로그인
Amira Shara tidak pernah membayangkan hari terakhirnya sebagai tunangan justru menjadi hari paling menghancurkan dalam hidupnya.
Satu hari sebelum pernikahan, ia masuk ke dalam apartemen Erick untuk memberikan kejutan kecil. Gaun putih sederhana menggantung di tangannya, harapan besar terpancar dari senyumnya sampai matanya melihat sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan. Erick berdiri di depan kamar, tubuhnya setengah telanjang, memeluk seorang wanita muda berambut panjang yang tidak ia kenal. Ciuman panas, desahan ringan, dan gelak tawa mesra terdengar jelas dari balik dinding. Amira berdiri terpaku. Napasnya tercekat, matanya membelalak. "Miranda... jangan keras-keras. Besok aku menikah." "Makanya malam ini aku harus jadi yang terakhir, Sayang." Tubuh Amira gemetar. Gaun di tangannya jatuh ke lantai. Ia berlari keluar tanpa sepatah kata, hujan mulai turun membasahi tubuhnya, tapi tidak ada yang bisa lebih dingin dari hati yang baru saja dihancurkan. Malam itu badai menggila. Petir bersahutan di langit, tapi Amira tidak peduli. Ia masuk ke sebuah club malam, langsung menuju bar dan memesan minuman tanpa henti. Vodka, gin, whiskey, semuanya ditenggak tanpa jeda. Kepalanya mulai berputar, tapi hatinya jauh lebih kacau dari efek alkohol. Seorang pria asing duduk di sampingnya. Rambutnya berantakan dengan gaya kasual, kemeja hitam terbuka satu kancing di atas, memperlihatkan sedikit dada bidangnya. Ia tidak berkata apa-apa, hanya memberi senyuman kecil yang entah kenapa membuat Amira tertarik. Amira menatapnya, lalu tersenyum samar. “Aku ingin malam ini berakhir. Aku ingin melupakan semuanya.” Pria itu mengangguk pelan, lalu menyodorkan tangannya. “Oliver.” Amira menjabat tangannya. “Amira.” Tak ada pembicaraan panjang. Tubuh mereka sudah bicara lebih dulu. Kamar hotel itu gelap dan dingin. Pakaian mereka berceceran di lantai. Amira terbaring di atas ranjang dengan tubuh telanjang, Oliver di atasnya, menatapnya dalam diam. Ciuman panas langsung menyambut bibirnya. Tangan Oliver menjalar ke dadanya, memijat lembut namun intens. Amira hanya bisa mengerang pelan, tidak menolak. Ia menarik Oliver lebih dekat, membiarkan pria itu menyentuh dan menjelajahi tubuhnya. Oliver menurunkan kepalanya, mencium leher Amira, turun ke payudaranya, memainkan lidahnya di sana hingga Amira menggeliat tak tahan. “Lakukan… lebih cepat. Aku sudah nggak tahan lagi,” desah Amira dengan napas terengah. Oliver tidak membuang waktu. Ia masuk ke dalamnya dengan gerakan penuh tekanan. Amira menjerit pelan, tubuhnya melengkung menyesuaikan. Ia membiarkan dirinya dikuasai sepenuhnya. Gerakan Oliver cepat, kuat, dan memuaskan. Desahan dan suara ranjang yang berdecit mengisi kamar sempit itu. Amira mencakar punggung Oliver, meminta lebih. Mereka melakukannya berulang kali, sampai tubuh Amira lemas dan napasnya habis. Ia tidak peduli siapa pria itu. Yang ia tahu, malam itu ia merasa diinginkan… dan itu cukup baginya. Pagi harinya, Amira terbangun dengan kepala berat dan tubuh pegal. Selimut tipis menutupi tubuhnya yang telanjang. Ia melihat ke samping tempat itu kosong. Oliver sudah pergi. Saat ia melihat tubuhnya sendiri bercak merah di dada dan paha, bekas ciuman dan cakar masih terlihat jelas Amira langsung menjerit. Ia memegang kepalanya yang pening. “Apa yang sudah aku lakukan…?” Namun yang paling menyakitkan bukan hanya kehilangan harga dirinya… tapi ia bahkan tidak tahu siapa pria itu, dan kini tubuhnya tidak lagi sama. Satu malam, satu pria asing, dan sebuah dosa yang akan menghantuinya selamanya. Amira pulang ke rumah saat matahari sudah tinggi. Rambutnya berantakan, wajahnya pucat, dan tubuhnya masih terasa lengket oleh keringat dan aroma pria asing yang tadi malam menguasainya. Langkahnya berat, tapi ia paksakan. Gaun club yang ia kenakan semalam sudah kusut. Beberapa bekas merah masih tampak di bagian dada dan pahanya. Ia berharap rumah kosong, berharap bisa langsung masuk ke kamar tanpa terlihat siapa pun. Tapi doanya tidak terkabul. Erick duduk di ruang tamu, tenang, santai, dengan secangkir kopi di tangannya. Ia