LOGINHujan turun dengan deras disertai kilat dan guntur.
Ivanka menjauh dari jendela. "Mas… kamu dimana?” desisnya dilanda takut.
Kaca jendela mendadak terang benderang. Begitu pula halaman samping yang gelap oleh kelabunya langit. Pohon besar diluar sana terlihat meliuk kencang. Anehnya, semakin menakutkan Ivanka justru makin tak dapat mengalihkan pandang padahal tubuhnya sudah mundur beberapa langkah.
Sosok terbalut pakaian serba putih berada ditengah hujan dan angin kencang.
Napas Ivanka tercekat.
Sosok itu mendekat dengan amat cepat, berlari menghampiri jendela kamarnya.
Gadis itu tak dapat lagi menahan ketakutannya. "Aaaaarrgghhh!!!" Ivanka menjerit keras, serta merta berjongkok disamping ranjang, memeluk lututnya kencang-kencang.
Jendelanya diketuk keras. "Neng! Neng buka pintunya neng, rumah ini ada bocornya nggak?"
Suara itu tidak jelas tapi samar-sama ia mendengar orang bicara. Pelan sekali mengangkat muka. "Arghh!!" Ivanka ngos-ngosan menahan debur jantung dan ketakutannya saat melihat kepala di jendela.
Kepala Mang Sarif! Tanpa berpikir lagi ia berlari ke arah dapur. Biasanya, rumah antik begini pintunya banyak! Ivanka tak salah. Ia menemukan pintu disisi kiri dan kanan dapur karena rumah itu memang berdiri di tengah pekarangan yang luas.
"Maaf neng, tuan muda pernah berpesan supaya memeriksa titik bocor kalau hujan deras." mang Sarif yang mengenakan jas hujan putih membuka tudung di kepalanya lalu menggantung jas hujannya disamping pintu dapur. Lelaki setengah baya itu membuka sepatu boot karetnya.
"Oh... iya, silakan aja mang." Ivanka minggir memberi jalan lalu mengekor di belakangnya. Gadis itu meragu. Ia ingin menarik sebilah pisau dapur untuk ia sembunyikan dibalik punggungnya tapi takut ketahuan. Mang Sarif bisa tersinggung dan mengira ia mencurigainya walaupun itu betul. Ya ampun, ia masih ketakutan!
Matanya menatap benda tajam itu sekilas lalu melewatinya begitu saja.
"Dapurnya kering ya neng."
"Iya mang." ia masih tak habis pikir kenapa Elang memilih rumah antik yang mengerikan begini? "Mang... dari sini ke resort the ocean jauh nggak?"
"Dua apa dua setengah kiloan aja neng. Deket."
"Oh..."
Mereka kini berada di lorong dimana pintu-pintu kamar berderet-deret saling berhadapan.
"Pintu di depan kamar utama itu pintu ruangan apa ya mang?" Pintu itu bersebelahan dengan pintu kamarnya sendiri.
"Ruang kerja tuan muda."
Ivanka mengangguk-angguk, baru menyadari kalau rumah tua yang antik ini dindingnya telah dilapisi wallpaper berbunga warna krem yang cantik sekali. “Mamang yang masang wallpaper, ini... kertas pelapis dinding dengan motif ini?”
Mang Sarif menggeleng. "Sudah dari jaman Belanda rumah ini seperti ini neng. Kata orang yang dulu sering datang hanya untuk melihat namanya sih... apa ya.. ar... artis.. ar..."
"Artistik." Ivanka tertawa kecil.
"Nah iya betul. Itu kali." Mang Sarif terkekeh-kekeh.
"Aahh!!" Ivanka menjerit kaget saat seluruh rumah mendadak gelap gulita. Seberkas cahaya menyala dari ujung korek mang Sarif.
"Ada genset neng, ayo ikut. Siapa tau Mamang lagi nggak ada di rumah, mamang kasih tau letak gensetnya, pas disamping pintu."
Rumah itu letaknya agak tinggi dari permukaan tanah disekitarnya. Mereka berdua harus turun menentang angin dan hujan.
"Nyalakan koreknya neng, mamang mau narik gensetnya."
Ivanka menurut. Separuh tubuhnya basah karena angin kencang membawa air hujan ke arah mereka berdiri.
Rumah kembali terang-benderang.
"Nyalakan lampu seperlunya aja neng supaya hemat genset."
Ivanka mengangguk.
Pencarian titik bocor dilanjutkan. Ada dua titik di lorong, di sudut ruang tengah dan rembesan di dinding. Selain itu tak ada lagi.
