FAZER LOGINAshlan dan kelima majikannya berkeliling pasar, membeli beberapa barang dan juga beberapa herbal yang bisa membantu meningkatkan stamina pria.
Pasar hari itu ramai seperti biasa. Suara pedagang saling bersahutan menawarkan dagangan, aroma rempah dan makanan bercampur di udara, serta langkah kaki orang-orang yang hilir mudik tanpa henti. Namun di tengah keramaian itu, ada satu kelompok yang mencuri perhatian siapa pun yang melihat. Lima wanita dengan kecantikan luar biasa berjalan bersama seorang pria yang penampilannya masih sederhana. Kontras itu terlalu mencolok untuk diabaikan. Beberapa orang mulai berbisik. “Apa kau lihat itu?” “Bukankah dia budak yang kemarin dijual?” “Kenapa bisa bersama wanita-wanita itu?” Bisikan itu tidak terlalu pelan. Cukup untuk didengar. Pria itu—Ashlan—menunduk. Ia tidak berani menatap balik siapa pun. Tangannya sibuk membawa barang belanjaan, walaupun sebenarnya barang itu tidak seberapa berat dibandingkan beban hidup yang pernah ia tanggung sebelumnya. Langkahnya tetap mengikuti di belakang. Lira berjalan di depan dengan sikap tegas. Setiap langkahnya mantap, tidak terpengaruh oleh tatapan orang-orang di sekitar. Ia seolah menjadi pusat dari kelompok itu. Di sisi lain, Nara sesekali menoleh ke belakang. Tatapannya lembut, memastikan pria itu tidak tertinggal. Ada perhatian yang tidak ia sembunyikan. Vea berbeda. Wajahnya dingin. Matanya tajam, mengawasi sekeliling dengan penuh kecurigaan. Seolah siap menghadapi siapa pun yang berani mengganggu. Sia tampak lebih santai. Ia beberapa kali memperhatikan barang-barang di sekitar dengan rasa penasaran. Namun tetap, ia tidak jauh dari kelompok. Sedangkan Elen... tetap diam. Tidak banyak bicara, tetapi kehadirannya terasa tenang. Ia berjalan tanpa suara, namun tidak pernah benar-benar mengabaikan apa pun di sekitarnya. Setelah cukup lama berkeliling di pasar, akhirnya mereka menyelesaikan semua kebutuhan. Herbal, bahan makanan, dan beberapa barang lain telah dibeli. Perjalanan pulang dimulai. Langkah mereka kini lebih pelan. Tidak ada percakapan yang berarti. Hanya suara langkah kaki dan gesekan kain yang terdengar. Dan pikiran Ashlan yang terus berjalan. Sesampainya di kediaman yang berada sedikit jauh dari pusat pasar— Langkah Ashlan terhenti. Di depan rumah itu, seseorang telah berdiri. Seorang wanita! Wanita itu tampak sangat cantik dan anggun. Posturnya tegap, wajahnya bersih, dan pakaiannya menunjukkan bahwa ia berasal dari kalangan tinggi. Cara berdirinya pun berbeda—tenang, tetapi penuh wibawa. Kelima wanita itu langsung menyadari kehadiran orang asing tersebut. Tatapan mereka berubah. Terutama Vea, yang langsung menatap tajam dengan ekspresi tidak suka. Namun bagi Ashlan—semuanya berhenti. Begitu matanya melihat wajah wanita itu dengan