INICIAR SESIÓNSuara ketikan kibor dan denting mesin pencetak beradu dengan celotehan para peserta magang di lantai 14 ini. Sementara di sudut ruangan, ada Ashana yang sedang fokus menatap layar monitornya, mencoba mengabaikan atmosfer penuh godaan yang sengaja diciptakan teman-temannya untuk mencairkan ketegangan bekerja."Ashana, ini berkas analisis pasar yang kamu minta kemarin. Sudah saya rapihkan sekalian sama poin-poin pentingnya," suara Andre memecah konsentrasi Ashana.Andre, meletakkan map biru dengan senyum manis, lalu mencondongkan badan sedikit terlalu dekat. "Kalau ada yang masih belum kamu mengerti, tanyakan saja. Nanti malam kalau mau kita bahas sambil makan malam juga boleh.""Ciee! Yang mau makan malam!" celetuk Nala dari meja sebelah, langsung disambut sorakan heboh dari peserta magang lainnya."Aduh, Kak Andre terbaca sekali kamu! Beda memang kalau sudah naksir berat," timpal Mila sambil tertawa menggoda.Pipi Ashana terasa panas. Ia dengan canggung menggeser duduknya sedikit menj
Setelah semalam Ashana keluar tak bilang ke Gibran. Kini mereka seperti sedang perang dingin. Mereka sibuk dengan diri mereka masing-masing, beda dengan hari-hari sebelumnya.Aroma kopi hitam yang menyengat menyeruak di dapur megah itu. Hari Minggu pagi yang seharusnya hangat, justru terasa dingin dan kaku bagi pasangan suami istri yang baru dua bulan berbagi atap itu.Gibran duduk di ujung meja makan, matanya tertuju pada layar tablet yang menampilkan dokumen pekerjaannya. Sementara Ashana berdiri tak jauh darinya, menuangkan air panas ke dalam cangkir dengan gerakan hati-hati. Tidak ada percakapan, hanya denting sendok yang sesekali memecah keheningan.Pernikahan ini bukanlah impian mereka. Ashana hadir hanya sebagai pengantin pengganti setelah kakaknya melarikan diri di hari pernikahan. Tanpa cinta, tanpa ikatan emosional, mereka disatukan oleh tuntutan keluarga besar dan gengsi bisnis. Gibran kini terasa dingin dan berjarak memperlakukan Ashana tak lebih dari rekan satu rumah, sed
Ruangan rapat yang berdinding kaca tebal itu terasa membeku, bagi Ashana. Sebagai anak magang, tugasnya hanyalah merapikan dokumen, membantu buat dokumen atau pekerjaan kantor biasanya sesuai instruksi. Namun, sebagai istri sah Gibran setiap detil yang terjadi di ruangan ini mulai menyayat hatinya.Di ujung meja, Gibran duduk dengan postur tegap khas kepemimpinannya. Tepat di sampingnya, Natasya tertawa manja sambil menyentuh lengan Gibran pelan. "Konsep ini sangat cocok untukku, Gibran. Aku yakin penjualan produkmu akan melonjak," ujar Natasya dengan nada manis yang terkesan intim.Gibran hanya tersenyum tipis, mengangguk sopan. "Kinerjamu selalu profesional, Natasya. Kita harapkan hasil terbaik untuk kampanye ini."Ashana menunduk, mengepal jemarinya di bawah meja hingga bukunya memutih. Tak ada yang tahu di ruangan itu atau bahkan di seluruh kantor kecuali Dea, bahwa gadis magang yang mengenakan kemeja polos dan celana kain sederhana itu adala
Suara tempo stiletto yang berirama konstan di atas lantai marmer lantai 14 kantor Mahesa Properties sudah menjadi lagu wajib yang dihafal anak magang di lantai ini termasuk juga dengan Ashana selama dua minggu terakhir. Gadis berusia 19 tahun itu menatap tumpukan berkas revisi di mejanya dengan helaan napas berat. ID card magang berkalung tali biru masih tergantung manis di lehernya. Dari sudut matanya, ia melihat sosok jangkung bergaun merah yang sangat elegan baru saja lewat tanpa mengetuk pintu ruangan sang CEO. Natasya, mantan kekasih Gibran, yang kini mendadak resmi menjadi brand ambassador kampanye komersial terbesar perusahaan tahun ini.Awalnya, Ashana berusaha bersikap profesional, Natasya datang membawa berkas kontrak, jadwal pemotretan, dan konsep iklan. Lagipula, hubungan Ashana dan Gibran berawal dari sebuah takdir yang rumit: Ashana hanyalah pengantin pengganti disaat Kakak kandungnya kabur di hari pernikahan, dan demi menyelamatkan nama baik keluarg
