Mag-log in"Doktor, tolong ajak Paman Derrick ke laboratoriummu dulu. Aku ingin bicara dengan Brielle," kata Raka pelan.Smith menoleh pada Derrick. "Derrick, ayo. Kita minum teh di kantorku."Sebelum pergi, Derrick menatap Raka dengan sorot penuh isyarat. Raka mengerti maksudnya dan mengangguk tipis.Setelah mereka berdua pergi, ruang istirahat menjadi sunyi. Tinggal Brielle dan Raka. Emosi Brielle sudah sedikit mereda. Jakun Raka bergerak pelan. Dia ingin mengatakan sesuatu, tetapi Brielle sudah berdiri, jelas tidak ingin berbicara dengannya.Secara refleks, Raka mengulurkan tangan dan menggenggam pergelangan tangan Brielle. "Ayo kita bicara." Brielle melepaskan tangannya. Dia tidak langsung pergi, hanya berdiri dan berkata singkat, "Katakan.""Apa Paman Derrick kasih tahu kamu sesuatu?""Ibumu sakit, ayahku juga tahu. Kenapa kamu nggak kasih tahu aku?" Brielle mendongak dan menatapnya tajam. Ayahnya bisa saja memilih untuk merahasiakan, tapi saat itu Raka adalah suaminya. Kenapa dia juga melak
Devina tipe orang yang jelas tidak akan tunduk pada nasib. Jadi, dia pasti sudah mendapatkan cukup banyak dari Raka.Selama sepuluh tahun ini, tampaknya Raka sudah memberinya ketenaran, keuntungan, dan juga cinta.Brielle mematikan keran, mengambil tisu, lalu perlahan mengeringkan tangannya sebelum berjalan keluar ke lorong. Saat itu, dia melihat seorang resepsionis menyambut seseorang yang berjalan mendekat. Mata Brielle langsung berbinar."Paman Derrick."Derrick akhir-akhir ini sangat sibuk. Dia dan Brielle juga jarang berhubungan. Baru saja kembali dari perjalanan dinas ke luar negeri, dia terkejut melihat Brielle di sini."Kenapa kamu ada di sini?"Brielle berkata pada resepsionis, "Biar aku saja yang temani Pak Derrick." Lalu, dia menoleh pada Derrick. "Paman Derrick, kita jalan sambil bicara."Sambil berjalan, Brielle menceritakan tentang kemungkinan putrinya mewarisi penyakit darah langka. Setelah mendengarnya, Derrick malah bertanya, "Raka yang kasih tahu kamu?"Melihat reaksi
Smith bersikap sangat natural dan tersenyum menyapa. "Pak Raka yang bilang restoran ini masakannya enak. Kita makan sambil berdiskusi."Brielle dengan cepat menenangkan emosinya dan mengangguk pelan, lalu memilih duduk di kursi yang agak jauh dari Raka.Tatapan Raka berhenti di tubuhnya selama dua detik, lalu kembali pada Smith. Dia mulai membicarakan pembelian peralatan terbaru. Brielle mendengarkan dengan tenang. Sebagai peneliti, dia tahu peralatan kelas atas memang memberi jaminan keberhasilan yang lebih tinggi.Dalam hal investasi untuk laboratorium, harus diakui, sikap Raka memang tidak bisa dikritik.Selanjutnya, Brielle dan Smith mulai membahas topik teknis. Kini giliran Raka yang duduk tenang mendengarkan. Tatapan Doktor Smith sesekali memperhatikan reaksinya. Namun, tatapan Raka sering tertuju pada Brielle.Tatapan itu tidak agresif, melainkan dalam, tulus, penuh penghargaan dan pengakuan.Smith juga menyadari hal itu. Dia bahkan merasa sorot mata Raka kepada Brielle menyirat
Di ujung telepon, Sunny mendengar putranya secara aktif menanyakan etika bertamu. Suaranya tak bisa menyembunyikan rasa lega."Kamu pilih saja hadiah yang lebih mahal. Jangan sampai terkesan meremehkan tuan rumah.""Oke, aku akan pilih anggur dan teh yang bagus," jawab Jay."Nggak apa-apa, yang penting kamu datang saja sudah cukup," kata Sunny. Jarang sekali putranya sendiri yang mengusulkan pergi memberi selamat ulang tahun kepada sesepuh Keluarga Adiratna."Baik, aku mengerti."Jay menutup telepon. Di benaknya tanpa sadar terlintas wajah Siria.Sejak malam itu, Jay merasa tidak enak hati meski Siria tidak menuntut apa pun.Bagaimanapun, dalam keadaan setengah sadar dia telah mengambil keperawanan gadis itu. Kalau Jay tidak menunjukkan sedikit tanggung jawab, bukankah dia benar-benar menjadi pria berengsek?Di dalam mobil Devina, Freyna melihat bekas memar di lokasi pengambilan darahnya. Dengan nada kasihan dia berkata, "Kenapa kali ini ambilnya banyak sekali? Sebelumnya nggak sebanya
Di bawah tulisan itu, para penggemarnya sudah mulai merasa iba.[ Dewiku kenapa ini? Kasihan sekali. Untung ada orang tercinta yang menemani. ][ Lengan di samping itu kelihatan berwibawa sekali. Apa itu presdir yang aku pikirkan? ][ Wah, enak ya ada yang menemani. Iri banget. ]Para penggemar yang tidak tahu kebenaran langsung membanjiri dengan pujian dan rasa iri.Sementara Brielle yang mengetahui kebenarannya, bisa melihat semuanya dengan jelas. Baginya, aksi pamer Devina itu benar-benar tidak ada artinya.Yang terpenting baginya adalah Raka berhasil membujuk Devina pergi ke laboratorium untuk bekerja sama dalam eksperimen. Itu sudah membuatnya lega.Di Kediaman Keluarga Pramudita.Raline akhir-akhir ini juga sedang bosan, sehingga dia berselancar di internet setiap hari. Saat melihat unggahan Devina di media sosial, dia memperhatikannya dengan saksama. Sofa yang diduduki Devina dan peralatan di belakang kamera terasa agak familier.Namun dia berpikir, banyak laboratorium memang me
Brielle menyamping memberi jalan, lalu berkata dengan suara tenang, "Masuklah."Raka menyipitkan mata dan tersenyum. Di area pintu masuk dia mengganti sepatu, lalu melangkah ke ruang tamu. Saat itu, seekor anjing besar menerjang ke arahnya. Raka tersenyum dan berjongkok, mengusap kepala anjing itu. Di jas mahalnya langsung menempel beberapa helai bulu anjing.Gaga berputar-putar di sekelilingnya dengan penuh semangat. Mulut anjing itu menggesek-gesek telapak tangannya, seolah menyambut tuan rumah pria yang sudah lama tidak pulang.Namun, ia tidak mengerti bahwa rumah ini sudah lama tidak memiliki tuan rumah pria.Brielle datang membawa gelas sekali pakai berisi air dan menyerahkannya kepadanya. Raka tidak menunjukkan rasa jijik, dia langsung menerima dan meminumnya.Setelah menghabiskan satu gelas, Raka kembali mengulurkan gelas itu ke arahnya. "Tambahkan lagi satu gelas untukku."Brielle menerima gelas itu dan kembali menuangkan air untuknya. Saat dia berbalik keluar, dia melihat pons







