แชร์

77. Pertanda?

ผู้เขียน: Dinis Selmara
last update วันที่เผยแพร่: 2025-11-05 13:28:54
Serayu bertemu dengan Amalia dalam briefing siang itu. Wanita itu mengangkat dua jarinya membentuk tanda peace sambil meringis kecil. Amalia sudah menduga, Serayu pasti sudah tahu kalau dirinya mata-mata Abra. Serayu hanya membalas ringisan itu dengan senyum dan mata memicing dari kejauhan.

Usai briefing, Amalia menghampiri Serayu dan duduk di sampingnya. Serayu menoleh kanan-kiri, memastikan sekitar yang sepi, lalu berbisik pelan, “Duh, takut banget dilaporin,” sindirnya, bercanda. Amalia refle
Dinis Selmara

Ulalala ... kabooorrr

| 99+
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก
ความคิดเห็น (38)
goodnovel comment avatar
Nelliyana
lama ni kelarnya, semoga tdk lelahkan fikiran pembaca
goodnovel comment avatar
Wiwin Masilangi
laki-laki TDK ada yg bisa di percaya
goodnovel comment avatar
Mira Mulyanii
ih malesin banget sih..udh jauh2 dibaca..biasanya Abra teges seret alien itu keluar..ini bikin kesel penulis critanya ..bye bye udh gak akan baca mnding beli koin buat cerita yg lain..alurnya sprti sinetron2 gak jls
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan   317. Kumpul Keluarga

    “Masih belum keluar ASI-nya? Anak teman saya hampir semuanya sudah keluar ASI sejak persalinan, jadi bayinya bisa langsung menyusu. Apalagi kolostrum yang warna kuning itu, kan banyak protein dan vitaminnya,” ujar Riani. Dada Serayu terasa sesak mendengarnya. Jay Wijaya segera mengangkat telunjuk ke bibir, memberi isyarat agar istrinya berhenti. Suara Riani memang tidak keras, tetapi bisikan itu tetap sampai ke telinga Serayu. “Padahal dua-duanya dokter, tapi kurang aware soal beginian,” tambah Riani. “Abra di dalam? Coba minta beli suplemen—” “Ma,” panggil Abra, membuat Riani menoleh ke arah pintu. “Nah, ini anaknya.” Riani meraih tangan kanan Abra. Lelaki itu refleks menahan nyeri. Bukan hanya Riani, Serayu sebelumnya juga sempat menyentuh bagian yang sama dan memunculkan rasa sakit yang berusaha ia sembunyikan. Jay Wijaya menangkap reaksi itu. Ia sudah mengetahui apa yang terjadi pada putranya. Melihat itu, Jay menarik tangan sang istri dengan lembut. “Sudah... sudah. Mau a

  • (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan   316. Berusaha

    “Satria Pradipta Wijaya.” Nama itu terucap pelan dari bibir Serayu yang tengah menatap bayi mungil yang terbaring tenang di dalam boks. Dadanya terasa hangat setiap kali memandang wajah kecil itu. Putranya. Jujur saja, ia sudah tidak sabar ingin menggendongnya. Namun setiap kali mencoba bergerak sedikit, nyeri di perut bekas operasinya kembali mengingatkan bahwa tubuhnya masih dalam proses pemulihan. “Benar,” gumam Serayu sambil tersenyum. “Dia tampan, Mas.” Pandangannya beralih pada Abra, lalu kembali pada bayi mereka. “Ini yang sembilan bulan lalu ada di dalam perutku, Mas?” Nada suaranya terdengar takjub, seolah masih sulit mempercayai keajaiban yang kini berada di depan matanya. Abra tersenyum kecil. Tangannya terangkat mengusap rambut Serayu yang sedikit berantakan, lalu mengecup puncak kepalanya dengan penuh sayang. “Iya. Anak kita.” Ibu yang berdiri di samping ranjang ikut tersenyum. Rasanya sudah lama sekali beliau tidak melihat kebahagiaan seterang itu di mata putr

  • (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan   315. Senyum Menenangkan

    Ibu dan Ayah berada di kamar khusus keluarga pasien. Keduanya memilih menginap di rumah sakit, ingin tetap berada di dekat anak satu-satunya, menjaganya. Ruangan perawatan Serayu yang luas terasa hening, tapi tidak membuat Abra merasa kesunyian. Bayi mereka masih berada di ruang perawatan. Masih ada beberapa prosedur yang harus dijalani sebelum benar-benar dipindahkan ke ruang yang sama dengan ibunya. Dini hari itu, Abra masih terjaga. Sejak tadi ia hanya duduk di sisi ranjang Serayu yang masih berada dalam pengaruh obat bius. Wajah perempuan itu tampak lelah, tapi tenang. Tangan kiri Abra tak pernah lepas menggenggam tangan sang istri. Sesekali ia mengecupnya pelan. Di ruang operasi tadi, ia bahkan tidak merasakan apa pun pada tangan kanannya. Namun ketika semuanya mulai tenang seperti ini, nyeri itu perlahan merambat kembali menjalar pelan. Padahal tadi ia yakin tidak banyak menggunakan tangan kanannya. Abra perlahan merebahkan kepalanya di tepi ranjang Serayu. Berdek

  • (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan   314. Anugerah Terindah

