LOGIN
“Hai kalian, sedang apa berduaan ditempat sepi seperti ini?" Teriak seorang warga, ia menyoroti pasangan yang seperti tengah berbuat mesum.
Teriakannya mengundang beberapa warga lain untuk datang, pasangan tersebut sepertinya terkejut dan buru-buru membenarkan posisi masing-masing. "Kalian berbuat mesum, ya?” Tuding warga lainnya, si wanita menggelengkan kepala. Ia jelas ketakutan melihat warga-warga yang terlihat sangat marah. "Sudah bawa saja mereka ke balai warga, biar Pak RT yang memutuskan harus diapakan mereka ini.” Kata warga. "Tidak! Kalian salah paham, kita nggak ngelakuin apa-apa.” Ujar si wanita. Namun sepertinya warga tidak ada yang mau mendengarkan, mereka berdua digiring menuju balai warga. Malam itu kampung menjadi gaduh, dari satu cerita menyebar ke banyak warga, banyak orang-orang berbondong-bondong ingin melihat siapa pelaku pasangan mesum tersebut. Sesampainya di balai warga, mereka diinterogasi. “Saya hanya sedang berteduh karena hujan deras Pak RT, tiba-tiba saja dia datang.” Ujar si wanita yang bernama Ayunda Larasati. "Lalu kenapa posisi kalian saat ditemukan seperti itu?” Tanya Pak RT. "Saya terpeleset saat hendak pergi, dia hanya berniat menolong saja. Saya juga nggak kenal dia siapa?” Jawab Ayunda, ia melirik ke arah pria yang dari tadi diam saja. Seharusnya pria ini juga membantunya menjelaskan. “Apakah benar begitu?" Kali ini Pak RT bertanya kepada pemuda tersebut. “Ya. Tapi kalau kalian semua tidak percaya, saya bisa apa? Saya juga tidak punya bukti untuk membenarkan ucapan saya." Jawab si pria, semua orang meragukan ucapannya. Lihat saja gayanya yang urakan, wajah tampang preman dan juga auranya yang sangar. Ayunda melotot mendengar jawaban pria tersebut, ingin rasanya dia menghajar wajahnya. Bagaimana dia bisa membuktikan bahwa semua tuduhan itu tidak benar? Sedangkan pria ini malah membuat semuanya menjadi kacau. “Boleh saya lihat KTP-nya?" Pinta Pak RT, pria itu mengambil dompet di sakunya, memberikan kartu tanda penduduk kepada Pak RT. “Satya Aditama, kamu bukan warga disini." Kata Pak RT. "Saya lagi main kesini, kebetulan rumah teman saya nggak jauh dari sini.” Jawab Satya. "Pak RT, saya sama dia benar-benar tidak melakukan apapun. Saya hanya berteduh, dan dia hanya berniat menolong.” Kata Ayunda, tatapannya mengiba berharap kalau ketua rukun tersebut memberikan keputusan yang tepat. "Alah itu cuma alasan saja, lebih baik kita nikahkan saja mereka. Mereka ngomong kayak gitu karena ketahuan aja, coba kalau tidak ketahuan mereka pasti sudah berbuat mesum." Kata warga yang pertama kali menemukan mereka. “Benar itu Pak RT, jangan sampai kampung kita terkena sial karena perbuatan mereka." Sahut yang lainnya setuju. Mereka percaya kalau ada yang melakukan perbuatan tercela, maka kampung mereka akan terkena sial. Suasana menjadi gaduh, mereka menuntut Ayunda dan Satya untuk dinikahkan. Tentu hal itu membuat Ayunda tidak terima, bagaimana bisa dia menikah dengan pria yang tak dikenalnya. "Saya nggak mau dinikahkan sama dia, kenal juga nggak. Kalian jangan main-main sama hidup orang, ya." Teriak Ayunda, diantara mereka yang bersuara ada Ibu tiri dan juga adik tiri dan suaminya yang menonton. Mereka hanya diam dan tidak membela Ayunda, memangnya apa yang bisa Ayunda harapkan dari mereka? Tentu mereka sangat senang dengan kejadian ini, karena pada dasarnya mereka sangat membenci Ayunda. "Kalian hanya melihat dan mendengar sepenggal cerita, apa kalian tahu semua ceritanya dari awal?" Tanya Ayunda, ini menyangkut hidupnya. Tidak ada yang bisa mengatur hidupnya, Ayunda yang harus menentukan hidupnya sendiri. “Kalau saya memang harus bertanggung jawab untuk menikahinya, saya siap melakukannya." Ujar Satya, Ayunda menoleh dan menatapnya tajam. “Nah itu laki-lakinya siap tanggung jawab, berarti memang benar mereka mau berbuat mesum tadi." Sahut warga, suasana kembali riuh. Mereka tetap pada keputusan yang menginginkan keduanya menikah malam itu juga. “Tidak! Aku tidak mau!” Ujar