LOGIN“Heh, Ayunda! Kamu nggak malu apa masih tinggal disini?" Ujar Bu Ani, dia menatap Ayunda dengan tatapan mencibir.
"Kenapa harus malu?” Tanya Ayunda. "Ya harusnya kamu malu dong, sudah ketahuan berbuat mesum, dinikahkan paksa lagi.” Kata Bu Ani. "Saya nggak merasa tuh, makanya saya nggak malu.” Jawab Ayunda. "Kamu ini ya! Gara-gara kamu kampung kita pasti kena sial. Kamu harus pergi dari kampung ini, dasar wanita gak benar." Kata Bu Ani pedas. “Gak usah ikut campur urusan orang, Bu. Mendingan Ibu urus aja si Mely, jangan-jangan nanti dia ketahuan hamil di luar nikah lagi." Ucap Ayunda pedas, menghadapi orang seperti Bu Ani ini harus bisa lebih pedas kata-katanya. “Apa katamu? Kamu mau bilang kalau anakku perempuan gak benar gitu?" Teriak Bu Ani, ia tidak terima kalau anaknya dihina seperti itu. “Kenyataannya seperti itu, makanya tanya dong Bu kalau anaknya pulang pagi itu ngapain?” Kesal Ayunda, ia memilih untuk meninggalkan Bu Ani yang berteriak memakinya, mengatai perempuan tidak benar. Tidak tahu saja kalau anaknya itu perempuan malam, Ayunda tahu itu karena sempat melihat Mely keluar dari club malam di kota bersama dengan pria tua. Ayunda juga mendengar kalau Mely ini adalah anak yang paling laris manis. "Ayunda, kamu belum pergi juga dari kampung ini?” Datang lagi satu orang yang sifatnya sama persis seperti Bu Ani, Bu Ningsih. "Kenapa semua orang seperti ingin saya pergi dari sini? Memangnya apa hak kalian mengusir saya?” Heran Ayunda, ia tidak akan meninggalkan rumah peninggalan Ayahnya. “Karena sudah seharusnya seperti itu, saat seseorang ketahuan berbuat mesum di kampung kita, maka orang itu harus pergi dari kampung ini selamanya. Karena kalau orang seperti kamu masih ada disini, kampung kita bisa kena sial." Tutur Bu Ningsih. "Itu aturan darimana?” Tanya Ayunda, peraturan itu hanya omong kosong. "Aturan itu sudah ada turun temurun, kita harus menghargai para pendahulu agar kampung tetap makmur dan dijauhkan dari segala bencana.” Kata Bu Ningsih. "Saya nggak peduli, saya permisi!” Ujar Ayunda, ia berjalan cepat untuk mengindari Bu Ningsih. Ayunda sekarang bisa menduga kenapa hidupnya bisa sial seperti ini, Rina ibu tirinya pasti yang sudah merencanakan semua. Ia yang paling ingin Ayunda pergi dari rumah, agar Rina bisa menjual rumah yang sekarang ditempati. Rumah itu adalah peninggalan Ayah Ayunda, Anto. Sebelum meninggal Ayahnya sempat berpesan agar Ayunda tidak menjual rumah tersebut. Tapi Rina merasa kalau ia juga memiliki hak disana, ia tetap ngotot ingin menjual rumah dengan alasan untuk membayar hutang yang ditinggalkan oleh Anto. Entah hutang apa yang dimaksud oleh Rina, Ayunda sama sekali tidak tahu kalau Anto memiliki hutang selama ini. Ayahnya pun tidak pernah bilang. “Ayunda!” Yuda memanggilnya, tidak terasa kalau Ayunda sudah sampai ditoko roti tempatnya bekerja. "Iya, ada apa?” Tanya Ayunda, kejadian kemarin tidak membuat Yuda berubah padanya. Ia tetap baik seperti biasanya. "Dipanggil sama Bu bos.” Kata Yuda. Ayunda buru-buru masuk kedalam toko, sebelum