登入"Oh, tetangga depan rumah ya. Ada perlu apa kau kemari, Nona sombong?" tanya Reynard dengan nada suara yang sengaja diulur, sarat akan kepuasan yang tertahan.
Alina mengepalkan kedua tangannya tersembunyi di balik saku kardigan. Wajahnya terasa memanas, bukan karena terpesona oleh penampilan pria di depannya yang terlampau santai dengan kemeja putih setengah terbuka, melainkan karena rasa gengsi yang kini sedang diinjak-injak. "Saya... saya kemari untuk membicarakan tawaran Tuan tadi pagi," jawab Alina, berusaha menjaga suaranya agar tetap terdengar datar dan profesional. Reynard menaikkan sebelah alisnya, seringai di wajahnya semakin melebar. "Tawaran yang mana, ya? Seingat saya, tadi pagi ada wanita yang menolak saya dengan sangat heroik di depan pagar rumahnya. Katanya, uang saya tidak bisa membeli harga dirinya. Apa kau kenal dengan wanita itu?" "Tuan Dirgantara, tolong jangan berbelit-belit," desis Alina, giginya bergelatuk menahan geram. "Tuan tahu persis maksud kedatangan saya ke sini." Reynard mendengus geli, namun dia tidak bergeser sedikit pun dari ambang pintu. Tubuh tingginya sengaja menutup jalan masuk, memaksa Alina untuk tetap berdiri di teras luar yang mulai diterpa angin malam yang dingin. "Kalau kau butuh pekerjaan, bicaralah yang jelas. Saya tidak suka menebak-nebak isi kepala orang, apalagi isi kepala wanita yang labil seperti kau." Alina menarik napas dalam-dalam, mencoba meredam egonya yang menjerit ingin berbalik dan pergi saja dari sana. Namun, bayangan wajah Ibu Sumi dan ancaman kenaikan uang kontrakan seketika melintas di benaknya, meruntuhkan seluruh pertahanannya. "Saya menerima pekerjaan itu," ucap Alina akhirnya, setengah berbisik dengan kepala yang terpaksa tertunduk. "Saya mau menjadi pengasuh Sean." "Apa? Tolong keraskan suaramu, saya tidak bisa mendengarnya terhalang suara jangkrik," goda Reynard lagi. Dia sengaja memajukan tubuhnya sedikit, menundukkan kepalanya hingga Alina bisa mencium aroma parfum maskulinnya yang pekat. "Saya bilang, saya menerima pekerjaannya, Tuan!" seru Alina kesal, mendongak menatap langsung ke dalam manik mata abu-abu pria itu dengan kilat kemarahan. "Bagus. Begitu lebih jelas," sahut Reynard, perlahan melangkah mundur dan membuka pintu rumahnya lebih lebar. "Masuklah. Kita bicarakan ini di dalam ruangan yang lebih resmi." Alina melangkah masuk ke dalam rumah mewah itu dengan perasaan campur aduk. Interior rumah itu sangat megah dengan dominasi warna putih dan emas, namun terasa sangat sepi dan dingin. Reynard menuntunnya menuju sebuah ruang kerja pribadi yang dipenuhi dengan rak buku tinggi dan sebuah meja kayu jati yang besar. Pria itu duduk di kursi kebesarannya, sementara Alina duduk di kursi kayu di hadapannya. "Tadi pagi saya menawarkan gaji tiga kali lipat dari gajimu sebelumnya," Reynard memulai pembicaraan sembari mengetukkan jemarinya di atas meja. "Namun, karena kau sudah menolak saya secara mentah-mentah tadi pagi, dan sekarang kau kembali kemari karena terdesak... tarifnya tentu saja berubah, Nona." Alina membelalakkan matanya tidak percaya. "Apa? Tuan mau memotong gajinya? Itu tidak adil!" "Ini dunia bisnis, Nona. Siapa yang memegang kendali, dia yang menentukan aturan," ucap Reynard dengan nada suara yang mendadak berubah menjadi sangat dingin dan dominan. Dia mengambil selembar kertas dari laci mejanya lalu menyodorkannya ke hadapan Alina. "Ini kontrak kerjamu. Gaji tetap tiga kali lipat, namun saya menambahkan beberapa pasal baru yang wajib kau patuhi tanpa bantahan." Alina menyambar kertas itu dengan cepat, matanya menyusuri deretan tulisan di sana. "Pasal tiga... Pengasuh harus siap siaga selama dua