MasukAbra melangkah pergi tanpa satu kata pun. Meninggalkan Serayu berdiri sendiri, dengan hati yang kembali bergetar entah karena rasa takut atas kejadian tadi atau kecewa melihat langkah lelaki tersebut.
Hari demi hari berlalu dengan canggung. Serayu masih berusaha menjaga jarak dari Abra, juga Abra yang merasa aneh dengan sikap Serayu, tapi tak bisa berbuat banyak.
“Katanya dokter Meta mau resign dan penggantinya sudah ada,” ujar salah seorang rekan saat mereka beriringan menuju lobi rumah sakit hari itu.
Serayu mengangguk pelan. Ia baru saja menuntaskan stase Ilmu Kesehatan Anak, sehingga kabar itu membuatnya ikut merasa kehilangan dokter spesialis anak yang selama ini membimbingnya.
“Katanya juga … dokter barunya cantik,” lanjut rekannya, membuat Serayu terkekeh kecil. Tentu saja, karena yang bicara adalah rekan lelaki. Beberapa teman lain ikut bersorak menggoda.
“Cewek cantik aja cepat banget tanggapannya, ya!” candaan itu mengundang tawa singkat sebelum akhirnya mereka terpisah di depan pintu utama.
Serayu menghentikan langkahnya. Sebenarnya ia malas pulang. Sekilas ia berpikir, apa sebaiknya ia sukarela mengambil jaga tambahan saja supaya tidak perlu kembali ke apartemen malam ini?
Larut dalam lamunannya, Serayu tersentak ketika suara tegas menyapanya.
“Pulang dengan saya,” titah Abra, berlalu tanpa menoleh.
Serayu ingin menolak, tapi lelaki itu sudah berjalan menjauh. Terpaksa, ia mempercepat langkah dan masuk ke mobil Abra setelah memastikan sekitar cukup sepi.
Begitu duduk di dalam, hawa dingin di mobil itu menusuk hingga membuatnya merapatkan tubuh. Bukan karena AC mobil, melainkan pembawaan lelaki di sampingnya. Mobil pun melaju meninggalkan halaman rumah sakit, keheningan menutup rapat keduanya sampai kendaraan berhenti di lampu merah.
“Mama mengundang kita makan malam di rumah malam ini,” ucap Abra datar tanpa menoleh sedikit pun.
Serayu terdiam. Drama apa lagi yang menantinya kali ini?
____
Ruang makan keluarga besar itu hangat, tapi dada Serayu tetap sesak. Ia duduk di samping Abra, berusaha tersenyum setiap kali ada yang menatapnya. Suara tawa dan piring beradu justru membuatnya merasa makin asing.
Saat ia baru saja duduk, salah satu bibi mencondongkan tubuh. “Serayu, kamu cantik sekali malam ini. Cocok dampingi Abra.”
Serayu tersenyum kecil. “Terima kasih, Bi. Saya—”
“Cantik sih cantik,” potong Riani cepat, nadanya kering. “Tapi lain kali pilih warna yang lebih formal. Acara keluarga besar itu bukan tempat eksperimen gaya.”
Ujung senyum Serayu merosot sedikit, tapi ia hanya mengangguk. “Baik, Bu.”
Riani sudah memalingkan wajah, seakan ucapannya tidak penting dibalas.
Tatapan Serayu lalu terhenti ketika seseorang masuk—dokter Sedanu. Ia menyapa para tetua, kemudian menoleh padanya sambil tersenyum tenang. Jantung Serayu mencelos.
‘Kenapa dia ada di sini?’ bisik hati Serayu.
Sedanu masih menatapnya, seolah membaca kegugupannya. Serayu meremas serbet di pangkuan, menunduk cepat.
“Tak lama lagi, Abra akan dilantik menjadi pemilik rumah sakit. Proud of you,” ujar salah satu paman. Seketika semua menoleh pada Abra dengan bangga.
Abra tersenyum tipis. Dari dekat, Serayu melihat rahangnya mengeras—ekspresi yang ia kenal betul.
Serayu menatap piringnya supaya tidak perlu melihat reaksi Riani. Ia bisa merasakan pandangan wanita itu menusuknya sejak tadi.
Sebagai balasan pada tatapan keluarga lain, Abra meraih tangannya. Hangat tapi hampa. Hanya bagian dari sandiwara.
Setelah beberapa saat, Serayu pamit mengambil minum. Ia butuh napas. Saat berjalan, ia melihat Riani tertawa akrab bersama para wanita lain—semua tampak begitu menyatu. Tidak seperti dirinya.
