เข้าสู่ระบบ“Kenapa manyun aja?" Tanya Yuda, teman kerja Ayunda di toko kue dan roti.
“Diem deh, aku lagi badmood." Kata Ayunda, hari ini moodnya benar-benar hancur. “Badmood kenapa sih? Biasanya kamu yang paling semangat.” Kata Yuda sembari membereskan roti di rak. "Pokoknya ada-lah yang bikin kesel." Jawab Ayunda. Ia kembali teringat akan kejadian semalam, rasanya seperti mimpi buruk. Ayunda tidak tahu harus berbuat apa, semua warga tahu kalau sekarang dia sudah menikah. Tidak membiarkan Satya tinggal di rumahnya, pasti akan menimbulkan masalah lain. “Dengar-dengar semalam ada kejadian heboh ya di kampung kamu?" Ujar Yuda, ia sangat penasaran dengan gosip yang beredar. Ia yang hanya tahu sepenggal kisahnya tidak mengetahui siapa dan apa yang sebenarnya terjadi. “Ya." Jawab Ayunda tidak berniat memberikan keterangan lebih lanjut. “Katanya ada yang digerebek terus langsung dinikahin, kamu tahu siapa?" Tanya Yuda. Ayunda tidak menjawab, tentu saja dia sangat mengetahuinya karena dia yang menjadi korbannya. “Eh, Ayunda. Semalam kamu dinikahin sama preman ya? Aku dengar dari warga, katanya kalian kepergok lagi berbuat mesum." Celetuk Wina, salah satu karyawan disana dan perlu digaris bawahi kalau Wina sangat tidak menyukainya. Ayunda hanya menatapnya sekilas, malas sekali rasanya meladeni orang-orang yang usil dalam kehidupannya. "Jawab dong, kita penasaran nih. Kenal dari mana kamu sama preman itu?” Wina terus mendesak, ia sangat menikmati raut wajah Ayunda yang memerah karena menahan amarah. "Yuda, kasihan deh kamu. Ayunda sekarang udah punya suami, hati-hati loh nanti kamu di gebukin sama suaminya. Soalnya suaminya preman.” Kata Wina, dia sengaja menekankan kata ‘preman’. Beruntung toko waktu itu belum ramai, hanya ada mereka bertiga disana. Tapi tetap saja itu membuat Ayunda malu, seumur hidupnya dia akan dicap sebagai istri preman melihat perawakan dan gaya Satya persis seperti yang orang-orang katakan. “Ayunda, itu benar?" Tanya Yuda memastikan. Ayunda memilih untuk meninggalkan mereka menuju belakang, tapi langkahnya ditahan oleh Wina yang masih belum puas mempermalukannya. “Mau kemana kamu? Jelasin dong sama Yuda, gimana ceritanya kamu bisa ketahuan berbuat mesum sama warga?" Kata Wina sengaja menekankan setiap perkataannya. “Aku nggak berhak menjelaskan apapun sama kalian, jadi stop ngomongin yang nggak-nggak." Kata Ayunda. “Jadi kamu mengakui semuanya? Gimana rasanya nikah sama preman?" Ujar Wina setengah menghina. Ayunda mengepalkan kedua tangannya, ia masih berusaha untuk tidak terpancing emosi. Ayunda tidak mau terlibat perkelahian apalagi saat bekerja. “Hei, kalian semua dengar! Ayunda nikah sama preman." Teriak Wina sengaja membuat pengumuman, ada beberapa pengunjung yang baru saja datang. Tentu hal itu membuat Ayunda merasa dipermalukan habis-habisan. "Hentikan! Kamu nggak berhak menghakimi hidup Ayunda. Dia juga punya privasi, kamu sudah melewati batas.” Kata Yuda, dia bergerak melindungi Ayunda. Meskipun hatinya serasa hancur mendengar kabar mengejutkan ini, tapi dia tidak bisa melihat Ayunda dipermalukan seperti ini. “Kamu masih mau belain dia? Kamu masih gak sadar kalau selama ini dia cuma gantungin perasaan kamu doang?" Kata Wina, ia melipat kedua tangannya di dada. "Ayunda nggak pernah gantungin perasaan aku, dia jelas udah nolak aku. Aku yang nggak mau berhenti, jadi stop permalukan dia kayak gini." Ujar Yuda tegas. “Wah, kayaknya kamu udah di pelet sama dia deh, Yud." Ejek Wina, belum pernah dia melihat cinta yang begitu besar dari seorang pria. Dan sejujurnya Wina iri, dia menyukai Yuda tapi pemuda itu hanya melihat Ayunda saja. Mendengar kabar pernikahan Ayunda dengan seorang preman, ia jadikan ini sebagai senjata untuk membuat Ayunda malu. Wina pikir setelah tahu, Yuda akan menjauhi Ayunda dan membencinya. Tapi ternyata Yuda