مشاركة

Saya Minta Maaf

مؤلف: Nona Lee
last update تاريخ النشر: 2026-08-13 12:07:17

"A-Alina... Apa yang kau lakukan?!"

Suara Reynard bergetar hebat. Pria itu terpaku menatap Alina yang kini bersimpuh pasrah di atas lantai UGD yang dingin, meremas celana kainnya sendiri dengan jemari yang gemetar tanpa henti.

"Maafkan saya, Tuan... Tolong maafkan saya..." isak Alina dengan suara serak, terengah-engah di antara tangisnya yang makin pecah. "Ini semua salah saya... Saya tidak bisa menjaga Sean dengan baik... Saya lalai, Tuan Reynard... Tolong hukum saya..."

Beberapa perawat ya
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق
تعليقات (1)
goodnovel comment avatar
Yoshi Dwi Ramadani
syukurlah sudah berdamai. hehehehe. semoga hubungan mereka makin baik dan segera menikah. wkwkwkwk.
عرض جميع التعليقات

أحدث فصل

  • Terjerat Pesona Duda Tampan   Jejak Perasaan Yang Tersembunyi

    "Aduh! Sakit, Alina!" Andri meringis pelan seraya memegangi lengannya yang baru saja dicubit oleh Alina. Senyuman tipis dan derai tawa halus keluar dari bibir wanita itu, mencairkan suasana hening di taman sekolah yang sempat terasa begitu tegang. "Makanya jangan mulai lagi, Ndri!" omel Alina seraya menggelengkan kepalanya gemas. "Jangan buka-buka lembaran lama yang sudah berlalu. Kita ini kan sahabat, bahkan aku sudah menganggapmu seperti saudaraku sendiri." Andri terkekeh pelan, lalu mengusap-usap lengannya. "Iya, iya, ampun! Aku kan cuma bertanya, tidak boleh bercanda sedikit?" Alina menggeleng-gelengkan kepala seraya mengalihkan pandangannya kembali menatap dedaunan pohon yang melambai ditiup angin. Ia tidak pernah tahu bahwa di balik tawa dan candaan ringan Andri, ada perasaan besar yang pernah dan masih tersimpan begitu rapi. Sejak kecil, mereka berdua memang tumbuh bersama di kampung halaman yang sama. Bermain di pematang sawah, pulang sekolah bersama, hingga melewati masa

  • Terjerat Pesona Duda Tampan   Tidak Punya Ibu

    "Tidak semua Ibu seperti itu, Sean..." Alina berlutut semakin rendah, menyamakan tingginya dengan Sean. Tangan lembutnya mengusap pipi ramah bocah kecil itu dengan begitu penuh kasih sayang. "Tante meminta maaf ya, kalau kehadiran Ibu tadi pagi membuat Sean takut," lanjut Alina dengan suara yang sangat lembut, menatap lekat iris mata polos di hadapannya. Sean mengedipkan matanya beberapa kali, lalu mengunyah roti di mulutnya sampai habis sebelum kembali bersuara. "Sean tidak takut, Tante. Tapi... Sean cuma berpikir, untung saja Sean tidak punya Ibu." Alina dan Andri seketika tertegun mendengarnya. "Kenapa Sean bicara begitu, Sayang?" tanya Alina prihatin. "Kata teman-teman Sean di kelas, Ibu mereka itu suka mengomel dan memarahi mereka kalau tidak mau belajar atau salah pakai kaus kaki," celoteh Sean dengan polosnya, menyedot susu kotaknya sampai terdengar bunyi berisik di dasarnya. "Jadi Sean pikir, lebih baik tidak punya Ibu daripada punya Ibu yang galak." Alina menghela napa

  • Terjerat Pesona Duda Tampan   Keributan Depan Kontrakan

    "Ibu sudah!! Berhenti, Bu!!" Alina menerobos kerumunan tetangga dengan napas terengah-engah. Tepat saat jemari Mirna hendak mencengkeram sanggul Ibu Karin, Alina dengan sekuat tenaga menarik bahu ibunya mundur ke belakang. "Lepaskan Ibu, Alina! Biar Ibu beri pelajaran wanita mulut lancang ini!" jerit Mirna berontak, matanya mendelik murka ke arah Ibu Karin. Ibu Karin justru semakin melipat tangannya di dada, melayangkan senyum mengejek yang teramat menyebalkan. "Coba saja kalau berani! Dasar keluarga tidak tahu malu! Datang-datang cuma bikin ribut di komplek orang!" "Ibu Karin, tolong berhenti memperkeruh suasana!" tegur Alina tegas dengan wajah memerah tahan malu, membungkukkan badan sedikit pada warga sekitar. "Maafkan keributan ini, Bapak-Bapak, Ibu-Ibu. Tolong semuanya bubar, tidak ada yang perlu ditonton!" Dengan sekuat tenaga yang tersisa, Alina menyeret lengan Mirna masuk ke dalam rumah kontrakan, lalu membanting pintu kayu itu hingga tertutup rapat. Brak! "Ibu ini kenapa

