MasukDi tengah reruntuhan kereta yang hancur. Elloist membeku dalam dekapan kokoh Pangeran Alexander, merasakan dada bidang pria itu bergemuruh naik-turun. Tetesan darah hangat dari pelipis sang pangeran yang jatuh tepat di ujung hidungnya sukses menarik kesadaran Elloist secara paksa. Mata Elloist melebar ngeri melihat luka robek di dahi sang naga.
"P-Pangeran ... kepalamu berdarah!" pekik Elloist panik.Tanpa memperdulikan keselamatan sendiri, jemari mungil Elloist reflek menguPerisai emas di hadapan Elloist menghilang. Tanpa lapisan pelindung, hawa panas dari rahang monster rubah raksasa itu langsung menerpa wajahnya.Di detik ketika taring-taring mematikan itu nyaris mengoyak tubuhnya, Elloist melompat ke depan dengan nekat.Ia mengabaikan rasa takutnya dan menempelkan keningnya yang memancarkan pendaran pelangi tepat di tengah dahi monster raksasa tersebut.WUSSSHHH!Sebuah kilatan cahaya putih yang luar biasa menyilaukan meledak, menelan seluruh kesadaran Elloist, begitupula dengan Thomas dalam wujud binatangnya. Suara auman beringas, panasnya api biru, dan rintik hujan di dunia nyata seketika senyap. Rasanya seperti ditarik paksa melewati lorong hampa udara dengan kecepatan cahaya.Ketika Elloist kembali membuka matanya, ia tidak lagi berada di kamarnya yang hancur berantakan.Gadis itu berdiri di tengah sebuah ruangan yang teramat luas dan mewah. Lantainya terbuat dari pualam
Rahang raksasa yang dipenuhi deretan taring setajam pedang baja itu menganga lebar, meluncur deras ke arah Elloist dengan kecepatan yang tak masuk akal.Bau belerang dan hawa panas dari api biru ilusi menyapu wajah sang putri, membawa teror maut yang membekukan aliran darah.Dalam sepersekian detik sebelum rahang monster itu mengoyak tubuhnya, insting bertahan hidup Elloist mengambil alih.Gadis itu mengangkat kedua tangannya ke udara. Goresan pelangi di sudut matanya menyala terang benderang.WUSSSHHH!Sebuah kubah pelindung dari Kekuatan Mental Level SSS meledak keluar, membentuk perisai emas semi-transparan tepat di depan tubuhnya.BAMMMM!!!Hantaman kepala monster rubah itu menabrak perisai emas dengan kekuatan setara jatuhnya meteor.Gelombang kejut yang dihasilkan meratakan sisa-sisa perabotan di dalam kamar.Tubuh Elloist terdorong mundur dengan kasar hingga punggungnya menghantam dindi
Hembusan napas Thomas yang memburu menerpa perpotongan leher Elloist, menggetarkan setiap saraf di tubuh sang Putri Mahkota.Udara di dalam kamar itu telah sepenuhnya terkontaminasi oleh perpaduan aroma feromon estrus SSS yang semanis madu purba dan wangi bunga plum yang memabukkan.Akal sehat telah lama melarikan diri dari ruangan ini, digantikan oleh insting paling primitif yang menuntut penyatuan mutlak.Tubuh Elloist yang tengah dibakar oleh demam estrus menggigil hebat. Logikanya berteriak menyuruhnya untuk berontak, untuk menendang rubah kurang ajar ini dan melarikan diri sejauh mungkin.Namun, biologi tubuhnya mengkhianatinya.Setiap kali tangan dingin Thomas membelai punggungnya, gelombang kenikmatan yang menyiksa menyetrum tulang belakangnya, melumpuhkan seluruh perlawanan fisiknya."Kau wangi sekali ... sangat manis," erang Thomas dengan suara yang luar biasa serak, nyaris menyerupai geraman binatang buas.Pria