"Besok pagi kalau nggak hujan langsung mamang baikin."
Ivanka hanya bisa mengangguk lagi. Ia bergidik melihat mang Sarif mengenakan jas hujan putih beserta tudungnya yang membuat ia teringat pada pocong gentayangan! Gadis itu menarik napas dalam-dalam, menutup pintu lalu menguncinya.
Napasnya menghembus kasar. Ia malas membongkar koper namun pakaiannya basah jadi terpaksalah ia membuka pengunci kopernya lalu membukanya ditengah kamar. "Ya salaaam.... jendelanya nggak ada gordennya." keluh Ivanka. Makin malas saja ia menenteng pakaian gantinya menuju ke kamar mandi.
Gadis itu menatap pintu kamar mandi dengan dada berdebar. "Kenapa rasanya jadi horror begini sih?" desisnya kepada diri sendiri. Ia membayangkan sosok perempuan berambut panjang menggantung di tengah kamar mandi begitu ia membuka pintu atau... perempuan berpakaian serba putih berhias bercak darah berdiri disudut kamar mandi, ugh!
Ivanka mundur, urung membuka pintu kamar mandi. "Gimana kalau aku mau pipis? Astaga... apa iya aku harus pipis di baskom dan baru dibuag ke kamar mandi kalau mas Elang datang?" Ivanka mengeluarkan handphone. Ia tak tahan lagi.
Gadis itu mondar-mandir di ruang tengah yang jendelanya telah tertutup gorden, menunggu panggilannya diangkat oleh sang suami.
"Halo?" suara berat Elang begitu dingin dan kaku.
Namun Ivanka bahagia sekali mendengarnya. "Pulang sekarang mas, please... please... aku nggak berani ke kamar mandi." Ivanka langsung terisak-isak. "Pulang mas... pulang." rengeknya persis balita yang meminta ayahnya untuk pulang.
"Aku sedang bekerja, yang bener aja!" desis Elang. Lagi pula ini baru jam 3, masih siang. Apa yang kamu takutkan?"
"Gelapnya kayak tengah malam mas. Mati lampu lagi. Memangnya disana nggak ujan?" di antara isaknya Ivanka mencoba menawar.
"Terus? Kamu menyuruhku menerjang badai cuma untuk menemanimu ke kamar mandi? Aku tau kamu bakal jadi beban, bikin susah tapi nggak nyangka kalau secepat ini kamu sudah menyusahkan." Elang mendengus.
Tangisan Ivanka makin menjadi.
Lelaki itu membuang napas kasar. "Ya sudah, stop crying!" sentaknya seraya berdiri dari kursinya, keluar dari ruang kerjanya. "Silva, aku ada urusan sebentar kalau pak Sastro datang, minta dia menunggu."
Wanita itu mengangguk. "Siap pak."
Di kantornya, selain Elang sebagai pimpinan, ada Silva sekretarisnya, bu Atik di bagian keuangan dan pengadaan barang, beberapa staff legal dan administrasi. Memang tak banyak orang karena setiap orang meiliki tugas rangkap. Semua staff yang satu atap dengannya ia bawa dari Jakarta untuk mengurusi pembangunan resort ini.
Jadi sebenarnya mudah saja baginya untuk meninggalkan kantor. Ia saja yang malas berada di rumah bersama Ivanka. Elang memacu mobilnya menembus hujan angin yang diperparah oleh posisi mereka yag tak terlalu jauh dari laut.
Lelaki jangkung dan tegap itu berlari kecil menembus hujan saat sampai di pelataran rumah. Ia akan meminta mang Sarif menambah atap supaya dirinya nggak perlu kehujanan begini. "Ivanka!" sentaknya sambil menggedor ketika mendapati pintu utama terkunci. Elang berdiri tak sabar saat mendengar suara kunci diputar.
"Mas...." Ivanka menghambur memeluk erat tubuh sang suami begitu pintu membuka. Tak peduli bagian depan gaunnya ikut basah karena Elang baru saja terkena hujan.
"Ayo ke kamar mandi." Elang mendorong tubuh Ivanka yang melekat erat di tubuhnya bagai lintah. Ditariknya pergelangan tangan gadis itu menuju kamar mandi yang terletak di dekat dapur.
Ivanka menggigit bibir, matanya menatap takut-takut menyaksikan Elang membuka pintu kamar mandi yang gulita.
