Share

Dibilang Loyo

last update publish date: 2026-05-24 08:40:27

Ashlan dan kelima majikannya berkeliling pasar, membeli beberapa barang dan juga beberapa herbal yang bisa membantu meningkatkan stamina pria.

Pasar hari itu ramai seperti biasa. Suara pedagang saling bersahutan menawarkan dagangan, aroma rempah dan makanan bercampur di udara, serta langkah kaki orang-orang yang hilir mudik tanpa henti.

Namun di tengah keramaian itu, ada satu kelompok yang mencuri perhatian siapa pun yang melihat.

Lima wanita dengan kecantikan luar biasa berjalan bersama seorang pria yang penampilannya masih sederhana. Kontras itu terlalu mencolok untuk diabaikan.

Beberapa orang mulai berbisik.

“Apa kau lihat itu?”

“Bukankah dia budak yang kemarin dijual?”

“Kenapa bisa bersama wanita-wanita itu?”

Bisikan itu tidak terlalu pelan. Cukup untuk didengar.

Pria itu—Ashlan—menunduk. Ia tidak berani menatap balik siapa pun. Tangannya sibuk membawa barang belanjaan, walaupun sebenarnya barang itu tidak seberapa berat dibandingkan beban hidup yang pernah ia tanggung sebelumnya.

Langkahnya tetap mengikuti di belakang.

Lira berjalan di depan dengan sikap tegas. Setiap langkahnya mantap, tidak terpengaruh oleh tatapan orang-orang di sekitar. Ia seolah menjadi pusat dari kelompok itu.

Di sisi lain, Nara sesekali menoleh ke belakang. Tatapannya lembut, memastikan pria itu tidak tertinggal. Ada perhatian yang tidak ia sembunyikan.

Vea berbeda. Wajahnya dingin. Matanya tajam, mengawasi sekeliling dengan penuh kecurigaan. Seolah siap menghadapi siapa pun yang berani mengganggu.

Sia tampak lebih santai. Ia beberapa kali memperhatikan barang-barang di sekitar dengan rasa penasaran. Namun tetap, ia tidak jauh dari kelompok.

Sedangkan Elen... tetap diam. Tidak banyak bicara, tetapi kehadirannya terasa tenang. Ia berjalan tanpa suara, namun tidak pernah benar-benar mengabaikan apa pun di sekitarnya.

Setelah cukup lama berkeliling di pasar, akhirnya mereka menyelesaikan semua kebutuhan. Herbal, bahan makanan, dan beberapa barang lain telah dibeli.

Perjalanan pulang dimulai.

Langkah mereka kini lebih pelan. Tidak ada percakapan yang berarti. Hanya suara langkah kaki dan gesekan kain yang terdengar.

Dan pikiran Ashlan yang terus berjalan.

Sesampainya di kediaman yang berada sedikit jauh dari pusat pasar—

Langkah Ashlan terhenti. Di depan rumah itu, seseorang telah berdiri.

Seorang wanita!

Wanita itu tampak sangat cantik dan anggun. Posturnya tegap, wajahnya bersih, dan pakaiannya menunjukkan bahwa ia berasal dari kalangan tinggi. Cara berdirinya pun berbeda—tenang, tetapi penuh wibawa.

Kelima wanita itu langsung menyadari kehadiran orang asing tersebut.

Tatapan mereka berubah. Terutama Vea, yang langsung menatap tajam dengan ekspresi tidak suka.

Namun bagi Ashlan—semuanya berhenti.

Begitu matanya melihat wajah wanita itu dengan jelas, napasnya tertahan. Jantungnya berdetak lebih cepat. Ia mengenalnya. Sangat mengenalnya.

“Nona... Nadia?”

Suara itu keluar pelan, hampir seperti bisikan.

Wanita itu menatapnya.

“Ashlan...”

Nada suaranya lembut. Namun jelas.

Wanita itu adalah Nadia Ayusekarwangi. Seorang bangsawan yang memiliki hubungan darah dengan keluarga kerajaan pada masa itu.

Dan lebih dari itu—ia adalah masa lalu Ashlan.

“Ashlan, apakah kamu mengenal wanita ini?” tanya Lira dengan nada datar.

“Iya,” jawab pria itu singkat. “Aku mengenalnya. Dia adalah Nona Nadia... majikanku dulu.”

Kenangan lama langsung muncul.