menemui bosnya Ayunda menaruh tas terlebih dahulu. Tidak biasanya bos ingin menemuinya, pasti ada hal penting yang harus di bahas. Ayunda menghembuskan nafasnya setelah berada di depan pintu ruangan bos, ia perlahan mengetuk pintu. Terdengar sahutan dari dalam yang menyuruhnya untuk masuk. Ayunda membuka pintu dan masuk ke dalam, bos menyuruhnya untuk duduk. "Ibu panggil saya, ada apa?” Tanya Ayunda sopan. "Ya, ada hal yang harus kita bicarakan. Ini menyangkut gosip yang sedang beredar.” Kata Bos Ayunda, Bu Anita. "Gosip?” Beo Ayunda. "Kamu nggak tahu?” Ayunda menggelengkan kepalanya, sungguh dia tidak tahu gosip apa yang sedang dibahas oleh Bu Anita saat ini. "Soal kamu yang ketangkap basah sedang mesum di toko kosong, ini membuat reputasi toko kita jadi hancur. Mereka banyak menyayangkan pegawai seperti kamu bekerja disini.” Kata Bu Anita. "Semua itu tidak benar, Bu. Semua ini hanya salah paham.” Ucap Ayunda membela diri. "Saya tidak tahu mana kebenarannya, tapi kamu menikah dengan pria itu ‘kan?” Ayunda tidak bisa mengelak, fakta bahwa dia menikah dengan Satya itu benar adanya. Dan hal itu justru membuat bukti kuat kalau mereka memang melakukan hal yang dituduhkan. "Saya terpaksa menikah dengannya, warga tidak ada yang percaya.” Lirih Ayunda. Bu Anita tampak mengehela nafasnya, sangat disayangkan pegawai kompeten seperti Ayunda harus terkena skandal seperti ini. Jujur saja, Ayunda adalah pegawai terbaik yang dia miliki. Selain pintar membuat roti dan kue yang enak, Ayunda juga bisa membuat pelanggan terkesan dengan pelayanannya yang ramah. “Ayunda, saya minta mulai hari ini kamu berhenti kerja." Kata Bu Anita dengan sangat terpaksa. Pasalnya banyak sekali pelanggan yang komplen dan mengancam tidak akan membeli lagi disana kalau Ayunda masih tetap bekerja. Mau tidak mau Bu Anita harus mengambil langkah ini, demi keberlangsungan tokonya. “Tapi Bu.." Ayunda tidak bisa menerima, hanya karena kesalahpahaman ini ia kehilangan pekerjaannya, Ayunda juga terancam diusir dari rumahnya sendiri. Mau seberapa kuat dia mempertahankan diri untuk tidak meninggalkan rumahnya, tetap saja warga pasti melakukan segala cara untuk membuatnya pergi. “Sekali lagi saya minta maaf, semoga kamu bisa punya pekerjaan yang lebih baik lagi." Kata Bu Anita. “Ini uang gaji kamu dan sedikit pesangon." Bu Anita menyodorkan amplop berisi uang, Ayunda dengan lemas menerimanya dan pamitan. Ia keluar dari ruangan Bu Anita, lengkap sudah penderitaan sekarang. “Apa kata Bu Anita?" Tanya Yuda, dia menghampiri Ayunda. “Palingan juga dia di pecat." Sahut Wina, ia mendelik kearah Ayunda. Menunjukkan betapa dia memang sangat tidak menyukai Ayunda. “Bisa diam gak sih? Aku nanya sama Ayunda bukan sama kamu.” Tanya Yuda. "Seperti kata Wina, aku memang di pecat.” Ujar Ayunda, dia tidak ingin lebih banyak pembicaraan. Memilih untuk meninggalkan kedua rekan kerjanya. Bertahun-tahun kerja di toko ini, Ayunda merasa berat harus meninggalkannya. Tapi Ayunda tidak bisa berbuat apapun, dia hanya kerja disana. Ayunda tidak punya hak untuk tetap tinggal. "Syukurin, emangnya enak di pecat.” Ujar Wina saat Ayunda sudah ada diambang pintu.Warga datang berbondong-bondong menuju ke rumah Ayunda, mereka sepakat untuk mengusir Ayunda. Jika gadis itu masih menolak, mereka akan tetap memaksa Ayunda untuk pergi, kalau perlu dengan cara kasar sekalipun.