puluh empat jam jika pemilik rumah mengalami situasi darurat? Tuan, ini namanya perbudakan! Saya ini pengasuh anak, bukan pelayan pribadi Tuan!" "Ini namanya profesionalitas," balas Reynard santai, menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi kerja yang empuk. "Saya membayar dengan harga yang sangat mahal bukan untuk bekerja paruh waktu yang santai. Jika Sean mendadak terbangun di malam hari karena ketakutan atau sakit, kau harus ada di sana untuk menenangkannya. Jika kau merasa keberatan dengan pasal itu, silakan letakkan kembali kertasnya dan pintu keluar ada di sebelah kananmu." Alina menatap lembaran kertas di tangannya dengan tangan yang gemetar. Pria di depannya ini benar-benar tahu bagaimana cara memanfaatkan kelemahan orang lain. Dia tahu Alina sedang membutuhkan uang ini. "Bagaimana? Mau tanda tangan atau mau kembali ke pekerjaan lamamu?" tanya Reynard lagi, nadanya sarat akan intimidasi dewasa yang kuat. Alina memejamkan matanya sejenak, mengutuk takdirnya di dalam hati. Dengan gerakan kasar, dia menyambar pena yang terletak di atas meja, lalu membubuhkan tanda tangannya di atas kertas kontrak tersebut. "Puas, Tuan?" desis Alina, melempar kembali pena itu ke atas meja. Reynard mengambil kertas tersebut, memeriksa tanda tangannya sejenak, lalu tersenyum puas. "Sangat puas. Mulai besok pagi jam tujuh, kau sudah harus berada di rumah ini untuk mengurus Sean. Dan satu lagi, panggil saya Tuan Reynard saat bekerja." "Baik, Tuan Reynard yang terhormat," sahut Alina dengan penekanan yang sarkas pada setiap katanya. Dia bangkit berdiri, berniat untuk segera meninggalkan ruangan yang membuatnya sesak ini. "Jika sudah tidak ada lagi yang perlu ditandatangani, saya permisi pulang sekarang." "Tunggu dulu," panggil Reynard, menghentikan langkah kaki Alina tepat di dekat pintu ruang kerja. Alina berbalik dengan malas. "Ada apa lagi, Tuan?" Reynard perlahan bangkit dari kursi kerjanya. Dia berjalan memutari meja, melangkah mendekati Alina dengan tatapan mata yang tidak lepas dari wajah wanita itu. Langkah kakinya yang pelan namun pasti terasa begitu mengintimidasi, membuat Alina secara refleks mundur satu langkah hingga punggung mungilnya membentur daun pintu kayu yang tertutup rapat. Reynard menghentikan langkahnya tepat di hadapan Alina, mengurung tubuh wanita itu dengan meletakkan satu tangan kekarnya pada dinding di samping kepala Alina. Jarak mereka kini terlampau dekat, hingga Alina bisa merasakan embusan napas hangat pria itu menerpa keningnya. Kedua kancing kemeja Reynard yang terbuka mengekspos dada bidangnya yang berjarak hanya beberapa sentimeter dari wajah Alina. "Karena kau sudah resmi menjadi pekerja di rumah ini... ada satu aturan tidak tertulis yang harus kau ingat baik-baik," bisik Reynard dengan nada suara yang mendadak merendah, sangat dalam dan sarat akan ketegangan romansa dewasa yang pekat. Alina menahan napasnya, jantungnya mendadak berpacu liar karena posisi mereka yang terlampau intim. "A-apa aturan itu, Tuan?" Reynard menundukkan kepalanya sedikit lagi, menatap lurus ke dalam manik mata Alina yang tampak gelisah, lalu pandangannya turun perlahan menatap bibir ranum wanita itu sebelum kembali menatap matanya. "Jangan pernah membawa masalah pribadimu ke dalam rumah ini. Dan yang paling penting... jangan pernah mencoba untuk jatuh cinta kepada saya, karena saya tidak akan pernah membalasnya." Alina tertegun mendengar kalimat penuh rasa percaya diri yang keluar dari bibir pria angkuh itu. Rasa gugupnya seketika menguap, berganti dengan rasa geli yang luar biasa. Dia tersenyum miring, lalu dengan berani mengangkat tangan kanannya untuk mendorong dada bidang