Sebelum dijual, pria itu bekerja untuk keluarga Nadia. Sejak kecil ia tumbuh sebagai budak di kediaman itu. Ia menjalani hari-harinya di sana, bekerja tanpa banyak bicara, hidup tanpa banyak pilihan.

Ia mengenal tempat itu. Ia mengenal orang-orangnya. Dan tentu saja... ia mengenal Nadia.

Bertahun-tahun bekerja sebagai budak di keluarga Nadia, ia tidak pernah membuat kesalahan. Tidak pernah melawan. Tidak pernah membantah.

Namun semua itu berubah dalam satu hal kecil—ia jatuh cinta.

Ashlan menyukai Nadia.

Perasaan itu muncul tanpa ia sadari. Dan ketika ia sadar, semuanya sudah terlambat.

Itu adalah kesalahan. Kesalahan besar.

Seorang budak tidak pantas menyukai putri majikannya sendiri—terlebih lagi putri itu telah dijodohkan dengan putra mahkota.

Ketika perasaan itu diketahui—ia dihukum. Dicambuk. Dipermalukan. Dan akhirnya... dijual.

---

“Sepertinya ada hal penting yang ingin Nona Nadia katakan,” ucap Nara sambil mendekat. Ia menepuk bahu Ashlan dengan lembut.

“Kamu bicara saja dulu dengannya. Kami akan masuk lebih dulu.”

Kelima wanita itu kemudian masuk ke dalam rumah, meninggalkan mereka berdua.

Sunyi. Angin berhembus pelan. Ashlan menunduk.

“Kamu tidak perlu memberikan hormat seperti itu padaku," ucap Nadia lembut. "Sekarang aku bukan lagi majikanku. Dan kamu bukan budak lagi.”

Pria itu tetap menunduk.

“Tidak begitu, nona,” jawabnya pelan. “Aku masih budak yang sama.bTidak ada yang berubah. Semua masih sama seperti sebelumnya.”

Nadia menatapnya dalam.

“Apakah benar semua masih sama?”

“Tentu saja, nona.”

“Lalu bagaimana dengan perasaanmu?”

Ashlan terdiam.

“Apakah masih sama?”

Sunyi semakin dalam.

“Apakah kamu masih menyukaiku?” tanya Nadia. “Masih mencintaiku? Seperti aku yang masih mencintaimu.”

Suara Nadia bergetar.

Kalimat itu jatuh begitu saja. Berat. Sulit dihindari. Ashlan mengepalkan tangannya. Namun ia tetap menunduk.

“Maafkan aku, nona,” ucapnya pelan. “Akan lebih baik jika kita tidak membahas itu lagi. Semuanya sudah berlalu. Dan... nona tidak pantas dicintai oleh budak seperti aku. Dan aku juga tidak pantas mencintai nona.”

“Bagus!”

Suara kasar tiba-tiba memotong.

Seorang pria dengan tubuh besar datang menunggang kuda hitam.

Wajahnya keras. Tatapannya tajam.

“Kak Arka...?”

Nadia terkejut.

“Sedang apa kakak di sini?”

“Tidak penting,” jawab Arka dingin.

Pria itu turun dari kudanya. Tatapannya langsung menuju pada Ashlan.

“Yang jelas, kamu ikut pulang sekarang.”

“Jangan mempermalukan keluarga hanya karena budak hina seperti ini!”

Arka adalah kakak sulung Nadia. Dan ia sangat membenci Ashlan. Kebencian itu sudah ada sejak lama. Sejak mereka masih kecil. Dan kini... tidak berkurang sedikit pun.

“Siapa yang kamu sebut hina?”

Suara Nara terdengar.

Kelima wanita itu kembali. Mereka berdiri di belakang pria itu. Melindunginya.

“Jika yang kamu maksud adalah Ashlan,” lanjut Nara tegas, “sebaiknya kamu menarik kembali ucapanmu.”

“Kami tidak terima.”

Arka tertawa.

“Wah... jadi benar? Budak ini benar-benar menikah dengan kalian?”

Tatapannya penuh ejekan.

“Hebat juga kamu, Ashlan. Pakai cara apa sampai bisa dapat nona-nona ini?”

Ia tertawa lagi.

“Dan kalian... apa tidak merasa rugi? Menikah dengan laki-laki seperti dia?”

Nada suaranya berubah.

“Loyo seperti dia?”