    "Keduanya." Jawaban itu keluar begitu saja dari bibir Abra. Sang dokter menatapnya lama. Untuk pertama kalinya, ia melihat Abra yang berbeda. Tidak ada sikap arogan dan tatapan dingin seperti biasa. Yang ada hanya seorang suami yang sedang dipenuhi kekhawatiran. "Tolong, Dok. Keduanya." "Dokter Abra…,” panggil sang dokter hati-hati, mempertanyakan pilihannya. Abra memejamkan mata sejenak. Lalu, membuka mata melirik istrinya yang terbaring di sana. "Istri saya." Kalimat itu terasa berat keluar dari tenggorokannya. "Selamatkan istri saya, Dok." Kali ini suaranya mantap. Jika takdir memaksanya memilih, maka ia memilih Serayu. Dokter mengangguk pelan sebelum kembali fokus pada tindakan. “Saya tetap akan melakukan yang terbaik.” Operasi dimulai. Abra ikut berada di dalam ruang operasi. Bertahun-tahun bekerja di ruang operasi membuatnya terbiasa menghadapi situasi paling kritis sekalipun. Ia pernah berdiri berjam-jam melakukan tindakan tanpa merasakan waktu berjalan

  • (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan   313. Pilihan Tersulit

    "Itu sudah cukup bagus Amalia. So proud of you,” kata Ezra yang sedang diskusi dengan Amalia melalui sambungan telepon.“Terima kasih ya, Dok… udah mau berbagi ilmunya.”“Sama-sama. Bagaimana keadaan di sana?”"Masih kewalahan," jawab Amalia sambil menghela napas. "Obat-obatan mulai menipis. Eh, ini di camp-ku ya. Loh, kok aku?” koreksi Amalia.“It’s okay. Senyamannya kamu aja.”Amalia meringis di seberang sana.“Ya, jadi gitu, Dok. Tim logistik minta pengiriman tambahan besok pagi. Aku ikut ke kota lagi.”“Lagi?” tanya Ezra.Dari percakapan itulah Ezra mengetahui bahwa Amalia sempat bertemu dengan Abra di kota. Ceritanya tidak terlalu rinci. Ia hanya menangkap bahwa Abra baru berangkat menuju Bandung hari ini karena masih harus mengurus beberapa hal di kota.Ezra ikut menceritakan kejadian yang menimpa Serayu siang tadi. Amalia langsung terkejut dan cemas saat mendengar kondisi Serayu.Amalia cemas Abra tidak bisa tiba tepat waktu, mengingat jarak tempuh yang membentang.Kekhawatiran

  • (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan   312. Haruskah?

    Lelaki itu memang Ezra. Ia masih mengenakan kemeja kerja yang lengannya tergulung seadanya. Wajahnya terlihat lelah, tetapi sorot matanya dipenuhi kecemasan yang sulit disembunyikan. “Dokter Ezra,” sapa Aksa membuat Ezra tersentak saat menoleh. Ia sedikit salah tingkah melihat keberadaan Aksa. “Mas Aksa,” balasnya menyapa. "Ada sesuatu yang membawa Dokter ke sini?" tanya Aksa tanpa basa-basi. Ezra tampak sedikit terkejut mendapat pertanyaan itu. "Saya... saya mau menjenguk sepupu saya yang dirawat di sini." "Oh ya?" Aksa mengangguk pelan. "Di lantai berapa?" Untuk sesaat Ezra terdiam. "Saya harus menghubungi keluarganya dulu." Jawaban itu membuat Aksa menatapnya beberapa detik lebih lama. Seolah mencoba membaca sesuatu di balik raut wajah lelaki di hadapannya. Namun akhirnya ia hanya mengangguk. "Mau menunggu di kafetaria saja?" "Boleh." Keduanya berjalan menuju meja yang Ezra duduki tadi. Setelah beberapa saat hening usai memesan minuman, Ezra membuka percaka

  • (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan   149. Horang Kayah

    Malam itu mereka berkumpul kembali setelah makan malam. Udara terasa hangat, bukan hanya karena hidangan yang baru saja habis, tetapi juga karena percakapan mereka. Di bengkel siang tadi, Abra telah menyampaikan maksud hatinya keinginan untuk merenovasi rumah mertuanya. Kini, sang ayah menyampaikan

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-29
  • (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan   143. Honeymoon #1

    Serayu berbalik membalas pelukan Abra. “Sekarang? Ayo,” ajaknya, lebih pada keberanian yang dipaksakan. Jujur saja, tubuhnya lelah. Namun, bukankah ia tak berhak untuk menolak ajakan suaminya? Abra menatap Serayu dalam-dalam. Lalu ia menggesekkan hidung mereka, gemas. “Tidak sekarang,” ucapnya

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-29
  • (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan   140. Jengah

    Serayu dan Sedanu kompak menoleh ke arah sumber suara. Wanita yang menyapa itu sedikit menunduk, pandangannya jatuh pada Serayu.“Amalia?” Serayu terkejut.Amalia sempat berteriak kecil karena Serayu mengingatnya, lalu buru-buru mengecilkan kembali suaranya. Dari kejauhan, Abra menoleh sekilas sebel

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-29
  • (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan   145. Honeymoon #3

    Tak ada lagi batas di antara mereka. Malam telah menurunkan suaranya, menyisakan desir laut yang berulang menenangkan. “Mas,” pekik Serayu saat Abra mengangkat tubuhnya ala bride. Ia membawa sang istri ke dalam kamar, meletakkan tubuh mungil istrinya hati-hati di atas ranjang. “Waktu kamu milik

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-29
บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status