Share

4

Penulis: Fatmah Azzahra
last update Tanggal publikasi: 2026-06-03 22:52:29

"Apa?!" pekik Elloist keras.

"Benar, Yang Mulia," sahut pengawal itu terbata-bata sambil menatap ke arah Elloist dengan sorot takut.

Ia bahkan berusaha keras menahan tangis. Bagaimanapun juga ia merasa berhutang budi pada sang tabib yang telah menyelamatkan nyawa putrinya di masa lalu.

"Kok bisa?" tanya Elloist dengan bibir bergetar, tidak percaya dengan apa yang ia dengar.

Matanya bergerak liar, berusaha mengingat alasan kenapa hal ini bisa terjadi, dan tatkala ia teringat penyebab kenapa sang suami berada di sana, yang tak lain dan tak bukan adalah ulah sang pemilik tubuh asli yang menjual pria itu berkat hasutan dari Ivander, dirinya tercekat dengan mata terbelalak lebar.

Elloist bergegas kembali menatap sang pengawal dengan sorot tajam, membuat pria itu semakin gemetar.

Elloist memang betina level terendah, tapi kekuatan yang mendukung semua tingkahnya adalah level tertinggi sehingga tidak ada yang berani melawannya.

"Pengawal! Segera siapkan kereta kuda milikku! Eh, bukan! Antar aku ke Camp Pangeran Alexander!"

Elloist menarik napas dalam-dalam, dan menghembuskan nya dalam satu kali helaan napas panjang.

"Aku ingin memakai kuda milik Pangeran Alexander! Aku akan menggunakannya untuk pergi ke pelelangan guna menyelamatkan Tabib Anand!" titah Elloist tegas.

Untuk pertama kalinya membuat sang pengawal terpana, tidak menyangka jika akan melihat sang putri mahkota bertindak tidak seperti biasanya.

Saat tersadar dari keterpanaannya. Pengawal itu bergegas menyahut dengan tegas juga memberikan tanda penghormatan khas militer, "Siap, Yang Mulia!"

Ia lantas berbalik dan berlari cepat ke arah pintu keluar guna mengerjakan tugas.

Sementara itu, Elloist kembali membuka mulut, "Pengawal!" panggilnya dengan keras pada para penjaga yang berjaga di luar ruangan.

Tak lama berselang, dua orang pengawal datang dan memberikan salam penghormatan. "Siap, Yang Mulia!"

"Bawa dan penjarakan pejantan hina ini di penjara bawah tanah. Tuduhannya karena berusaha membunuh putri mahkota," titah Elloist dengan suara berdesis yang sarat akan kebencian.

"Baik, Yang Mulia!" sahut keduanya patuh. Lantas bergegas membawa Ivander yang masih jatuh pingsan pergi dari sana.

Sementara itu, Elloist lantas berbalik, membersihkan tubuh secara kilat dan berpakaian sesederhana mungkin guna menghemat waktu agar bisa segera pergi guna melakukan misi penyelamatan.

***

Sementara itu, di tempat pelelangan.

Plak!

Ctar! Ctar!

Suara tamparan dan cambukan bertubi-tubi dilayangkan pada tubuh seorang pejantan berwajah tampan yang hanya memiliki sebelah tanduk rusa.

Kedua tangannya yang terikat rantai yang terpancang pada dua buah palang kayu terlihat penuh luka menganga yang mengeluarkan darah segar.

Begitupula bagian punggung, penuh luka menganga bekas cambukan, berdarah, juga wajah memerah bekas tamparan dengan cap tangan terlihat jelas, bibir pecah, juga sedikit memar di bawah mata sebelah kiri.

Bajunya bahkan sudah tertanggal entah sejak kapan, menyisakan celana panjang kulit warna hitam yang tersisa selutut, juga kedua kaki telanjang yang berjejak di atas pasir.

Ia menatap sosok wanita berpenampilan glamour khas bangsawan dengan bibir merah merona yang sedang memegang cambuk di tangan kanan dengan sorot menantang. Namun, tiada sepatah katapun terucap meskipun dirinya ingin sekali memaki-maki.