jelas, napasnya tertahan. Jantungnya berdetak lebih cepat. Ia mengenalnya. Sangat mengenalnya. “Nona... Nadia?” Suara itu keluar pelan, hampir seperti bisikan. Wanita itu menatapnya. “Ashlan...” Nada suaranya lembut. Namun jelas. Wanita itu adalah Nadia Ayusekarwangi. Seorang bangsawan yang memiliki hubungan darah dengan keluarga kerajaan pada masa itu. Dan lebih dari itu—ia adalah masa lalu Ashlan. “Ashlan, apakah kamu mengenal wanita ini?” tanya Lira dengan nada datar. “Iya,” jawab pria itu singkat. “Aku mengenalnya. Dia adalah Nona Nadia... majikanku dulu.” Kenangan lama langsung muncul. Sebelum dijual, pria itu bekerja untuk keluarga Nadia. Sejak kecil ia tumbuh sebagai budak di kediaman itu. Ia menjalani hari-harinya di sana, bekerja tanpa banyak bicara, hidup tanpa banyak pilihan. Ia mengenal tempat itu. Ia mengenal orang-orangnya. Dan tentu saja... ia mengenal Nadia. Bertahun-tahun bekerja sebagai budak di keluarga Nadia, ia tidak pernah membuat kesalahan. Tidak pernah melawan. Tidak pernah membantah. Namun semua itu berubah dalam satu hal kecil—ia jatuh cinta. Ashlan menyukai Nadia. Perasaan itu muncul tanpa ia sadari. Dan ketika ia sadar, semuanya sudah terlambat. Itu adalah kesalahan. Kesalahan besar. Seorang budak tidak pantas menyukai putri majikannya sendiri—terlebih lagi putri itu telah dijodohkan dengan putra mahkota. Ketika perasaan itu diketahui—ia dihukum. Dicambuk. Dipermalukan. Dan akhirnya... dijual. --- “Sepertinya ada hal penting yang ingin Nona Nadia katakan,” ucap Nara sambil mendekat. Ia menepuk bahu Ashlan dengan lembut. “Kamu bicara saja dulu dengannya. Kami akan masuk lebih dulu.” Kelima wanita itu kemudian masuk ke dalam rumah, meninggalkan mereka berdua. Sunyi. Angin berhembus pelan. Ashlan menunduk. “Kamu tidak perlu memberikan hormat seperti itu padaku," ucap Nadia lembut. "Sekarang aku bukan lagi majikanku. Dan kamu bukan budak lagi.” Pria itu tetap menunduk. “Tidak begitu, nona,” jawabnya pelan. “Aku masih budak yang sama.bTidak ada yang berubah. Semua masih sama seperti sebelumnya.” Nadia menatapnya dalam. “Apakah benar semua masih sama?” “Tentu saja, nona.” “Lalu bagaimana dengan perasaanmu?” Ashlan terdiam. “Apakah masih sama?” Sunyi semakin dalam. “Apakah kamu masih menyukaiku?” tanya Nadia. “Masih mencintaiku? Seperti aku yang masih mencintaimu.” Suara Nadia bergetar. Kalimat itu jatuh begitu saja. Berat. Sulit dihindari. Ashlan mengepalkan tangannya. Namun ia tetap menunduk. “Maafkan aku, nona,” ucapnya pelan. “Akan lebih baik jika kita tidak membahas itu lagi. Semuanya sudah berlalu. Dan... nona tidak pantas dicintai oleh budak seperti aku. Dan aku juga tidak pantas mencintai nona.” “Bagus!” Suara kasar tiba-tiba memotong. Seorang pria dengan tubuh besar datang menunggang kuda hitam. Wajahnya