  • Terjerat Pesona Duda Tampan   Candu

    "T-Tuan bicara apa, sih?! Jadi Tuan memberi saya uang ini hanya agar Tuan bisa tidur dengan saya nanti malam?!" Alina berdiri terpaku dengan wajah yang membara bagai terbakar, matanya mendelik bulat sempurna. Tangannya masih mengepal di depan dada tegap Reynard setelah pukulan kecil yang ia layangkan tadi. Reynard terkekeh renyah, sebuah tawa seksi yang memantul halus di dinding foyer. Pria itu sama sekali tidak meringis kesakitan, justru menangkap pergelangan tangan Alina yang mungil lalu menariknya makin rapat ke dalam terkaman pelukannya. "Siapa yang bilang begitu, hm?" bisik Reynard dengan nada rendah yang amat menggoda, menundukkan kepalanya hingga napas hangatnya berembus tepat di permukaan leher Alina. "Saya tidak pernah menjual beli kehangatanmu dengan uang, Alina. Tuduhanmu itu sangat tidak benar." "L-Lalu kenapa Tuan bilang mau menagih ucapan terima kasih nanti malam?" cicit Alina, mencoba memalingkan wajahnya agar tidak terhipnosis oleh binar mata cokelat pekat milik ma

  • Terjerat Pesona Duda Tampan   Imbalan Sebuah Pertolongan

    "Tuan Reynard... saya betul-betul meminta maaf," cicit Alina lirih, berdiri menunduk kaku di balik pintu utama rumah mewah itu. Alina merekatkan kedua telapak tangannya di depan dada, tak berani mendongak menatap pria jangkung yang berdiri tegap di hadapannya. Rasa malu yang teramat sangat menyelimuti seluruh relung hatinya. Reynard yang sudah rapi dengan kemeja kerja dan jam tangan mewahnya menghentikan langkah. Pria itu menatap wanita di depannya dengan pandangan teduh, menyadari betapa gemetarnya bahu Alina saat ini. "Kenapa kau harus meminta maaf, Alina?" tanya Reynard pelan, suaranya terdengar begitu berat dan menenangkan. "Saya... saya sudah membuat keributan di rumah Tuan pagi-pagi begini," sahut Alina dengan suara yang makin serak menahan tangis, matanya membendung air mata. "Ibu saya juga bicaranya sangat sembarangan dan tidak sopan pada Tuan. Ditambah lagi... saya minta maaf karena Sean harus berangkat sekolah berdua saja dengan Andri tanpa ditemani oleh saya." Mendenga

  • Terjerat Pesona Duda Tampan   Berikan Aku Uang

    "Tentu saja aku peduli padamu, Alina! Kau pikir aku melakukan semua ini untuk siapa?!" "Cukup, Ibu! Hentikan semua tuntutan ini, karena aku sudah tidak sanggup lagi mendengarkannya!" Suara Alina memecah kesunyian rumah yang pengap itu, suaranya bergetar menahan amarah yang telah tertahan selama berbulan-bulan. Di hadapannya, Mirna duduk dengan santai, menyesap teh manis dengan gerakan yang begitu tenang, seolah teriakan putrinya hanyalah angin lalu yang tidak memiliki arti. "Kau berteriak kepadaku, Alina? Setelah semua yang telah aku korbankan untuk membesarkanmu?" Mirna meletakkan cangkir itu dengan denting yang tajam di atas meja kayu. "Aku tidak meminta banyak, aku hanya meminta kau sadar diri. Usiamu sudah cukup matang, dan kecantikanmu adalah aset. Mengapa kau menyia-nyiakannya dengan menjadi keras kepala?" Alina tertawa getir, tawa yang penuh dengan kepahitan. "Aset? Kau menganggapku sebagai aset? Tentu saja, bagimu aku hanyalah komoditas, bukan seorang anak. Kau memandangku

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status