Tubuh Ashlan langsung menegang. Kenangan lama kembali.

Hari ketika ia dipaksa. Dipermalukan. Dipaksa melakukan hal yang tidak ia pahami. Dan gagal.

Sejak saat itu—ia disebut “loyo”.

“Tuan... hentikan,” ucapnya pelan.

Namun Arka tidak berhenti.

“Dia tidak akan bisa memuaskan kalian. Tidak akan bisa memberi keturunan. Tidak akan berguna! Paling cuma lima menit.”

Tawanya terdengar keras. Menghina. Merendahkan.

Ashlan itu hanya diam. Menunduk. Seperti dulu. Menerima. Karena ia sudah terbiasa.

Namun—ia lupa satu hal. Ia tidak sendiri lagi. Kelima wanita di belakangnya tidak diam.

Udara terasa berubah. Tatapan mereka menjadi dingin. Aura mereka... terasa. Dan untuk pertama kalinya—Ashlan tidak lagi menghadapi semuanya sendirian.

—Bersambung—​

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Budak & Lima Istri Dari Langit   Bernegosiasi Dengan Nadia

    Setelah perpamitan dengan Lira dan juga meminta doa darinya agar usaha yang ia lakukan berjalan dengan lancar, Ashlan pun langsung memacu kudanya untuk segera bergerak menuju tempat kediaman Tuan Bara yang ada di pusat kota. Perjalanan itu memakan waktu cukup lama sampai pada akhirnya ia berhasil sampai ke pusat kota di siang hari yang cahaya mataharinya begitu terik sampai-sampai membuat Ashlan merasa lelah dan juga haus. Untuk beristirahat sejenak ia memilih untuk tinggal di kedai kopi. Disana ia memesan makanan dan juga minuman untuk mengembalikan tenaga dan juga energinya agar nanti bisa berhadapan langsung dengan Tuan Bara. Selesai mengisi kembali tenaga dan juga energinya, Ashlan kembali melanjutkan perjalanan untuk menemui Tuan Bara. Dan ketika ia baru saja sampai di depan pintu gerbang kediaman Tuan Bara, Ashlan langsung disambut oleh beberapa pengawal yang berjaga di sana. "Maaf. Tetapi Tuan tidak bisa langsung masuk begitu saja kemar

  • Budak & Lima Istri Dari Langit   Berencana Pergi Menemui Tuan Bara

    Mengingat apa yang sebelumnya dikatakan oleh Lira, Ashlan jadi tidak bisa tidur sepanjang malam saat itu. Ia terus berpikir dan mempertimbangkan tindakan macam apa yang akan ia ambil agar bisa mengetahui tentang siapa orang tua kandungnya dan bagaimana caranya mendapatkan jawaban itu dari mulut Tuan Bara yang sangat membenci dirinya. Dan ketika pagi berikutnya datang, Ashlan bangun dengan lingkaran hitam di matanya karena kemarin malam ia benar-benar tidak bisa tidur sama sekali karena memikirkan tentang orang tua kandungnya yang kini tiba-tiba saja membuatnya tidak bisa fokus melakukan pekerjaan apapun. Bahkan pagi itu ketika para istrinya sibuk mempersiapkan sarapan pagi, Ashlan benar-benar tidak bergerak di tempat dan hanya duduk diam tanpa menunjukkan ekspresi apapun. Melihat sikapnya yang aneh Nara mencoba untuk bertanya kepada Ashlan tentang apa yang sebenarnya ia pikirkan sampai-sampai tidak bergerak seperti patung. "Ashlan, apakah kamu

  • Budak & Lima Istri Dari Langit   Lira Memberikan Saran

    Malam itu Ashlan duduk termenung di pinggir sawah, di bawah cahaya bulan yang tenang. Ia duduk sendiri sambil larut dalam pikirannya tentang pembahasan sebelumnya mengenai orangtua kandung Ashlan. Selama ini Ashlan tidak pernah penasaran tentang siapa orangtua kandungnya. Ia tidak pernah bertanya-tanya tentang hal itu, bahkan ia tidak pernah merindukan sosok mereka. Namun, hari ini ada yang berbeda. Entah kenapa, tetapi tiba-tiba saja ia mulai merasakan rindu yang sebelum ini tidak pernah ia rasakan. Rasa rindu ini begitu nyata, bahkan rasa ingin tahu pun mulai membucah dalam dadanya. Sosok orangtua yang selama ini tidak pernah ingin ia tahu, kini tiba-tiba saja ia ingin tahu tentang mereka. Ashlan ingin tahu siapa orangtua kandungnya, dan ia ingin tahu apa alasan mereka membiarkan Ashlan menjadi budak di kediaman Nadia. Dalam kesendirian itu, tiba-tiba Lira datang dan kemudian duduk di samping Ashlan untuk menjadi teman bagi Ashlan untuk mengobrol."Apa yang sedang kamu pikirkan,