langsung berdiri saat melihat Amira masuk. “Amira... ke mana saja kamu semalam?” tanyanya, seolah tidak ada yang salah. Amira berdiri di ambang pintu, menatap pria yang kemarin ia lihat bercumbu dengan wanita lain. Matanya merah, tapi bukan karena mabuk, melainkan karena dendam dan kehancuran yang terlalu dalam untuk diucapkan. “Kamu masih punya muka untuk duduk di sini?” Erick mengangkat alis, pura-pura bingung. “Apa maksudmu?” Amira tersenyum miring. “Aku lihat kamu dengan wanita itu. Di kamarmu. Kau pikir aku buta?” Erick tidak menjawab. Ia hanya diam, dan diamnya itu membuat Amira makin ingin muntah. Ia melangkah cepat melewatinya, naik ke kamarnya tanpa berkata apa pun lagi. Air mata sudah menggantung di ujung matanya, tapi ia tahan. Ia masuk ke kamar, mengunci pintu, dan menjatuhkan diri ke lantai. Tangisnya meledak di sana. Amira tahu… hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Terutama setelah malam gila itu, setelah tubuhnya dimiliki pria asing, dan setelah ia menyadari satu hal ia telat datang bulan.Oliver teringat wajah Amira di rumah sakit. Perempuan itu sudah cukup menderita karena dirinya. Ia tahu Amira takut kepadanya, dan ia menyadari bahwa tindakannya sendiri telah membuat perempuan itu semakin menjauh. Akan tetapi, meskipun Amira membencinya, Oliver tidak sanggup membayangkan perempuan itu terus disakiti oleh Erick. "Kurang ajar!" bentaknya tiba-tiba. Tangannya menghantam meja hingga beberapa dokumen bergeser. Anak buahnya terkejut, tetapi tidak berani menyela. "Dia pikir dia bisa melakukan apa saja hanya karena keluarga Amira mempercayainya?" Oliver menatap tajam ke arah anak buahnya. "Dia pikir dengan mengaku sebagai ayah dari anak itu, dia bisa mempermainkan hidup Amira sesuka hatinya?" "Tuan, apa perintah Anda?" Oliver terdiam sesaat. Ia ingin langsung mendatangi rumah Malik dan menyeret Erick keluar dari sana. Ia ingin menatap pria itu secara langsung dan membuatnya memahami akibat dari semua perbuatannya. Namun, ia teringat bahwa Amira tidak menginginkan k
Malam semakin larut, tetapi Amira masih belum bisa memejamkan matanya. Ia terus teringat pengakuan Erick di taman tadi. Setiap kali mengingat tatapan dingin pria itu, dadanya terasa sesak seolah-olah ada sesuatu yang menghimpitnya.Amira berbaring miring, kemudian mencoba mengatur napasnya.Namun, kepalanya terasa semakin pusing."Aduh, kenapa kepalaku sakit sekali?" gumamnya sambil memijat pelipis.Ia bangkit perlahan dan duduk bersandar pada kepala tempat tidur. Tubuhnya terasa lemas, sementara pikirannya tak kunjung tenang.Bayangan Erick kembali menghantuinya.Pria itu bukan hanya mengkhianati cintanya, tetapi juga berencana menjadikan kehamilannya sebagai jalan untuk menguasai kekayaan orangtuanya.Amira memejamkan mata, menahan air mata yang kembali menggenang.Apa yang harus kulakukan sekarang? Kalau aku membongkar kebohongannya, bagaimana jika Papa dan Mama mengetahui siapa ayah sebenarnya dari bayi ini?Ia menggigit bibir bawahnya.Amira merasa terjebak di antara dua pilihan
Malam itu, Amira masih duduk sendirian di tepi tempat tidurnya. Matanya sembap akibat menangis, sementara pikirannya terus berputar mengingat semua kejadian yang menimpanya.Pengkhianatan Erick benar-benar menghancurkan hatinya. Pria yang selama ini ia cintai dan percayai ternyata hanya menjadikannya alat untuk mencapai ambisi.Amira mengusap wajahnya, mencoba menenangkan diri. Namun, semakin ia berusaha melupakan kejadian tadi, semakin jelas pula terbayang wajah Erick ketika pria itu membuka topengnya di taman.Jadi, selama ini aku hanya perempuan yang ingin kau manfaatkan? Bahkan anak yang kukandung pun ingin kau jadikan alat untuk mendapatkan kekayaan Papa?Dadanya terasa sesak.Tanpa sadar, pikirannya tiba-tiba beralih kepada Oliver.Amira terdiam.Ia teringat bagaimana pria itu selalu berusaha memastikan keadaannya, bahkan ketika ia berkali-kali menolak kehadirannya. Oliver memang sering bersikap menyebalkan, keras kepala, dan terlalu ingin mengendalikan dirinya. Namun, di balik
