ANMELDENAshlan tersentak ketika tiba-tiba saja Lira berteriak menolak apa yang belum dikatakan oleh Vea. "Jangan berani-berani melakukan hal itu!" Lira memberikan peringatan tegas untuk tidak melakukan apa yang ada di dalam pikiran Vea. Di sisi lain, Ashlan yang masih belum mengerti hanya bisa terdiam di tengah-tengah ketegangan antara Lira dan juga Vea. "Tetapi hanya itu cara satu-satunya agar bisa menyelamatkan kamu Lira! Dan sebagai seseorang yang nyawanya telah kita selamatkan, bukankah memang sudah menjadi kewajiban baginya untuk menyelamatkan kita juga di saat kita kesusahan? Lalu kenapa kamu ingin menolak hal itu?" Vea tampaknya tidak ingin mundur dari rencana yang ada di dalam kepalanya. Di tengah ketegangan itu, pada awalnya Ashlan belum menyadari tentang rencana apa yang ada di dalam pikiran Vea. Tetapi setelah melihat bagaimana reaksi yang ditunjukkan oleh Lira, tampaknya pada saat itu Ashlan mengetahui rencana apa yang sedang dipikirkan ol
Ashlan tidak bisa menjaga ekskresi wajahnya sendiri ketika pertama kali melihat bagaimana kondisi dari wajah Lira pada saat itu. Wajah cantik yang dulu dia miliki kini telah berubah menjadi wajah kering, mirip seperti tanah yang mengering yang pada saat ini sedang dilanda oleh para petani. "Apa yang sebenarnya telah terjadi kepada kamu Lira?" tanya Ashlan."Ini terjadi karena energinya semakin berkurang hari demi hari. Dan semua ini terjadi karena proses penyatuan yang sebelumnya kita lakukan telah ternoda akibat kejadian di istana waktu itu," jawab Nara. Mendengar jawaban yang baru saja diberikan oleh Nara, Ashlan langsung mengerti jika apa yang pada saat ini tengah terjadi kepada Lira adalah karena kesalahan yang ia lakukan di istana waktu itu. "Maafkan aku... "Ashlan benar-benar merasa sangat bersalah atas apa yang telah terjadi kepada Lira karena dirinya. Dan mungkin bukan hanya Lira saja nanti yang akan menerima dampak
Pada malam berikutnya, Ashlan tidak bisa tidur. Di dalam pikirannya ia masih terbayang-bayang dengan apa yang sebelumnya dikatakan oleh Nara.Ia terus bertanya-tanya; bagaimana jika mungkin memang benar-benar ada seorang budak yang mungkin masih mengingat tentang hari dimana Ashlan datang ke kediaman Tuan Bara. Hal tersebut benar-benar mengganggu pikiran tenang Ashlan. Bahkan ketika malam telah berganti dengan siang, ia tidak bisa bekerja dengan fokus di ladang. Pikirannya terbang kemana-mana. Bahkan ketika Pak Joko berusaha untuk membuatnya kembali fokus dengan pekerjaan di ladang, ia tidak bisa melakukannya. "Tuan. Tuan sedang tidak enak badan kah? Sepertinya sejak tadi Tuan tidak bisa fokus. Jika sedang tidak enak badan, tuan bisa serahkan pekerjaan di sini kepada saya. Saya akan mengawasi semuanya dengan baik di sini. Tidak perlu khawatir," kata Pak Joko. "Ndak, Pak. Saya baik-baik saja. Saya cuman sedang berpikir sebentar. Ayo kita lanjutkan lagi bekerjanya. Kita akan harus ke
Baru saja Ashlan sampai di depan rumah, Nara yang sejak tadi sudah menunggu ia datang langsung menyambut kedatangannya dengan begitu hangat. "Ashlan, kamu sudah pulang? Bagaimana perjalananmu? Kamu lelah? Apa kamu ingin aku buatkan minuman?" tanya Nara. "Boleh. Tolong ya, Nara," jawab Ashlan."Baik. Tunggu sebentar ya."Nara langsung pergi ke dapur untuk mengambilkan Ashlan minuman. Dan setelah selesai membuat minuman untuk Ashlan, Nara langsung mengajukan minuman tersebut kepada Ashlan.Mereka duduk bersama di teras rumah. "Terima kasih ya, Nara."Ashlan mengambil minuman yang sebelumnya dibuatkan oleh Nara dan kemudian meminum minuman tersebut untuk menghilangkan rasa haus. "Bagaimana perjalanan kamu tadi? Berjalan lancar bukan?" tanya Nara. Ashlan hanya menjawab dengan anggukan kepala saja. "Lalu, bagaimana dengan Tuan Bara? Kamu sudah mendapatkan jawaban yang kamu inginkan dari dia?"
Bertanya langsung kepada Tuan Bara tidak memberikan Ashlan jawaban yang diinginkan. Alhasil upayanya datang jauh-jauh ke sana hanya sia-sia saja. Bahkan kini ia harus menepati janji yang sebelumnya sudah ia buat dengan Nadia. ... Setelah tidak mendapatkan jawaban apa-apa dari Tuan Bara, Ashlan terpaksa harus menepati janji yang ia buat kepada Nadia dengan memberikan sedikit waktu yang ia miliki untuk makan bersama dengan gadis bangsawan itu. "Boleh aku bertanya sesuatu kepada kamu?" tanya Nadia tiba-tiba."Ingin bertanya tentang apa?" tanya Ashlan balik. "Selama lebih dari berpuluh-puluh tahun lamanya kamu tidak pernah mengungkit kembali tentang orang tua kandungmu. Lalu karena apa tiba-tiba sekarang kamu mengungkit tentang hal itu? Kenapa kamu sekarang ingin tahu tentang mereka?" tanya Nadia. Ashlan hanya terdiam untuk beberapa saat. "Awalnya aku memang tidak pernah peduli tentang hal itu. Tetapi setelah
"Kamu ingin aku berjanji apa? Tolong jangan minta hal yang macam-macam dariku. Aku tidak bisa melanggar batasan yang ada, Nona Nadia," ucap Ashlan.Nadia tersenyum dengan senyuman yang paling manis yang dia miliki. "Tidak. Kamu tenang saja. Aku tidak akan meminta hal yang aneh-aneh dari kamu, karena yang aku inginkan dari kamu hanya satu dan itu pun hal yang sangat sederhana," jawab Nadia. Walaupun tidak mengetahui niat sebenarnya yang dimiliki oleh Nadia, tetapi pada saat itu Ashlan tidak punya pilihan lain selain menuruti apa yang dia inginkan. Karena jika tidak, maka usahanya datang jauh-jauh kemari tidak akan membuahkan hasil apa-apa. "Baik. Katakan, bayaran apa yang kamu minta dariku agar aku bisa bertemu dengan ayahmu? Sebagai catatan, aku tidak akan menerima jika kamu meminta hal yang aneh-aneh!" tekan Ashlan."Tenang saja. Aku tidak akan meminta hal yang aneh-aneh dari kamu. Karena yang aku inginkan hanyalah waktu sebentar dari







