LOGINDududu... syalala
“Satria Pradipta Wijaya.” Nama itu terucap pelan dari bibir Serayu yang tengah menatap bayi mungil yang terbaring tenang di dalam boks. Dadanya terasa hangat setiap kali memandang wajah kecil itu. Putranya. Jujur saja, ia sudah tidak sabar ingin menggendongnya. Namun setiap kali mencoba bergerak sedikit, nyeri di perut bekas operasinya kembali mengingatkan bahwa tubuhnya masih dalam proses pemulihan. “Benar,” gumam Serayu sambil tersenyum. “Dia tampan, Mas.” Pandangannya beralih pada Abra, lalu kembali pada bayi mereka. “Ini yang sembilan bulan lalu ada di dalam perutku, Mas?” Nada suaranya terdengar takjub, seolah masih sulit mempercayai keajaiban yang kini berada di depan matanya. Abra tersenyum kecil. Tangannya terangkat mengusap rambut Serayu yang sedikit berantakan, lalu mengecup puncak kepalanya dengan penuh sayang. “Iya. Anak kita.” Ibu yang berdiri di samping ranjang ikut tersenyum. Rasanya sudah lama sekali beliau tidak melihat kebahagiaan seterang itu di mata putr
Ibu dan Ayah berada di kamar khusus keluarga pasien. Keduanya memilih menginap di rumah sakit, ingin tetap berada di dekat anak satu-satunya, menjaganya. Ruangan perawatan Serayu yang luas terasa hening, tapi tidak membuat Abra merasa kesunyian. Bayi mereka masih berada di ruang perawatan. Masih ada beberapa prosedur yang harus dijalani sebelum benar-benar dipindahkan ke ruang yang sama dengan ibunya. Dini hari itu, Abra masih terjaga. Sejak tadi ia hanya duduk di sisi ranjang Serayu yang masih berada dalam pengaruh obat bius. Wajah perempuan itu tampak lelah, tapi tenang. Tangan kiri Abra tak pernah lepas menggenggam tangan sang istri. Sesekali ia mengecupnya pelan. Di ruang operasi tadi, ia bahkan tidak merasakan apa pun pada tangan kanannya. Namun ketika semuanya mulai tenang seperti ini, nyeri itu perlahan merambat kembali menjalar pelan. Padahal tadi ia yakin tidak banyak menggunakan tangan kanannya. Abra perlahan merebahkan kepalanya di tepi ranjang Serayu. Berdek
"Keduanya." Jawaban itu keluar begitu saja dari bibir Abra. Sang dokter menatapnya lama. Untuk pertama kalinya, ia melihat Abra yang berbeda. Tidak ada sikap arogan dan tatapan dingin seperti biasa. Yang ada hanya seorang suami yang sedang dipenuhi kekhawatiran. "Tolong, Dok. Keduanya." "Dokter Abra…,” panggil sang dokter hati-hati, mempertanyakan pilihannya. Abra memejamkan mata sejenak. Lalu, membuka mata melirik istrinya yang terbaring di sana. "Istri saya." Kalimat itu terasa berat keluar dari tenggorokannya. "Selamatkan istri saya, Dok." Kali ini suaranya mantap. Jika takdir memaksanya memilih, maka ia memilih Serayu. Dokter mengangguk pelan sebelum kembali fokus pada tindakan. “Saya tetap akan melakukan yang terbaik.” Operasi dimulai. Abra ikut berada di dalam ruang operasi. Bertahun-tahun bekerja di ruang operasi membuatnya terbiasa menghadapi situasi paling kritis sekalipun. Ia pernah berdiri berjam-jam melakukan tindakan tanpa merasakan waktu berjalan
"Itu sudah cukup bagus Amalia. So proud of you,” kata Ezra yang sedang diskusi dengan Amalia melalui sambungan telepon.“Terima kasih ya, Dok… udah mau berbagi ilmunya.”“Sama-sama. Bagaimana keadaan di sana?”"Masih kewalahan," jawab Amalia sambil menghela napas. "Obat-obatan mulai menipis. Eh, ini di camp-ku ya. Loh, kok aku?” koreksi Amalia.“It’s okay. Senyamannya kamu aja.”Amalia meringis di seberang sana.“Ya, jadi gitu, Dok. Tim logistik minta pengiriman tambahan besok pagi. Aku ikut ke kota lagi.”“Lagi?” tanya Ezra.Dari percakapan itulah Ezra mengetahui bahwa Amalia sempat bertemu dengan Abra di kota. Ceritanya tidak terlalu rinci. Ia hanya menangkap bahwa Abra baru berangkat menuju Bandung hari ini karena masih harus mengurus beberapa hal di kota.Ezra ikut menceritakan kejadian yang menimpa Serayu siang tadi. Amalia langsung terkejut dan cemas saat mendengar kondisi Serayu.Amalia cemas Abra tidak bisa tiba tepat waktu, mengingat jarak tempuh yang membentang.Kekhawatiran
