Share

Bab 02

Author: Desus25
last update publish date: 2025-03-23 06:33:43

“Jangan harap aku menerima pernikahan konyol ini, aku sama sekali tidak akan menerima kamu sebagai suamiku.” Kata Ayunda tajam, mereka sekarang ada di rumah Ayunda.

"Aku tahu, aku juga tidak akan memaksa." Jawab Satya.

“Baguslah kalau kau tahu diri, malam ini terserah kau mau tidur dimanapun, asal jangan pernah masuk ke kamarku." Ujar Ayunda, ia meninggalkan Satya di ruang tamu.

Satya hanya bisa menghela nafasnya, kejadian tadi pasti membuat Ayunda terguncang. Hal ini juga sebenarnya membuat Satya tidak percaya, ia hanya datang kesini untuk bertemu teman lamanya, siapa sangka Satya akan menikah malam ini.

Mungkin ini yang dinamakan jodoh, Satya hanya terkekeh membayangkannya saja. Wanita yang baru pertama kali bertemu dengannya, menjadi istrinya sekarang.

“Nak Satya, harap maklum ya dengan kelakuannya Ayunda. Dia memang seperti itu sama orang baru, tapi anaknya baik kok." Ujar Rina.

“Ah tidak masalah, kejadian ini pasti membuatnya syok. Saya bisa maklum." Jawab Satya. Di dalam rumah sederhana ini ada empat orang yang tinggal. Rina, Siska dan suaminya Rendi serta Ayunda.

“Kamu jangan sungkan, anggap saja rumah sendiri. Kita sudah menjadi keluarga sekarang.” Ucap Rina, Satya mengangguk.

"Di rumah ini kebetulan ada kamar kosong, Ibu sudah bereskan, kalau mau istirahat silahkan.” Rina menunjuk kamar yang ada di sebrang kamar Ayunda.

Satya yang memang sudah lelah memilih masuk ke kamar, meninggalkan Rina seorang diri di ruang tamu. Tidak lama kemudian Siska datang menghampiri, ia menengok kamat Satya yang tertutup, duduk di samping Ibunya.

"Menurut Ibu, dia ini orang baik atau jahat?” Tanya Siska pelan.

"Masa bodo, mau dia baik atau jahat. Yang terpenting sekarang, anak itu sudah nikah. Setelah ini, kita harus paksa mereka meninggalkan rumah.” Jawab Rina.

"Tapi rencananya bukan kayak gini dari awal, Preman yang kita sewa gak kelihatan barang hidungnya tadi.” Kata Siska, Rina mengisyaratkan agar Siska menutup mulutnya.

"Jangan bahas itu, kalaupun Ayunda tidak digrebek sama preman yang kita sewa, Satya juga tidak masalah. Kamu nggak lihat tampangnya? Dia kayak preman juga." Bisik Rina, Siska mengangguk saja.

Tampang Satya memang seperti berandalan, tapi dibalik wajahnya yang brewok, Siska bisa melihat kalau Satya memiliki wajah yang tampan jika benar-benar di urus.

"Sudah sebaiknya kamu istirahat, temani suami kamu sana.” Usir Rina, Siska hanya menurut. Ia kembali masuk ke kamarnya.

Dari awal Rina memang sudah merencanakan ini semua, Rina sendiri yang melaporkan Ayunda tengah berbuat mesum dengan pria, tidak disangka mereka justru tertangkap basah dalam posisi yang membuat orang lain salah paham. Walaupun preman suruhannya tidak datang, tapi kehadiran Satya membuat semuanya jadi lebih terlihat natural.

"Ayunda, anak itu sudah saatnya meninggalkan rumah ini." Gumamnya.

Karena warisan yang ditinggalkan oleh sang suami hanya rumah ini, Rina bertekad untuk merebutnya dari Ayunda. Ia merasa memiliki hak atas rumah dan tanah yang ditempati, tapi Ayunda menghalanginya untuk mendapatkan apa yang diinginkan olehnya.

.

Keesokan paginya, Ayunda sudah rapi dengan pakaian kerjanya. Ia melakukan aktivitas seperti biasanya, kejadian semalam tidak membuat Ayunda terus mengingatnya. Ia menganggap semua itu hanya mimpi.

