แชร์

Mau Bekerja Denganku?

ผู้เขียน: Nona Lee
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-02 20:33:59

"Oh, tetangga depan rumah ya. Ada perlu apa kau kemari, Nona sombong?" tanya Reynard dengan nada suara yang sengaja diulur, sarat akan kepuasan yang tertahan.

Alina mengepalkan kedua tangannya tersembunyi di balik saku kardigan. Wajahnya terasa memanas, bukan karena terpesona oleh penampilan pria di depannya yang terlampau santai dengan kemeja putih setengah terbuka, melainkan karena rasa gengsi yang kini sedang diinjak-injak.

"Saya... saya kemari untuk membicarakan tawaran Tuan tadi pagi," jawab Alina, berusaha menjaga suaranya agar tetap terdengar datar dan profesional.

Reynard menaikkan sebelah alisnya, seringai di wajahnya semakin melebar. "Tawaran yang mana, ya? Seingat saya, tadi pagi ada wanita yang menolak saya dengan sangat heroik di depan pagar rumahnya. Katanya, uang saya tidak bisa membeli harga dirinya. Apa kau kenal dengan wanita itu?"

"Tuan Dirgantara, tolong jangan berbelit-belit," desis Alina, giginya bergelatuk menahan geram. "Tuan tahu persis maksud kedatangan saya ke sini."

Reynard mendengus geli, namun dia tidak bergeser sedikit pun dari ambang pintu. Tubuh tingginya sengaja menutup jalan masuk, memaksa Alina untuk tetap berdiri di teras luar yang mulai diterpa angin malam yang dingin. "Kalau kau butuh pekerjaan, bicaralah yang jelas. Saya tidak suka menebak-nebak isi kepala orang, apalagi isi kepala wanita yang labil seperti kau."

Alina menarik napas dalam-dalam, mencoba meredam egonya yang menjerit ingin berbalik dan pergi saja dari sana. Namun, bayangan wajah Ibu Sumi dan ancaman kenaikan uang kontrakan seketika melintas di benaknya, meruntuhkan seluruh pertahanannya.

"Saya menerima pekerjaan itu," ucap Alina akhirnya, setengah berbisik dengan kepala yang terpaksa tertunduk. "Saya mau menjadi pengasuh Sean."

"Apa? Tolong keraskan suaramu, saya tidak bisa mendengarnya terhalang suara jangkrik," goda Reynard lagi. Dia sengaja memajukan tubuhnya sedikit, menundukkan kepalanya hingga Alina bisa mencium aroma parfum maskulinnya yang pekat.

"Saya bilang, saya menerima pekerjaannya, Tuan!" seru Alina kesal, mendongak menatap langsung ke dalam manik mata abu-abu pria itu dengan kilat kemarahan.

"Bagus. Begitu lebih jelas," sahut Reynard, perlahan melangkah mundur dan membuka pintu rumahnya lebih lebar. "Masuklah. Kita bicarakan ini di dalam ruangan yang lebih resmi."

Alina melangkah masuk ke dalam rumah mewah itu dengan perasaan campur aduk. Interior rumah itu sangat megah dengan dominasi warna putih dan emas, namun terasa sangat sepi dan dingin. Reynard menuntunnya menuju sebuah ruang kerja pribadi yang dipenuhi dengan rak buku tinggi dan sebuah meja kayu jati yang besar. Pria itu duduk di kursi kebesarannya, sementara Alina duduk di kursi kayu di hadapannya.

"Tadi pagi saya menawarkan gaji tiga kali lipat dari gajimu sebelumnya," Reynard memulai pembicaraan sembari mengetukkan jemarinya di atas meja. "Namun, karena kau sudah menolak saya secara mentah-mentah tadi pagi, dan sekarang kau kembali kemari karena terdesak... tarifnya tentu saja berubah, Nona."

Alina membelalakkan matanya tidak percaya. "Apa? Tuan mau memotong gajinya? Itu tidak adil!"

"Ini dunia bisnis, Nona. Siapa yang memegang kendali, dia yang menentukan aturan," ucap Reynard dengan nada suara yang mendadak berubah menjadi sangat dingin dan dominan. Dia mengambil selembar kertas dari laci mejanya lalu menyodorkannya ke hadapan Alina. "Ini kontrak kerjamu. Gaji tetap tiga kali lipat, namun saya menambahkan beberapa pasal baru yang wajib kau patuhi tanpa bantahan."