Sejak proyek kampanye komersial terbaru resmi berjalan, lantai 14 gedung Mahesa Properties seolah memiliki penghuni tetap baru. Natasya, model papan atas yang kini menjadi wajah utama produk mereka, makin sering menginjakkan kaki di kantor. Kehadirannya yang hampir setiap hari dengan berbagai alasan seperti konsultasi busana bahkan penyesuaian jadwal pemotretan.Siang itu, Natasya melintasi koridor kaca menuju ruangan direktur utama, ia melangkah percaya diri membawa dua cangkir kopi dari kedai ternama. Gaun bodycon berwarna orange yang membungkus tubuh semampainya menarik perhatian setiap pasang mata."Gibran, ada di dalam, kan?" tanya Natasya pada sekretaris Gibran dengan senyum manis tanpa ragu menekan gagang pintu ruang kerja CEO tersebut.Dari kubikel anak magang yang terletak tak jauh dari sana, Mila menyenggol lengan Ashana dengan bersemangat. "Lihat, kan! Aku bilang juga apa. Mana ada model seperti Natasya bela-belain datang sendiri cuma buat revis
"Kenapa Kak Al, tidak ingin pulang? Tidak merindukan Ayah dan Ibu?" tanya Ashana lagi.Aliyah langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Bukan begitu Dek tapi untuk saat ini Kakak belum bisa pulang, pasti suasana hati Ayah dan Ibu masih belum stabil. Tunggu semua mereda, Kakak pasti akan pulang ke rumah.""Tapi mereka sudah sangat merindukan Kak Al.""Iya aku tau tapi beri Kakak waktu ya Dek, biar semua tenang dulu. Kak lagi berjuang sama Dewa, setelah itu Kakak akan bawa Dewa ketemu dengan kalian."Ashana menghela nafas lelah, ia tau kakaknya sangat keras kepala. "Baiklah kalau itu mau Kakak tapi setelah ini jangan kabur lagi ya. Kalau ada apa-apa hubungi aku," ujar Ashana dengan mengancam.Aliyah terkekeh melihat sikap adiknya itu. "Iya beres tapi Kakak minta tolong pertemuan kita hari ini jangan sampai bocor ya," ujar Aliyah memohon.Ashana pun mengangguk setuju dengan permohonan kakaknya. Terpaksa obrolan mereka terputus karena Ashana harus pulang agar tidak dicurigai oleh Gi
Setelah membuat alasan main dengan Dea setelah pulang magang, akhirnya Ashana terlepas dari cecaran Gibran. Entah suaminya percaya beneran atau pura-pura yang jelas ia bisa segera pergi dari hadapan Gibran saat ini. Ashana pun melakukan bersih-bersih sebelum istirahat. Sekitar jam 10 malam, Ashana
Subuh-subuh Ashana, sudah bangun lebih awal dari biasanya. Setelah mandi, ia bersiap menuju kamar kakaknya untuk melihat persiapan sang kakak.Namun, langkah kakinya terhenti kala melihat orang tuanya, om dan tantenya kini duduk melingkar di ruang keluarga lantai 2. Ashana dengan ceria dan semangat
Gibran langsung menjauhkan wajahnya dengan tenang dari Syakilla saat Rio memergoki mereka. Sementara Ashana terus menunduk malu seakan baru ketahuan berbuat mesum padahal tidak terjadi apa-apa."Maaf Bos, saya mengganggu. Cuman mau mengantar kopi ini saja," ujar Rio menggaruk kepalanya yang tak gat
Seorang gadis muda berusia 19 tahun bernama, Ashana melangkah memasuki gedung pencakar langit dengan buru-buru. Ia memperlihatkan sebuah id card yang tergantung di lehernya ke satpam, tanda ia sudah punya akses untuk masuk.Setelah berhasil masuk, ia langsung mencari toilet karena saat ini ia kebel







