Home / Romansa / Bukan Pengantin Pilihan / Andre mundur perlahan

Share

Andre mundur perlahan

Author: Indri hasrun
last update publish date: 2026-10-03 19:27:04

Gibran memegang erat cangkir teh hangat yang keasamannya perlahan mendingin di atas meja makan yang sepi. Langkah cepat Ashana berdesir menjauh dari lorong rumah, meninggalkan suara pintu depan yang tertutup rapat. Setiap sudut rumah megah itu seakan berbisik, mengingatkan Gibran bahwa usahanya untuk menembus dinding es sang istri kini terhalang oleh kesibukan baru yang sengaja diciptakan Ashana di kampus.

Lantai gedung fakultas yang dingin menyaksikan bagaimana Ashana lebih memilih untuk tengg
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Bukan Pengantin Pilihan   Operasi penyelamatan rumah tangga

    Malam berlalu dalam dekap keheningan yang sarat akan makna tersembunyi. Suara ketukan sendok dan piring kaca menjadi satu-satunya melodi yang menemani makan malam mereka. Gibran memilih menyimpan rapat rasa cemburunya agar tidak menambah masalah lagi, sementara Ashana bergulat dengan gejolak batin yang semakin menyesakkan dada.Hari-hari berikutnya berjalan dengan pola dingin yang sama sekali tidak berubah. Ashana tetap mempertahankan jaraknya yang membeku, memperlakukan Gibran bagai orang asing di rumah mereka sendiri. Tanpa mereka sadari, gerak-gerik dingin itu tidak luput dari pengamatan satpam rumah mereka atas suruhan orang tua mereka.Berita sikap dingin Ashana yang masih bertahan tersebut akhirnya sampai ke telinga kedua orang tua mereka dengan sangat cepat. Rasa khawatir membuat para orang tua langsung merancang sebuah misi penyelamatan yang ekstrem. Mereka bertekad memulihkan hubungan anak-anak mereka sebelum semuanya terlambat."Bagaimana bisa kita membiarkan rumah tangga me

  • Bukan Pengantin Pilihan   Andre mundur perlahan

    Gibran memegang erat cangkir teh hangat yang keasamannya perlahan mendingin di atas meja makan yang sepi. Langkah cepat Ashana berdesir menjauh dari lorong rumah, meninggalkan suara pintu depan yang tertutup rapat. Setiap sudut rumah megah itu seakan berbisik, mengingatkan Gibran bahwa usahanya untuk menembus dinding es sang istri kini terhalang oleh kesibukan baru yang sengaja diciptakan Ashana di kampus.Lantai gedung fakultas yang dingin menyaksikan bagaimana Ashana lebih memilih untuk tenggelam di antara tumpukan referensi skripsi daripada berlama-lama di rumah. Jemarinya bergerak cepat di atas papan ketik, berusaha keras mengusir bayangan tatapan bersalah Gibran yang terus mengikutinya setiap malam. Rasa gelisah merayapi tengkuknya saat sebuah bayangan tinggi melangkah mendekati meja perpustakaan yang remang."Jadi, Pak Gibran itu benar-benar suamimu, Sha?" bisik suara berat yang begitu dikenal Ashana, memecah keheningan yang mencekam.Andre berdiri kaku di samping meja dengan be

  • Bukan Pengantin Pilihan   Memperbaiki hubungan

    Matahari pagi menyusup pelan melalui celah tirai kamar, tapi kehangatan sinar itu sama sekali tak mampu mencairkan dinginnya suasana di antara mereka. Ashana sudah bangun dan langsung menyiapkan keperluan dirinya sendiri tanpa menyentuh satu pun barang milik suaminya lagi seperti dulu. Ketika Gibran memasuki kamar dengan senyum hangat dan secangkir kopi panas di tangannya, Ashana hanya melewati pria itu begitu saja seolah ia hanyalah sosok tak kasat mata.Gibran menghela napas panjang melihat penolakan halus nan menyakitkan yang kembali ditunjukkan oleh istrinya tersebut. Ia meletakkan cangkir kopi itu di atas meja rias, lalu melangkah pelan mendekati Ashana yang sedang merapikan pakaiannya di depan cermin. Pria itu menyadari bahwa dinding es yang dibangun Ashana kini jauh lebih tebal dan kokoh dibanding saat mereka masih terpisah jarak."Aku sudah buatkan kamu sarapan kesukaanmu di bawah, kita makan bersama ya pagi ini, Cha?" tawar Gibran dengan nada suara yang teramat lembut dan pen

