LOGINCahaya keperakan melesat membelah langit utara Benua Moon layaknya komet yang terlahir kembali.Pusaran awan hitam dan petir ungu yang abadi menyelimuti Jurang Dunia Hampa perlahan tertinggal di belakang, digantikan oleh semburat jingga fajar yang menyingsing di ufuk timur.Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun membusuk dalam ketiadaan, paru-paru Liliyana akhirnya menghirup udara permukaan.Aroma embun pagi, rumput basah, dan getah pepohonan menyerbak masuk, membersihkan sisa-sisa miasma neraka yang masih menempel di pori-pori kulitnya.Angin fajar menerpa wajahnya, menerbangkan rambut peraknya yang kini kembali berkilau suci. Kesembilan ekor rubahnya berayun bebas di udara, tak lagi membawa beban milyaran jiwa Orb yang kelaparan.Gadis remaja itu melayang di atas hamparan awan, merasakan kebebasan yang membuat air matanya kembali menetes.Elloist benar-benar menepati janjinya. Sang Putri Mahkota telah menukar ny
Badai miasma kegelapan yang meledak dari tubuh Liliyana menyapu ruang singgasana bawah tanah itu layaknya angin topan yang menghancurkan segalanya.Pilar-pilar obsidian retak dan runtuh, sementara ratusan Pasukan Orb mundur berhamburan, tak berani mendekati sang ratu yang tengah dilanda histeria.Di tengah pusaran angin beracun yang menyayat kulit itu, Elloist tetap menolak untuk mundur.Meski pergelangan tangannya masih terbelenggu oleh borgol besi abadi dan tubuhnya remuk redam, sang Putri Mahkota memaksa kedua kakinya untuk melangkah maju.Pendaran emas kehijauan dari Kekuatan Penyembuh Level SSS membalut tubuhnya, menahan hawa kematian yang berusaha merobek jiwanya."Liliyana!" panggil Elloist, suaranya bersaing dengan gemuruh badai.Gadis itu terus berjalan mendekat, membiarkan ujung-ujung miasma tajam menggores pipi dan gaun hitamnya."Lihat aku! Aku tidak menggunakan kekuatanku untuk menyerangmu! Aku men
Bilah sabit hitam yang tercipta dari miasma kegelapan itu bergetar hebat, hanya berjarak setipis helaian rambut dari kulit leher Elloist.Hawa dingin yang mematikan menguar dari senjata ilusi tersebut, membekukan butiran keringat yang menetes di pelipis sang Putri Mahkota.Namun, Elloist tidak memejamkan mata. Ia membalas tatapan Liliyana dengan keteguhan absolut, menyerahkan nyawanya sepenuhnya pada keputusan gadis remaja penguasa ketiadaan ini.Tawaran kebebasan untuk Thomas.Kalimat itu seolah menjadi mantra yang melumpuhkan seluruh rasionalitas dan dendam kesumat di dalam kepala Liliyana.Napas gadis bersuku rubah itu tersengal-sengal. Sepasang netra birunya yang tadi menyala oleh api ungu kegelapan, kini membelalak lebar, memancarkan keterkejutan, harapan yang menyayat hati, dan teror yang berbaur menjadi satu."Kebebasan ... untuk kakakku?" bisik Liliyana dengan suara yang nyaris tak terdengar, bibir pucatnya berg
Cahaya keemasan yang memancar dari inti jiwa Elloist menerangi ruang singgasana bawah tanah itu dengan pendaran suci yang menyilaukan.Di tengah neraka ketiadaan yang dipenuhi miasma hitam, energi kehidupan murni tersebut terasa begitu kontras, hangat, dan nyata.Elloist menyodorkan nyawanya secara harfiah di atas telapak tangan, membiarkan pertahanan absolutnya terbuka lebar demi meyakinkan sang penguasa kegelapan.Namun, bagi seseorang yang telah dikhianati dan dihancurkan hingga tak bersisa, kebaikan adalah racun yang paling diwaspadai.Sepasang netra biru rubah Liliyana membelalak lebar. Gadis remaja itu menatap kristal jiwa yang berdenyut di depannya dengan napas tertahan.Insting silumannya meronta, merasakan kebenaran dan ketulusan yang memancar dari inti jiwa tersebut. Tidak ada kepalsuan di sana.Akan tetapi, memori kelam tentang tawa arogan sang putri di atas tebing kembali berkelebat, menutupi cahaya kebenara