Langkahnya terhenti ketika tanpa sengaja bertemu pandang dengan Sedanu dari seberang ruangan. Tatapan pria itu tenang namun terasa menembus façade yang ia tahan. Serayu buru-buru menunduk, tenggorokannya mengering.
Serayu mempercepat langkah menuju meja prasmanan, berharap tidak ada yang memperhatikan betapa kecil dirinya terasa di tengah keluarga yang tidak pernah benar-benar menerimanya.
Hingga suara yang familiar membuat jantungnya nyaris meloncat.
“Kenapa muka kamu seperti itu? Seolah kita tidak saling mengenal saja,” goda Sedanu sambil tersenyum. Ia lebih dulu meraih gelas yang hendak disentuh Serayu, lalu menyodorkannya pada wanita itu.
Serayu kaku. Ia takut sekali. Tidak seorang pun di rumah sakit tempat mereka bertugas tahu kalau dirinya adalah istri sah Abra. Perjanjian pernikahan mereka melarangnya bicara jika tidak diperlukan.
Sedanu seolah membaca kebisuannya, lalu berkata, “Saya akan anggap alasan kalian menyembunyikan pernikahan ini demi profesionalitas di rumah sakit, benar begitu?”
Serayu menelan ludah, lalu cepat mengangguk membenarkan. Bibirnya kaku, tapi setidaknya kalimat itu sedikit melegakan.
Sedanu tertawa kecil, lalu mencondongkan tubuhnya sedikit. “Tenang saja, rahasia kamu aman di saya. Buktinya, meski saya sudah tahu sejak awal, tetap saya simpan rapat-rapat.” Tatapannya hangat, seolah memberi jaminan.
Mata Serayu sedikit membulat. “Se—sejak awal?”
Sedanu mengangguk seraya tersenyum.
Sedanu meminta Serayu melakukan hal yang sama, tidak membongkar identitasnya sebagai sepupu Abra. Tentu saja Serayu langsung setuju.
“Kamu harus traktir saya karena sudah menjaga rahasia besar ini dengan baik,” ujar Sedanu sambil mengedipkan mata dengan senyum jahil.
Keduanya sempat tertawa kecil, tanpa menyadari sepasang mata di kejauhan tengah menatap tajam ke arah mereka, diliputi kesal karena tak bisa mendengar percakapan itu.
Suasana makan malam yang awalnya tegang mendadak menjadi sedikit lebih ringan bagi Serayu. Setidaknya, ada satu orang yang ia kenal dan diam-diam membantunya lebih nyaman di tengah keluarga besar Wijaya.
Usai makan malam di rumah keluarga besar, dalam perjalanan pulang suasana hati Serayu masih penuh kikuk. Ia duduk di kursi penumpang, menatap jalanan malam yang remang, sementara Abra fokus mengemudi tanpa banyak bicara.
“Selamat atas jabatan barunya,” lirih Serayu, berusaha memecah keheningan.
Abra yang sejak tadi sibuk dengan pikirannya sendiri hanya menoleh sekilas, tatapannya dingin.
“Belum dilantik,” balasnya singkat, membuat suasana kembali kikuk.
Tiba-tiba ponselnya berdering. Sama seperti kemarin, nomor tak tersimpan muncul di layar. Serayu tercekat, wajahnya panas ketika melihat foto kontak yang kini tampak lebih jelas dari sebelumnya.
Cantik. Wanita di balik panggilan itu benar-benar cantik.
Abra melirik sekilas, lalu dengan santai menekan tombol merah. Tanpa sepatah kata pun, ia melanjutkan laju mobil.
Serayu menunduk, menahan sesak yang perlahan merayap di dadanya. Namun, tidak lama kemudian, ponsel itu kembali berdering.
Kali ini, belum sempat serayu menoleh, Abra langsung meraih ponselnya, mengangkat panggilan tanpa ragu. Nada bicaranya singkat, datar, dan dingin. “Saya segera datang.”
Beberapa detik kemudian, mobil menepi di halte yang sepi. Abra menoleh sebentar pada Serayu.
“Saya ada urusan penting. Turunlah di sini,” ucapnya tergesa, tanpa memberi ruang untuk menjelaskan.
Serayu membeku.
“Eh?” tanyanya pelan, tak percaya, matanya menatap sekitar yang asing.
“Kamu bisa pesan taksi dan langsung pulang,” titah Abra dingin.