"Saklar lampu ada disamping pintu kamar mandi." Elang menatap tak suka kepada istrinya. Bibirnya membentuk garis ketus yang amat kentara. "Cepat."
"Iya. Nggak aku tutup rapat pintunya. Tungguin ya, mas jangan kemana-mana." Ivanka tersenyum manis.
"Makin banyak bicara makin lama. Aku ditunggu di kantor." Elang menyandar sebal.
"Iya mas." Ivanka sudah tenang melihat kamar mandi itu ternyata nggak menyeramkan. Dindingnya telah dikeramik begitu juga lantainya. Jadi ia hanya mengganti pakaiannya saja. "Bajuku tadi basah karena ikut mang Sarif menyalakan genset diluar. Bisa nggak gensetnya dipindahkan ke dalam aja jadi kalau kapan-kapan mati lampu lagi aku nggak perlu keluar rumah?"
Elang berdecak. "Itu diletakkan diluar supaya mang Sarif nggak masuk kesini kalau perlu menyalakan genset. Kamu hanya perlu meneleponnya."
"Ohh... oke." Ivanka mengekori Elang. "Mau kemana mas?"
"Ke kantor. Urusanmu sudah selesai kan?"
"Masih hujan mas." Ivanka menengadah. "Tunggu sebentar lagi, aku masakin ya. Mas belum makan apa-apa kan? Aku juga belum. Tadi di dapur ada..." gadis itu terdiam.
Handphone Elang mendenging. Lelaki itu mengangkat sebelah tangannya sebagai isyarat supaya Ivanka menutup mulut. Sorot matanya yang dingin menghangat begitu melihat nama yang tertera di layar handphonenya.
.
.
.
to be continued
Suara everest Elang memasuki halaman.Iva terburu membawa pakaian itu ke belakang lalu menyambut sang suami. "Ada yang ketinggalan mas?" Sesuai dugaannya, Elang hanya melewatinya begitu saja tanpa kata. Entah apa yang diambil lelaki itu dari dalam kamar utama tapi sebentar saja Elang sudah pergi lagi. "Iya kamu punya kekasih mas." Iva berujar lirih sambil berdiri di pintu utama menatap kepergian sang suami untuk yang kedua kali.Tergesa Iva menuju ke kamarnya sendiri begitu everest itu hilang dari pandangan. Ia meraih handphone yang sejak semalam ia biarkan tergeletak disana. Jemarinya menekan nomor kontak mamanya. Sebentar saja ia sudah tersambung. Iva menarik napas panjang, memastikan suaranya terdengar ceria."Apa kabar Mama dan semua orang rumah?""Mama dan adik-adikmu baik Va tapi Papa enggak. Tadi malam papamu kena serangan lagi."Iva menggigit bibir bawahnya mendengar itu. Mata kirinya langsung menjatuhkan setetes air mata."Untung saja mertuamu langsung membantu, Papa langsu
Iva menunggu sang suami sampai jam 11 malam tapi tak ada tanda-tanda Elang akan pulang. Ia nekat menunggu diluar tapi tak sampai 5 menit sudah masuk kembali gara-gara sayup didengarnya suara burung hantu.Gadis itu meringkuk di sofa ruang tamu. Ia tergeragap bangun saat pintu dibuka. "Mas...!" Pekiknya, serta merta bangkit dari sofa.Tekadnya untuk menyingkirkan cinta terpendamnya kepada Elang buyar saat mereka berdekatan begini. Penuh kerinduan Ivanka menghambur memeluk lelaki itu. "Darimana aja mas? Kok jam segini baru pulang? Aku nggak berani di kamar jadi aku nungguin disini sampai ketiduran." Berondongnya tanpa titik koma. Kedua lengannya melingkar erat di pinggang Elang."Lepaskan, aku mau buka sepatu." Ucap lelaki itu dingin."Enggak, aku kangen." Iva nekat menempelkan pipinya di dada Elang. Hidungnya kembang kempis mencoba mencari aroma manis khas perempuan yang tertinggal disana tapi tak ada apa-apa.Kedua tangan Elang mencengkeram pinggang gadis itu, siap mendorongnya mundur
