Share

Bab 6

Author: Mita Yoo
last update Last Updated: 2025-12-12 08:15:03

Taman istana adalah satu-satunya tempat di mana Lysandra bisa bernapas lega. Di sana, di antara deretan tanaman obat dan bunga-bunga yang tertata rapi, bau tanah dan dedaunan menutupi bau ketegangan yang selalu menyelimuti istana. Lysandra sedang memeriksa daun mint.

Tanaman yang biasa digunakan untuk sakit perut. Dia mencoba mengingat detail yang tercatat di buku herbal yang pernah dibacanya di masa lalu.

“Hei, lihatlah! Si pembersih debu yang tiba-tiba jadi ahli tanaman.”

Suara itu, manis seperti sirup gula tetapi jelas mengandung racun. Lysandra mendongak. Lady Inggrid berdiri di balik rumpun mawar, senyum tipis di bibirnya. Dua dayangnya mengikuti dari belakang, juga tersenyum sinis.

Lysandra langsung menunduk. “My Lady.”

“Jangan pura-pura sopan,” hardik Inggrid, melangkah mendekat. Matanya yang biru tajam menyapu tubuh Lysandra yang hanya mengenakan pakaian abu-abu sederhana. “Aku lihat kau sering di sini. Juga di perpustakaan. Apa yang kau cari, budak? Atau … siapa yang kau cari?”

“Hamba hanya melakukan tugas, My Lady. Membersihkan dan merawat taman.”

“Tugas?” Inggrid mendecakkan lidah. “Tugasmu seharusnya di dapur atau kandang, bukan di tempat yang dipenuhi buku dan bunga. Kau pikir karena Kaisar memberimu nama dan kamar kecil, kau bisa naik kelas?”

Inggrid melangkah mendekat, bisikannya menusuk. “Kau tetap sampah. Dan sampah akan selalu kembali ke tempatnya.”

Kata-katanya melukai Lysandra. Namun yang lebih membuatku tegang adalah tatapan kebenciannya. Dia melihat Lysandra sebagai ancaman, dan itu berbahaya.

“Hamba tahu posisi hamba, My Lady,” gumamnya, tetap menunduk.

“Pastikan kau tidak lupa.” Inggrid mengangkat tangan, seolah ingin menyentuh rambutnya, tetapi gesturnya lebih seperti ancaman untuk menampar. “Atau aku akan—”

“Lady Inggrid.”

Suara itu datang bagai pisau es, memotong udara taman yang hangat.

Semua orang seketika membeku. Kaisar Xylas berdiri di ujung jalan setapak, wajahnya dingin dan tidak terbaca. Dia tidak terlihat marah, tetapi ada sesuatu dalam caranya berdiri.

Sikapnya sangat diam, sangat terkendali, hal itulah yang membuat sekaligus lega dan ngeri.

Inggrid langsung mengubah sikap. Senyum manisnya kembali terpasang. “Yang Mulia! Saya hanya sedang …”

“Aku tahu apa yang ‘hanya’ sedang kau lakukan,” potong Kaisar. Langkahnya tegas mendekat. Dia tidak memandang Lysandra sama sekali, fokusnya sepenuhnya pada Inggrid. “Dan aku ingatkan untuk yang terakhir kalinya. Fokuslah pada tugasmu menyiapkan pertemuan dengan utusan Kerajaan Selatan. Bukan pada hal-hal yang bukan urusanmu.”

Wajah Inggrid memerah. “Tapi Yang Mulia, budak ini—”

“Budak ini,” Kaisar menyela, suaranya tiba-tiba lebih keras, “adalah milikku.”

Kata-kata itu menggema. Milikku.

Dia akhirnya menoleh kepada Lysandra. Bukan dengan lembut, tetapi dengan tatapan yang penuh kepemilikan, seperti seorang tuan memandang pedang kesayangannya.

Lalu, dalam gerakan yang mengejutkan semua orang termasuk Lysandra sendiri, Kaisar mengulurkan tangannya.

“Lyra. Kemari.”

Suaranya tidak meninggi, tapi perintahnya jelas. Dengan kaki gemetar, Lysandra melangkah mendekat. Sebelum dia menyadarinya, tangan Kaisar yang besar dan hangat meraih lengannya, menariknya untuk berdiri di sampingnya.

Sentuhan Kaisar itu membuat kulit Lysandra merinding. Sentuhan itu seolah sebuah pernyataan di depan Inggrid dan siapa pun yang melihat. Kaisar seolah ingin mengatakan, ‘Dia milikku. Jangan menyentuhnya’.

“Dengar baik-baik, Inggrid,” kata Kaisar, matanya yang abu-abu tajam menatap wanita bangsawan itu tanpa ampun. “Apa yang terjadi di istana ini, siapa yang membersihkan debu di perpustakaanku, siapa yang berjalan di tamanku, semuanya adalah urusanku. Bukan urusanmu, atau ayahmu, atau siapa pun. Kau paham?”