masih peduli kepada Ayunda, setelah ditolak berkali-kali. “Mau kamu apa sih, Win?" Ayunda maju, dia merasa lelah dengan kelakuan Wina. Selalu saja ada yang dipermasalahkan, entah itu hal kecil atau hal besar sekalipun. Ayunda tidak pernah merasa berbuat salah kepada Wina, tapi gadis itu selalu mengganggunya dan mengusik hidupnya. Ayunda mendekati Wina, "Apa aku pernah buat salah sama kamu? Kenapa kamu kayaknya benci banget sama aku.” "Kamu nggak pernah buat salah, tapi aku benci banget sama kamu. Aku nggak suka saat semua perhatian tertuju sama kamu.” Kata Wina, dia memandang Ayunda dengan tatapan remeh. "Kamu itu suka cari perhatian, sok juga jadi orang. Merasa paling cantik jadi bisa berbuat seenaknya.” Kata Wina, kenyatannya bukan Ayunda yang seperti itu. Wina sendiri yang sering sekali mencari perhatian, apalagi saat pemilik ada di toko. Wina seolah menjadi yang paling rajin diantara mereka, padahal kerjanya hanya santai saat pemilik tidak ada. Semua pekerjaannya Ayunda yang mengerjakan. "Gak salah kamu ngomong kayak gitu? Bukannya kamu yang suka cari perhatian?” Ujar Ayunda, mengahadapi manusia seperti ini harus ekstra sabar. "Apa kamu bilang? Dasar istri preman, lihat saja nanti! Aku akan sebarin kalau kamu nikah sama preman.” Kata Wina mengancam. "Terserah, aku memang nikah semalam. Tapi bukan karena berbuat hal yang tidak baik, mereka menuduh tanpa adanya bukti.” Ayunda membela diri. “Jadi kamu mengakuinya?" Ujar Wina. “Ya. Aku akui, dan kamu tidak berhak menghakimi. Ini hidupku, kamu tidak tahu seperti apa kenyatannya." Jawab Ayunda, ia memilih untuk pergi kebelakang. Sekarang pernikahannya semalam sudah tersebar, Ayunda merasa sangat malu sekali.“Heh, Ayunda! Kamu nggak malu apa masih tinggal disini?" Ujar Bu Ani, dia menatap Ayunda dengan tatapan mencibir. "Kenapa harus malu?” Tanya Ayunda. "Ya harusnya kamu malu dong, sudah ketahuan berbuat mesum, dinikahkan paksa lagi.” Kata Bu Ani. "Saya nggak merasa tuh, makanya saya nggak malu.” Jawab Ayunda. "Kamu ini ya! Gara-gara kamu kampung kita pasti kena sial. Kamu harus pergi dari kampung ini, dasar wanita gak benar." Kata Bu Ani pedas. “Gak usah ikut campur urusan orang, Bu. Mendingan Ibu urus aja si Mely, jangan-jangan nanti dia ketahuan hamil di luar nikah lagi." Ucap Ayunda pedas, menghadapi orang seperti Bu Ani ini harus bisa lebih pedas kata-katanya. “Apa katamu? Kamu mau bilang kalau anakku perempuan gak benar gitu?" Teriak Bu Ani, ia tidak terima kalau anaknya dihina seperti itu. “Kenyataannya seperti itu, makanya tanya dong Bu kalau anaknya pulang pagi itu ngapain?” Kesal Ayunda, ia memilih untuk meninggalkan Bu Ani yang berteriak memakinya, mengatai peremp
Ayunda membuka amplop uang dari Satya, setelah dihitung-hitung totalnya ada lima juta. Ayunda menyimpannya dan tidak berani untuk menggunakannya, ia masih belum percaya kepada Satya bisa saja itu memang benar hasil malak orang.“Aku harus cari tahu, pekerjaan dia sebenarnya apa? Aku tidak bisa tenang sebelum mengetahuinya.” Ujar Ayunda pelan, tampang Satya tidak mendukung kalau dia benar-benar orang baik.Suara ketukan pintu terdengar, Ayunda membuka pintu kamarnya dan mendapati Ibu tirinya yang berdiri di luar pintu.“Ada apa?" Tanya Ayunda ketus, mereka tidak pernah akur sekalipun.“Ada pak RT." Jawab Rina.“Mau ngapain Pak RT kesini?" Tanya Ayunda lagi.“Mana Ibu tahu, kamu tanya sendiri aja sama Pak RT." Ujar Rina tak kalah ketus. Dia pergi dari sana, kembali ke kamarnya.Ayunda menutup pintu kamar dan menemui Pak RT yang menunggunya di ruang tamu, ternyata bukan hanya ada Pak RT tapi juga beberapa orang warga yang ikut.“Ada apa ya pak RT?" Tanya Ayunda sopan, ia menjadi khawati