Benang cahaya perak kebiruan itu berdenyut ritmis di udara, memancarkan pendaran magis yang menerangi wajah kedua insan yang tengah terjebak dalam perang psikologis mematikan.Waktu di dalam kamar utama Putri Mahkota itu seolah berhenti berdetak. Suara rintik hujan dari luar jendela terdengar sayup-sayup, tertelan oleh ketegangan yang teramat pekat.Di ujung jemari Thomas yang bergetar pelan, nasib dan kebebasan absolutnya tengah dipertaruhkan.Sebagai seekor Siluman Rubah Ekor Sembilan, tunduk pada sebuah ikatan adalah penghinaan terbesar bagi insting alaminya.Rubah tidak pernah merelakan lehernya diikat, bahkan oleh rantai emas sekalipun. Namun, janji kekuasaan, kekuatan SSS yang memabukkan, serta sosok wanita luar biasa yang kini menatapnya dengan penuh dominasi, sukses mengoyak seluruh dinding rasionalitas yang selama ini ia bangun dengan sangat rapi.Elloist menahan napasnya. Tangan gadis itu masih bertumpu dengan anggun d
Kabut merah muda keunguan masih menggenang setinggi mata kaki di lantai kamar tidur utama Putri Mahkota.Di tengah ilusi yang mematikan itu, keheningan terasa begitu tebal dan mencekik.Thomas, Sang Penasehat Hukum Utama yang selalu merasa mampu membaca setiap skenario di Benua Moon, kini berdiri membeku dengan tatapan yang memancarkan badai kebingungan sekaligus gairah kelam.Jemari dingin pria berekor sembilan itu masih bertengger di rahang Elloist. Ia bisa merasakan denyut nadi sang putri yang berdetak konstan dan tenang, sama sekali tidak terpengaruh oleh racun halusinasinya."Bagaimana mungkin?" bisik Thomas, suaranya yang biasa mengayun penuh teka-teki kini terdengar serak, menuntut sebuah jawaban absolut.Pria itu mencondongkan wajahnya lebih dekat, mata biru ilusinya memindai setiap inci wajah Elloist."Bahkan Naga Hitam yang memiliki pertahanan magis tertinggi pun akan kehilangan kewarasannya jika menghirup ser
Aroma manis bunga plum yang menguar dari gulungan perkamen di ujung anak panah itu seketika memicu insting membunuh Jenderal Marcus. Urat-urat hijau di leher dan lengannya menonjol kasar. Mata zamrudnya menyipit tajam, menembus kegelapan malam di luar balkon, mencari keberadaan sosok yang berani menginterupsi momen paling krusial dalam hidupnya. "Rubah keparat!" raung Marcus dengan suara bariton yang menggelegar, merobek keheningan kamar. Tangan kekarnya mencabut anak panah hitam itu dari sandaran ranjang hingga kayu mahoninya hancur berkeping-keping. "Dia selalu bersembunyi di balik bayang-bayang layaknya pengecut sejati! Akan kucabik-cabik lehernya malam ini juga!" Marcus membalikkan badan, bersiap melesat ke luar jendela untuk memburu Thomas. Namun, baru saja ia mengambil satu langkah, udara di dalam kamar utama Putri Mahkota itu mendadak berubah. Rintik hujan dan angin malam
'Apa aku benar-benar tidak bisa menyelamatkan suamiku sendiri?' Elloist semakin frustrasi. Ia tanpa ssadar mengacak-acak rambutnya. Sementara itu, Nyonya Celeste justru berjalan ke arah Tabib Anand, meraih ujung rantai yang terhubung pada lehernya, lalu menariknya sedikit kuat hingga pria itu t
Nyonya Celeste terpana sebentar, sebelum menyunggingkan senyum culas. "Well! Well! Well! Aku pikir siapa yang datang mengganggu—" Ia perlahan menoleh ke samping, membuat seorang pelayan wanita mendekat dan memberikan sebuah sapu tangan. "Ternyata sang putri buangan," hinanya pedas. Nyonya
Elloist Ellianore, putri tunggal dari Raja Edward Ellianore, adalah sosok betina bangsawan di kerajaan antar binatang di planet Moon. Planet Moon adalah sebuah planet binatang, di mana semua wanita memiliki kedudukan yang tinggi karena dianggap sebagai jelmaan para Dewi karena memiliki kekuatan me
"Ugh ... sakit sekali kepalaku." Sambil memegangi kepalanya yang terus berdenyut, Ellyn membuka matanya perlahan. Tadi, karena terlalu kesal melihat Putri Elloist, tokoh protagonis di drama yang ia tonton, mati begitu saja di tangan pangeran Ivander karena kebodohannya sendiri, Ellyn melempar gel







