LOGINBrielle sedikit tertegun. Baru beberapa saat kemudian dia mengulurkan garpunya, mengambil udang itu, lalu memasukkannya ke mulut.Di seberang meja, kegelisahan dan harapan yang sejak tadi memenuhi mata Raka akhirnya berubah menjadi senyuman tipis. Rasanya seperti pohon yang telah lama kering kembali bertunas.Brielle mendongak. Melihat Raka terus memperhatikannya makan, dia berkata pelan, "Kamu juga makan."Raka tersenyum, lalu mengangguk. "Oke."Brielle berkedip pelan. Dia mengamati rambut Raka yang kini telah memutih dengan saksama, seolah sedang memikirkan sesuatu.Menyadari tatapannya, Raka tanpa sadar mengangkat tangan dan menyentuh pelipisnya. "Kamu lihat apa?"Brielle tersadar dari lamunannya, lalu berkata dengan tenang, "Mau coba menjalani perawatan nggak? Siapa tahu rambutmu bisa jadi hitam lagi. Kalau dipadukan dengan perawatan dari luar, masih ada kemungkinan warna rambutmu bisa kembali."Raka terdiam beberapa detik. Hatinya terasa seperti direndam air hangat dan perlahan di
Brielle mengangkat pandangannya menatap Raka. Dia tentu belum lupa bahwa dulu Raka sampai menyuruh orang diam-diam memotret dirinya bersama Harvis, bahkan pernah menginterogasinya di tengah malam."Jadi, waktu itu kamu benar-benar mengira aku selingkuh dengan Harvis?" tanya Brielle sambil menopang dagunya."Coba jawab aku, menurutmu kenapa Harvis rela meninggalkan masa depannya di laboratorium terbaik di Negara Madagasa dan pulang ke tanah air?" balas Raka tanpa mundur sedikit pun.Brielle menyelipkan anak rambut di depan dahinya. Sesaat, dia tak mampu menjelaskan. Dia lalu bertanya, "Jadi kamu menyelidiki Harvis?""Sampai ke detail-detailnya," jawab Raka terus terang. "Tapi ada satu hal yang memang aku salah.""Apa?" Brielle mengernyit menatapnya."Harvis berkali-kali mengingatkanku soal kemampuanmu, tapi aku mengabaikannya. Seandainya sejak awal aku tahu kamu memang sehebat itu, aku nggak akan biarkan Profesor Madeline mengeluarkanmu dari tim."Nada suara Raka dipenuhi penyesalan, se
Sebenarnya, selama dua hari terakhir Brielle juga sudah memperhatikan rumah-rumah yang dijual di sekitar sekolah itu. Harus diakui, ucapan Raka memang benar.Hunian di kawasan sekolah itu, terutama vila dan apartemen mewah dengan lingkungan yang nyaman serta sistem keamanan yang baik, memang sangat diminati. Agen properti biasa pun sulit mendapatkan unit-unit terbaik.Ditambah lagi, harganya sering kali melambung jauh di atas harga pasar.Kalau Raka memang memiliki jaringan dan koneksi, semuanya tentu akan jauh lebih mudah.Kali ini, Brielle ingin membeli sebuah vila. Kalau bisa dengan taman yang cukup luas agar Anya dan Gaga bisa bermain bersama."Oke." Brielle mengangguk. "Kalau begitu, tolong bantu carikan vila untukku."Raka tersenyum tipis. "Aku akan langsung minta orang cari unit yang tersedia. Semoga sebelum tanggal 1 September, kalian sudah bisa pindah."Tak lama kemudian, hidangan pun disajikan. Raka menggeser makanan kesukaan Brielle ke hadapannya, lalu mengalihkan pembicaraa
Dari jalannya rapat hari ini, Jared menangkap sesuatu yang cukup menggembirakan. Bukan tidak mungkin, suatu hari nanti Brielle akan menjadi bos wanita MD. Kalau begitu, membuka seluruh akses paten untuknya bukankah hal yang wajar?Brielle tersenyum kepada Jared. "Terima kasih, Pak Jared.""Jangan berterima kasih kepadaku. Seharusnya kamu berterima kasih kepada Pak Raka. Toh beliau yang mengambil keputusan untuk memberikan wewenang sebesar ini," kata Jared sambil tersenyum canggung.Dia benar-benar tidak pantas menerima ucapan terima kasih itu.Brielle sedikit tertegun, lalu kembali menoleh ke arah Raka. "Terima kasih."Tatapan Raka tetap tertuju pada wajah Brielle. Ekspresinya tampak tenang dan penuh kasih. "Penelitianmu pantas mendapatkan sumber daya terbaik."Ucapan itu akhirnya membuat beberapa insinyur menangkap sesuatu. Pandangan mereka bergantian mengamati Brielle dan Raka.Pipi Brielle terasa agak panas. Dia menghindari tatapan Raka yang terlalu lugas, lalu menenangkan diri."Te