Sepanjang perjalanan pulang, Ayunda terus menundukkan kepalanya. Setiap berpapasan dengan warga, mereka berbisik-bisik membicarakannya. Bahkan ada yang terang-terangan mengatakannya di depan Ayunda. Mereka seakan yang paling tahu dengan hidupnya, mereka membicarakannya tapi tidak tahu bagaimana kejadian aslinya.“Eh ada Neng Ayunda, baru pulang kerja ya?" Sapa Ibu-ibu yang sedang berkumpul di salah satu rumah.“Iya, Bu." Jawab Ayunda mencoba bersikap ramah.“Suaminya kemana? Kok nggak di jemput?" Tanya Bu Rahma.“Iya, padahal kamu sudah menikah loh. Harusnya kamu minta suami kamu antar jemput, jangan sukanya malakin orang di pasar." Celetuk Bu Ani.“Ya wajar malakin orang di pasar, dia akan aslinya preman." Timpal Bu Ningsih, mereka tertawa sangat keras sekali, seolah hal itu adalah bahan bercandaan yang sangat menyenangkan.“Jangan begitu Ibu-ibu, kita ‘kan nggak tahu kejadiannya seperti apa? Kita hanya melihat suami Ayunda diberikan uang sama pelanggan di pasar, siapa tahu itu upahn
“Kenapa manyun aja?" Tanya Yuda, teman kerja Ayunda di toko kue dan roti.“Diem deh, aku lagi badmood." Kata Ayunda, hari ini moodnya benar-benar hancur. “Badmood kenapa sih? Biasanya kamu yang paling semangat.” Kata Yuda sembari membereskan roti di rak."Pokoknya ada-lah yang bikin kesel." Jawab Ayunda. Ia kembali teringat akan kejadian semalam, rasanya seperti mimpi buruk.Ayunda tidak tahu harus berbuat apa, semua warga tahu kalau sekarang dia sudah menikah. Tidak membiarkan Satya tinggal di rumahnya, pasti akan menimbulkan masalah lain. “Dengar-dengar semalam ada kejadian heboh ya di kampung kamu?" Ujar Yuda, ia sangat penasaran dengan gosip yang beredar. Ia yang hanya tahu sepenggal kisahnya tidak mengetahui siapa dan apa yang sebenarnya terjadi.“Ya." Jawab Ayunda tidak berniat memberikan keterangan lebih lanjut.“Katanya ada yang digerebek terus langsung dinikahin, kamu tahu siapa?" Tanya Yuda.Ayunda tidak menjawab, tentu saja dia sangat mengetahuinya karena dia yang menjadi
“Jangan harap aku menerima pernikahan konyol ini, aku sama sekali tidak akan menerima kamu sebagai suamiku.” Kata Ayunda tajam, mereka sekarang ada di rumah Ayunda. "Aku tahu, aku juga tidak akan memaksa." Jawab Satya.“Baguslah kalau kau tahu diri, malam ini terserah kau mau tidur dimanapun, asal jangan pernah masuk ke kamarku." Ujar Ayunda, ia meninggalkan Satya di ruang tamu.Satya hanya bisa menghela nafasnya, kejadian tadi pasti membuat Ayunda terguncang. Hal ini juga sebenarnya membuat Satya tidak percaya, ia hanya datang kesini untuk bertemu teman lamanya, siapa sangka Satya akan menikah malam ini.Mungkin ini yang dinamakan jodoh, Satya hanya terkekeh membayangkannya saja. Wanita yang baru pertama kali bertemu dengannya, menjadi istrinya sekarang.“Nak Satya, harap maklum ya dengan kelakuannya Ayunda. Dia memang seperti itu sama orang baru, tapi anaknya baik kok." Ujar Rina. “Ah tidak masalah, kejadian ini pasti membuatnya syok. Saya bisa maklum." Jawab Satya. Di dalam rumah
“Hai kalian, sedang apa berduaan ditempat sepi seperti ini?" Teriak seorang warga, ia menyoroti pasangan yang seperti tengah berbuat mesum.Teriakannya mengundang beberapa warga lain untuk datang, pasangan tersebut sepertinya terkejut dan buru-buru membenarkan posisi masing-masing."Kalian berbuat mesum, ya?” Tuding warga lainnya, si wanita menggelengkan kepala. Ia jelas ketakutan melihat warga-warga yang terlihat sangat marah. "Sudah bawa saja mereka ke balai warga, biar Pak RT yang memutuskan harus diapakan mereka ini.” Kata warga."Tidak! Kalian salah paham, kita nggak ngelakuin apa-apa.” Ujar si wanita.Namun sepertinya warga tidak ada yang mau mendengarkan, mereka berdua digiring menuju balai warga. Malam itu kampung menjadi gaduh, dari satu cerita menyebar ke banyak warga, banyak orang-orang berbondong-bondong ingin melihat siapa pelaku pasangan mesum tersebut.Sesampainya di balai warga, mereka diinterogasi. “Saya hanya sedang berteduh karena hujan deras Pak RT, tiba-tiba saja