Inggrid terlihat seperti ingin menangis atau berteriak, tetapi dia menahannya. Dia membungkuk dalam-dalam, suaranya gemetar. “Saya mengerti dengan sangat jelas, Yang Mulia.”

“Pergi,” kata Kaisar, singkat. “Dan ingat! Satu lagi gangguan seperti ini, kau bisa pulang ke wilayah ayahmu untuk selamanya.”

Tanpa kata lagi, Inggrid berbalik dan pergi dengan langkah cepat, dayang-dayangnya berusaha mengekor.

Dan kemudian, hanya ada mereka berdua di taman. Tangan Kaisar masih memegang lengannya.

Kaisar memandangnya. Tatapannya lebih dalam dari sebelumnya, seolah ingin memastikan sesuatu. “Apakah dia menyakitimu?”

“Tidak, Yang Mulia,” Lysandra menjawab singkat.

“Jangan berbohong,” hardiknya, tetapi tidak kasar. “Kau terlihat seperti anak rusa yang dikepung serigala.”

Kaisar akhirnya melepaskan pegangannya. “Dia akan terus mengincarmu. Sekarang lebih dari sebelumnya, karena aku baru saja menunjukkan bahwa kau penting.”

“Kenapa … Yang Mulia melakukannya?” tanyanya, entah keberanian yang bodoh muncul atau karena rasa penasaran yang kuat. “Hamba cuma budak. Bukan senjata atau harta.”

Kaisar terdiam beberapa saat. “Karena,” katanya pelan, seperti berpikir keras, “di istana ini, yang terlihat lemah dan tidak dilindungi akan dimangsa. Aku tidak punya waktu untuk terus menyelamatkanmu dari setiap Inggrid yang iri.” Dia menatapku lagi. “Dan karena … kau bukan ‘cuma budak’. Ada sesuatu di matamu, Lyra. Sesuatu yang membuatku tertarik.”

Jantung Lysandra kembali berdegup kencang.

“Sekarang,” ujarnya, kembali ke nada datarnya.

“Kau bilang kau tahu tanaman. Apa kegunaan Silverthorn yang tumbuh di sudut sana?” Kaisar menunjuk tanaman itu.

Lysandra menarik napas, mengingat isi buku herbal yang pernah dia baca dulu.

“Daunnya bisa digunakan untuk meredakan demam, Yang Mulia. Tapi akarnya … beracun.”

Kaisar mengangguk, sedikit terkesan. “Bagus. Paling tidak kau jujur tentang yang beracun.” Kaisar lalu berbalik untuk pergi, namun kembali berhenti dan menoleh. “Oh ya, satu lagi, Lyra?”

“Ya, Yang Mulia?”

“Malam besok, jam ketiga setelah matahari terbenam, datanglah ke perpustakaan. Sendirian. Ada sesuatu … yang ingin kutunjukkan.”

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Budak Kesayangan Sang Tiran   Bab 203

    Seraphina baru saja tiba di pesta beberapa saat sebelumnya. Dia sengaja datang agak terlambat, tidak ingin merebut perhatian dari cucunya yang berulang tahun. Dengan gaun perak sederhana dan rambut putihnya yang tergerai indah, dia melangkah masuk dengan anggun. Dia tersenyum pada para tamu yang mengenalnya.Namun senyum itu langsung membeku di wajahnya.Matanya yang biru pucat, sama seperti mata milik Evangeline membelalak melihat sosok yang duduk di kursi kehormatan dekat Xylas. Sosok yang sangat familiar, sosok yang telah lama hilang, sosok yang dia kira sudah mati dua puluh tahun lalu.“K-kau?” suaranya keluar hampir tidak terdengar, bergetar hebat.Cassius menoleh. Begitu matanya bertemu dengan Seraphina, seluruh ekspresinya berubah. Dari seorang kakek yang tenang menikmati pesta cucu, menjadi seorang pria yang melihat kembali cinta sejatinya setelah dua dekade terpisah.Dia berdiri. Lalu melangkah perlahan, matanya tidak pernah lepas dari Seraphina. “Sera …”Seraphina mundur sel

  • Budak Kesayangan Sang Tiran   Bab 202

    Siang itu, ruang pesta mulai dipenuhi tamu undangan. Suasana pesta semakin meriah. Para tamu bercengkerama, anggur mengalir, dan hidangan lezat disajikan di meja-meja panjang. Evangeline, dengan gaun biru dan boneka barunya, berlarian dari satu tamu ke tamu lain, memperkenalkan ‘teman barunya’ pada semua orang.Lysandra berdiri di sisi ruangan, mengobrol dengan beberapa bangsawan wanita dari Kerajaan Selatan. Xylas, di sudut lain, sedang berbincang dengan Raja Aldric dari Timur tentang kebijakan perdagangan.Frederick dan Arion berjaga di pintu masuk, mata mereka awas memantau setiap tamu yang datang.Tiba-tiba, suasana di dekat pintu masuk berubah. Beberapa tamu berhenti berbicara, menoleh ke arah yang sama. Bisik-bisik mulai terdengar.Frederick menegang. Dia melihat seorang pria masuk. Posturnya tinggi, tegap, dengan rambut hitam dan mata abu-abu yang tajam. Pria itu mengenakan jubah hitam sederhana, tidak mencolok