“Ayunda, keluar kamu!" Teriak salah satu warga, yaitu Bu Ningsih.“Jangan sembunyi, kami tahu kalau kamu ada di dalam rumah." Teriak yang lainnya. Tidak lama kemudian pintu rumah Ayunda terbuka, bukan Ayunda yang membukakan pintu melainkan Rina dan juga Siska, mereka sudah menunggu warga sedari tadi. Ingin melihat bagaimana Ayunda dipermalukan sekali lagi.“Mana Ayunda? Jangan-jangan dia sembunyi lagi." Kata Bu Ningsih.“Tenang Ibu-ibu, Bapak-bapak. Ayunda tidak lari, dia ada di rumah dan sedang berkemas. Seperti yang kalian mau, Ayunda akan segera meninggalkan kampung kita." Ujar Rina, ia menunjukkan wajah sedihnya, seolah sangat berat kehilangan Ayunda."Baguslah kalau dia tahu diri, kita-kita disini tidak mau ketiban sial gara-gara si Ayunda.” Rina mengangguk, suasana semak
Seminggu sudah setelah Satya pamit, sampai sekarang pemuda itu belum menampakkan batang hidungnya, Ayunda terus didesak untuk segera pergi dari kampungnya oleh semua warga. Mereka tidak peduli seberapa keras usaha Ayunda untuk tetap bertahan, yang mereka inginkan tentu harus terkabulkan. Mereka takut Ayunda akan membawa bencana, makanya mereka terus mendesak ketua RT untuk mengusir Ayunda. Sekarang Ayunda bahkan tidak tahu harus mengadu pada siapa?“Apa sudah ada kabar dari suami kamu Ayunda?" Tanya Pak RT untuk kesekian kalinya. “Saya tidak tahu kapan dia pulang." Jawab Ayunda.“Ya kamu telepon dia, tanya kapan pulang? Saya sudah lelah terus menerus didesak warga." Kata Pak RT, seminggu terakhir hidupnya serasa tidak nyaman, karena warga silih berganti datang ke rumahnya hanya untuk menanyakan kapan Ayunda akan pergi dari kampung ini.“Saya tidak punya nomor teleponnya." Kata Ayunda, Pak RT menghela nafasnya.“Kalian suami istri tapi tidak punya nomor telepon masing-masing?" Tanya
“Heh, Ayunda! Kamu nggak malu apa masih tinggal disini?" Ujar Bu Ani, dia menatap Ayunda dengan tatapan mencibir. "Kenapa harus malu?” Tanya Ayunda. "Ya harusnya kamu malu dong, sudah ketahuan berbuat mesum, dinikahkan paksa lagi.” Kata Bu Ani. "Saya nggak merasa tuh, makanya saya nggak malu.” Jawab Ayunda. "Kamu ini ya! Gara-gara kamu kampung kita pasti kena sial. Kamu harus pergi dari kampung ini, dasar wanita gak benar." Kata Bu Ani pedas. “Gak usah ikut campur urusan orang, Bu. Mendingan Ibu urus aja si Mely, jangan-jangan nanti dia ketahuan hamil di luar nikah lagi." Ucap Ayunda pedas, menghadapi orang seperti Bu Ani ini harus bisa lebih pedas kata-katanya. “Apa katamu? Kamu mau bilang kalau anakku perempuan gak benar gitu?" Teriak Bu Ani, ia tidak terima kalau anaknya dihina seperti itu. “Kenyataannya seperti itu, makanya tanya dong Bu kalau anaknya pulang pagi itu ngapain?” Kesal Ayunda, ia memilih untuk meninggalkan Bu Ani yang berteriak memakinya, mengatai peremp