Beberapa kepala terangkat, menatap takjub pada sosok Ivanka yang tengah tersenyum manis."Saya mau melamar menjadi guru.""Wah kebetulan bu, sekolah memang kekurangan guru. Ada beberapa posisi yang kosong." Seorang lelaki berkemeja batik mengajak Ivanka mengikutinya hingga ke depan meja yang berada di ujung ruangan. Meja di ujung itu paling besar dan paling bersih. "Ini meja bagian kepegawaian bu. Sebentar ya, duduk dulu."Ivanka mengangguk ia memangku tote bag-nya sambil mengedarkan pandang. Suasana begitu asri dan dingin di dalam situ walaupun hanya ada satu unit kipas angin yang ada di tengah-tengah ruangan. Bukan hanya soal asri saja tapi sambutan guru-guru yang ada di ruangan itu juga begitu hangat dan ramah. Belum apa-apa ia sudah merasa betah. Semoga saja ia diterima dan setelah diterima nanti perlakuan orang-orang ini tetap baik kepadanya. Begitu pemikirannya.Tekadnya untuk memadamkan perasaannya kepada Elang sudah bulat. Kalau hanya karena belum cinta, ia akan sabar menungg
Kelopak mata Ivanka mengerjap kaget saat pintu dibanting tepat dimukanya. Ia mengurut dada. Beberapa saat lamanya ia mematung di depan pintu. "Aku panggil lagi kalau airnya udah siap ya mas!" serunya belum menyerah namun suaranya sudah berubah sendu.Tak ada jawaban dari dalam kamar utama.Gadis itu tak menunggu lama. Ia beranjak ke dapur untuk menjerang air. Sambil menunggu air mendidih, Ivanka menatap kaca jendela dapur. Diluar sudah gelap gulita. Satu-satunya pendar cahaya berasal dari rumah keluarga mang Sarif. Ia mematikan kompor lalu bergegas menuju ke depan karena mendengar suara pintu membuka.Elang telah berganti pakaian. Kemejanya berganti polo shirt warna putih sementara celana bahannya berganti jins hitam."Mau kemana mas?" Gadis itu tergesa mendekat."Not your business." Lelaki itu berhenti. "Aku dengar kamu guru SD sewaktu belum menikah denganku?"Ivanka mengangguk bingung dengan pertanyaan yang tiba-tiba itu. "Iya aku...""Berarti kamu bisa mengerti apa yang aku katakan
"Siapa mas?"Elang menerima panggilan itu. "Halo Ma, gimana kondisi mama?" Ia tau mamanya yang tengah sakit sudah memaksakan diri demi acara pernikahannya. Salah satu alasan lain Elang terburu keluar dari rumah adalah itu. Ia ingin rumah segera sepi sehingga Mamanya bisa beristirahat. "Aku baik Ma, iya, ini lagi bersama Ivanka. Mama mau bicara?"Binar dimata Ivanka berkilauan saat menerima benda pipih itu dari suaminya. "Halo Ma." sapanya dengan hati diliputi kehangatan. Ia melirik Elang yang memilih duduk di sofa ruang tamu, mengeluarkan handphone lain lalu sibuk menggulir layar, membiarkannya bicara panjang lebar.Sambil bicara, Ivanka menatap lelaki itu. Senyumnya merekah. Rasanya masih tak percaya kalau sekarang ia berhak atas lelaki itu. Elang Rajendra adalah miliknya!"Iya Ma, tempatnya sejuk, asri, enak kok." Ivanka menenangkan kekhawatiran Mama mertua yang tertangkap oleh telinganya. "Sekarang lagi hujan deras. Mas Elang pulang untuk menemani." katanya bahagia. "Jakarta hujan
Hujan turun dengan deras disertai kilat dan guntur.Ivanka menjauh dari jendela. "Mas… kamu dimana?” desisnya dilanda takut.Kaca jendela mendadak terang benderang. Begitu pula halaman samping yang gelap oleh kelabunya langit. Pohon besar diluar sana terlihat meliuk kencang. Anehnya, semakin menakutkan Ivanka justru makin tak dapat mengalihkan pandang padahal tubuhnya sudah mundur beberapa langkah.Sosok terbalut pakaian serba putih berada ditengah hujan dan angin kencang.Napas Ivanka tercekat.Sosok itu mendekat dengan amat cepat, berlari menghampiri jendela kamarnya.Gadis itu tak dapat lagi menahan ketakutannya. "Aaaaarrgghhh!!!" Ivanka menjerit keras, serta merta berjongkok disamping ranjang, memeluk lututnya kencang-kencang.Jendelanya diketuk keras. "Neng! Neng buka pintunya neng, rumah ini ada bocornya nggak?"Suara itu tidak jelas tapi samar-sama ia mendengar orang bicara. Pelan sekali mengangkat muka. "Arghh!!" Ivanka ngos-ngosan menahan debur jantung dan ketakutannya saat m