Alina menyambar kertas itu dengan cepat, matanya menyusuri deretan tulisan di sana. "Pasal tiga... Pengasuh harus siap siaga selama dua puluh empat jam jika pemilik rumah mengalami situasi darurat? Tuan, ini namanya perbudakan! Saya ini pengasuh anak, bukan pelayan pribadi Tuan!"

"Ini namanya profesionalitas," balas Reynard santai, menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi kerja yang empuk. "Saya membayar dengan harga yang sangat mahal bukan untuk bekerja paruh waktu yang santai. Jika Sean mendadak terbangun di malam hari karena ketakutan atau sakit, kau harus ada di sana untuk menenangkannya. Jika kau merasa keberatan dengan pasal itu, silakan letakkan kembali kertasnya dan pintu keluar ada di sebelah kananmu."

Alina menatap lembaran kertas di tangannya dengan tangan yang gemetar. Pria di depannya ini benar-benar tahu bagaimana cara memanfaatkan kelemahan orang lain. Dia tahu Alina sedang membutuhkan uang ini.

"Bagaimana? Mau tanda tangan atau mau kembali ke pekerjaan lamamu?" tanya Reynard lagi, nadanya sarat akan intimidasi dewasa yang kuat.

Alina memejamkan matanya sejenak, mengutuk takdirnya di dalam hati. Dengan gerakan kasar, dia menyambar pena yang terletak di atas meja, lalu membubuhkan tanda tangannya di atas kertas kontrak tersebut.

"Puas, Tuan?" desis Alina, melempar kembali pena itu ke atas meja.

Reynard mengambil kertas tersebut, memeriksa tanda tangannya sejenak, lalu tersenyum puas. "Sangat puas. Mulai besok pagi jam tujuh, kau sudah harus berada di rumah ini untuk mengurus Sean. Dan satu lagi, panggil saya Tuan Reynard saat bekerja."

"Baik, Tuan Reynard yang terhormat," sahut Alina dengan penekanan yang sarkas pada setiap katanya. Dia bangkit berdiri, berniat untuk segera meninggalkan ruangan yang membuatnya sesak ini. "Jika sudah tidak ada lagi yang perlu ditandatangani, saya permisi pulang sekarang."

"Tunggu dulu," panggil Reynard, menghentikan langkah kaki Alina tepat di dekat pintu ruang kerja.

Alina berbalik dengan malas. "Ada apa lagi, Tuan?"

Reynard perlahan bangkit dari kursi kerjanya. Dia berjalan memutari meja, melangkah mendekati Alina dengan tatapan mata yang tidak lepas dari wajah wanita itu. Langkah kakinya yang pelan namun pasti terasa begitu mengintimidasi, membuat Alina secara refleks mundur satu langkah hingga punggung mungilnya membentur daun pintu kayu yang tertutup rapat.

Reynard menghentikan langkahnya tepat di hadapan Alina, mengurung tubuh wanita itu dengan meletakkan satu tangan kekarnya pada dinding di samping kepala Alina. Jarak mereka kini terlampau dekat, hingga Alina bisa merasakan embusan napas hangat pria itu menerpa keningnya. Kedua kancing kemeja Reynard yang terbuka mengekspos dada bidangnya yang berjarak hanya beberapa sentimeter dari wajah Alina.

"Karena kau sudah resmi menjadi pekerja di rumah ini... ada satu aturan tidak tertulis yang harus kau ingat baik-baik," bisik Reynard dengan nada suara yang mendadak merendah, sangat dalam dan sarat akan ketegangan romansa dewasa yang pekat.

Alina menahan napasnya, jantungnya mendadak berpacu liar karena posisi mereka yang terlampau intim. "A-apa aturan itu, Tuan?"

Reynard menundukkan kepalanya sedikit lagi, menatap lurus ke dalam manik mata Alina yang tampak gelisah, lalu pandangannya turun perlahan menatap bibir ranum wanita itu sebelum kembali menatap matanya. "Jangan pernah membawa masalah pribadimu ke dalam rumah ini. Dan yang paling penting... jangan pernah mencoba untuk jatuh cinta kepada saya, karena saya tidak akan pernah membalasnya."

Alina tertegun mendengar kalimat penuh rasa percaya diri yang keluar dari bibir pria angkuh itu. Rasa gugupnya seketika menguap, berganti dengan rasa geli yang luar biasa. Dia tersenyum miring, lalu dengan berani mengangkat tangan kanannya untuk mendorong dada bidang Reynard agar menjauh sedikit dari tubuhnya.