Reynard agar menjauh sedikit dari tubuhnya. "Tuan Reynard yang terhormat," ucap Alina dengan nada suara yang sengaja dilembutkan namun sarat akan sindiran mematikan. "Tolong simpan rasa percaya diri Tuan yang setinggi langit itu baik-baik. Tipikal pria sombong, angkuh, dan bermulut tajam seperti Tuan adalah daftar terakhir pria yang akan saya sukai di dunia ini. Jadi, Tuan tidak perlu khawatir." Reynard menyipitkan matanya, sedikit terkejut dengan balasan berani dari wanita di depannya. Namun, sebelum dia sempat membalas ucapan Alina, sebuah suara langkah kaki yang tergesa-gesa terdengar dari arah luar koridor. Brak! Pintu ruang kerja itu mendadak terdorong dari luar, membuat tubuh Alina yang bersandar di sana terdorong sedikit ke depan dan secara tidak sengaja menubruk langsung dada bidang Reynard yang keras. Kedua tangan Alina refleks memegang pinggang kekar pria itu untuk menjaga keseimbangannya, sementara tangan Reynard dengan sigap menangkap pinggang ramping Alina agar wanita itu tidak terjatuh. "Papa!" Sean berdiri di ambang pintu dengan piyama tidurnya, matanya membelalak sempurna menatap posisi intim kedua orang dewasa di depannya yang saling berpelukan erat di balik pintu. "Ehhh... Tante wangi? Tante sedang apa di sini sama Papa? Kenapa Tante pelukan sama Papa yang galak?""Dialah satu-satunya pengasuh yang bisa mengendalikan Sean, Ayah," sahut Reynard dengan nada tenang yang amat dingin. "Setelah puluhan pengasuh sebelumnya tidak pernah bertahan lebih dari satu minggu." Tuan Richard mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Ia terdiam, pandangan matanya yang tajam seolah menimbang-nimbang setiap kata yang terlontar dari bibir putranya. Ia tahu betul betapa sulitnya menangani tabiat Sean jika sedang kumat, dan kenyataan bahwa wanita itu berhasil bertahan sejauh ini adalah hal yang tidak bisa ia bantah. "Aku akan membicarakan hal ini dulu dengan ibumu," putus Tuan Richard akhirnya seraya berdiri dengan bantuan tongkat kayunya. "Keputusan ini bukan cuma milikku, Reynard." Pria paruh baya itu berbalik, melangkah menuju pintu keluar dengan wibawa yang tetap terasa menekan. Namun, saat melewati koridor menuju teras depan, langkah Tuan Richard sempat tertahan sejenak. Ia berpapasan dengan Alina yang berdiri kaku di dekat pintu dapur. Alina seketika menundukkan ke
"Kau pikir aku buta, Reynard? Oh.. atau kau memang sudah menganggap ayahmu ini mati?!" Suara Tuan Richard memecah keheningan ruangan dengan nada yang rendah namun tajam, seolah menyayat udara yang dingin di ruang tamu. Pria tua itu tidak beranjak dari kursinya, matanya yang tajam tetap terkunci pada wajah putranya. Reynard tetap berdiri tegak, menyilangkan tangan di dada dengan raut wajah yang sedatar tembok. "Ayah, ini rumahku. Ada urusan apa Ayah datang tanpa memberitahuku?" Tuan Richard mendengus kasar. "Urusan? Kau bertanya apa urusanku? Sean alergi kacang, dia masuk rumah sakit, dan kau tidak memberitahuku sepatah kata pun! Kemarin, anak buahku melapor jika cucuku berjalan pincang karena jatuh di sekolah, dan lagi-lagi, aku harus tahu dari orang lain, bukan dari kau ayahnya!" Di dapur yang berjarak cukup jauh, Alina yang sedang menyiapkan teh hanya bisa diam mematung. Ia mendengar setiap kata yang terlontar, hatinya mencelos saat mendengar suara kemarahan Tuan Richard yang me