Ayunda membuka amplop uang dari Satya, setelah dihitung-hitung totalnya ada lima juta. Ayunda menyimpannya dan tidak berani untuk menggunakannya, ia masih belum percaya kepada Satya bisa saja itu memang benar hasil malak orang.“Aku harus cari tahu, pekerjaan dia sebenarnya apa? Aku tidak bisa tenang sebelum mengetahuinya.” Ujar Ayunda pelan, tampang Satya tidak mendukung kalau dia benar-benar orang baik.Suara ketukan pintu terdengar, Ayunda membuka pintu kamarnya dan mendapati Ibu tirinya yang berdiri di luar pintu.“Ada apa?" Tanya Ayunda ketus, mereka tidak pernah akur sekalipun.“Ada pak RT." Jawab Rina.“Mau ngapain Pak RT kesini?" Tanya Ayunda lagi.“Mana Ibu tahu, kamu tanya sendiri aja sama Pak RT." Ujar Rina tak kalah ketus. Dia pergi dari sana, kembali ke kamarnya.Ayunda menutup pintu kamar dan menemui Pak RT yang menunggunya di ruang tamu, ternyata bukan hanya ada Pak RT tapi juga beberapa orang warga yang ikut.“Ada apa ya pak RT?" Tanya Ayunda sopan, ia menjadi khawati
Sepanjang perjalanan pulang, Ayunda terus menundukkan kepalanya. Setiap berpapasan dengan warga, mereka berbisik-bisik membicarakannya. Bahkan ada yang terang-terangan mengatakannya di depan Ayunda. Mereka seakan yang paling tahu dengan hidupnya, mereka membicarakannya tapi tidak tahu bagaimana kejadian aslinya.“Eh ada Neng Ayunda, baru pulang kerja ya?" Sapa Ibu-ibu yang sedang berkumpul di salah satu rumah.“Iya, Bu." Jawab Ayunda mencoba bersikap ramah.“Suaminya kemana? Kok nggak di jemput?" Tanya Bu Rahma.“Iya, padahal kamu sudah menikah loh. Harusnya kamu minta suami kamu antar jemput, jangan sukanya malakin orang di pasar." Celetuk Bu Ani.“Ya wajar malakin orang di pasar, dia akan aslinya preman." Timpal Bu Ningsih, mereka tertawa sangat keras sekali, seolah hal itu adalah bahan bercandaan yang sangat menyenangkan.“Jangan begitu Ibu-ibu, kita ‘kan nggak tahu kejadiannya seperti apa? Kita hanya melihat suami Ayunda diberikan uang sama pelanggan di pasar, siapa tahu itu upahn
“Kenapa manyun aja?" Tanya Yuda, teman kerja Ayunda di toko kue dan roti.“Diem deh, aku lagi badmood." Kata Ayunda, hari ini moodnya benar-benar hancur. “Badmood kenapa sih? Biasanya kamu yang paling semangat.” Kata Yuda sembari membereskan roti di rak."Pokoknya ada-lah yang bikin kesel." Jawab Ayunda. Ia kembali teringat akan kejadian semalam, rasanya seperti mimpi buruk.Ayunda tidak tahu harus berbuat apa, semua warga tahu kalau sekarang dia sudah menikah. Tidak membiarkan Satya tinggal di rumahnya, pasti akan menimbulkan masalah lain. “Dengar-dengar semalam ada kejadian heboh ya di kampung kamu?" Ujar Yuda, ia sangat penasaran dengan gosip yang beredar. Ia yang hanya tahu sepenggal kisahnya tidak mengetahui siapa dan apa yang sebenarnya terjadi.“Ya." Jawab Ayunda tidak berniat memberikan keterangan lebih lanjut.“Katanya ada yang digerebek terus langsung dinikahin, kamu tahu siapa?" Tanya Yuda.Ayunda tidak menjawab, tentu saja dia sangat mengetahuinya karena dia yang menjadi







