LOGIN"ALINA!" Reynard melompat dari sofa seperti disengat listrik, melemparkan kotak martabak di tangannya begitu saja ke atas meja hingga potongan cokelat kacang itu berhamburan. Tanpa memedulikan Tuan Richard yang ikut tersentak kaget, langkah kaki tegapnya menyambar ubin koridor lantai dua dengan kecepatan penuh. Brak! Pintu kamar utama didorong kasar hingga membentur dinding. "Alina! Kau kenapa, cantik?!" seru Reynard dengan napas memburu hebat, wajah tampannya memucat pasi. Matanya liar memindai seluruh sudut kamar, membayangkan skenario terburuk tentang pendarahan atau kontraksi hebat. Di sudut ranjang, Alina berdiri mengecil seraya membungkus seluruh tubuhnya dengan selimut tebal sampai ke leher. Tangannya menunjuk-nunjuk hysteria ke arah meja rias dengan jari bergetar. "Mas! Di sana! Usir makhluk itu, Mas!" jerit Alina dengan mata membelalak lebar, wajahnya benar-benar pucat pasi oleh ketakutan. Tuan Richard yang baru saja menyusul berlari terengah-engah dengan memega
"Bau parfum siapa, Alina? Ini baju kerjaku, parfum yang kupakai ya parfum yang biasa!" sahut Reynard dengan nada kebingungan yang teramat sangat, memegangi bahunya yang baru saja didorong kasar oleh sang istri. "Jangan berbohong, Mas!" amuk Alina dengan suara bergetar, dadanya kembang kempis menahan emosi yang meledak-ledak. "Indra penciumanku tidak mungkin salah! Ini aroma mawar dan vanila! Parfum wanita! Kau habis menemui siapa sampai baunya menempel tajam begini di kemejamu?!" Reynard menghela napas panjang, mengusap wajah mewahnya yang kelelahan. Pria tegap itu mendekatkan kerah kemejanya ke hidung sendiri, memicingkan mata saat mendapati samar-samar aroma asing yang dimaksud Alina. "Astaga, Alina... dengarkan aku dulu," pangkas Reynard berusaha setenang mungkin, melangkah satu pijakan mendekati Alina. "Tadi sore saat rapat proyek baru selesai, ada klien wanita dari Singapura yang berpamitan. Dia berjabat tangan dan memberikan pelukan formal ala barat padaku. Cuma itu! Aroma
"Reynard! Mengapa sepatu kerjamu ditaruh sembarangan lagi di dekat pintu?! Kan sudah berulang kali kubilang, taruh di rak sepatu!" Lengkingan suara Alina menggelegar dari arah ruang depan, memecah ketenangan pagi di rumah utama keluarga Dirgantara. Reynard yang baru saja hendak menyeruput kopi hitamnya di meja makan sampai tersedak pelan. Pria tegap itu dengan cepat meletakkan cangkirnya, mengusap lehernya yang terasa dingin, lalu menatap sang ibu yang duduk di seberang meja. "Lihat kan, Bu? Baru jam delapan pagi, aku sudah kena omel dua kali," adu Reynard dengan suara berbisik, meratapi nasibnya dengan raut memelas. Nyonya Ella hanya terkekeh pelan, menyesap teh hangatnya tanpa beban. "Terima saja dengan sabar, Reynard. Dulu sewaktu Ibu mengandungmu, Ayahmu bahkan diusir tidur di sofa cuma gara-gara aroma minyak rambutnya terlalu menyengat." Alina melangkah masuk ke ruang makan dengan napas yang agak memburu. Paras cantiknya yang biasanya selalu dihiasi senyuman lembut kini t
"Panggil sekarang, Dokter! Jangan menunda satu detik pun!" perintah Tuan Richard tegas, melambaikan tangannya penuh urgensi. Dokter umum itu mengangguk cepat, lalu segera keluar ruangan untuk menghubungi tim dokter spesialis kandungan. Di saat yang sama, kelopak mata Alina perlahan mengerjap kaku. Rasa pening yang samar masih bersarang di kepalanya, tetapi kesadarannya perlahan pulih sepenuhnya. "Mas...?" bisik Alina parau, suaranya hampir tenggelam di antara keriuhan kamar rawat. "Alina! Kau sudah sadar, Sayang?!" seru Reynard cepat, langsung menerobos berlutut di tepi ranjang tanpa memedulikan kakinya yang hanya beralaskan sebelah kaos kaki robek. Ia menggenggam erat telapak tangan istrinya, mengecupinya berkali-kali. "Mana yang sakit, cantik? Katakan padaku!" "Aku... aku cuma sedikit pusing, Mas," sahut Alina pelan, mengedipkan matanya melihat penampilan suami dan ayah mertuanya yang sangat kacau. "Kenapa kalian berpenampilan seperti ini?" Sebelum pertanyaan itu terjawab, pint
"Mama, ayo ke toko mainan yang di ujung sana! Ada robot dinosaurus edisi baru yang belum Sean punya!" seru Sean riang, menarik-narik jemari Alina dengan antusiasme yang seolah tak ada habisnya. Alina memaksa bibirnya mengukir senyum hangat, menunduk menatap paras mungil anak sambungnya itu. "Iya, sayang. Ayo, tapi jalannya pelan-pelan ya?" Nyonya Ella yang berjalan anggun di sebelah Alina terkekeh pelan, menyesuaikan langkahnya. "Anak ini benar-benar tidak ada capeknya dari pagi. Kau tidak apa-apa, Alina? Wajahmu kelihatan sedikit pucat sejak kita selesai makan siang tadi." "Aku tidak apa-apa, Ibu," sahut Alina lembut, berusaha tetap tampak ceria walau sebenarnya rasa lelah luar biasa sedang menggerogoti tubuhnya. "Hanya sedikit mengantuk saja." Hari itu, atas ajakan Nyonya Ella dan rengekan Sean, mereka bertiga menghabiskan waktu seharian di pusat perbelanjaan terbesar di pusat kota. Mulai dari mengelilingi gerai pakaian, menyantap makan siang, hingga mendampingi Sean menguasai a
"Memangnya... ada posisi rahasia seperti itu, Yah?" tanya Reynard berbisik dengan raut wajah memerah canggung, matanya berbinar penasaran. Tuan Richard menepuk dadanya bangga. "Tentu saja ada! Kau pikir bagaimana dulu Ayah bisa—" Klek! Pintu ruang kerja mendadak terdorong terbuka lebar. Nyonya Ella berdiri di ambang pintu dengan kedua tangan bertengger mantap di pinggangnya, menatap dua pria Dirgantara itu dengan pandangan menelisik penuh curiga. Secara refleks, Reynard dan Tuan Richard langsung menarik tubuh mereka mundur, duduk tegak lurus dengan jarak saling menjauh seolah tidak terjadi apa-apa. "Sedang apa kalian berdua berbisik-bisik seperti itu?" tanya Nyonya Ella memicingkan mata, melangkah masuk ke dalam ruangan. "Kelihatannya serius sekali sampai pintu harus ditutup rapat." "Eh... tidak ada apa-apa, Bu!" sahut Reynard cepat, membenarkan letak kerah bajunya yang sama sekali tidak miring. "Kami cuma membicarakan... bisnis! Iya, bisnis investasi terbaru." "Iya, Ella, bena