"A-apa?! Siapa yang memukul Papa?!" Alina melotot sempurna. Kedua matanya membulat besar menatap Sean yang masih berdiri dengan posisi berkacak pinggang di depannya. Rasa kaget dan bingung bercampur menjadi satu di wajah wanita itu, membuatnya mendadak salah tingkah. "Sean... Tante tidak pernah memukul Papa! Siapa yang mengajari Sean bicara begitu?!" seru Alina cepat, memprotes tuduhan tak berdasar itu dengan wajah yang mulai merona merah. Sean tidak menurunkan kedua tangannya dari pinggang kecilnya. Bocah itu menyipitkan mata, menatap Alina dengan sok curiga. "Papa yang bilang tadi! Kata Papa, Tante Alina memukul Papa gara-gara Papa membuat Sean menangis semalam!" Alina seketika menolehkan kepalanya tajam ke arah Reynard yang masih berlutut di dekat meja makan. Pria berkuasa itu kini sudah berdiri tegak. Bukannya merasa bersalah atau membantu meluruskan kesalahpahaman, Reynard justru tak sanggup lagi menahan tawanya. Tawa renyah nan lepas menyembur begitu saja dari bibirnya,
"Janji apa? Saya tidak pernah merasa berjanji apa pun pada Tuan," cetus Alina pelan, berpura-pura lupa. Wanita itu mengalihkan pandangannya, enggan menatap ketajaman manik mata Reynard. "Lagipula, untuk apa saya berterima kasih pada lelaki pemarah yang suka membentak anak kecil?" Mendengar ucapan menohok itu, Reynard seketika menghentikan aksinya. Pria itu menghela napas panjang, lalu perlahan duduk tegak di sisi ranjang. Wajah tegapnya menyiratkan rasa bersalah yang amat sangat. "Alina, tolonglah... Jangan seperti ini," panggil Reynard dengan nada memohon, kembali memegang lembut jemari wanita itu. "Saya tahu saya salah. Lalu saya harus bagaimana agar kau tidak marah lagi padaku, hm? Katakan, apa yang harus saya lakukan?" Alina ikut mendudukkan dirinya, merapikan pakaiannya yang sedikit kusut seraya menatap Reynard tajam. "Tuan tidak perlu melakukan apa pun untuk saya. Tapi kalau Tuan benar-benar merasa bersalah, Minta maaf pada Sean! Anak itu sangat ketakutan semalam gara-gara Tu
"Iya, Tuan. Saya paham," sahut Alina singkat, nada suaranya amat dingin dan ketus. Wanita itu melangkah mundur, menarik paksa jemarinya dari genggaman Reynard tanpa niat sedikit pun untuk menatap mata pria di hadapannya. "Alina, tunggu—" Reynard panik, melangkah maju berusaha menahan gerakan Alina. "Saya mau pulang ke kontrakan," potong Alina tanpa memandangnya, merapikan letak pakaiannya yang agak kusut. "Tugas saya menjaga Sean untuk hari ini sudah selesai. Permisi, Tuan." Melihat Alina yang bersikap begitu acuh dan hendak berbalik pergi, rasa panik mendadak melingkupi dada Reynard. Pria berkuasa itu dengan cepat melangkah lebar, memotong jalan Alina lalu merengkuh tubuh mungil wanita itu ke dalam pelukannya. Ia memeluk Alina begitu erat, menyembunyikan wajahnya di perpotongan leher sang kekasih. "Alina, tolong... jangan seperti ini," bisik Reynard penuh penyesalan, suaranya bergetar lirih. "Saya minta maaf. Demi Tuhan, saya sangat menyesal atas kata-kata kasar saya tadi." Ali
"Tuan Reynard, cukup! Jangan membentak Sean seperti itu!" Suara Alina melengking memecah keheningan ruang tengah. Wanita itu bergerak secepat kilat, memasang badannya tepat di depan Sean yang sudah bergetar ketakutan. Alina menatap lurus manik mata Reynard dengan sorot mata membara sama sekali tidak ada rasa takut, meski pria di hadapannya adalah majikannya sendiri. Sean yang menyembunyikan wajahnya di belakang pinggang Alina mulai sesenggukan, tangannya mencengkeram erat rok kain yang dikenakan pengasuhnya. Reynard melangkah satu maju, dadanya kembang kempis menahan emosi yang membakar kepalanya. "Alina, menyisilah! Jangan ikut campur saat saya sedang mendidik anak saya!" "Mendidik Tuan bilang?!" serkas Alina tak kalah tajam, suaranya naik satu oktaf. "Membentak anak kecil yang sedang kesakitan dan ketakutan itu bukan mendidik, Tuan Reynard! Itu cuma melampiaskan emosi Tuan!" "Alina!" bentak Reynard dengan nada rendah yang amat menakutkan, urat-urat di lehernya menegang taja







