LOGINDududu... syalala
Serayu memeluk suaminya erat, membenamkan wajah di dada bidang itu. Sementara Abra mengecup lama puncak kepalanya dengan penuh sayang. Tubuh polos mereka masih terbungkus selimut, menyisakan jejak lelah setelah saling berbagi kasih.Keheningan yang nyaman menyelimuti kamar hingga akhirnya Serayu bersuara pelan."Mas, ngantuk nggak?"Abra yang sedari tadi memejamkan mata menjawab, "Belum. Kenapa?"Serayu berbisik dengan nada manja. "Lapar, Mas."Seketika Abra membuka kedua matanya dan menunduk menatap istrinya."Kamu lapar?"Serayu mengangguk kecil."Mau dimasakin apa?"Abra sudah bisa menebak isi dapur mereka. Hampir semua makanan malam tadi sudah habis tanpa sisa."Mie rebus."Jawaban itu membuat wajah Abra seketika datar. Melihat reaksinya, Serayu hanya meringis sambil tersenyum bersalah."Spaghetti?" tawar Abra.Serayu menggeleng."Ramen?"Jawaban Serayu masih berupa gelengan."Mie rebus biasa aja. Pakai telur setengah matang," pinta Serayu sambil memamerkan deretan giginya yang rap
“Malam masih sangat panjang ‘kan, Sayang?”Keduanya melempar tertawa kecil. Abra mengangkat Serayu dalam menggendongnya ala bride, lalu menautkan kening dan hidung mereka dengan penuh sayang.Namun, saat hendak melangkah, Abra mendadak menghentikan langkahnya. Di ambang pintu, Aksa berdiri sambil menundukkan kepala.Serayu ikut menoleh, mengikuti arah pandang suaminya. Ia lupa masih ada satu orang lagi yang belum pulang."Kamu bisa langsung pulang," ujar Abra.Serayu sempat berusaha turun dari gendongan, tetapi Abra justru mengeratkan pelukannya. Mau tak mau, Serayu hanya bisa menyembunyikan wajahnya yang memerah di dada bidang sang suami."Semua sudah saya bersihkan dan rapikan, Pak. Bibi juga sudah menyelesaikan pekerjaannya dan bersiap beristirahat. Kalau sudah tidak ada lagi yang diperlukan, saya izin pamit," lapor Aksa."Ya, silakan. Terima kasih."Aksa mengangguk, lalu mengalihkan pandangannya kepada Serayu. Senyum tipis tersungging di sudut bibirnya."Bu, saya pamit."Nada suara
"Di Bandung cuma sebentar. Besok mau keliling dulu, lusa lanjut ke Surabaya," ujar Nanda, teman lama Abra.Abra mengangguk paham."Aku sama Abra sudah punya buntut. Mana istrimu, Ryan?""Masih on the way," jawab Ryan santai.Nanda terkekeh geli, lalu mengalihkan pandangannya kepada Abra."Iya… tapi jujur saja, dulu aku kira yang bakal kamu nikahi itu Aileen.”Abra membalik potongan daging di atas panggangan tanpa mengangkat kepala."Dan ternyata kamu salah," balasnya datar.Nanda terkekeh kecil."Serius, kenapa bisa? Kalian dulu best couple, lho."Sejenak suasana hening. Ryan memilih diam, sementara Abra tetap fokus pada daging yang mulai matang."Takdir," jawabnya singkat."Sepertinya istrimu lebih muda dari kita, ya?""Hmm,” balas Abra.Jawaban itu terdengar singkat. Bukan karena Abra enggan. Memang begitulah dirinya sejak dulu, seperlunya saja jika bicara. Tepatnya saat tak ada lagi yang bisa ia percaya selain dirinya sendiri.Di sisi lain, Serayu yang sedang mendengar percakapan i
“Mas, malam nanti jadi, kan?” tanya Serayu melalui sambungan telepon. “Jadi, Sayang. Kamu nggak perlu repot-repot. Biar Bibi yang menyiapkan semuanya, dibantu Aksa.” “Tuan rumahnya siapa, sih? Saya atau Mas Aksa?” “Mas jemput kamu nanti. Kabari lagi kalau sudah selesai jam berapanya, ya,” balas Abra, sengaja mengabaikan pertanyaan istrinya. “Mengalihkan pembicaraan…,” gerutu Serayu pelan, membuat Abra tersenyum di seberang sana. “Tentu saja kamu,” jawab Abra meski terlambat. “Maksud Mas, keberadaan Aksa itu supaya kamu nggak kelelahan. Itu saja. Lagian tamunya juga bukan tamu yang harus disambut secara berlebihan. Tidak sespecial itu.” Malam ini Ryan akan berkunjung setelah menyelesaikan tugasnya sebagai dokter relawan. Tujuannya tapi bukan untuk bertemu Abra, melainkan melihat Satria. Selain Ryan, ada seorang teman kuliah mereka yang kebetulan sedang berlibur ke Bandung dan ingin mampir untuk reuni kecil sekaligus bertemu buah hati mereka. “Ada anaknya teman Mas juga, kan? Bole
Seperti yang sudah Riani duga, Serayu ternyata belum makan malam. Riani langsung menyuruh Abra dan Serayu segera membersihkan diri sebelum makan malam. Usai membersihkan diri, Serayu menoleh ke arah suaminya yang sedang mengeringkan rambutnya dari pantulan cermin. "Kayaknya mood Mama lagi kurang bagus. Mas harus sabar, ya," ucapnya pelan. Abra menghentikan gerakan tangannya sejenak lalu menatap sang istri. "Mama memang selalu begitu kalau ada yang tidak sesuai dengan keinginannya. Kalau yang ditegur cuma Mas, Mas tidak ambil pusing. Tapi Mas tidak suka kalau yang diusik itu kamu." Serayu mengulas senyum kecil. "Aduh... suamiku ini," godanya. "Makin hari makin cinta masa." "Saya serius. Jangan minta saya diam kalau Mama mulai menyudutkan kamu." Serayu menggeleng pelan. "Saya nggak merasa disudutkan, kok, Mas. Justru sekarang saya makin paham Mama. Bohong kalau kadang saya nggak baper, tapi saya juga bisa memakluminya." Tatapan Abra perlahan melembut. Tangannya mengus
“Dokter Ezra bilang… dia ingin mencoba mengenal Amalia lebih dekat,” kata Serayu pada Abra. Saat itu mereka tengah dalam perjalanan pulang. Abra baru saja menjemput sang istri sepulang kerja, sementara Serayu menceritakan perkembangan hubungan Amalia. “Cih, coba-coba. Seenaknya saja,” gerutu Abra. “Mas, jangan ikut campur, ya. Pokoknya jangan,” tekan Serayu. “Biarin sih mereka berusaha sendiri.” “Kalau niatnya baik, ya, seriusinlah. Menjalin hubungan bukan ajang coba-coba, Sayang,” sahut Abra. “Lalu apa bedanya dengan kita? Dulu kita malah menikah karena terpaksa.” “Tapi saya tidak pernah menganggap pernikahan kita sebagai percobaan. Sejak awal saya menerima kamu dan pernikahan ini,” bela Abra. “Iya... tetap saja awalnya ada perjanjian. Istri kontrak dokter arogan,” goda Serayu. “Bukan istri kontrak dokter arogan,” bantah Abra cepat. Serayu hanya menggeleng sambil tersenyum tipis melihat kesungguhan suaminya. “Saya serius, loh, Mas. Jangan ikut campur.” “Iya, say







