INICIAR SESIÓNSuara tempo stiletto yang berirama konstan di atas lantai marmer lantai 14 kantor Mahesa Properties sudah menjadi lagu wajib yang dihafal anak magang di lantai ini termasuk juga dengan Ashana selama dua minggu terakhir. Gadis berusia 19 tahun itu menatap tumpukan berkas revisi di mejanya dengan helaan napas berat. ID card magang berkalung tali biru masih tergantung manis di lehernya.
Dari sudut matanya, ia melihat sosok jangkung bergaun merah yang sangat elegan baru saja lewat tanpaSuara tempo stiletto yang berirama konstan di atas lantai marmer lantai 14 kantor Mahesa Properties sudah menjadi lagu wajib yang dihafal anak magang di lantai ini termasuk juga dengan Ashana selama dua minggu terakhir. Gadis berusia 19 tahun itu menatap tumpukan berkas revisi di mejanya dengan helaan napas berat. ID card magang berkalung tali biru masih tergantung manis di lehernya. Dari sudut matanya, ia melihat sosok jangkung bergaun merah yang sangat elegan baru saja lewat tanpa mengetuk pintu ruangan sang CEO. Natasya, mantan kekasih Gibran, yang kini mendadak resmi menjadi brand ambassador kampanye komersial terbesar perusahaan tahun ini.Awalnya, Ashana berusaha bersikap profesional, Natasya datang membawa berkas kontrak, jadwal pemotretan, dan konsep iklan. Lagipula, hubungan Ashana dan Gibran berawal dari sebuah takdir yang rumit: Ashana hanyalah pengantin pengganti disaat Kakak kandungnya kabur di hari pernikahan, dan demi menyelamatkan nama baik keluarg
Sejak proyek kampanye komersial terbaru resmi berjalan, lantai 14 gedung Mahesa Properties seolah memiliki penghuni tetap baru. Natasya, model papan atas yang kini menjadi wajah utama produk mereka, makin sering menginjakkan kaki di kantor. Kehadirannya yang hampir setiap hari dengan berbagai alasan seperti konsultasi busana bahkan penyesuaian jadwal pemotretan.Siang itu, Natasya melintasi koridor kaca menuju ruangan direktur utama, ia melangkah percaya diri membawa dua cangkir kopi dari kedai ternama. Gaun bodycon berwarna orange yang membungkus tubuh semampainya menarik perhatian setiap pasang mata."Gibran, ada di dalam, kan?" tanya Natasya pada sekretaris Gibran dengan senyum manis tanpa ragu menekan gagang pintu ruang kerja CEO tersebut.Dari kubikel anak magang yang terletak tak jauh dari sana, Mila menyenggol lengan Ashana dengan bersemangat. "Lihat, kan! Aku bilang juga apa. Mana ada model seperti Natasya bela-belain datang sendiri cuma buat revis
"Kenapa Kak Al, tidak ingin pulang? Tidak merindukan Ayah dan Ibu?" tanya Ashana lagi.Aliyah langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Bukan begitu Dek tapi untuk saat ini Kakak belum bisa pulang, pasti suasana hati Ayah dan Ibu masih belum stabil. Tunggu semua mereda, Kakak pasti akan pulang ke rumah.""Tapi mereka sudah sangat merindukan Kak Al.""Iya aku tau tapi beri Kakak waktu ya Dek, biar semua tenang dulu. Kak lagi berjuang sama Dewa, setelah itu Kakak akan bawa Dewa ketemu dengan kalian."Ashana menghela nafas lelah, ia tau kakaknya sangat keras kepala. "Baiklah kalau itu mau Kakak tapi setelah ini jangan kabur lagi ya. Kalau ada apa-apa hubungi aku," ujar Ashana dengan mengancam.Aliyah terkekeh melihat sikap adiknya itu. "Iya beres tapi Kakak minta tolong pertemuan kita hari ini jangan sampai bocor ya," ujar Aliyah memohon.Ashana pun mengangguk setuju dengan permohonan kakaknya. Terpaksa obrolan mereka terputus karena Ashana harus pulang agar tidak dicurigai oleh Gi
