เข้าสู่ระบบSepanjang perjalanan pulang, Ayunda terus menundukkan kepalanya. Setiap berpapasan dengan warga, mereka berbisik-bisik membicarakannya. Bahkan ada yang terang-terangan mengatakannya di depan Ayunda. Mereka seakan yang paling tahu dengan hidupnya, mereka membicarakannya tapi tidak tahu bagaimana kejadian aslinya.
“Eh ada Neng Ayunda, baru pulang kerja ya?" Sapa Ibu-ibu yang sedang berkumpul di salah satu rumah. “Iya, Bu." Jawab Ayunda mencoba bersikap ramah. “Suaminya kemana? Kok nggak di jemput?" Tanya Bu Rahma. “Iya, padahal kamu sudah menikah loh. Harusnya kamu minta suami kamu antar jemput, jangan sukanya malakin orang di pasar." Celetuk Bu Ani. “Ya wajar malakin orang di pasar, dia akan aslinya preman." Timpal Bu Ningsih, mereka tertawa sangat keras sekali, seolah hal itu adalah bahan bercandaan yang sangat menyenangkan. “Jangan begitu Ibu-ibu, kita ‘kan nggak tahu kejadiannya seperti apa? Kita hanya melihat suami Ayunda diberikan uang sama pelanggan di pasar, siapa tahu itu upahnya bawa barang.” Kata Bu Rahma, dari semua orang yang ada disana. Sepertinya hanya Bu Rahma yang paling waras. “Masa ngasih upah mukanya ketakutan begitu, sudah jelaslah suami si Ayunda itu suka malakin orang.” Ujar Bu Ani. "Saya permisi,” Ayunda pergi dari sana, telinganya terasa panas mendengar ocehan mereka. Ini baru menghadapi sebagian warga, Ayunda sangat malu sekali dengan kejadian yang menimpanya. Kenapa hal ini harus terjadi kepadanya? Apa salah Ayunda sampai harus dihukum seperti ini? Sepanjang jalan Ayunda terus memikirkan kenapa nasibnya seperti ini? Kenapa dia harus dipertemukan dengan pria seperti Satya? Apa hidupnya dikutuk sampai ia tidak pernah mendapatkan kebahagiaan? Sesampainya di rumah, Ayunda langsung masuk dan mengunci pintu. Tatapan dan omongan warga tentangnya sungguh sangat membuatnya risih. Siapa juga yang mau menikah dengan preman? Memangnya tidak ada yang lebih baik daripada Satya? Begitu pikirnya. “Sudah pulang?" Ayunda hampir saja berteriak kaget, Satya terheran melihat reaksi Ayunda yang seperti melihat setan saja. “Ngapain kamu disini?" Tanya Ayunda, ia berjalan menuju dapur. Menenggak segelas air dengan rakus, emosi membuatnya haus. “Pelan-pelan nanti tersedak." Kata Satya, Ayunda tidak peduli. Ia mengisi kembali gelas dan menenggak lagi air minumnya, benar saja karena terburu-buru Ayunda tersedak sampai dadanya terasa sakit. “Sudah aku bilang, minumnya pelan-pelan." Kata Satya, dia mengelus punggung Ayunda dengan lembut. “Jangan pegang-pegang," Ayunda mendorong Satya, masih risih dengan kehadiran pria lain apalagi menyentuhnya. “Oke, maaf. Aku kesini karena mau pamit, mungkin seminggu aku nggak pulang.” Ujar Satya. Ada hal yang harus Satya urus. "Kalau mau pergi, ya pergi aja. Ngapain pamitan segala.” ketus Ayunda. “Bukan begitu, mau bagaimanapun juga kamu istri aku sekarang, jelas tanggung jawab aku." Kata Satya. “Stop anggap pernikahan kita itu sungguhan, kita nikah juga karena terpaksa. Nggak usah kayak pasangan sesungguhnya, kita cuma orang asing yang dipaksa hidup bersama." Kata Ayunda pedas, siapa juga yang akan menerima pernikahan seperti ini? Lain cerita kalau mereka saling mengenal sebelumnya, mungkin Ayunda tidak akan sekasar ini. Masalahnya adalah mereka orang asing, terpaksa menikah karena salah paham. Tidak mudah untuk Ayunda menerimanya, apalagi tatapan orang-orang yang seakan mencemoohnya. Ayunda tidak sanggup menerima ini semua, Ayunda ingin terbebas dari semua ini. “Oke aku nggak akan paksa, tapi bagiku pernikahan itu hanya sekali. Jadi, aku akan mempertahankan pernikahan kita. Aku nggak akan maksa kamu menerima aku, tapi aku akan berusaha supaya kamu bisa menerima aku dan pernikahan ini." Kata Satya bijak. “Terserah." Balas Ayunda, kalau Satya berusaha untuk mempertahankan hubungan ini, maka Ayunda juga akan berusaha untuk membuat Satya menyerah sampai akhirnya meninggalkannya. “Ini