LOGINElloist menangis tersedu-sedu. Penampakan yang ia pikir sebelumnya adalah hantu, ternyata wajahnya sendiri.
Bertepatan dengan itu, Momo kembali muncul, terbang berputar-putar mengelilingi kepala Elloist hingga debu perak sekilas terlihat berterbangan mengikutinya. [Tuan rumah jangan bersedih! Ini semua efek dari racun yang selama ini Tuan rumah minum.] Elloist pun menghentikan tangisnya, terkejut mendengar info barusan. Meskipun penampakannya kini terlihat begitu mengenaskan dengan lelehan ingus di hidungnya yang memerah, juga mata yang sembab. "Apa maksudmu?" Momo bergegas terbang ke arah depan, berhenti dan berbalik cepat dengan jarak sejengkal tangan. [Tuan rumah diracuni oleh Ivander melalui semua makanan dan minuman yang Tuan rumah konsumsi setiap hari dan itu atas suruhan Putri Ariesta.] Elloist terperanjat. Ia lantas teringat kembali akhir kisah dari drama KARMA SANG PUTRI JAHAT, yang bakal mati di tangan pria yang ia cinta karena membuang para suaminya yang setia, hingga akhirnya mereka juga ikut tewas mengenaskan. Dan kini, Ellyn justru berada di tubuh sang putri buruk rupa, yang berarti nasibnya akan berakhir secara tragis juga. Elloist menggeleng kuat. Enggan bernasib naas. Bahkan kini perutnya bergejolak hebat saat keringat dingin keluar dari pori-pori kulit, membuat aroma busuk semakin menguar memenuhi ruangan. Sebuah tekad lantas hadir di pikiran Elloist. Ia pun menatap ke arah Momo. "Kamu bilang aku mendapatkan paket pembuka awal, bukan? Apa fungsinya?" [Benar sekali, Tuan rumah. Sistem bertahan hidup fungsinya untuk mengurangi kadar racun yang terdapat di dalam tubuh Tuan rumah. Apakah Tuan rumah berniat menukarnya sekarang?] "Berapa kadar racun di tubuhku?" tanya Elloist penuh harap. [Sekitar 98%, Tuan rumah!] Elloist terbelalak. Ia terkejut setengah mati. Bahkan ludah yang ia telan kini terasa seperti batu yang mengganjal. "98%?" Ia mengulangi ucapan Momo dengan suara bergetar, berharap salah mendengar, yang justru dibalas anggukan oleh sang sistem. Bahu Elloist seketika merosot. Namun, kala teringat akan hadiah pembuka, semangatnya seketika bangkit. "Jika aku menukarkan hadiah pembuka, berapa sisa kadar racun di dalam tubuhku?" Matanya berbinar penuh harap. [Racun yang ada di dalam tubuh Tuan rumah akan berkurang 10%. Apakah Tuan rumah ingin menukarnya sekarang?] Momo balas menatap dengan sorot polos. "Se—sepuluh persen?" Bahu Elloist kembali merosot bersama tubuhnya hingga jatuh terduduk di kursi rias. Momo mengangguk ringan sebagai jawaban. "Tapi—" Elloist terdiam sejenak sebelum melanjutkan ucapan, "Tukar! 10% pun lumayan buat memperpanjang umurku." [Baik, Tuan rumah!] Momo menyahut ceria. Kembali terbang berputar-putar sebentar, sebelum memutar tongkat sakti miliknya hingga muncul sebuah botol kecil transparan penuh ukiran rumit berisi cairan berwarna pink di dalamnya. [Hadiah pembuka untuk pemula diaktifkan. Silakan digunakan, Tuan rumah!] Botol itu mengambang sesaat di udara sebelum mendarat dengan sempurna di tangan kanan Elloist. Gadis itu perlahan membuka tutupnya lalu meminum isinya. Ajaib! Aroma busuk yang menguar seketika berkurang, membuat Elloist merasa sedikit senang. Begitu isinya habis, botol tersebut lenyap bagaikan angin. Elloist lantas menatap ke arah Momo berada. "Untuk menghilangkan semua racun ini, bagaimana caranya?" [Oh, itu sangat mudah, Tuan rumah!] Elloist merasa senang