LOGIN“Aku tidak mencintaimu.” “Tapi kau meniduriku, Oliver…” Malam itu seharusnya tak pernah terjadi. Ia bukan kekasihnya. Ia bahkan bukan siapa-siapa. Tapi tubuh Amira tak bisa menyangkal dirinya sudah dimiliki. Direnggut oleh pria asing yang kini mengaku sebagai ayah dari anak yang tumbuh dalam rahimnya. Kisah ini bukan tentang cinta. Ini tentang pemaksaan yang berubah menjadi obsesi. Tentang tubuh yang dikhianati, dan hati yang tak tahu harus membenci atau menyerah.
View MoreThey dressed me like a prize.
Red satin hugged my curves, tight enough to suffocate. A diamond collar clasped around my throat, glittering under the low lights like a leash. The auction house smelled of cigars, sweat, and money.
I wasn’t supposed to be here.
But when your father gambles away everything—including you—what you’re “supposed to be” doesn’t matter.
I stood behind the curtain, heart pounding in my chest like war drums. Girls went ahead of me one by one, swallowed by red velvet drapes, returning either sobbing or not at all. My number—#29—was stitched in gold thread across my hip like a cruel joke.
My turn.
The curtain opened, and the crowd roared.
I stepped onto the stage, heels clicking like gunshots. Faces blurred. Suits, cigars, masks. Men with fat wallets and cold eyes.
“All the way from Milan,” the announcer purred, “a rare delicacy. Untouched. Unbroken.”
Liar.
I was neither.
“Starting bid—ten thousand.”
Hands lifted. Numbers flew.
“Fifteen.”
“Twenty.”
“Thirty-five.”
I stared out, refusing to cry. Refusing to beg.
Then a voice cut through the chaos.
Deep. Smooth. Terrifying.
“One million.”
Silence fell like a blade.
The crowd parted as he rose from his seat. All black—suit, shirt, soul. Eyes like midnight storms. That face… sharp jaw, sensual mouth, devil in Armani.
No.
Luciano Moretti.
The man who’d left me without a goodbye.
My first everything.
I took a shaky step back.
He took a slow step forward.
“Sold,” the auctioneer whispered, almost afraid.
Luciano met my gaze with a smirk that made my knees threaten betrayal.
“I told you once, cara,” he said as he reached the stage, “if I ever saw you again… I’d never let you go.”
“I told you once, cara, if I ever saw you again… I’d never let you go.”
His voice. It hadn’t changed.
Low and smooth, like danger whispered in your ear just before the lights went out.
My heart stuttered painfully in my chest. I felt like I was seventeen again—naïve, breathless, and foolishly in love with a man who kissed me like he owned my soul, only to disappear like I never mattered.
And now?
He just bought me.
Luciano’s eyes didn’t leave mine as he stepped up onto the stage, a king claiming his prize.
I didn’t move.
I couldn’t.
His presence wrapped around me like smoke—intoxicating, suffocating. I hated the way my body reacted. The way my legs weakened. The way my lips parted to breathe him in like he was still my oxygen.
“Take her,” the auctioneer said nervously, handing off the leash connected to the diamond collar around my neck.
Leash.
God.
I jerked my head away, yanking it from Luciano’s grasp—but he caught the chain easily, tugging it just enough to tilt my chin up to him.
“There’s that fire,” he murmured, his lips curling into something dark and possessive. “I’ve missed that.”
“I’m not yours,” I hissed, voice shaking.
“You are now,” he replied. “Legally, in fact. Should’ve read the fine print.”
Then he walked me off the stage, dragging me into hell one slow step at a time.
The limo waiting outside was black, sleek, and unmarked—like everything about Luciano. A silent shadow pulled open the door, bowing slightly. Bodyguard? Henchman? I didn’t care.
He ushered me in without a word, and I collapsed into the leather seat, chest rising and falling too fast. He got in across from me, eyes never leaving mine. Calm. Unbothered. Dangerous.
“I could scream,” I threatened, voice thin.
“You could,” he said, nodding. “But nobody’s going to save you. You were sold, signed, and claimed. That collar around your neck? It’s real now, cara.”
I reached for it. It clicked shut.
“Luciano,” I snapped. “What the hell is this?”
“Payment,” he said simply. “Interest, if you will. Your father owed men I don’t like. I paid the price to keep you out of their hands.”
I swallowed.
“So this is charity?”
“No,” he leaned forward, his tone dropping, his accent thickening. “This is personal.”
Our knees brushed. I tensed.
Luciano smiled.
“I didn’t bid because I had to,” he said. “I bid because I wanted to. You cost me everything once. My focus. My trust. My heart.”
“I was eighteen!”
“And I was stupid enough to think that was an excuse.”
He leaned closer, his eyes drifting over my dress, pausing at the collar.
“You were always mine,” he whispered, darkly amused. “Now the world knows it.”
I wanted to slap him. I wanted to scream. I wanted to hurl every curse I knew in his arrogant, gorgeous face.
But all I did was sit there.
Frozen.
Because somewhere deep inside, a broken part of me still remembered what it felt like to be held by this man.
To be touched by him.
To be loved—before he turned cold and disappeared, before he became the monster they whispered about in alleyways and blood-soaked rumors.
“I hate you,” I said quietly.
He smirked.
“No, you don’t. But you will.”