Serayu tercengang, tidak menyangka diperlakukan begitu. “Tapi ….”
Namun, tatapan tegas Abra membuat Seratu tak punya pilihan. Dengan perasaan yang sulit dijelaskan, Serayu akhirnya membuka pintu dan melangkah turun ke trotoar.
Mobil Abra pun melaju pergi meninggalkannya begitu saja.
Serayu berdiri kaku sejenak, tertawa getir, lalu membuang pandangannya kesal.
Tak lama setelah itu, butiran hujan mulai jatuh, deras, menghantam aspal dan pundaknya yang rapuh.
Serayu berdiri di halte, merangkul kesepian di bawah cahaya lampu jalan yang temaram. Jemarinya cekatan membuka aplikasi, berulang kali mencoba memesan taksi online. Namun, layar ponsel hanya menampilkan status mencari driver tanpa hasil.
Tidak ada satu pun yang menerima orderannya, seakan malam itu pun ikut bersekongkol menambah sepinya.
Hingga sebuah mobil berhenti di depannya. Dari balik pintu yang terbuka, Sedanu keluar dengan payung di tangannya dan tatapan penuh khawatir.
“Kenapa sendirian di sini?” tanyanya lembut, sambil mengangkat payung untuk melindungi Serayu.
Ealah ... dokter satu itu, si maha tega ~_~
Tentu saja Abra tidak menyukai apa yang ia lihat. Lama ia menatap layar ponselnya, rahangnya mengeras pelan sebelum akhirnya ia mengetik sebuah pesan.“Saya mau ketemu,” tulisnya.Pesan itu ia kirim pada seseorang. Balasannya datang lebih cepat dari yang ia perkirakan.“Bisa saja. Kapan?”***Keesokan harinya …Pagi sekali Abra sudah kembali. Ia langsung menuju apartemen, meski tahu istrinya belum pulang. Dari rumah, ia melanjutkan pekerjaannya. Di sela waktu yang ada, ia bahkan menyiapkan makan malam untuk mereka. Ia juga menyiapkan hal-hal kecil untuk melihat senyum istrinya.Seharian Serayu tenggelam dalam kesibukan di rumah sakit. Menjelang sore, ia berdiri menunggu sopir menjemput. Namun pandangannya terhenti ketika melihat mobil Abra terparkir sedikit menjauh. Lelaki itu berdiri di samping mobilnya.Serayu terkejut lalu wajahnya berbinar. Ia berjalan cepat menghampiri setelah berpamitan pada rekan-rekannya.“Mas? Kok nggak bilang mau jemput?”“Sengaja. Mau lihat wajah girang kam
Sedanu keluar dari mobil untuk menyapa Ara yang menyunggingkan senyum kecil. Amalia sebelumnya sudah menyampaikan rencana sore itu, berburu makanan di kafe baru yang sedang ramai dibicarakan.“Di dalam ada dua temanku,” ujar Sedanu ketika Ara mendekat.Wajah Ara sempat berubah tipis saat melihat kursi depan sudah ditempati seorang lelaki. Sedanu membukakan pintu belakang tepat di belakang kursi kemudi.Wanita itu masuk dan kembali tersenyum kecil ketika menyadari dua dokter yang duduk di dalam mobil. Tidak akrab, tetapi mereka pernah bertemu dan saling bertegur sapa.Sepanjang perjalanan tidak canggung, tapi Ara memilih lebih banyak diam. Sesekali Sedanu mengajaknya berbicara dan ia hanya menjawab seperlunya.Kini mobil Sedanu sudah terparkir di depan kafe. Lagi-lagi, lelaki itu membukakan pintu untuk Ara lalu berjalan berdampingan memasuki kafe.Mereka masuk bersamaan. Ara tersenyum saat melihat Amalia melambaikan tangan. Namun senyum itu perlahan memudar ketika matanya menangkap sos