  • Budak Kesayangan Sang Tiran   Bab 201

    Menjelang sore harinya, kereta megah berwarna hijau tua dengan lambang keluarga Richter berhenti tepat di depan pintu masuk utama. Dua pengawal berseragam hitam langsung turun dan membuka pintu dengan sigap.Duke Richter turun lebih dulu. Pria paruh baya itu terlihat lebih tua dari yang diingat Lysandra. Rambutnya semakin memutih di pelipis, dan ada garis-garis lelah di wajahnya. Tapi matanya masih tajam, kebiasaan seorang bangsawan yang terbiasa bermain politik.Dia mengulurkan tangan ke dalam kereta, membantu seorang wanita turun. Wanita itu, istri barunya—mungkin berusia awal tiga puluhan. Rambutnya berwarna cokelat hangat dan mata cokelat yang lembut. Gaunnya sederhana tetapi elegan, tidak berlebihan, dan sikapnya tenang, tidak seperti Giselle dan Inggrid yang dulu penuh dengan ambisi yang membara.Mereka berjalan bergandengan tangan menuju pintu masuk, diikuti oleh dua pelayan yang membawa hadiah terbungkus kain sutra.Di

  • Budak Kesayangan Sang Tiran   Bab 200

    Matahari semakin tinggi, memancarkan cahaya keemasan di atas Istana Kekaisaran Barat. Para tamu mulai berdatangan satu per satu. Kereta-kereta mewah memasuki halaman istana, diikuti oleh para pengawal dan pelayan masing-masing.Di tengah keramaian itu, sebuah kereta sederhana namun elegan berhenti di depan pintu utama. Tidak terlalu mencolok, tetapi juga tidak bisa diabaikan. Dari dalam, turun seorang gadis muda dengan gaun biru laut yang anggun, rambutnya disanggul rapi dengan hiasan mutiara kecil.Inggrid.Dia berdiri sejenak, memandangi istana megah di depannya. Matanya menunjukkan campuran antara rasa hormat, gugup, dan sedikit kerinduan. Lalu dia berbalik, dan dari dalam kereta, keluar seorang pria tinggi dengan jubah hitam, wajahnya tertutup topeng setengah yang hanya memperlihatkan rahang tegas dan mata tajam. Pria itu tidak berseragam pengawal biasa. Pakaiannya berkualitas baik, dan cara dia berdiri menunjukkan bahwa dia bukan orang

  • Budak Kesayangan Sang Tiran   Bab 199

    Matahari baru saja naik di ufuk timur, menyinari halaman istana yang sudah dihias meriah. Para pelayan masih sibuk dengan persiapan terakhir, tapi di tengah hiruk-pikuk itu, ada satu suara kecil yang mendominasi.“Ayah! Ayah! Naik kereta! Naik kereta!”Evangeline berlari kecil keluar dari pintu istana, gaun tidurnya masih melekat di tubuh mungilnya, rambutnya berantakan, tapi matanya berbinar-binar penuh semangat. Dia berlari langsung menuju Xylas yang sedang berbicara dengan Frederick tentang rute kedatangan tamu.Xylas menoleh, melihat putri kecilnya yang berlari dengan kaki mungilnya, hampir tersandung gaun tidur yang terlalu panjang. Dengan refleks cepat, dia membungkuk dan menangkap Evangeline tepat sebelum jatuh.“Evangeline! Kenapa sudah bangun? Matahari baru terbit,” tanya Xylas sambil menggendongnya.Evangeline merangkul leher ayahnya dengan erat. “Evangeline mimpi naik kereta! Kereta kuda! Yang besar! Ma

  • Budak Kesayangan Sang Tiran   Bab 198

    Dua minggu kemudian …Istana Kerajaan Barat berubah menjadi lautan warna dan kemeriahan. Ratusan pelayan sibuk mendekorasi setiap sudut dengan rangkaian bunga segar, pita-pita sutra berwarna pastel, dan lampion-lampion kertas yang akan dinyalakan saat malam tiba. Di taman istana, tenda-tenda megah didirikan untuk para tamu, lengkap dengan meja-meja panjang yang dipenuhi hidangan lezat.Xylas berdiri di balkon sayap barat, memandangi hiruk-pikuk persiapan di bawah. Di tangannya, setumpuk surat balasan dari berbagai kerajaan. Wajahnya menunjukkan kepuasan yang tidak bisa disembunyikan.Frederick melangkah mendekat, membawa lebih banyak surat. “Yang Mulia, ini balasan dari Kerajaan Timur. Raja Aldric sendiri yang akan hadir.”Xylas mengambil surat itu, membaca cepat, lalu tersenyum. “Raja Aldric. Dia tidak pernah melewatkan kesempatan untuk berkunjung ke Aethel sejak perdamaian. Kurasa dia menyukai anggur di sini.”F

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status