Brielle meliriknya sekilas, lalu segera menenangkan ekspresinya sebelum duduk.Hari ini dia mengenakan setelan rok jas berwarna krem gading yang sederhana. Rambut panjangnya disanggul rapi, memperlihatkan lehernya yang indah. Saat duduk di meja rapat yang dipenuhi pria, dia memancarkan pesona elegan dan khas.Ferdian ikut duduk.Seorang insinyur maju untuk mempresentasikan hasil penelitiannya. Brielle menyimak dengan sangat saksama, sementara di sampingnya Ferdian sibuk mencatat poin-poin penting.Raka sendiri hanya duduk diam mendengarkan. Sesekali jemarinya mengetuk permukaan meja dengan pelan, tetapi sebagian besar tatapannya tertuju pada Brielle.Usai presentasi, Jared berharap Brielle dapat memberikan masukan atas penelitian baru mereka.Brielle memang memiliki beberapa pertanyaan dan saran. Dengan penyampaian yang runtut dan jelas, dia menguraikan berbagai tantangan teknis dalam penelitian itu. Seluruh pembawaannya memancarkan kecerdasan sekaligus ketekunan.Di antara sekian bany
Brielle memang mulai kewalahan. Saat Raka membungkuk untuk menggendong putri mereka, samar-samar aroma harum tubuh Brielle menguar ke indra penciumannya.Dia mendongak menatap Brielle. Menyadari tatapan itu, Brielle pun mengangkat kepala dan langsung bertemu dengan sepasang mata Raka yang dalam.Brielle melepaskan tangannya, lalu mundur selangkah. Raka menggendong Anya sambil mengulas senyuman tipis. Kemudian, dia melangkah lebih dulu ke dalam.Brielle mengikuti di belakangnya. Dia membuka pintu dan mempersilakan Raka masuk. Setelah berganti sepatu, Raka langsung menggendong Anya ke lantai atas.Yang satu menggendong, yang satu lagi membantu melepas sepatu putri mereka. Setelah itu, mereka membaringkan Anya di tempat tidur.Pemandangan itu seolah membawa mereka kembali ke masa lalu. Dalam urusan yang menyangkut putri mereka, keduanya selalu memiliki pemahaman yang begitu selaras.Setelah Anya tertidur, Brielle turun lebih dulu. Lastri sudah menyeduhkan teh. Dia berkata kepada Raka yang
Raka berdiri di luar gerbang halaman. Angin malam menyapu wajahnya yang tegang. Dia menoleh ke arah jendela lantai dua yang masih menyala, lalu membuka pintu mobil dan duduk di kursi pengemudi.Di kamar lantai dua, Brielle berbaring miring di sisi putrinya. Sesekali dia menyentuh kening Anya. Anya t
Setelah turun dari pelukan Raka, Anya langsung menggenggam tangan Brielle. Pelukan Raka pun mendadak kosong, alisnya sedikit berkerut.Brielle menggandeng putrinya berdiri sejenak. Anya teringat mainannya yang masih berada di sofa di samping Raka, lalu berkata, "Mama, mainanku masih ada di sofa sebe
"Kak Harvis, ini kenapa?" tanya Brielle dengan nada khawatir."Tadi waktu menahan babinya, aku nggak sengaja tergores kukunya. Bukan masalah besar kok.""Aku bantu bersihkan dan perban ya," kata Brielle sambil pergi mengambil kotak P3K.Saat Brielle duduk di laboratorium untuk membersihkan dan memba
Perbaikan rumah jelas membutuhkan waktu. Brielle pun mengambil keputusan untuk pindah rumah.Dia tidak bisa membiarkan putrinya tinggal di rumah yang memiliki potensi bahaya. Sudah saatnya berpindah ke tempat tinggal yang lebih aman dan nyaman. Lagi pula, dengan kemampuan finansialnya sekarang, memb