“Mau makan dulu nggak sebelum pulang?” ajak Sedanu pada Ara begitu mereka berpisah dari Amalia. Ara terdiam sepersekian detik. Otaknya menolak, tapi hatinya justru mengiyakan. “Mobil kamu tinggal di klinik aja. Kita makan bareng. Pulangnya aku antar,” lanjut Sedanu.Nada suaranya tak memberi ruang untuk menolak. Tanpa menunggu jawaban, Sedanu meraih tangan Ara membawanya menuju mobil wanita itu.“Aku …”“Ketemu di sana, ya,” kata Sedanu lagi, melepaskan tangan itu saat mereka sampai.Ara akhirnya mengangguk. Sedanu sudah lebih dulu membukakan pintu untuknya. Sederhana, tapi cukup membuat dada Ara bergetar. Ia pun masuk ke dalam mobilnya.Sementara, di apartemen suasananya jauh berbeda.Serayu duduk bersandar di sofa kamarnya, semangat sekali saat bercerita. Ia menceritakan hari yang padat, pasien-pasiennya, juga pertemuan singkatnya dengan Amalia dan Sedanu di kafetaria rumah sakit.“Amalia niat banget, Mas. Sampai masak sendiri. Effort sekali sepupumu,” katanya terkekeh geli usai mema
Tangan Sedanu terulur tampak hendak menyentuh puncak kepala Serayu. Namun wanita itu refleks mundur setapak, menjaga jarak. “Saya cuma mau ambil sesuatu di rambut kamu,” kekeh Sedanu, mencoba mencairkan suasana. Serayu buru-buru merapikan rambutnya dengan jemari yang sedikit kaku. Ia lalu mengambil ponsel dari tasnya, menyalakan kamera depan dan mengarahkannya ke wajah sendiri. Dari pantulan layar, ia melihat helai tipis seperti benang kecil tersangkut di sela rambutnya. Sedanu memperhatikan, tatapannya jatuh pada wajah Serayu dalam-dalam. “Dok, jangan diambil hati, ya,” ucap Serayu, masih menatap layar ponselnya. Bukan ia tidak tahu Sedanu menatapnya terus. “Saya cuma nggak mau suami saya salah paham sama kedekatan kita. Padahal… kita juga nggak sedekat itu, kan?” Kalimat terakhirnya menggantung. Ia sempat melirik Sedanu sekilas sebelum kembali memastikan benang kecil itu terlepas. “Wah, sakit hati saya dengarnya. Ternyata kita nggak sedekat itu,” kekeh Sedanu, santai. Serayu m
Abra segera membawa Serayu menjauh dari suasana yang mendadak menegang itu. Tangannya tetap melingkar di pinggang istrinya hingga mereka tiba di mobil.Dari balik jendela, Serayu masih sempat melihat Sedanu dan Ara berdiri berhadapan. Ada kecanggungan di antara keduanya. Terlihat jeda untuk dua orang yang seharusnya saling mengenal. Sesuatu yang ia sendiri sulit jelaskan.“Mas, lihat nggak tadi tatapan Dokter Ara ke Dokter Sedanu?” tanya Serayu saat mobil sudah meninggalkan area rumah sakit.Abra yang tengah mengemudi melirik sekilas, lalu menggeleng. “Nggak terlalu merhatiin.”“Sayang banget sih,” gumam Serayu. “Kalau dilihat-lihat, kayaknya Dokter Ara suka sama Dokter Sedanu, deh.”Mobil berhenti di lampu merah. Abra mengembuskan napas tipis, lalu satu tangannya terlepas dari setir, meraih tangan Serayu di pangkuannya. Jemarinya menggenggam hangat.“Lalu,” katanya santai, “dari hasil pengamatan kamu… bagaimana dengan dokter residen itu?”Sebelum Serayu sempat menjawab, Abra mengecup
Sore itu Serayu diminta Amalia untuk menunggunya. Abra masih terjebak macet di jalan, katanya lalu lintas padat. Ia diminta sedikit bersabar.Sambil menunggu, Serayu teringat pada anak kecil yang tadi ia tenangkan. Ada dorongan halus di dadanya untuk memastikan keadaan bocah itu. Ia pun melangkah menuju ruang perawatan.Baru saja jemarinya menyentuh gagang pintu di mana kamar perawatan anak kecil itu, langkahnya terhenti. Pintu terbuka dari dalam dan Dokter Sedanu keluar. Serayu tersentak, refleks mundur setapak.“Twin?” ujar Sedanu kaget, tangannya spontan meraih kedua lengan Serayu agar ia tak kehilangan keseimbangan.“Dokter… maaf,” lirih Serayu, perlahan melepaskan diri. Ada rasa canggung yang tipis, seperti bayangan yang lewat sebentar lalu hilang.“Kamu mau apa ke sini?” tanya Sedanu.“Saya… saya mau menjenguk anak kecil yang di kamar ini,” jawabnya pelan.“Kamu kenal Leo?” alis Sedanu terangkat.Serayu menceritakan kejadian tadi, tentang bagaimana ia bertemu dengan bocah itu. Ce