"Tuan Reynard yang terhormat," ucap Alina dengan nada suara yang sengaja dilembutkan namun sarat akan sindiran mematikan. "Tolong simpan rasa percaya diri Tuan yang setinggi langit itu baik-baik. Tipikal pria sombong, angkuh, dan bermulut tajam seperti Tuan adalah daftar terakhir pria yang akan saya sukai di dunia ini. Jadi, Tuan tidak perlu khawatir."

Reynard menyipitkan matanya, sedikit terkejut dengan balasan berani dari wanita di depannya. Namun, sebelum dia sempat membalas ucapan Alina, sebuah suara langkah kaki yang tergesa-gesa terdengar dari arah luar koridor.

Brak!

Pintu ruang kerja itu mendadak terdorong dari luar, membuat tubuh Alina yang bersandar di sana terdorong sedikit ke depan dan secara tidak sengaja menubruk langsung dada bidang Reynard yang keras. Kedua tangan Alina refleks memegang pinggang kekar pria itu untuk menjaga keseimbangannya, sementara tangan Reynard dengan sigap menangkap pinggang ramping Alina agar wanita itu tidak terjatuh.

"Papa!"

Sean berdiri di ambang pintu dengan piyama tidurnya, matanya membelalak sempurna menatap posisi intim kedua orang dewasa di depannya yang saling berpelukan erat di balik pintu.

"Ehhh... Tante wangi? Tante sedang apa di sini sama Papa? Kenapa Tante pelukan sama Papa yang galak?"

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Terjerat Pesona Duda Tampan   Pengakuan Polos Sean

    "Bagaimana perkembangan proyek resort di Bali, Reynard? Direktur Utama menyetujui investasinya?" Tuan Richard memotong daging steak di piringnya dengan gerakan yang amat presisi, membuka obrolan di tengah keheningan meja makan malam itu. Reynard yang duduk berseberangan dengan ayahnya mengangguk tenang, meneguk sedikit air putih sebelum menjawab. "Semua sesuai rencana, Ayah. Analisis risiko sudah diselesaikan minggu lalu, dan penandatanganan kontrak dilakukan akhir bulan ini." "Bagus," puji Tuan Richard singkat, raut wajahnya yang selalu kaku tampak sedikit melunak. "Kau harus memastikan tidak ada celah hukum sedikit pun." Namun, percakapan bisnis yang serius itu terhenti tatkala ponsel di saku jas Tuan Richard bergetar nyaring. Pria paruh baya itu merogoh sakunya, melihat nama pemanggil di layar, lalu berdiri dari kursinya. "Aku harus mengangkat telepon penting dari jajaran komisaris dulu," pamit Tuan Richard seraya melangkah menjauh meninggalkan area meja makan. Kini di meja m

  • Terjerat Pesona Duda Tampan   Bagaimana Mungkin?

    "Sean! Buka mulutmu, Sayang. Ini Nenek buatkan sup sayur spesial untukmu!" Suara Nyonya Ella terdengar riang namun memendam rasa tidak sabar. Sendok berisi sup bening itu terus ditodongkan ke arah mulut kecil Sean di meja makan pagi itu. Karena hari ini akhir pekan, seluruh anggota keluarga berada di rumah. Sean, yang duduk di kursi tingginya, menggelengkan kepala kuat-kuat. Anak kecil itu menutup rapat mulutnya dengan kedua tangan, memalingkan wajahnya jauh-jauh dari sendok sang nenek. "Tidak mau! Masakan Nenek tidak enak! Pahit!" pangkas Sean seraya merengek gencar, membuat suasana meja makan yang semula tenang berubah heboh. "Sean, jangan keras kepala," tegur Tuan Richard dengan nada tegas dari balik korannya. "Nenekmu sudah bangun pagi-pagi sekali hanya untuk membuatkanmu sarapan sehat." "Tapi Sean tidak mau!" jerit anak itu makin keras, matanya mulai berkaca-kaca. "Sean cuma mau makan masakan Tante Alina! Cuma masakan Tante Alina yang enak!" Nyonya Ella menahan napas,