mendengarnya. Ia lantas bertanya penuh harap, "Baik. Kalau begitu, beritahu aku caranya?" [Tuan rumah cukup menaklukkan salah satu suami Tuan rumah! Dengan begitu, semua racun yang ada di tubuh Tuan rumah akan lenyap tak bersisa!] Elloist mengangguk paham. Ia lantas mengetuk dagu sambil berjalan ke arah tengah ruangan diikuti Momo yang terbang mengikuti. Elloist tiba-tiba berbalik, menatap Momo penuh harap, hingga membuat sang sistem sedikit terperanjat dan merasakan firasat tidak enak. [Ke-kenapa, Tuan rumah?] "Berapa level kebencian mereka? Dan, siapa yang paling mudah aku taklukan saat ini?" Mata Elloist berkilat tajam. Momo lantas mengeluarkan proyektor ungu yang sebelumnya Elloist lihat, hingga terpampang jelas semua data para suami binatang Elloist lengkap dengan tingkat kebencian mereka. [Siapa yang mau Tuan rumah pilih?] tanya Momo sambil terbang mendekat. Sementara itu, Elloist justru tidak menjawab pertanyaan. Ia malah asyik membaca semua data di layar sambil berusaha memilih siapa yang akan ia taklukkan. "Alexander, Pangeran Naga Hitam. Tingkat kebencian 99,999%." Elloist menelan ludah gugup kala kembali teringat apa penyebab pria itu membencinya setengah mati. Ia berusaha memperkosa pejantan itu dengan cara merantainya serta memberikannya obat perangsang. Meskipun pada akhirnya gagal karena Alexander memilih melukai dirinya sendiri hingga membuat Elloist tidak tega meneruskan aksinya dan justru memerintahkan para pengawalnya membawa pria itu untuk diobati. Itu artinya, jika ia memilih Alexander, maka jawabannya adalah kematian. Elloist seketika bergidik ngeri. "Marcus, Jenderal Leopard. Tingkat kebencian 99,999%." Elloist seketika memucat. Kepalanya mendadak kusut. Ia kembali teringat jika sudah membuat Marcus kehilangan adik perempuannya yang terjatuh dari atas tebing kematian, beberapa hari yang lalu. "Thomas, Rubah ekor sembilan. Tingkat kebencian 98,90%." Darah semakin surut di wajah gadis itu, tatkala teringat jika sudah meledakkan perkampungan tempat Thomas berasal sekaligus menculiknya untuk dijadikan suami di masa lalu. Ia bahkan mengacak-acak rambutnya hingga berantakan, membuat penampilannya semakin terlihat mengerikan. "Arghhh! Apa tidak ada yang tingkat kebenciannya lebih rendah, gitu? Biar mudah aku taklukkan," tanyanya frustrasi sambil menatap Momo penuh permohonan. Momo berjengit. Namun, melihat sorot memelas yang Elloist berikan, membuatnya sedikit iba. [Baiklah! Mungkin Tuan rumah bisa mencoba menaklukkan Tabib Anand. Dia berasal dari Suku Rusa. Hanya Dia yang level kebenciannya paling rendah di antara yang lainnya] Mata Elloist berbinar. Ia merasa harapan kini muncul. "Berapa level kebenciannya?" [87%] Elloist seketika merasa peredaran darahnya kembali lancar, membuat wajahnya menjadi cerah kembali. Ia lantas menatap Momo penuh tekad. "Baiklah! Aku putuskan jika Tabib Anand yang akan menjadi targetku sekarang!" Elloist tersenyum puas dengan pemikirannya barusan. "Kalau begitu, aku mau mandi dulu agar acara penaklukan ini berhasil." Elloist lantas berbalik, berniat meninggalkan tempat itu. Namun, dari arah luar justru terdengar suara derap langkah seseorang mendekat, membuat langkahnya terhenti seketika. Disusul pintu depan terbuka lebar dan menampilkan sesosok prajurit datang dengan raut cemas yang tidak bisa ia sembunyikan dari balik topeng zirah yang ia kenakan. "Ada apa?!" tanya Elloist heran