keras. Tatapannya tajam. “Kak Arka...?” Nadia terkejut. “Sedang apa kakak di sini?” “Tidak penting,” jawab Arka dingin. Pria itu turun dari kudanya. Tatapannya langsung menuju pada Ashlan. “Yang jelas, kamu ikut pulang sekarang.” “Jangan mempermalukan keluarga hanya karena budak hina seperti ini!” Arka adalah kakak sulung Nadia. Dan ia sangat membenci Ashlan. Kebencian itu sudah ada sejak lama. Sejak mereka masih kecil. Dan kini... tidak berkurang sedikit pun. “Siapa yang kamu sebut hina?” Suara Nara terdengar. Kelima wanita itu kembali. Mereka berdiri di belakang pria itu. Melindunginya. “Jika yang kamu maksud adalah Ashlan,” lanjut Nara tegas, “sebaiknya kamu menarik kembali ucapanmu.” “Kami tidak terima.” Arka tertawa. “Wah... jadi benar? Budak ini benar-benar menikah dengan kalian?” Tatapannya penuh ejekan. “Hebat juga kamu, Ashlan. Pakai cara apa sampai bisa dapat nona-nona ini?” Ia tertawa lagi. “Dan kalian... apa tidak merasa rugi? Menikah dengan laki-laki seperti dia?” Nada suaranya berubah. “Loyo seperti dia?” Tubuh Ashlan langsung menegang. Kenangan lama kembali. Hari ketika ia dipaksa. Dipermalukan. Dipaksa melakukan hal yang tidak ia pahami. Dan gagal. Sejak saat itu—ia disebut “loyo”. “Tuan... hentikan,” ucapnya pelan. Namun Arka tidak berhenti. “Dia tidak akan bisa memuaskan kalian. Tidak akan bisa memberi keturunan. Tidak akan berguna! Paling cuma lima menit.” Tawanya terdengar keras. Menghina. Merendahkan. Ashlan itu hanya diam. Menunduk. Seperti dulu. Menerima. Karena ia sudah terbiasa. Namun—ia lupa satu hal. Ia tidak sendiri lagi. Kelima wanita di belakangnya tidak diam. Udara terasa berubah. Tatapan mereka menjadi dingin. Aura mereka... terasa. Dan untuk pertama kalinya—Ashlan tidak lagi menghadapi semuanya sendirian. —Bersambung—Ashlan dan kelima majikannya berkeliling pasar, membeli beberapa barang dan juga beberapa herbal yang bisa membantu meningkatkan stamina pria.Pasar hari itu ramai seperti biasa. Suara pedagang saling bersahutan menawarkan dagangan, aroma rempah dan makanan bercampur di udara, serta langkah kaki orang-orang yang hilir mudik tanpa henti.Namun di tengah keramaian itu, ada satu kelompok yang mencuri perhatian siapa pun yang melihat.Lima wanita dengan kecantikan luar biasa berjalan bersama seorang pria yang penampilannya masih sederhana. Kontras itu terlalu mencolok untuk diabaikan.Beberapa orang mulai berbisik.“Apa kau lihat itu?”“Bukankah dia budak yang kemarin dijual?”“Kenapa bisa bersama wanita-wanita itu?”Bisikan itu tidak terlalu pelan. Cukup untuk didengar.Pria itu—Ashlan—menunduk. Ia tidak berani menatap balik siapa pun. Tangannya sibuk membawa barang belanjaan, walaupun sebenarnya barang itu tidak seberapa berat dibandingkan beban hidup yang pernah ia tanggung sebelumnya.
