Share

Bab 686

Author: Ayesha
Lambert membuka pintu belakang mobil. Vivian melambaikan tangan, lalu berlari ke arah gerbang sekolah.

Lambert mengenakan mantel panjang warna cokelat muda, tampak lembut dan elegan. Dia melangkah mendekati Brielle. "Brielle, apa kamu tahu Raka juga pindah ke kompleks perumahan kita?"

Begitu hal itu disebutkan, wajah Brielle langsung berubah masam. Dia mengangguk. "Tahu."

"Apa dia mendiskusikan hal ini denganmu sebelumnya?" tanya Lambert.

Brielle diam-diam menggertakkan gigi. "Urusannya nggak ad
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Renadwijo
Brie bersinar makin cemerlang..makin menawan dan makin tambah gelisah hati Raka...takut mkn byk saingan...
goodnovel comment avatar
Merry Ongko
tambah kagum tu mantan liat brielle ternyata sejenius itu...nyesel tu pasti dah melepaskan sesuatu yg sangat berharga demi ular Keket betina....apalg kalau nanti sampai brielle nikah sama lelaki lain yg jauh lbh baik...wah tambah nyesel tu si mantan...
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1340

    Entah sejak kapan, tatapan mabuk di mata Raka sudah menghilang. Yang tersisa hanyalah keseriusan yang belum pernah Brielle lihat sebelumnya. Dia baru saja hendak mengatakan sesuatu lagi.Namun tepat saat itu, lift berbunyi.Ding.Lift telah tiba di lantai tujuan.Percakapan mereka pun terputus.Brielle melangkah keluar lebih dulu. Raka mengikuti dari belakang. Sesampainya di depan pintu kamar, Brielle hendak membuka pintu dengan kartu akses. Tiba-tiba suara rendah Raka terdengar dari belakangnya, "Selamat malam."Meski Brielle tidak menjawab pertanyaannya tadi, jelas suasana hati Raka sedang sangat baik. Bahkan bisa dikatakan cukup bahagia.Brielle menjawab dengan sopan dan pelan, "Selamat malam.""Pesawat berangkat pukul sepuluh besok pagi," timpal Raka. Maksudnya jelas. Brielle tidak perlu memikirkan perjalanan pulang sendiri. Dia bisa kembali dengan jet pribadinya.Brielle membuka pintu, lalu masuk ke dalam kamar.Setelah pintu tertutup, sudut bibir Raka perlahan terangkat. Kemudian

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1339

    Brielle merasakan seseorang masuk ke ruang teh. Dia mengangkat kepala, dan seketika pandangannya bertemu dengan Raka. Hanya dari satu tatapan itu saja, Brielle langsung mengerti. Niro pasti sudah memberitahukan keputusan mereka kepadanya.Raka tidak langsung berjalan ke arahnya. Dia lebih dulu menghampiri Faisal dan berbincang beberapa saat. Dibanding sebelumnya, dia tampak jauh lebih tenang dan sadar. Tanpa terasa, waktu menunjukkan pukul delapan lewat tiga puluh malam.Acara minum teh pun mendekati akhir.Setelah menerima sebuah panggilan telepon penting, Faisal meminta maaf kepada semua tamu. "Maaf semuanya. Ada keadaan darurat yang harus segera aku tangani. Malam ini kita akhiri sampai di sini. Kalau ada kekurangan dalam penyambutan kami, mohon dimaklumi."Semua orang menyatakan pengertian mereka. Jelas terlihat bahwa Faisal benar-benar memiliki urusan mendesak. Dia memanggil putranya, "Niro, tolong bantu aku antarin tamu."Kemudian, dia secara khusus menghampiri Brielle dan Raka.

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1338

    Namun, Brielle sebenarnya sudah memahami sebagian alasannya. Dia mengangkat kepala dan menatap ke arah Raka. Kebetulan Raka juga sedang memandangnya. Saat mata mereka bertemu, Brielle melihat emosi yang tidak dapat dia pahami di dalam sorot matanya.Pada saat itu, Faisal berdiri dan berkata, "Di ruang teh sudah disiapkan teh. Ayo kita pindah ke sana dan menikmati beberapa cangkir bersama."Semua orang pun ikut berdiri dan bergerak menuju ruang teh. Saat Raka hendak bangun, Niro tiba-tiba menepuk bahunya dan duduk di sampingnya. "Pak Raka, boleh ngobrol sebentar?"Raka mengangguk. Brielle yang berdiri memandang kedua pria itu sejenak, lalu mengikuti Zondi dan yang lainnya menuju ruang teh.Setelah sebagian besar tamu pergi, Niro menuangkan secangkir teh untuk Raka. Ekspresinya tampak serius dan tulus. "Pak Raka, kali ini aku bisa sadar kembali berkat teknologi proyek antarmuka BCI milik perusahaanmu dan cip yang berhasil dibawa kembali tepat waktu."Dia menatap Raka dengan penuh rasa te

