LOGINTiga hari kemudian, Brielle datang ke rumah sakit. Niro akan segera kembali ke Kyoza untuk menjalani pemulihan, jadi dia datang untuk berpamitan.Di dalam ruang rawat yang tenang, Niro mengenakan pakaian pasien rumah sakit. Kondisinya jelas jauh lebih baik dibanding sebelumnya.Rambutnya dipangkas sangat pendek, sementara di sisi kanan kepalanya ada bagian yang dicukur habis. Itu adalah lokasi penanaman cip.Lukanya juga sudah pulih dengan baik, hanya meninggalkan bekas samar tipis. Kalau rambutnya sudah panjang sedikit, bekas itu pasti tidak akan terlihat lagi."Di Kyoza ada Pak Justin dan Dokter Zidan, jadi aku juga lebih tenang," kata Brielle sambil menatap Niro.Niro juga memandangnya. Beberapa hari terakhir istirahat Brielle cukup, jadi wajahnya juga jauh lebih segar."Dia masih belum kembali?" tanya Niro.Brielle tahu Niro selalu ingin mengucapkan terima kasih langsung kepada Raka. Walaupun utang budi ini sebenarnya milik ayahnya, Niro adalah orang yang sangat jelas dalam urusan
Kecantikan Brielle bukan tipe yang mencolok, tetapi justru mampu mengguncang hati orang tanpa disadari.Sambil menopang dagu, tiba-tiba dia teringat pada ayahnya, pria keras kepala dan berpendirian teguh itu ....Kalau ayahnya masih hidup dan melihat dirinya yang sekarang, apakah ayahnya akan merasa bangga walau hanya sedikit?Sejak kecil, dalam ingatan Brielle, ayahnya selalu tegas, juga seperti sosok yang bisa melakukan segalanya.Ibunya pernah berkata, saat Brielle berusia tiga tahun, ayahnya sudah menggendongnya sambil membacakan buku kedokteran, ingin menanamkan ilmu sejak dini.Brielle hampir bisa membayangkan pemandangan itu. Dirinya yang masih kecil pasti hanya menatap ayahnya dengan polos tanpa mengerti apa-apa, sementara sang ayah begitu serius, penuh harapan terhadap putrinya.Kalau saja ....Kalau saja dulu dia tidak bertemu Raka, akan seperti apa hidupnya sekarang? Mungkin dia akan berkuliah dengan normal, lanjut S2 dan S3, lalu masuk ke dunia riset.Mungkin di suatu kesem
Harvis tetap mempertahankan senyuman sopannya. "Nggak repot, memang sudah seharusnya."Dari seberang sana, suara Raka terdengar datar tanpa emosi yang jelas."Baiklah, aku sudah tenang karena ada yang antar kamu pulang. Anya, bilang selamat tinggal ke Mama."Anya pun mengucapkan selamat tinggal dengan patuh, lalu panggilan video itu berakhir.Sambil menginjak pedal gas, Harvis tetap tidak bisa menahan rasa penasarannya dan bertanya kepada Brielle, "Pak Raka tadi cemburu?"Brielle menoleh, lalu balik bertanya, "Memangnya dia punya alasan untuk cemburu?"Harvis langsung terdiam. Benar juga, mereka sudah bercerai. Raka memang sudah tidak punya hak untuk cemburu lagi.Namun, Harvis jelas bisa merasakan nada tidak senang dalam suara Raka tadi. Pria itu jelas mempermasalahkan fakta bahwa dirinya mengantar Brielle pulang selarut ini.Namun, Harvis sangat tahu posisi dirinya. Bagi Brielle, dia adalah rekan, sahabat baik, sekaligus sosok yang benar-benar memahami dirinya. Dia tidak akan bersika
"Sudahlah, kalau kamu nggak mau cerita, aku juga nggak akan tanya lagi." Harvis sengaja mengalihkan topik. "Sudah malam juga, biar aku antar kamu pulang. Kebetulan aku ada urusan di dekat rumahmu."Brielle tahu alasan pergi mengurus sesuatu itu cuma alasan. Yang sebenarnya, Harvis hanya mengkhawatirkannya."Kak Harvis, aku masih bisa nyetir sendiri.""Kamu hari ini sempat pingsan di rumah sakit, begadang tiga malam berturut-turut, sekarang juga sudah hampir jam 10 malam. Kamu pikir aku bisa tenang membiarkanmu pulang sendirian?"Memang sejak awal Harvis berniat mengantarnya demi memastikan keselamatannya."Baiklah, terima kasih." Brielle menerima niat baik itu.Saat mereka berjalan menuju area parkir, angin malam awal musim panas terasa sejuk dan nyaman. Bulan yang terang menggantung di langit, memanjangkan bayangan mereka berdua di tanah.Begitu masuk ke mobil, Harvis menyalakan mesin, lalu perlahan keluar dari area laboratorium.Suasana hati Brielle memang terasa jauh lebih ringan. P