Di rumah mewah milik Oliver, suasana terasa begitu sunyi. Sejak kembali dari rumah sakit setelah mengetahui bahwa Amira telah diperbolehkan pulang, pria itu tidak bisa menenangkan pikirannya.Oliver berdiri di dekat jendela besar ruang kerjanya. Satu tangannya berada di saku celana, sementara tangan lainnya memegang ponsel yang sejak tadi beberapa kali ia periksa.Wajahnya tampak muram.Ia masih mengingat dengan jelas kejadian terakhir saat dirinya berada di kamar rumah sakit Amira. Perempuan itu menamparnya karena ia telah memaksakan kehendaknya. Bahkan, tatapan ketakutan Amira masih membekas di benaknya.Oliver mengembuskan napas panjang."Bagaimana keadaanmu sekarang, Amira?" gumamnya pelan.Sejak mengetahui kehamilan Amira, pikirannya semakin dipenuhi kecemasan. Dokter telah memperingatkannya bahwa kondisi perempuan itu membutuhkan perhatian khusus dan tidak boleh mengalami stres berlebihan.Namun, Oliver tidak bisa berada di sisinya.Bukan karena ia tidak ingin, melainkan karena
Amira harus memendam sendiri semua kebohongan Erick di hadapan kedua orang tuanya. Meskipun hatinya terasa hancur dan ia ingin mengungkapkan semua kejahatan pria itu, Amira tidak memiliki keberanian untuk melakukannya sekarang.Ia takut jika rahasia tentang ayah dari bayi yang dikandungnya terbongkar, kedua orang tuanya akan kecewa dan tidak bisa menerima kenyataan tersebut.Dengan langkah perlahan, Amira kembali memasuki ruang keluarga bersama Erick.Begitu melihat Malik dan Suzan, Erick segera mengubah ekspresinya. Wajahnya yang tadi dipenuhi kekejaman kini berubah lembut. Ia bahkan meraih tangan Amira dan menggenggamnya dengan penuh kasih sayang, seolah-olah perempuan itu adalah orang yang paling berharga dalam hidupnya."Sayang, kamu duduk dulu, ya. Jangan terlalu lama berdiri. Kondisimu masih belum benar-benar pulih," ucap Erick lembut.Amira terdiam.Ia ingin menarik tangannya, tetapi Erick justru mengusap punggung tangannya dengan gerakan penuh perhatian."Kalau kamu merasa pus
"Ayahmu memiliki perusahaan besar, koneksi luas, dan kekayaan yang selama ini ingin kudapatkan. Dengan menikahimu, aku bisa menjadi bagian dari keluarganya. Aku bisa mendapatkan kepercayaan Malik dan perlahan-lahan menguasai apa yang seharusnya menjadi milikku.""Perusahaan Papa bukan milikmu!" seru Amira."Tentu saja bukan sekarang." Erick tersenyum sinis. "Tapi keadaan bisa berubah setelah kita menikah."Amira menggelengkan kepala, tidak percaya bahwa pria yang selama ini hendak dinikahinya ternyata menyimpan niat sekeji itu."Lalu, bagaimana dengan anak ini? Kau bahkan tahu dia bukan anakmu. Mengapa kau masih mengakuinya?"Tatapan Erick berubah tajam."Karena kehamilanmu memberiku alasan yang kuat untuk mempercepat pernikahan kita. Ayahmu tidak akan mudah menolak jika aku berdiri di hadapannya dan mengatakan bahwa aku ingin bertanggung jawab atas cucunya."Amira merasa darahnya seakan berhenti mengalir."Kau ingin memanfaatkan anakku untuk mendapatkan harta Papa?""Kalau kau sudah
Dua hari kemudian. Amira kini sepenuhnya berada dalam kendali Oliver. Meski kondisi tubuhnya sudah pulih dan ia diperbolehkan pulang, Oliver justru membawanya ke penthouse miliknya, bukan ke rumah orang tuanya. "Ini bukan rumahku. Aku ingin pulang. Papa dan Mama pasti sedang menunggu," ucap Ami
Amira tidak peduli dengan semua yang dikatakan Oliver. Baginya, suara pria itu hanyalah gangguan samar yang berdesing di telinga, tak lebih. Ia kembali berbaring, membelakangi Oliver. Namun saat matanya terpejam, ingatan itu datang lagi—saat Erick mengkhianatinya, saat kepercayaannya dihancurkan
Orang tua Amira terus berusaha mencari keberadaan anak mereka. Terakhir kali, Amira menelepon Suzan ibunya dari sebuah pusat perbelanjaan. “Pah, Amira nggak mungkin ninggalin kita. Mama yakin dia cuma butuh waktu untuk nenangin diri,” ucap Suzan, mencoba meredam kemarahan Malik. Namun, Malik su
Amira perlahan membuka matanya. Cahaya matahari pagi menelusup melalui celah tirai, menyilaukan matanya yang masih terasa berat. Saat kesadarannya mulai kembali, tubuhnya terasa nyeri dan lelah tak terkira. Namun yang paling membuatnya membelalak bukan rasa sakit itu… melainkan tubuh seorang pria