“Selamat pagi," sapa Satya yang baru keluar dari kamar.

“Kalau sudah tidak ada kepentingan, sebaiknya kamu tinggalkan rumahku." Ujar Ayunda judes.

“Aku tidak bisa meninggalkan rumah ini," jawab Satya.

“Kenapa tidak?" Tanya Ayunda.

“Karena istriku tinggal disini, kalau kamu mau ikut denganku, maka aku akan meninggalkan rumah ini." Ujar Satya.

“Jangan mimpi! Aku tidak akan pernah meninggalkan rumah ini, dan jangan memanggilku istrimu, aku merasa geli mendengarnya." Kata Ayunda ketus. Tidak ada senyum diwajahnya, hanya ada tatapan dingin.

“Mau bagaimanapun juga, kita tetap pasangan suami istri.” Kata Satya.

"Kita menikah karena terpaksa, setahuku pernikahan yang dipaksakan itu tidak sah.” Ucap Ayunda, ia tetap pada pendiriannya.

"Kalau begitu, bagaimana kalau kita saling mengenal terlebih dahulu?” Tanya Satya.

"Tidak ada tawar menawar, jatuhkan saja talakmu. Toh pernikahan kita tidak tercatat.” Ujar Ayunda, ia ingin mengejar mimpinya. Ia juga memiliki pernikahan impiannya, Ayunda juga memiliki kriteria pria yang akan menjadi suaminya, melihat Satya, ia rasa mereka tidak akan cocok satu sama lain.

"Tiga bulan saja, beri waktu waktu. Setelah tiga bulan, kalau kamu tetap ingin bercerai, aku akan mengabulkannya. Tapi kalau kamu mau melanjutkan hubungan kita, aku akan menikahimu secara resmi dan sesuai dengan pernikahan impianmu.” Kata Satya setengah memaksa.

"Kenapa kau sangat ingin mengenalku? Kita tidak pernah bertemu sebelumnya, jadi kenapa kau tidak meninggalkanku saja?" Ujar Ayunda.

"Karena aku tertarik padamu,” jawab Satya, Ayunda hanya bisa menggelengkan kepalanya tak percaya.

“Jadi bagaimana? Aku tidak akan menyentuhmu, aku juga tidak akan mengganggu kehidupanmu, kita hanya perlu saling mengenal." Kata Satya.

“Kau mengerti bahasa manusia ‘kan? Sekali aku katakan tidak, itu artinya aku tidak mau.” Kekeh Ayunda, ia bahkan jauh lebih keras kepala dari yang Satya katakan.

"Kalau aku katakan, aku jatuh cinta pandangan pertama padamu apa kau masih tetap tidak mau?” Pertanyaan itu lolos dari bibir Satya, Ayunda menghela nafasnya, menghadapi orang yang sama-sama keras kepala ternyata melelahkan juga.

"Mau kau jatuh cinta padaku, atau kau merasa tertarik padaku sekalipun, aku tetap tidak akan memberimu kesempatan." Jawab Ayunda, ia pergi ke dapur untuk menghindari Satya, tapi justru pria itu mengikutinya.

“Aku tidak akan menyerah, aku akan tetap berusaha. Aku tidak peduli dengan penolakanmu, aku akan tetap memperjuangkan keinginanku." Kata Satya menyebalkan.

“Terserah kau saja, aku tidak peduli." Ujar Ayunda pada akhirnya.

Ayunda sangat heran, kenapa bisa Satya tertarik padanya hanya dalam satu kali pertemuan. Ayunda saja tidak sudi berkenalan dengan Satya, apalagi membayangkan hidup bersama selamanya. Ayunda sampai bergidik hanya dengan membayangkannya saja, ia tidak akan bisa tahan hidup dengan Satya.