ada uang, anggap saja uang nafkah buat kamu selama aku nggak ada." Satya menyerahkan sejumlah uang dalam amplop coklat. Ayunda teringat dengan perkataan Ibu-ibu tadi, bisa jadi uang yang diberikan Satya memang hasil dari memalak orang di pasar. "Aku nggak mau makan uang haram.” Tolak Ayunda. "Kamu pikir aku ini apa? Aku juga nggak akan ngasih anak istriku makan uang haram. Jangan karena penampilan aku yang kayak berandalan begini, aku nggak bisa kerja yang halal.” Kata Satya merasa tersinggung. "Nggak akan ada yang percaya kalau kamu bisa kerja halal, orang-orang terlanjur men-cap kamu sebagai preman. Bagi mereka preman itu kerjanya gak benar dan selalu menghasilkan uang haram." Ujar Ayunda keterlaluan. “Terserah mau percaya atau tidak, aku hanya berusaha memberikan yang terbaik. Satu lagi, jangan terlalu memikirkan perkataan orang lain, belum tentu yang mereka lihat itu kenyataannya.” Satya menyimpan uang tersebut di atas meja makan, mau Ayunda menerimanya atau tidak itu terserah dia. Satya hanya menjalankan tugasnya sebagai seorang suami, ia akan menafkahi istrinya meskipun Ayunda belum bisa menerimanya sebagai suami. Satya mengerti, Ayunda pasti membutuhkan waktu. Seperti katanya, mereka hanya orang asing yang dipaksa untuk hidup bersama, tidak saling mengenal sebelumnya, dan malam itu mereka terpaksa terikat dalam sebuah hubungan yang sulit. Satya juga mengerti kalau ini tidak akan mudah, bisa saja Satya meninggalkan Ayunda. Tapi dia bukan pria brengsek yang meninggalkan wanita setelah dipermalukan banyak orang. Niat Satya menikahi Ayunda sebab ingin melindunginya, jika malam itu mereka tidak menikah maka pandangan orang-orang terhadap Ayunda pasti akan semakin buruk. Ayunda akan terus dipandang wanita tidak benar, dan kemungkinan terburuk adalah diusir dari rumahnya.“Heh, Ayunda! Kamu nggak malu apa masih tinggal disini?" Ujar Bu Ani, dia menatap Ayunda dengan tatapan mencibir. "Kenapa harus malu?” Tanya Ayunda. "Ya harusnya kamu malu dong, sudah ketahuan berbuat mesum, dinikahkan paksa lagi.” Kata Bu Ani. "Saya nggak merasa tuh, makanya saya nggak malu.” Jawab Ayunda. "Kamu ini ya! Gara-gara kamu kampung kita pasti kena sial. Kamu harus pergi dari kampung ini, dasar wanita gak benar." Kata Bu Ani pedas. “Gak usah ikut campur urusan orang, Bu. Mendingan Ibu urus aja si Mely, jangan-jangan nanti dia ketahuan hamil di luar nikah lagi." Ucap Ayunda pedas, menghadapi orang seperti Bu Ani ini harus bisa lebih pedas kata-katanya. “Apa katamu? Kamu mau bilang kalau anakku perempuan gak benar gitu?" Teriak Bu Ani, ia tidak terima kalau anaknya dihina seperti itu. “Kenyataannya seperti itu, makanya tanya dong Bu kalau anaknya pulang pagi itu ngapain?” Kesal Ayunda, ia memilih untuk meninggalkan Bu Ani yang berteriak memakinya, mengatai peremp
Ayunda membuka amplop uang dari Satya, setelah dihitung-hitung totalnya ada lima juta. Ayunda menyimpannya dan tidak berani untuk menggunakannya, ia masih belum percaya kepada Satya bisa saja itu memang benar hasil malak orang.“Aku harus cari tahu, pekerjaan dia sebenarnya apa? Aku tidak bisa tenang sebelum mengetahuinya.” Ujar Ayunda pelan, tampang Satya tidak mendukung kalau dia benar-benar orang baik.Suara ketukan pintu terdengar, Ayunda membuka pintu kamarnya dan mendapati Ibu tirinya yang berdiri di luar pintu.“Ada apa?" Tanya Ayunda ketus, mereka tidak pernah akur sekalipun.“Ada pak RT." Jawab Rina.“Mau ngapain Pak RT kesini?" Tanya Ayunda lagi.“Mana Ibu tahu, kamu tanya sendiri aja sama Pak RT." Ujar Rina tak kalah ketus. Dia pergi dari sana, kembali ke kamarnya.Ayunda menutup pintu kamar dan menemui Pak RT yang menunggunya di ruang tamu, ternyata bukan hanya ada Pak RT tapi juga beberapa orang warga yang ikut.“Ada apa ya pak RT?" Tanya Ayunda sopan, ia menjadi khawati
