เข้าสู่ระบบAmira keluar tanpa mengatakan apa pun pada Malik, ayahnya. Ia hanya ingin menenangkan diri dari semua masalah yang ia hadapi selama beberapa minggu ini.
Ia tidak berani memberitahu ibunya bahwa dirinya tengah hamil, sementara ia pun tak tahu siapa ayah dari bayi yang dikandungnya. Amira tiba di supermarket. Ia berjalan menyusuri rak buah-buahan segar dan minuman dingin. Tenggorokannya terasa kering, tubuhnya pun lelah tak berdaya. Tanpa ia sadari, seseorang sedang memperhatikannya dari kejauhan. Seorang pria berpenampilan menarik, bertubuh tinggi tegap, mengenakan kemeja putih dengan satu kancing atas terbuka. Tatapan mata itu tak henti mengawasi Amira, gadis yang sudah ia cari selama satu bulan terakhir. "Itu dia." Oliver segera melangkah mendekati Amira. “Kau sedang apa di sini?” tanya Oliver, berdiri di samping Amira sambil memegang buah yang baru saja ia ambil dari rak. Amira tidak memperdulikannya. Bagi Amira, pria itu hanyalah Casanova yang diincar ribuan wanita. Amira memalingkan wajahnya sejenak, berharap pria itu pergi tanpa mengganggunya. Ia tidak mengenali siapa Oliver, bahkan wajahnya pun tampak asing baginya. Tapi entah kenapa, pria itu bersikap seolah mereka sudah pernah bertemu. Bahkan nada suaranya terdengar begitu yakin, seperti sedang berbicara dengan seseorang yang sangat ia rindukan. "Aku bilang, kau sedang apa di sini?" ulang Oliver, kini lebih mendekat. Suaranya rendah tapi cukup tegas. Amira menatapnya sejenak, lalu kembali melihat buah di hadapannya. "Maaf, saya rasa Anda salah orang." Jawab Amira dengan sangat cuek. Oliver mengernyit. Tatapan Amira tampak benar-benar asing, seolah wanita itu memang tak pernah melihatnya seumur hidupnya. Tapi Oliver tahu ia yakin seratus persen, wanita di hadapannya ini adalah gadis yang sama. Gadis mabuk satu bulan lalu di acara malam liar itu. Gadis yang terus menghantui pikirannya. "Aku tidak salah orang. Kau Amira, kan?" Amira menatapnya, sedikit kaget. “Dari mana kau tahu namaku?” "Karena aku mencari mu selama sebulan penuh." Nada suara Oliver membuat dada Amira terasa sesak. Tapi ia tidak tahu kenapa. Ia tidak ingat pernah bertemu pria ini sebelumnya, apalagi sampai memberi tahu namanya. "Kau salah. Aku rasa lebih baik kita tidak berbicara," ucap Amira cepat-cepat. Ia mengambil minuman dingin dan mendorong troli menjauh. Tapi langkahnya tertahan begitu cepat. “Sebentar…” Oliver menggenggam ujung troli. "Aku tahu kau mungkin tidak ingat apa pun. Tapi aku ingat segalanya. Malam itu…" Amira menegang. Kata “malam itu” seketika membuat darahnya berdesir. Ia tidak pernah benar-benar tahu apa yang terjadi di malam saat ia mabuk berat, kecuali rasa sakit yang ia rasakan keesokan harinya. Dan sejak itu, hidupnya berubah. Ia hamil… tanpa tahu siapa ayah dari bayi yang ia kandung, semua itu karena Erick mengkhianatinya. "Jangan bicara tentang itu," potong Amira cepat, wajahnya memerah entah karena marah atau malu. "Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan, dan aku tidak ingin tahu, menjauh lah dariku." "Aku tidak ingin menyakitimu, Amira," ucap Oliver dengan suara yang jauh lebih pelan. "Aku hanya ingin bicara. Lima menit saja." Amira menggeleng. "Aku harus pergi." Ia mendorong troli dengan cepat, menjauh dari Oliver, tapi pria itu terus mengikuti. Bukan dengan sikap memaksa, namun seperti seseorang yang merasa bertanggung jawab. Ia tahu ada sesuatu dalam diri Amira, wajah pucat itu, tubuh yang sedikit lemah, langkah yang kadang tidak stabil semuanya menyiratkan bahwa ada yang berubah. Karena pertemuan pertama itu Amira sungguh bugar meskipun sedang mabuk. Hingga akhirnya… Oliver menarik napas panjang. “Kau hamil?” Langkah Amira terhenti. Jantungnya berdetak kencang. Tangannya yang memegang botol air gemetar. Ia tak pernah mengatakan ini pada siapa pun. Bahkan ibunya. Bahkan Malik, ayah yang selama ini keras namun selalu berusaha menjaga martabat keluarga. "Siapa kau sebenarnya?" bisik Amira tanpa menoleh. "Aku orang yang