  • Bukan Pengantin Pilihan   ikut pulang

    Keesokan harinya, dipagi hari ketika Ibu Mita mendapati anak bungsunya duduk melamun di meja makan seorang diri. Rasa kasihan yang mendalam terpancar jelas dari tatapan sang ibu melihat raut wajah putrinya yang masih diliputi keraguan. Beliau teringat betapa gigihnya Gibran melangkahkan kaki setiap hari ke rumah ini meski kelelahan tampak jelas menggerogoti fisiknya.Ibu Mita meletakkan secangkir teh hangat di hadapan Ashana lalu mengambil tempat duduk tepat di samping putri bungsunya. "Mami tidak tega lagi melihat Gibran terus bolak-balik dalam kondisi selelah itu, Cha," ujar Ibu Mita mengawali percakapan dengan nada sangat lembut. Beliau menatap lekat mata Ashana, mencoba menyentuh sudut terdalam dari hati sang anak yang masih keras membatu."Kesalahan Gibran memang membuatmu terluka, tapi perjuangannya selama dua minggu ini membuktikan betapa besarnya rasa penyesalannya padamu," lanjut Ibu Mita sembari mengelus jemari Ashana.Beliau tahu benar betapa suaminya itu menyiksa diri demi

  • Bukan Pengantin Pilihan   ketidakhadiran tiba-tiba

    Langkah kaki Ashana terasa hampa saat ia perlahan mendekati jendela kamar di lantai dua yang menghadap langsung ke arah halaman depan. Biasanya, deru halus mesin mobil Gibran sudah memecah heheningan malam sejak jam tujuh, tetapi hingga detik ini hanya ada kegelapan yang menyambut pandangannya. Kegelisahan asing yang tak terundang mulai merayap halus di balik dinding hatinya yang selama dua minggu ini ia bentengi begitu rapat.Gadis itu menyilangkan kedua tangannya di dada, mencoba menepis kekosongan yang tiba-tiba hadir membelenggu pikirannya yang kacau. Ia menatap deretan bunga di vas yang mulai layu, saksi bisu kegigihan suaminya yang tak pernah absen meminta maaf. Rasa aneh yang membingungkan itu terus tumbuh, membuatnya berulang kali melirik jam dinding yang kian bergulir mendekati tengah malam.Guna menghibur hatinya yang membisu, Ashana mengukir senyum sinis yang dipaksakan sembari menatap kehampaan jalanan di luar sana. "Baru segitu saja rupanya usahanya, padahal katanya tidak

  • Bukan Pengantin Pilihan   Usaha meminta maaf

    Setiap malam tanpa pernah absen sedikit pun, deru mesin mobil Gibran selalu membelah keheningan halaman rumah mertuanya. Meski tubuhnya lelah setelah seharian bergelut dengan rutinitas kantor, Gibran tetap memaksakan diri untuk datang demi melihat paras sang istri. Pria itu rela menembus kemacetan kota hanya untuk membawa segenggam harapan agar pintu maaf Ashana yang tertutup rapat bisa sedikit terbuka.Namun, kehadiran Gibran selalu saja disambut oleh keheningan dingin yang menusuk hingga ke dalam relung dadanya. Ashana hanya mau keluar dari kamar setelah Ibu Mita mengetuk pintu dan mendesaknya untuk menghargai suaminya yang datang. Gadis itu duduk kaku di sofa tanpa pernah sekalipun mau menatap wajah suaminya yang kini dipenuhi oleh sorot penyesalan mendalam."Mas, tahu malam ini sudah terlalu larut tapi Mas hanya ingin melihat keadaanmu sebentar, Sha," bisik Gibran lirih sembari meletakkan sebungkus martabak manis kesukaan istrinya di atas meja. Ashana tetap membisu, membuang pand

  • Bukan Pengantin Pilihan   Menemukannya

    Setelah membuat alasan main dengan Dea setelah pulang magang, akhirnya Ashana terlepas dari cecaran Gibran. Entah suaminya percaya beneran atau pura-pura yang jelas ia bisa segera pergi dari hadapan Gibran saat ini. Ashana pun melakukan bersih-bersih sebelum istirahat. Sekitar jam 10 malam, Ashana

  • Bukan Pengantin Pilihan   Mencari seseorang

    "Ssillahkan Pak," jawab Dea sedikit gugup.Gibran dan Rio tanpa bicara lagi langsung duduk berhadapan dengan Ashana dan Dea. Mereka seakan dua pasangan sejoli yang lagi double date."Tumben Pak Gibran dan Pak Rio makan di kantin ya," bisik beberapa karyawan yang hadir di kantin dan menyaksikan pema

  • Bukan Pengantin Pilihan   Status baru

    Sesuai kesepakatan bersama, pernikahan Ashana dan Gibran dirahasiakan. Gibran tidak ingin membuat berita negatif untuk 2 keluarga jika tau mempelainya tiba-tiba diganti.Ashana tidak masalah sama sekali karena ke depannya ia masih bebas bermain tanpa harus pusing dengan status istri seorang CEO. Se

  • Bukan Pengantin Pilihan   Pasutri baru

    2 keluarga itu baru tau kalau ternyata, Ashana dan Gibran sudah saling kenal. Mereka ternyata bos dan anak magang di kantor setelah mengintrogasi sebentar.Setelah introgasi mendadak selesai, baru akan dilakukan pemasangan cincin nikah. Kedua keluarga inti sudah berada di dalam kamar untuk menyaksi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status