Setelah membuat alasan main dengan Dea setelah pulang magang, akhirnya Ashana terlepas dari cecaran Gibran. Entah suaminya percaya beneran atau pura-pura yang jelas ia bisa segera pergi dari hadapan Gibran saat ini. Ashana pun melakukan bersih-bersih sebelum istirahat. Sekitar jam 10 malam, Ashana pun memutuskan untuk tidur karena takut bangun telat kalau ia begadang.Sampai Ashana mau tidur, Gibran belum menampakan wajahnya lagi. Entah suaminya kemana, Ashana tidak terlalu peduli juga.***Pagi-pagi Ashana sudah siap berangkat untuk magang lagi, saat keluar kamar ia kaget dengan kehadiran seorang ibu-ibu. Ibu itu tengah menyajikan makanan di atas meja."Selamat pagi Nyonya," sapa ibu itu membuat Ashana sedikit kaget."Eh-panggil Ashana saja Bu," ujar Ashana sambil garuk-garuk kepala."Tidak Nyonya, saya adalah pelayan yang Tuan Gibran pilih. Anda adalah istrinya jadi anda adalah majikan saya," jawab Art itu dengan sopan."Baiklah tapi jangan panggil Nyonya juga, terdengar saya sudah
"Ssillahkan Pak," jawab Dea sedikit gugup.Gibran dan Rio tanpa bicara lagi langsung duduk berhadapan dengan Ashana dan Dea. Mereka seakan dua pasangan sejoli yang lagi double date."Tumben Pak Gibran dan Pak Rio makan di kantin ya," bisik beberapa karyawan yang hadir di kantin dan menyaksikan pemandangan langkah ini."Mau pesan apa Bos? Biar saya pesankan," tanya Rio ke Gibran."Saya mau kopi hitam saja.""Makanannya apa?""Tidak usah."Rio hanya menurut saja perintah sang bos dan berangkat untuk memesan makan siang. Sementara itu Ashana pura-pura tidak peduli omongan suaminya dengan sibuk menyuapi dirinya gado-gado.Pak Rio asisten CEO :Pak, tolong belikan Pak Gibran makanan karena sepertinya dia belum pernah makan sampai saat ini sejak semalam. Belikan yang ia sukai walau ia tidak mau.Ashana mengirimkan pesan secara diam-diam ke Rio. Tanpa Ashana sadari, Gibran diam-diam memperhatikan gerak-gerik istrinya."Ca, aku ke toilet bentar ya," ujar Dea."Aku temenin ya," ucap Ashana den
Sesuai kesepakatan bersama, pernikahan Ashana dan Gibran dirahasiakan. Gibran tidak ingin membuat berita negatif untuk 2 keluarga jika tau mempelainya tiba-tiba diganti.Ashana tidak masalah sama sekali karena ke depannya ia masih bebas bermain tanpa harus pusing dengan status istri seorang CEO. Selama Ashana merasa diuntungkan, dia sama sekali tidak keberatan soal persyaratan yang diajukan Gibran.Hari pertama menjalani kehidupan menjadi seorang istri. Ashana belum melakukan apa-apa karena di rumah Gibran belum ada bahan makanan.Sekitar jam 6 pagi, Ashana sudah rapi dengan pakaian magangnya. Sementara itu Gibran baru bangun dan sedikit kaget melihat ada perempuan di dalam kamarnya."Kenapa ekspresi wajah Bapak seperti itu melihatku? Lupa kalau sudah punya istri?" tanya Ashana kala tengah menyisir rambutnya dan melihat Gibran dari pantulan cermin meja rias."Tidak, saya hanya kaget melihat kamu sudah rapi jam segini," elak Gibran."Harus dong karena nanti saya telat kalau berangkatny
Gibran langsung menjauhkan wajahnya dengan tenang dari Syakilla saat Rio memergoki mereka. Sementara Ashana terus menunduk malu seakan baru ketahuan berbuat mesum padahal tidak terjadi apa-apa."Maaf Bos, saya mengganggu. Cuman mau mengantar kopi ini saja," ujar Rio menggaruk kepalanya yang tak gat
Seorang gadis muda berusia 19 tahun bernama, Ashana melangkah memasuki gedung pencakar langit dengan buru-buru. Ia memperlihatkan sebuah id card yang tergantung di lehernya ke satpam, tanda ia sudah punya akses untuk masuk.Setelah berhasil masuk, ia langsung mencari toilet karena saat ini ia kebel
2 keluarga itu baru tau kalau ternyata, Ashana dan Gibran sudah saling kenal. Mereka ternyata bos dan anak magang di kantor setelah mengintrogasi sebentar.Setelah introgasi mendadak selesai, baru akan dilakukan pemasangan cincin nikah. Kedua keluarga inti sudah berada di dalam kamar untuk menyaksi
Subuh-subuh Ashana, sudah bangun lebih awal dari biasanya. Setelah mandi, ia bersiap menuju kamar kakaknya untuk melihat persiapan sang kakak.Namun, langkah kakinya terhenti kala melihat orang tuanya, om dan tantenya kini duduk melingkar di ruang keluarga lantai 2. Ashana dengan ceria dan semangat