  • Budak & Lima Istri Dari Langit   Kunjungan Raja Salman

    Setelah dengan berani membuat sumpah, Nadia langsung pergi meninggalkan tempat itu. Dan tidak lama setelah Nadia pergi ....Vea membalikkan badan, menatap Ashlan yang masih berdiri di belakangnya."Jangan pernah goyah hanya karena dia terang-terangan mengaku menyukaimu," tegur Vea, memecah keheningan. "Dia cuma putri manja yang tidak terbiasa ditolak."Elen melangkah mendekat, melipat kedua tangannya di dada. Matanya menatap Ashlan dengan tatapan yang jauh lebih serius."Vea benar. Dan ingat satu hal lagi, Ashlan," potong Elen dengan nada menekan. "Jika sampai kamu terbuai oleh rayuannya, bahkan sedikit saja! Kita semua yang ada di sini akan mati. Jiwa suci milikmu akan ternoda begitu disentuh oleh wanita lain."Lira, Nara, dan Sia tidak mengucapkan satu kata pun. Mereka hanya berdiri diam di posisinya masing-masing, menatap Ashlan dengan tatapan berat. Sikap diam ketiganya sudah cukup menjadi tanda bahwa mereka menyetujui setiap kata yang diucapkan oleh Vea dan Elen.Ashlan mengepalk

  • Budak & Lima Istri Dari Langit   Sumpah Nadia

    Satu minggu setelah kejadian di acara jamuan istana; Ashlan dan kelima istrinya melanjutkan hidup seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Namun, pada saat itu para pekerja di kebun tidak bisa menyembunyikan rasa kaget mereka ketika melihat perubahan wajah Ashlan yang kini semakin menua hanya dalam waktu satu minggu. ... Hari itu adalah pertama kali sejak terakhir kali Ashlan keluar saat ingin pergi ke istana. Karena satu minggu terakhir, Ashlan fokus menyembuhkan diri dengan melakukan meditasi bersama kelima istrinya. Walaupun pada saat itu efeknya tidak terlalu kuat, tetapi setidaknya hal itu bisa menutupi kurangnya usia Ashlan yang begitu banyak. Walaupun wajahnya tetap berubah, tetapi setidaknya perubahan itu tidak terlalu terlihat jelas. ... Setelah seminggu penuh beristirahat, Ashlan akhirnya kembali bekerja di lahan bersama dengan orang-orang lainnya ikut bekerja di sana. Dan sebelum bekerja ia ingin memastikan apakah permintaannya benar-benar telah dikabulkan oleh Raja Salman a

  • Budak & Lima Istri Dari Langit   Usia Berkurang 20 Tahun

    Walaupun pada saat itu rasanya kulit tubuh Ashlan tergoreng habis, dengan sisa tenaga yang ada ia langsung berlari untuk memeriksa apa yang sebenarnya terjadi di aula jamuan sampai-sampai membuat Vea dan juga Elen berteriak dengan suara yang keras. Dan ketika ia baru sampai di sana, Ashlan benar-benar sangat terkejut melihat bahwa, Lira, dan Sia sudah tidak sadarkan diri di tempat itu. Dan bahkan Nara pun tampak lemah. Dan pada saat itu hanya Vea dan Elen yang baik-baik saja diantara mereka berenam. Dengan menggunakan sisa tenaga yang ada, Ashlan meminta bantuan kepada Raja Salman untuk membiarkan dirinya dan juga kelima istrinya untuk segera pergi dari istana. Dan beruntung pada saat itu Raja Salman memberikan izin dan bahkan membantu dengan memberikan seorang kusir untuk mengendarai kuda yang digunakan oleh Ashlan dan kelima istrinya. ... Setelah perjalanan yang cukup panjang akhirnya mereka sampai kembali di rumah. Ashlan mengucapkan banyak terima kasih kepada kusir itu dan jug

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status