Dari penampilannya saja, Ayunda bisa menebak kalau hidup Satya sangat berantakan. Bagaimana mungkin Ayunda bisa menggantungkan hidupnya kepada pria seperti itu? Ayunda ingin memiliki suami yang mapan, dan tentu bisa membuatnya bahagia. Itu yang paling terpenting.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Bukan Preman Biasa   Bab 08

    Warga datang berbondong-bondong menuju ke rumah Ayunda, mereka sepakat untuk mengusir Ayunda. Jika gadis itu masih menolak, mereka akan tetap memaksa Ayunda untuk pergi, kalau perlu dengan cara kasar sekalipun.“Ayunda, keluar kamu!" Teriak salah satu warga, yaitu Bu Ningsih.“Jangan sembunyi, kami tahu kalau kamu ada di dalam rumah." Teriak yang lainnya. Tidak lama kemudian pintu rumah Ayunda terbuka, bukan Ayunda yang membukakan pintu melainkan Rina dan juga Siska, mereka sudah menunggu warga sedari tadi. Ingin melihat bagaimana Ayunda dipermalukan sekali lagi.“Mana Ayunda? Jangan-jangan dia sembunyi lagi." Kata Bu Ningsih.“Tenang Ibu-ibu, Bapak-bapak. Ayunda tidak lari, dia ada di rumah dan sedang berkemas. Seperti yang kalian mau, Ayunda akan segera meninggalkan kampung kita." Ujar Rina, ia menunjukkan wajah sedihnya, seolah sangat berat kehilangan Ayunda."Baguslah kalau dia tahu diri, kita-kita disini tidak mau ketiban sial gara-gara si Ayunda.” Rina mengangguk, suasana semak

  • Bukan Preman Biasa   Bab 07

    Seminggu sudah setelah Satya pamit, sampai sekarang pemuda itu belum menampakkan batang hidungnya, Ayunda terus didesak untuk segera pergi dari kampungnya oleh semua warga. Mereka tidak peduli seberapa keras usaha Ayunda untuk tetap bertahan, yang mereka inginkan tentu harus terkabulkan. Mereka takut Ayunda akan membawa bencana, makanya mereka terus mendesak ketua RT untuk mengusir Ayunda. Sekarang Ayunda bahkan tidak tahu harus mengadu pada siapa?“Apa sudah ada kabar dari suami kamu Ayunda?" Tanya Pak RT untuk kesekian kalinya. “Saya tidak tahu kapan dia pulang." Jawab Ayunda.“Ya kamu telepon dia, tanya kapan pulang? Saya sudah lelah terus menerus didesak warga." Kata Pak RT, seminggu terakhir hidupnya serasa tidak nyaman, karena warga silih berganti datang ke rumahnya hanya untuk menanyakan kapan Ayunda akan pergi dari kampung ini.“Saya tidak punya nomor teleponnya." Kata Ayunda, Pak RT menghela nafasnya.“Kalian suami istri tapi tidak punya nomor telepon masing-masing?" Tanya

  • Bukan Preman Biasa   Bab 06

    “Heh, Ayunda! Kamu nggak malu apa masih tinggal disini?" Ujar Bu Ani, dia menatap Ayunda dengan tatapan mencibir. "Kenapa harus malu?” Tanya Ayunda. "Ya harusnya kamu malu dong, sudah ketahuan berbuat mesum, dinikahkan paksa lagi.” Kata Bu Ani. "Saya nggak merasa tuh, makanya saya nggak malu.” Jawab Ayunda. "Kamu ini ya! Gara-gara kamu kampung kita pasti kena sial. Kamu harus pergi dari kampung ini, dasar wanita gak benar." Kata Bu Ani pedas. “Gak usah ikut campur urusan orang, Bu. Mendingan Ibu urus aja si Mely, jangan-jangan nanti dia ketahuan hamil di luar nikah lagi." Ucap Ayunda pedas, menghadapi orang seperti Bu Ani ini harus bisa lebih pedas kata-katanya. “Apa katamu? Kamu mau bilang kalau anakku perempuan gak benar gitu?" Teriak Bu Ani, ia tidak terima kalau anaknya dihina seperti itu. “Kenyataannya seperti itu, makanya tanya dong Bu kalau anaknya pulang pagi itu ngapain?” Kesal Ayunda, ia memilih untuk meninggalkan Bu Ani yang berteriak memakinya, mengatai peremp

