkon sayap barat, memandangi hiruk-pikuk persiapan di bawah. Di tangannya, setumpuk surat balasan dari berbagai kerajaan. Wajahnya menunjukkan kepuasan yang tidak bisa disembunyikan.Frederick melangkah mendekat, membawa lebih banyak surat. “Yang Mulia, ini balasan dari Kerajaan Timur. Raja Aldric sendiri yang akan hadir.”Xylas mengambil surat itu, membaca cepat, lalu tersenyum. “Raja Aldric. Dia tidak pernah melewatkan kesempatan untuk berkunjung ke Aethel sejak perdamaian. Kurasa dia menyukai anggur di sini.”F

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status