Ayunda keras, ia marah, benci dan kesal. Semua perasaan itu membuncah dalam dadanya, membuatnya menangis untuk pertama kalinya setelah kehilangan sang ayah untuk selamanya. Hidup Ayunda menjadi berantakan setelah Ayahnya meninggalkan dunia, Ibu dan adik tirinya sama sekali tidak pernah akur dengannya. Sekarang dia menghadapi masalah ini sendirian, tidak ada yang mau membelanya. "Pak RT, saya sebagai orang tua Ayunda menerima apapun keputusannya. Kalau memang Ayunda harus dinikahkan malam ini, saya akan menerimanya. Saya juga malu memiliki anak sepertinya, ini mencoreng nama baik keluarga saya dan almarhum suami saya.” Kata Ibu tiri Ayunda, Rina. "Diam! Jangan bawa-bawa nama Ayahku, kau tidak berhak menentukan hidupku.” Kata Ayunda, ia menatap tajam Ibu tirinya sengit. “Ayunda, ini semua demi kebaikan kamu. Kita menginginkan yang terbaik buat kamu, apa kamu mau membuat malu keluarga?” Ujar Siska, adik tiri Ayunda. "Aku tidak melakukan apapun, kenapa aku membuat malu keluarga?” Ucap Ayunda, ia melemah seiring dengan banyaknya suara-suara yang terus menerus menyuruhnya menikah. Pernikahan adalah sesuatu yang sakral, Ayunda memiliki pernikahan impiannya sendiri. Kenapa nasib sial selalu menimpanya? Kenapa Ayunda tidak bisa bahagia hanya untuk sebentar saja? "Seperti kata saya tadi, saya akan menikahi Ayunda malam ini juga. Saya akan bertanggung jawab atas apa yang terjadi.” Kata Satya dengan tegas. Semua orang terdiam mendengar suaranya yang sangat berwibawa. "Dan untuk kamu, sebaiknya kamu ikuti kataku. Aku janji tidak ada lagi masalah dalam hidupmu," kata Satya begitu menyakinkan. “Baiklah, karena semuanya sudah setuju. Malam ini juga kalian harus menikah. Saya akan memanggil penghulu, dan kamu siapkan dua orang saksi." Ujar Pak RT. Ayunda hanya bisa pasrah saat pernikahan itu digelar begitu saja, Ayunda merasa ini adalah awal kehancuran untuk hidupnya. Entah kedepannya hidupnya akan seperti apa? Ayunda hanya berharap kalau semuanya akan baik-baik saja.“Heh, Ayunda! Kamu nggak malu apa masih tinggal disini?" Ujar Bu Ani, dia menatap Ayunda dengan tatapan mencibir. "Kenapa harus malu?” Tanya Ayunda. "Ya harusnya kamu malu dong, sudah ketahuan berbuat mesum, dinikahkan paksa lagi.” Kata Bu Ani. "Saya nggak merasa tuh, makanya saya nggak malu.” Jawab Ayunda. "Kamu ini ya! Gara-gara kamu kampung kita pasti kena sial. Kamu harus pergi dari kampung ini, dasar wanita gak benar." Kata Bu Ani pedas. “Gak usah ikut campur urusan orang, Bu. Mendingan Ibu urus aja si Mely, jangan-jangan nanti dia ketahuan hamil di luar nikah lagi." Ucap Ayunda pedas, menghadapi orang seperti Bu Ani ini harus bisa lebih pedas kata-katanya. “Apa katamu? Kamu mau bilang kalau anakku perempuan gak benar gitu?" Teriak Bu Ani, ia tidak terima kalau anaknya dihina seperti itu. “Kenyataannya seperti itu, makanya tanya dong Bu kalau anaknya pulang pagi itu ngapain?” Kesal Ayunda, ia memilih untuk meninggalkan Bu Ani yang berteriak memakinya, mengatai peremp
Ayunda membuka amplop uang dari Satya, setelah dihitung-hitung totalnya ada lima juta. Ayunda menyimpannya dan tidak berani untuk menggunakannya, ia masih belum percaya kepada Satya bisa saja itu memang benar hasil malak orang.“Aku harus cari tahu, pekerjaan dia sebenarnya apa? Aku tidak bisa tenang sebelum mengetahuinya.” Ujar Ayunda pelan, tampang Satya tidak mendukung kalau dia benar-benar orang baik.Suara ketukan pintu terdengar, Ayunda membuka pintu kamarnya dan mendapati Ibu tirinya yang berdiri di luar pintu.“Ada apa?" Tanya Ayunda ketus, mereka tidak pernah akur sekalipun.“Ada pak RT." Jawab Rina.“Mau ngapain Pak RT kesini?" Tanya Ayunda lagi.“Mana Ibu tahu, kamu tanya sendiri aja sama Pak RT." Ujar Rina tak kalah ketus. Dia pergi dari sana, kembali ke kamarnya.Ayunda menutup pintu kamar dan menemui Pak RT yang menunggunya di ruang tamu, ternyata bukan hanya ada Pak RT tapi juga beberapa orang warga yang ikut.“Ada apa ya pak RT?" Tanya Ayunda sopan, ia menjadi khawati