sekaligus merasa penasaran. Bukannya menjawab, prajurit itu justru bersujud. "Gawat, Yang Mulia!" serunya lantang. Namun, tubuhnya gemetar hebat. "Gawat kenapa?!" Perlahan sang prajurit mendongak, balas menatap Elloist ketakutan bercampur rasa cemas yang berlebihan. "Tuan Tabib —" suaranya bahkan bergetar. Sadar jika mungkin ini ada hubungannya dengan Anand, dan itu artinya pertanda buruk, Elloist lantas bersuara dengan lantang, "Kenapa dengan Dia?!" "Tuan Tabib hampir mati terbunuh di Tempat Lelang Andromeda, Yang Mulia. Karena Beliau menolak melayani Nyonya Celeste." "Apa?!"Beep ... beep ... beep ...Suara monoton dari mesin elektrokardiogram adalah hal pertama yang menyapa indera pendengaran Ellyn. Udara yang terhirup ke dalam paru-parunya tidak lagi berbau anyir darah atau belerang dari Hutan Kabut Asap, melainkan aroma antiseptik yang luar biasa steril dan dingin.Kelopak mata gadis itu bergetar pelan. Terasa sangat berat, seolah ia baru saja tertidur selama ratusan tahun. Dengan sisa tenaga yang ia miliki, Ellyn perlahan membuka matanya. Cahaya putih dari lampu neon di langit-langit ruangan langsung menyilaukan pandangannya, memaksanya mengerjap beberapa kali hingga matanya terbiasa.Dinding serba putih. Selang infus yang menancap di punggung tangannya. Dan selang oksigen yang menutupi hidung serta mulutnya."Aku ... aku kembali …,” bisik Ellyn di balik masker oksigennya. Suaranya terdengar sangat parau dan lemah. Tidak ada lagi keagungan suara Sang Dewi Kematian. Ia telah kembali menjadi Ellyn, seorang gadi
Tepat ketika bibir Pangeran Alexander nyaris menyapu bibir Elloist, dan gairah ketiga pria lainnya telah mencapai titik didih. Waktu di lorong bawah tanah itu mendadak membeku. Debu-debu yang berterbangan tertahan di udara. Gerakan Alexander, Marcus, Thomas, dan Anand terkunci statis layaknya patung-patung pualam bernapas.Pecahan portal dimensi biru yang sebelumnya hancur berkeping-keping, tiba-tiba menyatu kembali, berputar dengan pendaran yang jauh lebih tenang namun mengintimidasi.[Ding! Protokol Finalisasi Diaktifkan!]Momo muncul dari dalam portal, wajah peri kecil itu tak lagi memancarkan kepanikan, melainkan sebuah keseriusan yang mutlak.[Tuan Rumah, sistem memohon maaf atas interupsi ini,] ucap Momo dengan nada formal.[Pilihan yang Tuan Rumah buat di saat emosi tidak stabil berpotensi merusak matriks jiwa. Oleh karena itu, otoritas kosmik memberikan masa tenggang. Tuan Rumah memiliki waktu tepat hingga fajar menyingsing e
Cahaya biru dari portal dimensi itu berputar pelan, memancarkan hawa dingin yang sangat kontras dengan udara lembab di lorong bawah tanah istana. Di dalam pusaran transparan tersebut, Elloist bisa melihat dengan jelas rupa dunia asalnya. Ia bisa mencium bau antiseptik yang steril dari ruang ICU. Ia bisa mendengar bunyi mesin EKG yang konstan. Dan ia bisa melihat sosok pria berkemeja kusut yang menangis sambil menggenggam tangannya di bumi, pria yang entah bagaimana terasa familiar, namun ingatan tentangnya telah lama tertimbun oleh kerasnya kehidupan sebagai budak korporat. [Tiga puluh detik, Tuan Rumah!] Peringatan Momo menggema, memecah lamunan sang Putri Mahkota. Peri sistem itu menunjuk ke arah portal dengan wajah tegang. [Ini adalah kesempatan tunggal! Begitu Anda melangkah masuk, Anda akan terbangun sebagai triliuner. Bebas dari monster, bebas dari sihir, bebas dari ancaman kematian!]