  • Terjerat Pesona Duda Tampan   Wanita Baik-Baik

    "Jaga ucapan Ibu! Alina ini wanita baik-baik!" Suara Reynard terdengar berat dan tegas, memotong ketegangan yang mendadak membeku di aula utama. Pria itu melangkah satu garis ke depan, berdiri kokoh di antara ibunya dan Alina. Nyonya Ella menaikkan sebelah alisnya yang terukir sempurna, menyilangkan kedua tangan di dada seraya menatap putranya tajam. "Baik-baik bagaimana, Reynard? Penampilannya sama sekali tidak mencerminkan seorang pengasuh yang sopan!" "Alina itu tetangga di kompleks depan rumah saya yang dulu sering Sean ganggu," potong Reynard cepat, berusaha memberikan alasan masuk akal yang telah ia rancang. "Karena hanya pada Alina Sean mau menurut dan tenang, saya akhirnya memutuskan untuk memintanya menjadi pengasuh Sean." Nyonya Ella mendengus ganjil, tawa kecil yang sarat akan rasa tidak percaya lolos dari bibirnya. "Kau pikir Ibu bisa langsung percaya begitu saja? Sudah puluhan pengasuh dari yayasan terbaik yang kita sewa, dan tidak ada satu pun yang bertahan dari tabi

  • Terjerat Pesona Duda Tampan   Wanita Penggoda?!

    "Mengawasi? Kenapa aku harus mengawasinya?!" seru Nyonya Ella dengan nada heran, matanya menyipit menatap suaminya. "Aku curiga Reynard mulai main gila dengan pengasuh itu," jawab Tuan Richard dingin tanpa ragu, melipat kedua tangannya di balik punggung. Nyonya Ella seketika memutar bolanya dan mendengkus kencang. "Astaga, Richard! Kau ini selalu saja paranoid dan berburuk sangka pada anakmu sendiri! Reynard itu punya selera tinggi. Mana mungkin dia suka dengan seorang pengasuh yang pasti wajahnya biasa saja, tidak terurus, dan jelas-jelas dari kasta jauh di bawah keluarga kita?!" "Aku hanya mengingatkanmu, Ella," sela Tuan Richard, mengabaikan kekehan istrinya. "Perhatikan saja bagaimana cara Reynard menatap wanita itu nanti." Malam pun tiba. Sebuah mobil hitam mewah meluncur membelah jalanan kota menuju kawasan elit di pinggiran ibu kota. Di dalam kendaraan tersebut, keberangkatan Reynard, Sean, dan Alina menuju rumah utama benar-benar terjadi. Semua pakaian dan keperluan bes

  • Terjerat Pesona Duda Tampan   Mengawasi Alina

    "Reynard! Kau ini di mana, sih?! Kenapa baru mengangkat telepon Ibu, hah?!" Suara melengking nan penuh penekanan itu menggelegar nyaring dari speaker ponsel. Reynard sampai spontan menggeser ponselnya agak jauh dari telinga, menatap layar benda pipih itu dengan dahi berkerut meringis. Alina, yang masih dalam posisi dipeluk hangat oleh Reynard, ikut menyimak samar-samar suara omelan yang melengking tersebut. Wanita mungil itu hanya bisa menahan napas seraya menyembunyikan senyum geli di dada tegap kekasihnya. Di seberang sana, di sebuah ruang keluarga nan megah bertabur marmer mahal, berdiri seorang wanita paruh baya berpenampilan amat elegan. Busana sutra yang dikenakannya tampak begitu berkelas, polesan riasan tipis menonjolkan raut wajahnya yang cenderung angkuh. Namun, di balik sikap cerewet dan ketegasannya, Nyonya Ella, ibu kandung Reynard sebenarnya adalah sosok ibu dan nenek yang sangat penyayang serta protektif pada keluarganya. Saat ini, Richard sendiri belum sempat memb

  • Terjerat Pesona Duda Tampan   Pindah Rumah

    "Dialah satu-satunya pengasuh yang bisa mengendalikan Sean, Ayah," sahut Reynard dengan nada tenang yang amat dingin. "Setelah puluhan pengasuh sebelumnya tidak pernah bertahan lebih dari satu minggu." Tuan Richard mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Ia terdiam, pandangan matanya yang tajam seolah menimbang-nimbang setiap kata yang terlontar dari bibir putranya. Ia tahu betul betapa sulitnya menangani tabiat Sean jika sedang kumat, dan kenyataan bahwa wanita itu berhasil bertahan sejauh ini adalah hal yang tidak bisa ia bantah. "Aku akan membicarakan hal ini dulu dengan ibumu," putus Tuan Richard akhirnya seraya berdiri dengan bantuan tongkat kayunya. "Keputusan ini bukan cuma milikku, Reynard." Pria paruh baya itu berbalik, melangkah menuju pintu keluar dengan wibawa yang tetap terasa menekan. Namun, saat melewati koridor menuju teras depan, langkah Tuan Richard sempat tertahan sejenak. Ia berpapasan dengan Alina yang berdiri kaku di dekat pintu dapur. Alina seketika menundukkan ke

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status