Sepanjang perjalanan pulang, Ayunda terus menundukkan kepalanya. Setiap berpapasan dengan warga, mereka berbisik-bisik membicarakannya. Bahkan ada yang terang-terangan mengatakannya di depan Ayunda. Mereka seakan yang paling tahu dengan hidupnya, mereka membicarakannya tapi tidak tahu bagaimana kejadian aslinya.“Eh ada Neng Ayunda, baru pulang kerja ya?" Sapa Ibu-ibu yang sedang berkumpul di salah satu rumah.“Iya, Bu." Jawab Ayunda mencoba bersikap ramah.“Suaminya kemana? Kok nggak di jemput?" Tanya Bu Rahma.“Iya, padahal kamu sudah menikah loh. Harusnya kamu minta suami kamu antar jemput, jangan sukanya malakin orang di pasar." Celetuk Bu Ani.“Ya wajar malakin orang di pasar, dia akan aslinya preman." Timpal Bu Ningsih, mereka tertawa sangat keras sekali, seolah hal itu adalah bahan bercandaan yang sangat menyenangkan.“Jangan begitu Ibu-ibu, kita ‘kan nggak tahu kejadiannya seperti apa? Kita hanya melihat suami Ayunda diberikan uang sama pelanggan di pasar, siapa tahu itu upahn
“Kenapa manyun aja?" Tanya Yuda, teman kerja Ayunda di toko kue dan roti.“Diem deh, aku lagi badmood." Kata Ayunda, hari ini moodnya benar-benar hancur. “Badmood kenapa sih? Biasanya kamu yang paling semangat.” Kata Yuda sembari membereskan roti di rak."Pokoknya ada-lah yang bikin kesel." Jawab Ayunda. Ia kembali teringat akan kejadian semalam, rasanya seperti mimpi buruk.Ayunda tidak tahu harus berbuat apa, semua warga tahu kalau sekarang dia sudah menikah. Tidak membiarkan Satya tinggal di rumahnya, pasti akan menimbulkan masalah lain. “Dengar-dengar semalam ada kejadian heboh ya di kampung kamu?" Ujar Yuda, ia sangat penasaran dengan gosip yang beredar. Ia yang hanya tahu sepenggal kisahnya tidak mengetahui siapa dan apa yang sebenarnya terjadi.“Ya." Jawab Ayunda tidak berniat memberikan keterangan lebih lanjut.“Katanya ada yang digerebek terus langsung dinikahin, kamu tahu siapa?" Tanya Yuda.Ayunda tidak menjawab, tentu saja dia sangat mengetahuinya karena dia yang menjadi
“Jangan harap aku menerima pernikahan konyol ini, aku sama sekali tidak akan menerima kamu sebagai suamiku.” Kata Ayunda tajam, mereka sekarang ada di rumah Ayunda. "Aku tahu, aku juga tidak akan memaksa." Jawab Satya.“Baguslah kalau kau tahu diri, malam ini terserah kau mau tidur dimanapun, asal jangan pernah masuk ke kamarku." Ujar Ayunda, ia meninggalkan Satya di ruang tamu.Satya hanya bisa menghela nafasnya, kejadian tadi pasti membuat Ayunda terguncang. Hal ini juga sebenarnya membuat Satya tidak percaya, ia hanya datang kesini untuk bertemu teman lamanya, siapa sangka Satya akan menikah malam ini.Mungkin ini yang dinamakan jodoh, Satya hanya terkekeh membayangkannya saja. Wanita yang baru pertama kali bertemu dengannya, menjadi istrinya sekarang.“Nak Satya, harap maklum ya dengan kelakuannya Ayunda. Dia memang seperti itu sama orang baru, tapi anaknya baik kok." Ujar Rina. “Ah tidak masalah, kejadian ini pasti membuatnya syok. Saya bisa maklum." Jawab Satya. Di dalam rumah
“Hai kalian, sedang apa berduaan ditempat sepi seperti ini?" Teriak seorang warga, ia menyoroti pasangan yang seperti tengah berbuat mesum.Teriakannya mengundang beberapa warga lain untuk datang, pasangan tersebut sepertinya terkejut dan buru-buru membenarkan posisi masing-masing."Kalian berbuat mesum, ya?” Tuding warga lainnya, si wanita menggelengkan kepala. Ia jelas ketakutan melihat warga-warga yang terlihat sangat marah. "Sudah bawa saja mereka ke balai warga, biar Pak RT yang memutuskan harus diapakan mereka ini.” Kata warga."Tidak! Kalian salah paham, kita nggak ngelakuin apa-apa.” Ujar si wanita.Namun sepertinya warga tidak ada yang mau mendengarkan, mereka berdua digiring menuju balai warga. Malam itu kampung menjadi gaduh, dari satu cerita menyebar ke banyak warga, banyak orang-orang berbondong-bondong ingin melihat siapa pelaku pasangan mesum tersebut.Sesampainya di balai warga, mereka diinterogasi. “Saya hanya sedang berteduh karena hujan deras Pak RT, tiba-tiba saja