Lorong rahasia bawah tanah peninggalan raja-raja terdahulu itu terasa luar biasa lembab, gelap, dan berbau lumut busuk. Di sepanjang lorong yang sempit tersebut, gaun zamrud mewah milik Putri Ariesta tak lagi terlihat anggun. Kain sutra itu robek, kotor oleh lumpur, dan ujungnya terseret genangan air kotor. Napas wanita bersuku ular itu menderu kasar, bergema memantul di dinding-dinding batu yang mengurungnya.Kepanikan telah merenggut seluruh kewarasannya. Ratu yang baru beberapa menit lalu menobatkan dirinya sendiri itu, kini lari terbirit-birit layaknya tikus got yang diburu predator."Sedikit lagi ... aku hanya perlu mencapai pintu keluar di ujung lorong ini," gumam Ariesta dengan bibir pucat dan gemetar. "Aku masih memiliki sekutu di faksi selatan! Jika aku berhasil kabur, aku akan mengumpulkan pasukan bayaran dan menghancurkan pelacur itu!"Namun, ambisi kotor yang mengakar di kepala Ariesta dihancurkan tepat pada detik ia menginjakkan kakinya d
Asap beracun berwarna hijau pekat yang ditinggalkan oleh Putri Ariesta akhirnya benar-benar tersapu bersih dari Aula Tahta Kerajaan Moon.Bau anyir darah dari ratusan mayat pengkhianat masih menggenang pekat, namun keheningan yang kini menyelimuti ruangan raksasa tersebut membawa satu kepastian absolut.Kudeta berdarah faksi utara telah ditumpas habis hingga ke akarnya.Di depan undakan singgasana emas yang kosong, bahu Putri Elloist perlahan merosot. Pendaran galaksi pelangi dan biru kristal di sudut matanya berkedip redup, sebelum akhirnya menghilang sepenuhnya.Pedang Biru Ilusi di tangannya melebur menjadi partikel debu cahaya yang beterbangan ke udara. Adrenalin yang sejak tadi menopang tubuhnya selama pertempuran brutal dari dasar Jurang Dunia Hampa hingga ke ruang pengadilan ini akhirnya menguap tak bersisa.Rasa lelah yang luar biasa masif, setara dengan tertimpa reruntuhan gunung. Seketika menghantam seluruh persendian sang
Mata memanjang Putri Ariesta membelalak lebar hingga nyaris robek. Tangan wanita bersuku ular itu bergetar hebat, menunjuk ke arah Elloist dengan kuku-kuku runcingnya yang memucat. "B-Bagaimana mungkin..." desis Ariesta, suaranya pecah oleh ketidakpercayaan. "Kau seharusnya sudah mati membusuk di dasar Jurang Dunia Hampa! Tidak ada yang bisa selamat dari sana! Ini pasti ilusi! Kalian semua hanyalah bayangan kosong!" Elloist melangkah maju satu langkah. Ketukan hak sepatunya di atas lantai pualam terdengar seperti detakan jam kematian yang menggema di seluruh ruangan. Pedang Biru Ilusi di tangannya berderak nyaring oleh perpaduan api hitam dan petir zamrud. "Ilusi?" Elloist menyunggingkan senyum miring yang luar biasa dingin, sebuah ekspresi yang seolah meniru kelicikan Thomas namun dipadukan dengan keanggunan seorang ratu. "Mengapa kau tidak turun dari tahtaku yang kau kotori itu, merangkak kemari, dan menyentuh pedangku untuk memastikan apak
'Apa aku benar-benar tidak bisa menyelamatkan suamiku sendiri?' Elloist semakin frustrasi. Ia tanpa ssadar mengacak-acak rambutnya. Sementara itu, Nyonya Celeste justru berjalan ke arah Tabib Anand, meraih ujung rantai yang terhubung pada lehernya, lalu menariknya sedikit kuat hingga pria itu t
Nyonya Celeste terpana sebentar, sebelum menyunggingkan senyum culas. "Well! Well! Well! Aku pikir siapa yang datang mengganggu—" Ia perlahan menoleh ke samping, membuat seorang pelayan wanita mendekat dan memberikan sebuah sapu tangan. "Ternyata sang putri buangan," hinanya pedas. Nyonya
"Apa?!" pekik Elloist keras. "Benar, Yang Mulia," sahut pengawal itu terbata-bata sambil menatap ke arah Elloist dengan sorot takut. Ia bahkan berusaha keras menahan tangis. Bagaimanapun juga ia merasa berhutang budi pada sang tabib yang telah menyelamatkan nyawa putrinya di masa lalu. "Kok
Elloist Ellianore, putri tunggal dari Raja Edward Ellianore, adalah sosok betina bangsawan di kerajaan antar binatang di planet Moon. Planet Moon adalah sebuah planet binatang, di mana semua wanita memiliki kedudukan yang tinggi karena dianggap sebagai jelmaan para Dewi karena memiliki kekuatan me