menghabiskan malam bersamamu, sebulan yang lalu." Tubuh Amira bergetar. Kata-kata itu membelah kenyataan yang selama ini ia coba tolak. Ia memang tidak tahu siapa yang menyentuhnya malam itu. Tapi jika pria ini berkata benar!? "Aku tidak tahu apa yang kau lakukan padaku malam itu. Tapi jika kau memang benar maka kau telah menghancurkan hidupku," bisik Amira lirih, hampir tak terdengar. Oliver mengatupkan rahangnya. Ia tahu semua ini tidak mudah diterima. Tapi ini kenyataan. Dan mungkin, ia harus bertanggung jawab. "Kalau kau mau, kita bicara di tempat lain. Aku akan dengar semuanya darimu. Aku akan membantu." Amira menoleh cepat, matanya berkaca-kaca. "Kau pikir bantuanmu akan memperbaiki segalanya?" Oliver menunduk. “Tidak. Tapi mungkin ini awal untuk memperbaiki yang telah salah.”Setelah mengatakan itu, Oliver benar-benar mundur selangkah. Amira menatapnya dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Sebagian dirinya merasa lega karena pria itu akhirnya tidak memaksakan kehendak. Namun, sebagian lainnya justru semakin gelisah karena ucapan Oliver kembali mengingatkannya pada kenyataan bahwa ia tidak bisa terus melarikan diri dari masalah yang sedang dihadapinya. Oliver berbalik, berniat kembali ke restoran tempat kliennya menunggu. Namun, baru beberapa langkah ia berjalan, suara Amira terdengar dari belakang. "Oliver!" Langkahnya terhenti. Untuk sesaat, harapan muncul di wajah pria itu. Ia berbalik dan mendapati Amira masih berdiri di depan toko pakaian dengan ekspresi yang sulit dibaca. "Apa?" Amira menelan ludah sebelum akhirnya bertanya dengan suara pelan. "Kalau kau benar-benar ingin bertanggung jawab atas anak ini, apakah itu berarti kau akan terus muncul dalam kehidupanku?" Oliver terdiam beberapa saat. Ia tidak ingin memberikan jawaban yang justru
Oliver segera menurunkan tangannya. "Maaf," katanya pelan. "Aku tidak bermaksud membuatmu takut. Aku hanya mencoba membuatmu nyaman di dekat ku." "Tapi kau selalu melakukan itu!" Amira menatapnya tajam. "Kau selalu datang sesukamu, mendekatiku sesukamu, lalu bertindak seolah-olah kita memiliki hubungan yang istimewa!" Oliver terdiam. "Amira, aku hanya ingin tahu bagaimana keadaanmu." "Aku baik-baik saja. Kau tidak perlu mengkhawatirkanku." "Bagaimana aku tidak khawatir? Kau sedang mengandung—" "Jangan membahas anak itu di sini!" Suara Amira terdengar lebih tinggi daripada yang ia inginkan. Ia segera menahan napas, lalu melirik ke sekeliling untuk memastikan tidak ada orang yang memperhatikan percakapan mereka dengan serius. Oliver mengatupkan bibirnya. Ia tahu Amira belum bisa menerima kehadirannya. Namun, mendengar perempuan itu berbicara seolah-olah dirinya tidak memiliki arti apa pun tetap membuat hatinya terasa sesak. Sementara itu, Amira berusaha mengendalik
Seminggu telah berlalu sejak kedatangan Oliver ke rumah Amira. Selama itu pula, Amira berusaha menenangkan pikirannya dan memulihkan kondisi tubuhnya. Ia tidak ingin terus-menerus larut dalam masalah yang seolah tidak ada habisnya, terlebih kini ia harus menjaga kesehatan dirinya dan bayi yang dikandungnya. Pagi itu, setelah merasa tubuhnya jauh lebih baik, Amira memutuskan pergi ke mal sendirian. Ia ingin berjalan-jalan sebentar, melihat-lihat pakaian, sekaligus mencari udara segar setelah beberapa hari lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Dengan langkah perlahan, Amira menyusuri deretan toko pakaian. Sesekali ia berhenti untuk memperhatikan gaun yang dipajang di balik kaca. Wajahnya terlihat lebih segar dibandingkan beberapa hari sebelumnya, meskipun masih ada kesedihan yang tersimpan di balik matanya. Amira tidak menyadari bahwa sejak beberapa menit lalu, sepasang mata terus memperhatikannya dari kejauhan. Oliver. Pria itu sedang menghadiri rapat bersama seorang klien pen