Rasa bersalah di hati Harvis semakin dalam."Maaf, Brielle. Aku benar-benar nggak nyangka akan jadi seperti ini .... Waktu itu aku cuma merasa diskusi denganmu selalu memberiku banyak inspirasi. Aku nggak pernah berpikir itu akan berdampak pada pernikahan kalian.""Ini bukan salahmu, Kak Harvis." Brielle menggeleng pelan. "Memang hubungan kami sudah bermasalah. Komunikasi buruk, kurang kepercayaan .... Semuanya sudah berlalu."Bahkan tanpa Harvis pun, tetap ada keberadaan Devina. Saat itu, Raka tidak mau terbuka soal hubungannya dengan Devina, jadi hati Brielle kemungkinan besar tetap akan penuh keluhan dan kebencian.Tentu saja, Brielle pernah mengingat bahwa sebenarnya beberapa kali Raka sempat ingin menjelaskan sesuatu. Namun, saat itu dia sudah tidak ingin lagi mendengar penjelasan apa pun darinya.Dia yakin, sekalipun waktu itu Raka benar-benar menjelaskan semuanya, hasil akhirnya mungkin tetap tidak akan berubah.Dengan kemampuan Brielle saat itu, setelah mengetahui kemungkinan p
Brielle sedang menyelesaikan pekerjaan tahap akhir di laboratorium. Karena rasa terdesak itu sudah hilang, dia, Rowan, dan Zondi akhirnya bisa membereskan serta merapikan data dengan lebih tenang.Tak lama kemudian, Harvis juga datang membantu. Dia lebih banyak mengerjakan pekerjaan fisik untuk membantu Brielle.Setelah mendengar dari Zondi bahwa Brielle sempat pingsan dan dirawat oleh Raka, sebenarnya Harvis ingin menunjukkan perhatian, tetapi akhirnya memilih menahannya.Bagaimanapun juga, Harvis tidak ingin lagi menimbulkan kesalahpahaman yang tidak perlu. Jujur saja, mungkin dulu dirinya memang pernah menyebabkan kesalahpahaman besar dalam pernikahan Brielle dan Raka.Karena hal itu, beberapa hari terakhir Harvis terus merasa bersalah. Dia memang bukan orang yang peka, tetapi sekarang dia mulai mengingat kembali bagaimana sikap Raka terhadapnya di awal dulu.Memang benar, itu adalah rasa tidak suka dan kesal seorang pria terhadap rival cintanya. Hal itu membuat Harvis tanpa sadar k
Setelah Gavin pergi, Raka mengambil ponselnya dan menelepon Raline.Di seberang sana, suara Raline jelas terdengar waspada. "Kak, ada apa?""Segera batalkan pembelian unit di Cloudwave Residence." Suara Raka dilontarkan tanpa memberi ruang bantahan."Kenapa?" Raline langsung meledak. "Aku beli pakai
Di seberang sana, panggilan itu baru tersambung beberapa saat kemudian. Devina tidak menunggu Raka berbicara lebih jauh, dia terengah-engah berkata, "Raka, aku hampir pingsan. Tolong aku. Di toilet."Brielle baru saja kembali ke tempat duduknya ketika dia melihat Raka bangkit dari kursinya. Pada saa
Raka tiba di restoran, Jay dan Lambert sudah menunggu di ruang privat."Raka sudah datang," ujar Jay sambil mengangkat alis.Raka membuka kancing jasnya lalu duduk. Dia bertukar pandang dengan Lambert sebagai salam singkat.Pelayan mulai menghidangkan makanan satu per satu. Jay segera mengangkat top
Pukul 8 malam, Brielle meminta Lastri menemani putrinya bermain di lantai satu, sementara dia menyambungkan panggilan video dengan Smith di ruang kerja.Saat ini, buku catatan peninggalan ayahnya diletakkan tepat di sampingnya."Profesor Brielle, terima kasih sudah meluangkan waktu untuk berdiskusi,