Cekikan ekor-ekor rubah hitam pekat itu terasa seperti jerat kawat baja yang dipanaskan di atas bara api. Tubuh Elloist menggelepar di udara, kakinya menendang-nendang ruang kosong mencari pijakan yang tak pernah ada.Pasokan oksigen ke otaknya terputus total. Wajah sang Putri Mahkota berubah kebiruan, sementara pembuluh darah di pelipisnya menonjol seolah siap meledak.Namun, rasa sakit fisik yang meremukkan lehernya itu sama sekali tidak sebanding dengan siksaan psikologis yang terpancar dari sepasang netra biru rubah milik Liliyana.Di dalam mata gadis remaja itu, terdapat lautan penderitaan, keputusasaan, dan kebencian yang telah mengkristal menjadi racun mematikan."Kau pikir aku tidak mengingatnya, Elloist?" desis Liliyana. Suaranya yang merdu berubah menjadi geraman parau yang menggema memantul di dinding obsidian ruang singgasana.Liliyana melangkah maju, membiarkan tubuh mungilnya tersorot oleh cahaya redup dari pilar a
Kegelapan absolut menyambut tubuh Elloist seketika. Sensasi jatuh menembus Jurang Dunia Hampa sama sekali tidak menyerupai rasanya melayang di udara bebas, melainkan seperti dihancurkan perlahan-lahan oleh jutaan ton tekanan air di dasar palung samudera terdalam. Angin menderu memekakkan telinga, membawa jeritan pilu jiwa-jiwa yang telah lama membusuk di dalam ketiadaan. Suhu udara anjlok hingga membekukan darah. Kulit Elloist mulai terkelupas, seolah diiris oleh ribuan belati es tak kasatmata yang terbuat dari energi kegelapan murni. Namun, janji yang ia ukir di dalam hatinya tak mengizinkannya mati semudah itu. Kekuatan Penyembuh Level SSS miliknya bekerja secara otomatis dan brutal. Setiap jaringan sel yang koyak oleh miasma jurang, langsung beregenerasi dalam hitungan milidetik. Pendaran cahaya emas dan hijau menyelimuti tubuhnya, bertarung habis-habisan melawan energi perusak dari dasar neraka tersebut,
Elloist Ellianore, putri tunggal dari Raja Edward Ellianore, adalah sosok betina bangsawan di kerajaan antar binatang di planet Moon. Planet Moon adalah sebuah planet binatang, di mana semua wanita memiliki kedudukan yang tinggi karena dianggap sebagai jelmaan para Dewi karena memiliki kekuatan me
"Ugh ... sakit sekali kepalaku." Sambil memegangi kepalanya yang terus berdenyut, Ellyn membuka matanya perlahan. Tadi, karena terlalu kesal melihat Putri Elloist, tokoh protagonis di drama yang ia tonton, mati begitu saja di tangan pangeran Ivander karena kebodohannya sendiri, Ellyn melempar gel
'Apa aku benar-benar tidak bisa menyelamatkan suamiku sendiri?' Elloist semakin frustrasi. Ia tanpa ssadar mengacak-acak rambutnya. Sementara itu, Nyonya Celeste justru berjalan ke arah Tabib Anand, meraih ujung rantai yang terhubung pada lehernya, lalu menariknya sedikit kuat hingga pria itu t
Nyonya Celeste terpana sebentar, sebelum menyunggingkan senyum culas. "Well! Well! Well! Aku pikir siapa yang datang mengganggu—" Ia perlahan menoleh ke samping, membuat seorang pelayan wanita mendekat dan memberikan sebuah sapu tangan. "Ternyata sang putri buangan," hinanya pedas. Nyonya