  • Bukan Preman Biasa   Bab 05

    Ayunda membuka amplop uang dari Satya, setelah dihitung-hitung totalnya ada lima juta. Ayunda menyimpannya dan tidak berani untuk menggunakannya, ia masih belum percaya kepada Satya bisa saja itu memang benar hasil malak orang.“Aku harus cari tahu, pekerjaan dia sebenarnya apa? Aku tidak bisa tenang sebelum mengetahuinya.” Ujar Ayunda pelan, tampang Satya tidak mendukung kalau dia benar-benar orang baik.Suara ketukan pintu terdengar, Ayunda membuka pintu kamarnya dan mendapati Ibu tirinya yang berdiri di luar pintu.“Ada apa?" Tanya Ayunda ketus, mereka tidak pernah akur sekalipun.“Ada pak RT." Jawab Rina.“Mau ngapain Pak RT kesini?" Tanya Ayunda lagi.“Mana Ibu tahu, kamu tanya sendiri aja sama Pak RT." Ujar Rina tak kalah ketus. Dia pergi dari sana, kembali ke kamarnya.Ayunda menutup pintu kamar dan menemui Pak RT yang menunggunya di ruang tamu, ternyata bukan hanya ada Pak RT tapi juga beberapa orang warga yang ikut.“Ada apa ya pak RT?" Tanya Ayunda sopan, ia menjadi khawati

  • Bukan Preman Biasa   Bab 04

    Sepanjang perjalanan pulang, Ayunda terus menundukkan kepalanya. Setiap berpapasan dengan warga, mereka berbisik-bisik membicarakannya. Bahkan ada yang terang-terangan mengatakannya di depan Ayunda. Mereka seakan yang paling tahu dengan hidupnya, mereka membicarakannya tapi tidak tahu bagaimana kejadian aslinya.“Eh ada Neng Ayunda, baru pulang kerja ya?" Sapa Ibu-ibu yang sedang berkumpul di salah satu rumah.“Iya, Bu." Jawab Ayunda mencoba bersikap ramah.“Suaminya kemana? Kok nggak di jemput?" Tanya Bu Rahma.“Iya, padahal kamu sudah menikah loh. Harusnya kamu minta suami kamu antar jemput, jangan sukanya malakin orang di pasar." Celetuk Bu Ani.“Ya wajar malakin orang di pasar, dia akan aslinya preman." Timpal Bu Ningsih, mereka tertawa sangat keras sekali, seolah hal itu adalah bahan bercandaan yang sangat menyenangkan.“Jangan begitu Ibu-ibu, kita ‘kan nggak tahu kejadiannya seperti apa? Kita hanya melihat suami Ayunda diberikan uang sama pelanggan di pasar, siapa tahu itu upahn

  • Bukan Preman Biasa   Bab 03

    “Kenapa manyun aja?" Tanya Yuda, teman kerja Ayunda di toko kue dan roti.“Diem deh, aku lagi badmood." Kata Ayunda, hari ini moodnya benar-benar hancur. “Badmood kenapa sih? Biasanya kamu yang paling semangat.” Kata Yuda sembari membereskan roti di rak."Pokoknya ada-lah yang bikin kesel." Jawab Ayunda. Ia kembali teringat akan kejadian semalam, rasanya seperti mimpi buruk.Ayunda tidak tahu harus berbuat apa, semua warga tahu kalau sekarang dia sudah menikah. Tidak membiarkan Satya tinggal di rumahnya, pasti akan menimbulkan masalah lain. “Dengar-dengar semalam ada kejadian heboh ya di kampung kamu?" Ujar Yuda, ia sangat penasaran dengan gosip yang beredar. Ia yang hanya tahu sepenggal kisahnya tidak mengetahui siapa dan apa yang sebenarnya terjadi.“Ya." Jawab Ayunda tidak berniat memberikan keterangan lebih lanjut.“Katanya ada yang digerebek terus langsung dinikahin, kamu tahu siapa?" Tanya Yuda.Ayunda tidak menjawab, tentu saja dia sangat mengetahuinya karena dia yang menjadi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status