Sepanjang perjalanan pulang, Ayunda terus menundukkan kepalanya. Setiap berpapasan dengan warga, mereka berbisik-bisik membicarakannya. Bahkan ada yang terang-terangan mengatakannya di depan Ayunda. Mereka seakan yang paling tahu dengan hidupnya, mereka membicarakannya tapi tidak tahu bagaimana kejadian aslinya.“Eh ada Neng Ayunda, baru pulang kerja ya?" Sapa Ibu-ibu yang sedang berkumpul di salah satu rumah.“Iya, Bu." Jawab Ayunda mencoba bersikap ramah.“Suaminya kemana? Kok nggak di jemput?" Tanya Bu Rahma.“Iya, padahal kamu sudah menikah loh. Harusnya kamu minta suami kamu antar jemput, jangan sukanya malakin orang di pasar." Celetuk Bu Ani.“Ya wajar malakin orang di pasar, dia akan aslinya preman." Timpal Bu Ningsih, mereka tertawa sangat keras sekali, seolah hal itu adalah bahan bercandaan yang sangat menyenangkan.“Jangan begitu Ibu-ibu, kita ‘kan nggak tahu kejadiannya seperti apa? Kita hanya melihat suami Ayunda diberikan uang sama pelanggan di pasar, siapa tahu itu upahn
“Kenapa manyun aja?" Tanya Yuda, teman kerja Ayunda di toko kue dan roti.“Diem deh, aku lagi badmood." Kata Ayunda, hari ini moodnya benar-benar hancur. “Badmood kenapa sih? Biasanya kamu yang paling semangat.” Kata Yuda sembari membereskan roti di rak."Pokoknya ada-lah yang bikin kesel." Jawab Ayunda. Ia kembali teringat akan kejadian semalam, rasanya seperti mimpi buruk.Ayunda tidak tahu harus berbuat apa, semua warga tahu kalau sekarang dia sudah menikah. Tidak membiarkan Satya tinggal di rumahnya, pasti akan menimbulkan masalah lain. “Dengar-dengar semalam ada kejadian heboh ya di kampung kamu?" Ujar Yuda, ia sangat penasaran dengan gosip yang beredar. Ia yang hanya tahu sepenggal kisahnya tidak mengetahui siapa dan apa yang sebenarnya terjadi.“Ya." Jawab Ayunda tidak berniat memberikan keterangan lebih lanjut.“Katanya ada yang digerebek terus langsung dinikahin, kamu tahu siapa?" Tanya Yuda.Ayunda tidak menjawab, tentu saja dia sangat mengetahuinya karena dia yang menjadi
“Jangan harap aku menerima pernikahan konyol ini, aku sama sekali tidak akan menerima kamu sebagai suamiku.” Kata Ayunda tajam, mereka sekarang ada di rumah Ayunda. "Aku tahu, aku juga tidak akan memaksa." Jawab Satya.“Baguslah kalau kau tahu diri, malam ini terserah kau mau tidur dimanapun, asal jangan pernah masuk ke kamarku." Ujar Ayunda, ia meninggalkan Satya di ruang tamu.Satya hanya bisa menghela nafasnya, kejadian tadi pasti membuat Ayunda terguncang. Hal ini juga sebenarnya membuat Satya tidak percaya, ia hanya datang kesini untuk bertemu teman lamanya, siapa sangka Satya akan menikah malam ini.Mungkin ini yang dinamakan jodoh, Satya hanya terkekeh membayangkannya saja. Wanita yang baru pertama kali bertemu dengannya, menjadi istrinya sekarang.“Nak Satya, harap maklum ya dengan kelakuannya Ayunda. Dia memang seperti itu sama orang baru, tapi anaknya baik kok." Ujar Rina. “Ah tidak masalah, kejadian ini pasti membuatnya syok. Saya bisa maklum." Jawab Satya. Di dalam rumah
“Hai kalian, sedang apa berduaan ditempat sepi seperti ini?" Teriak seorang warga, ia menyoroti pasangan yang seperti tengah berbuat mesum.Teriakannya mengundang beberapa warga lain untuk datang, pasangan tersebut sepertinya terkejut dan buru-buru membenarkan posisi masing-masing."Kalian berbuat mesum, ya?” Tuding warga lainnya, si wanita menggelengkan kepala. Ia jelas ketakutan melihat warga-warga yang terlihat sangat marah. "Sudah bawa saja mereka ke balai warga, biar Pak RT yang memutuskan harus diapakan mereka ini.” Kata warga."Tidak! Kalian salah paham, kita nggak ngelakuin apa-apa.” Ujar si wanita.Namun sepertinya warga tidak ada yang mau mendengarkan, mereka berdua digiring menuju balai warga. Malam itu kampung menjadi gaduh, dari satu cerita menyebar ke banyak warga, banyak orang-orang berbondong-bondong ingin melihat siapa pelaku pasangan mesum tersebut.Sesampainya di balai warga, mereka diinterogasi. “Saya hanya sedang berteduh karena hujan deras Pak RT, tiba-tiba saja