Oliver mengepalkan tangannya di sisi tubuh.Ia ingin mengatakan bahwa dirinya tidak pernah melupakan malam itu. Ia juga ingin mengatakan bahwa sejak mengetahui Amira mengandung anaknya, ia tidak pernah benar-benar bisa merasa tenang.Namun, sebelum sempat mengucapkan apa pun, terdengar suara Susan dari dalam rumah."Amira, siapa yang datang, Nak? Kenapa lama sekali?"Tubuh Amira seketika menegang.Oliver pun terdiam. Ia menyadari bahwa satu langkah yang salah bisa menghancurkan kesempatan untuk berbicara dengan Amira."Sebentar, Ma!" jawab Amira dengan suara yang sengaja dibuat setenang mungkin.Kemudian, ia kembali menatap Oliver. Ada ketakutan, kemarahan, sekaligus permohonan dalam tatapannya."Tolong pergi sekarang."Oliver tidak langsung bergerak."Amira, aku belum selesai bicara denganmu.""Tapi aku sudah selesai!" bisiknya tegas. "Aku tidak ingin Mama tahu tentangmu. Jadi, kumohon, jangan membuatku harus menjelaskan sesuatu yang bahkan belum sanggup kuhadapi sendiri."Untuk pert
Oliver menatap Amira dengan sorot mata yang sulit diartikan. Sudah berhari-hari pria itu berusaha menahan diri untuk tidak menemui perempuan yang terus memenuhi pikirannya. Namun, setelah mengetahui rencana Erick yang ingin menikahi Amira dengan mengakui bayi dalam kandungan perempuan itu sebagai anaknya, kesabarannya benar-benar habis.Kini, Oliver berdiri tepat di hadapan Amira. Bukan sebagai seorang CEO yang biasa memberikan perintah di ruang rapat, melainkan sebagai pria yang rela menyamar menjadi tukang paket demi bisa bertemu dengannya."Oliver, kau....?"Suara Amira terdengar bergetar. Matanya membesar, sementara wajahnya perlahan kehilangan warna. Ia sama sekali tidak menyangka pria itu akan muncul di depan rumahnya, terlebih dengan pakaian sederhana dan sebuah paket di tangannya.Oliver segera melepaskan genggaman tangannya ketika menyadari Amira tampak terkejut."Jangan berteriak. Aku hanya ingin bicara denganmu," ucap Oliver pelan.Amira buru-buru melirik ke arah ruang kelu
Oliver teringat wajah Amira di rumah sakit. Perempuan itu sudah cukup menderita karena dirinya. Ia tahu Amira takut kepadanya, dan ia menyadari bahwa tindakannya sendiri telah membuat perempuan itu semakin menjauh. Akan tetapi, meskipun Amira membencinya, Oliver tidak sanggup membayangkan perempuan itu terus disakiti oleh Erick. "Kurang ajar!" bentaknya tiba-tiba. Tangannya menghantam meja hingga beberapa dokumen bergeser. Anak buahnya terkejut, tetapi tidak berani menyela. "Dia pikir dia bisa melakukan apa saja hanya karena keluarga Amira mempercayainya?" Oliver menatap tajam ke arah anak buahnya. "Dia pikir dengan mengaku sebagai ayah dari anak itu, dia bisa mempermainkan hidup Amira sesuka hatinya?" "Tuan, apa perintah Anda?" Oliver terdiam sesaat. Ia ingin langsung mendatangi rumah Malik dan menyeret Erick keluar dari sana. Ia ingin menatap pria itu secara langsung dan membuatnya memahami akibat dari semua perbuatannya. Namun, ia teringat bahwa Amira tidak menginginkan k
Dua hari kemudian. Amira kini sepenuhnya berada dalam kendali Oliver. Meski kondisi tubuhnya sudah pulih dan ia diperbolehkan pulang, Oliver justru membawanya ke penthouse miliknya, bukan ke rumah orang tuanya. "Ini bukan rumahku. Aku ingin pulang. Papa dan Mama pasti sedang menunggu," ucap Ami
Amira tidak peduli dengan semua yang dikatakan Oliver. Baginya, suara pria itu hanyalah gangguan samar yang berdesing di telinga, tak lebih. Ia kembali berbaring, membelakangi Oliver. Namun saat matanya terpejam, ingatan itu datang lagi—saat Erick mengkhianatinya, saat kepercayaannya dihancurkan
Orang tua Amira terus berusaha mencari keberadaan anak mereka. Terakhir kali, Amira menelepon Suzan ibunya dari sebuah pusat perbelanjaan. “Pah, Amira nggak mungkin ninggalin kita. Mama yakin dia cuma butuh waktu untuk nenangin diri,” ucap Suzan, mencoba meredam kemarahan Malik. Namun, Malik su
Amira perlahan membuka matanya. Cahaya matahari pagi menelusup melalui celah tirai, menyilaukan matanya yang masih terasa berat. Saat kesadarannya mulai kembali, tubuhnya terasa nyeri dan lelah tak terkira. Namun yang paling membuatnya membelalak bukan rasa sakit itu… melainkan tubuh seorang pria