Lelaki itu memang Ezra. Ia masih mengenakan kemeja kerja yang lengannya tergulung seadanya. Wajahnya terlihat lelah, tetapi sorot matanya dipenuhi kecemasan yang sulit disembunyikan. “Dokter Ezra,” sapa Aksa membuat Ezra tersentak saat menoleh. Ia sedikit salah tingkah melihat keberadaan Aksa. “Mas Aksa,” balasnya menyapa. "Ada sesuatu yang membawa Dokter ke sini?" tanya Aksa tanpa basa-basi. Ezra tampak sedikit terkejut mendapat pertanyaan itu. "Saya... saya mau menjenguk sepupu saya yang dirawat di sini." "Oh ya?" Aksa mengangguk pelan. "Di lantai berapa?" Untuk sesaat Ezra terdiam. "Saya harus menghubungi keluarganya dulu." Jawaban itu membuat Aksa menatapnya beberapa detik lebih lama. Seolah mencoba membaca sesuatu di balik raut wajah lelaki di hadapannya. Namun akhirnya ia hanya mengangguk. "Mau menunggu di kafetaria saja?" "Boleh." Keduanya berjalan menuju meja yang Ezra duduki tadi. Setelah beberapa saat hening usai memesan minuman, Ezra membuka percaka
Serayu menarik tangannya dari genggaman Ezra. Genggaman dokter itu terasa lebih erat dari sebelumnya. Saat menatap wajahnya, Serayu baru menyadari bahwa Ezra tampak sama paniknya dengan Riani. "Tidak perlu, Dok. Kami bersama sopir." "Memangnya sopirmu masih menunggu?" Kali ini Riani yang bertanya. Nada suaranya penuh kekhawatiran. Serayu mengangguk pelan. Ia sudah jauh lebih tenang karena tidak ada lagi cairan yang mengalir. "Mamang nggak mungkin meninggalkan saya, Ma." Senyum tipis muncul di bibirnya. "Kalau pun nggak di parkiran depan, paling beliau lagi ngopi di sekitar sini. Saya telepon saja. Lagian semua perlengkapan bayi dan kebutuhan saya sudah ada di mobil." Semua perlengkapan lahiran sudah standby di mobil sejak beberapa hari lalu. Suara Serayu terdengar begitu tenang hingga sedikit meredakan kepanikan di ruangan itu. "Dok, lantainya..." Ia menunjuk genangan cairan yang masih terlihat di lantai. Ezra menggeleng. "Nggak apa-apa. Saya bisa panggil OB." L
Ara menyentuh pelipisnya, jari-jarinya sedikit gemetar meski napasnya sudah jauh lebih teratur dibanding beberapa menit lalu. “Dok… bisa ke RS Husada saja?” pintanya pelan, suaranya terdengar lebih stabil. “Saya sudah lebih baik. Di sana ada kenalan saya.” Abra melirik sekilas, memastikan perempua
Tidak dibenci oleh Riani, tapi mertuanya hanya malu memiliki menantu miskin. Nyatanya Itu bukan penolakan terhadap Serayu, tapi pengakuan atas luka Riani yang belum sembuh di masa lalu. Abra meminta Serayu untuk tidak memikirkan hal itu lagi. Tidak perlu memikirkan apa yang Riani katakan. *** Ha
“Siapa, Mas?” tanya Serayu begitu Abra masuk ke dalam mobil. “Serius sekali.” Abra tidak menjawab. Ia hanya tersenyum kaku, lalu mengusap puncak kepala kesayangannya. Setelah itu, ia pun menyalakan mesin mobil. “Kita berangkat sekarang ya,” katanya, jelas sekali mengalihkan pembicaraan. Serayu
Serayu duduk di depan meja rias memoles wajahnya tipis. Sementara Abra menatap istrinya dengan tatapan tak suka. “Mau tugas apa mau ngapain kamu?” tanya Abra sinis. Hari ini akhirnya tiba, hari pertama internship yang sudah lama Serayu tunggu. “Ayo, Mas. Saya sudah siap,” ajaknya sambil meraih le