Dua hari kemudian. Amira kini sepenuhnya berada dalam kendali Oliver. Meski kondisi tubuhnya sudah pulih dan ia diperbolehkan pulang, Oliver justru membawanya ke penthouse miliknya, bukan ke rumah orang tuanya. "Ini bukan rumahku. Aku ingin pulang. Papa dan Mama pasti sedang menunggu," ucap Amira memelas, berharap Oliver bersedia mengembalikannya ke rumah. "Tenanglah, Amira. Kita akan pulang setelah kau benar-benar pulih," jawab Oliver enteng. Amira menoleh ke arah lain, menolak menatap wajah pria itu. Ia membenci setiap kata yang keluar dari mulutnya. "Kembalikan ponselku," pintanya, mencoba memaksa. Namun Oliver tetap santai, seolah Amira hanyalah anak kecil yang sedang merengek. "Amira, kau harus benar-benar pulih dulu. Setelah itu, ponselmu akan kukembalikan. Jangan khawatir." Amira sempat ingin melempar gelas yang ada di meja ke arahnya, tapi ia mengurungkan niat. Ia takut Oliver akan menyakitinya. Oliver kemudian masuk ke kamar mandi. Ia membasahi tubuhnya deng
Amira tidak peduli dengan semua yang dikatakan Oliver. Baginya, suara pria itu hanyalah gangguan samar yang berdesing di telinga, tak lebih. Ia kembali berbaring, membelakangi Oliver. Namun saat matanya terpejam, ingatan itu datang lagi—saat Erick mengkhianatinya, saat kepercayaannya dihancurkan tanpa ampun. Luka itu masih menganga, masih segar, dan menyiksa jiwanya. Air mata mengalir tanpa bisa dicegah, membasahi bantal yang sudah lembap sejak malam sebelumnya. Hatinya terasa sesak, seperti dihimpit ribuan beban yang tak terlihat. Oliver memperhatikan dari sisi ranjang. Ia menatap punggung Amira yang bergetar halus karena isak tertahan. Hatinya mencelos. Ia—seorang pria yang dulu dengan mudah memainkan hati wanita, kini berdiri di ujung tempat tidur, merasa tak berdaya di hadapan seorang gadis yang bahkan tak mau menatapnya. Seorang Casanova yang dulu dielu-elukan, kini tak punya daya di hadapan luka yang ia ciptakan sendiri. Ia ingin menyentuh bahu Amira, menenangkannya, t
Orang tua Amira terus berusaha mencari keberadaan anak mereka. Terakhir kali, Amira menelepon Suzan ibunya dari sebuah pusat perbelanjaan. “Pah, Amira nggak mungkin ninggalin kita. Mama yakin dia cuma butuh waktu untuk nenangin diri,” ucap Suzan, mencoba meredam kemarahan Malik. Namun, Malik sudah telanjur kecewa. “Apa lagi yang bisa diharapkan dari Amira? Dia sudah mempermalukan kita dengan menolak Erick. Tiga tahun mereka bertunangan, nggak pernah ada masalah. Sekarang tiba-tiba dibatalkan? Apa dia nggak mikir harga diri keluarga ini?” Suzan hanya bisa diam. Ia tahu Amira punya alasannya sendiri, tapi ia juga sadar sekarang bukan waktu yang tepat untuk membela putrinya. Sementara itu, tak ada seorang pun yang tahu apa yang sebenarnya menimpa Amira. Siang itu, saat Malik dan Suzan masih duduk di ruang tamu dalam kekhawatiran yang tak berujung, Erick datang. Wajahnya tampak iba, seolah benar-benar peduli. “Amira belum pulang juga?” tanyanya dengan nada prihatin. “Maafkan
Amira perlahan membuka matanya. Cahaya matahari pagi menelusup melalui celah tirai, menyilaukan matanya yang masih terasa berat. Saat kesadarannya mulai kembali, tubuhnya terasa nyeri dan lelah tak terkira. Namun yang paling membuatnya membelalak bukan rasa sakit itu… melainkan tubuh seorang pria yang tidur di sampingnya. Oliver. Dengan tubuh hanya dibalut selimut putih, Amira menatap pria itu dengan campuran kaget, jijik, dan amarah yang meledak-ledak. Dadanya bergemuruh hebat. Luka batin dan rasa terhina seakan menampar kesadarannya berulang kali. “KAU!!!” teriaknya sambil menghujani tubuh pria itu dengan pukulan bertubi-tubi. Oliver terbangun dengan wajah mengantuk, tapi saat melihat Amira yang menatapnya penuh amarah, matanya membulat. “Kau sudah sadar, Amira?” ucapnya lembut, seolah tak ada yang terjadi. Tanpa basa-basi, Amira mencakar dadanya dan menarik rambut Oliver sekuat tenaga. Tapi tak ada reaksi dari pria itu. Sama sekali tak meringis. Ia hanya diam, membiarka
Amira Shara tidak pernah membayangkan hari terakhirnya sebagai tunangan justru menjadi hari paling menghancurkan dalam hidupnya. Satu hari sebelum pernikahan, ia masuk ke dalam apartemen Erick untuk memberikan kejutan kecil. Gaun putih sederhana menggantung di tangannya, harapan besar terpancar d
Amira masih menolak untuk bicara. Mulutnya terkunci oleh rasa marah, jijik, dan bingung yang bercampur menjadi satu. Tapi Oliver tidak menyerah. Dengan tenang, pria itu mengajak Amira duduk di sebuah kafe yang telah ia sewa khusus hanya untuk mereka berdua. Tak ada pelanggan lain. Semua pelayan p
Amira keluar tanpa mengatakan apa pun pada Malik, ayahnya. Ia hanya ingin menenangkan diri dari semua masalah yang ia hadapi selama beberapa minggu ini. Ia tidak berani memberitahu ibunya bahwa dirinya tengah hamil, sementara ia pun tak tahu siapa ayah dari bayi yang dikandungnya. Amira tiba di






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.