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1337

    Brielle mengikuti Niro melewati lorong menuju ruang kerjanya. Di dalam ruangan yang luas itu, sebuah lemari pajangan besar yang memenuhi satu sisi dinding langsung menarik perhatian. Di dalamnya tersusun rapi berbagai piala, medali, dan sertifikat penghargaan."Semua ini kamu yang dapatkan?" tanya Brielle dengan takjub.Niro tersenyum tipis. "Sebagian besar, ya. Tapi ada juga yang didapat ayahku saat masih muda."Brielle berhenti di depan sebuah medali yang terlihat sangat mencolok. Dia memperhatikannya dengan saksama. Itu adalah Medali Jasa Kelas Satu.Niro yang berdiri di sampingnya menjelaskan dengan tenang, "Aku mendapatkannya lima tahun lalu dalam sebuah misi perbatasan." Dia tersenyum tipis seolah sedang mengenang sesuatu.Saat itu. dia hampir tidak bisa kembali hidup-hidup. Untungnya rekan-rekan setimnya tidak pernah menyerah padanya.Sama seperti kali ini. Dia rela mempertaruhkan nyawanya demi membawa anggota timnya pulang. Tidak meninggalkan siapa pun. Tidak menyerah pada siap

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1336

    "Pak Faisal terlalu memuji. Ini memang sudah menjadi tanggung jawabku," jawab Raka dengan sopan.Tiba-tiba, Niro berdiri. Wajah tampannya dipenuhi rasa haru dan kegembiraan."Terima kasih kepada semua yang telah datang hari ini. Kalian semua adalah penyelamat hidupku. Tanpa kalian, mungkin aku nggak akan pernah bisa bangun lagi." Dia mengangkat gelasnya dan berkata, "Aku bersulang untuk kalian semua."Semua orang serempak mengangkat gelas dan menerima ungkapan terima kasih dari Niro.Setelah itu, pandangan Niro menyapu seluruh ruangan sebelum akhirnya berhenti pada Brielle. Mata mereka saling bertemu sesaat. Kemudian, Faisal juga mengangkat gelasnya dan berkata kepada semua yang hadir, "Selain itu, aku juga ingin mengumumkan sebuah kabar baik."Jantung Raka seketika terasa berat. Jari-jarinya yang menggenggam gelas tanpa sadar mengencang.Apakah akhirnya dia akan mendengar kabar yang paling tidak ingin dia dengar?Seluruh ruangan terdiam. Semua orang mendengarkan dengan saksama. Briell

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1335

    Tanpa diduga, tebakannya ternyata benar. Saat Brielle membuka pintu kamarnya dengan kartu akses, Raka juga sedang membuka pintu kamar di sebelahnya. Dia tampak sedikit terkejut, lalu menatap Brielle."Aku di kamar sebelah. Kalau ada apa-apa, hubungi aku kapan saja.""Terima kasih," jawab Brielle dengan sopan.Alis Raka sedikit berkerut. Seolah ingin mengatakan sesuatu, tetapi pada akhirnya dia menelannya kembali.Benar. Memang seharusnya mereka lebih sopan satu sama lain. Bagaimanapun, tidak lama lagi Brielle akan menjadi Nyonya Harmawan. Di masa depan, mereka bukan hanya perlu bersikap sopan, bahkan juga harus menjaga jarak yang pantas.Brielle menutup pintu kamar dan mengembuskan napas pelan. Sebenarnya, dia sedikit gugup dengan perjalanan ke Kyoza kali ini. Dia bukan orang yang menyukai acara sosial atau pertemuan formal.Menurutnya, Keluarga Harmawan tidak perlu berterima kasih secara berlebihan. Dia merasa apa yang dilakukannya hanyalah hal yang wajar.Namun dari pengaturan yang d

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 107

    Harvis mengangkat kepala, sorot matanya penuh dengan pergulatan batin. Brielle berkedip, justru semakin penasaran menatapnya.Genggaman erat di tangan Harvis akhirnya mengendur. Dia menarik napas panjang dan berkata, "brie, sebaiknya ... aku kasih tahu kamu lain waktu saja."Namun, rasa ingin tahu B

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 104

    Keesokan sore, barulah Syahira mengantar Brielle dan Anya pulang. Anya yang bermain sepuasnya terlihat sangat gembira. Dia melompat-lompat sambil berseru, "Papa, Papa, aku pulang!"Brielle awalnya mengira Raka tidak ada di rumah. Namun, suara langkah dari lantai dua membuatnya menoleh. Raka berjalan

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 80

    Brielle juga merasa sangat senang bisa mendapatkan penghargaan. Setelah mengobrol sebentar dengan Harvis tentang situasi di Desa Mesha, dia pun menutup telepon.Di laboratorium, Cherlina yang memang gemar mengumpulkan gosip, kebetulan mendengar bahwa Akademi Ilmu Pengetahuan Nasional akan mengadakan

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 89

    Brielle mengangguk. "Tolong jemur payung ini dan simpan baik-baik, aku harus kembalikan ke pemiliknya nanti.""Baik, Nyonya."Brielle mandi air hangat. Sekarang sudah akhir bulan April, jadi kehujanan seperti ini tidak sampai membuatnya langsung sakit.Setelah keluar dari kamar mandi dengan mengenak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status