"Ayo, Ashlan. Bukan bajumu."Lira mengambil beberapa langkah mendekati Ashlan. Langkahnya tenang, tetapi penuh kepastian. Di sisi lain, pria itu justru mengambil beberapa langkah mundur secara refleks untuk menghindari Lira. Jarak di antara mereka sempat terjaga, walaupun tidak lama.Ia belum siap.Benar-benar belum siap untuk melakukan ritual malam pertama yang biasa dilakukan oleh pasangan pengantin baru. Bahkan hanya dengan membayangkannya saja, jantungnya sudah berdegup tidak teratur.Lagipula, bagaimana bisa Ashlan melayani lima wanita sekaligus?Pikiran itu terus berputar di kepalanya.Ashlan tidak yakin jika ia punya cukup energi untuk memuaskan kelima majikannya itu. Tubuhnya bahkan baru saja pulih dari kondisi lemah akibat tidak makan dan minum selama berhari-hari."Kupikir... aku belum siap, nona," ucap Ashlan dengan suara yang sangat pelan—nyaris seperti bisikan. Ia takut jika penolakan yang diucapkannya akan membuat kelima majikannya itu marah.Suasana sempat hening.“Kena
Ashlan yang sudah mengerti dengan situasi yang ada akhirnya setuju untuk melakukan ritual pernikahan dengan kelima wanita cantik yang mengaku jika mereka bukanlah manusia biasa.Klaim itu telah dibuktikan secara nyata oleh salah satu dari mereka sebelumnya, membuat pria itu tidak punya alasan lagi untuk menyangkal.Ritual pernikahan itu sangatlah berbeda dengan ritual pernikahan pada umumnya.Ashlan yang tidak tahu apa-apa hanya bisa terus mengikuti setiap arahan yang diberikan oleh Lira.Budak itu tidak berani membantah, tidak berani menolak, bahkan untuk sekadar mempertanyakan pun ia harus berpikir dua kali. Bahkan di saat Lira meminta kepada Ashlan untuk melepaskan semua benang yang menutupi tubuhnya, pria itu tetap tidak bisa menolak.Tangan pemuda itu sempat ragu, tetapi pada akhirnya ia tetap menurut.“Kenapa aku harus bertelanjang bulat seperti ini?” tanya Ashlan, suaranya terdengar lebih pelan dari biasanya, seolah ia sendiri tidak yakin dengan pertanyaannya.“Semua ini ada s
"Kenapa aku? Kenapa harus aku?" tanya Ashlan.Mata pemuda itu sibuk melihat kepada lima wanita sekaligus secara bergantian—menuntut jawaban yang membuatnya penasaran. "Aku yakin, di luar sana banyak orang-orang yang terlahir seperti diriku. Kenapa nona-nona sekalian memilihku?"Lira kemudian menjawab tanpa ragu. "Jika memang mudah menemukan orang seperti kamu, maka kami tidak mungkin terjebak di tempat ini hampir 100 tahun, Ashlan."Sesaat kemudian... sunyi. Cukup lama.Kemudian, dengan suara yang sedikit bergetar, pemuda itu bertanya, "Bagaimana jika aku menolak?" Pertanyaan itu keluar pelan, namun cukup tajam.Awalnya ada perasaan takut untuk bertanya. Tetapi daripada menyesal seumur hidup... lebih baik dicoba saja. Kelima wanita itu saling bertukar pandang setelah mendengar pertanyaan tersebut.Lalu, Lira kembali menatap Ashlan dalam. "Kamu tidak akan menolak." Terdengar seperti ancaman, tetapi juga bukan. Lebih seperti kepastian yang meyakinkan.Sesaat, sunyi kembali datang. Pri
“Akan kami beli budak itu!” Suara tegas seorang wanita langsung menyadarkan Ashlan kembali. Padahal sebelumnya kesadarannya hampir hilang karena lebih dari tiga hari ia tidak diberi makan oleh tuannya.Pemuda itu pun terbangun. Saat matanya terbuka, dia melihat seorang wanita menunjuk ke arah dirinya. ‘Apakah ini efek samping karena aku sudah tidak makan dan minum selama beberapa hari? Tidak mungkin nona muda itu ingin membeliku,’ pikir Ashlan lemah.“Yang ini hampir mati!” teriak pedagang, setengah kesal, setengah putus asa karena sampai detik ini budak itu belum juga laku terjual.“Murah saja! Siapa yang mau mengambilnya, cukup dua keping perak saja!”“Baiklah. Dua keping perak. Aku akan membelinya dengan lima koin emas.” Wanita itu terdengar seperti wanita bangsawan yang kurang waras, tetapi nadanya tetap tenang.Bagaimana tidak? Dia begitu bodoh ingin membeli budak seperti Ashlan dengan harga mahal, padahal tidak ada kelebihan apa pun yang pria itu miliki.“Nona, jangan bercanda