Hanya gigi saling beradu sebagai pertanda betapa dirinya membenci keadaan ini.

Sementara itu, sosok si nyonya bangsawan merasa semakin marah saat melihat sorot mata yang Anand berikan. "Berani sekali kamu menatapku seperti itu?! Apa kamu lupa jika kamu sudah dijual oleh Putri Elloist padaku?!"

'Aku tahu,' batin Tabib Anand sendu. Sadar jika dirinya sudah di buang layaknya sampah.

Kesetiaannya selama ini tidak sebanding dengan satu patah kata penuh rayuan yang Ivander berikan di mata Sang Putri.

Mata Tabib Anand Terlihat sedih. Namun, hanya sebentar karena setelahnya ia justru kembali menatap ke arah sang Nyonya, memberikan sorot benci pada wanita itu.

Melihat tatapan yang Tabib Anand berikan, membuat Nyonya Celeste semakin murka.

"Sepertinya pengajaran yang aku berikan belum cukup untuk membuatmu patuh!"

Ia lantas kembali mengayunkan tangan ke atas. Berniat mencambuk pria itu kkembali

"Baik. Aku akan mengajarimu sekarang agar patuh!" makinya kembali.

'Mungkin ini akhir kisah hidupku,' batin Tabib Anand kembali sambil memejamkan mata, pasrah.

Namun, baru saja cambuk terayun ke udara, sebuah panah telah lebih dulu melesat, menabrak gagang cambuk dan membawanya melesat kuat ke arah dinding belakang hingga tertancap kuat di sana.

Sekaligus menggores punggung tangan Nyonya Celeste, membuat wanita itu terpekik keras sambil memegangi tangannya yang berdarah.

"Kurang ajar! Siapa yang berani—"

Ia berbalik dan terkejut saat melihat siapa yang datang mengendarai seekor kuda hitam dengan pelana bergambar logo naga yang siapapun tahu, itu milik siapa?

***

Beberapa saat sebelumnya di camp militer milik Pangeran Alexander.

"Pinjamkan aku kuda milikmu!" titah Elloist pada Alexander yang kini berdiri membelakangi nya.

Meskipun merasa enggan menjawab. Namun, rasa penasaran membuatnya membuka suara, meskipun yang keluar justru nada ketus nan dingin, "Untuk apa?"

"Aku ingin menyelamatkan Anand!"

Pangeran Alexander mengerutkan kening, tidak menyangka jika akan mendengar ucapan tidak masuk akal itu keluar dari mulut wanita jahat di belakangnya.

Bahkan wanita itu berani sekali mengganggu jalannya rapat internal dengan para petinggi kemiliteran, tentang masalah pemberontakan yang terjadi di wilayah Selatan.

Tepatnya di Desa Kabut Asap, dengan datang secara tiba-tiba dan memaksanya berbincang empat mata.

Pria itu lantas berbalik, menatap Elloist dengan sorot datar, yang entah kenapa di matanya wajah gadis itu terlihat sedikit lebih bersih, meskipun tumpukan lemak masih betah bertahan di sekujur tubuhnya.

Akan tetapi, bau busuk yang selalu menguar setiap kali berdekatan, kini justru berkurang drastis.

Hanya samar aroma keringat bercampur aroma debu dan matahari, serta samar aroma sabun menguar dari tubuhnya.

Pangeran Alexander merasa sedikit tertarik.

"Kenapa? Bukankah bagi Yang Mulia kami berempat tidaklah penting seperti Kelinci kesayanganmu itu?" ejeknya, berusaha tidak terdengar seperti seorang suami pencemburu.

Elloist sedikit mengeluarkan cengiran lebar, sadar betapa banyaknya masalah yang sudah dibuat oleh sang pemilik tubuh asli dan dia yang kini harus membereskan semuanya.

Gadis itu perlahan mendekat, membuat Pangeran Alexander melangkah mundur. Sadar jika pria itu enggan berdekatan, Elloist lantas menghentikan langkah.

Ia menautkan kedua tangan di depan perut, berusaha memilih kata-kata yang pantas. "Aku bersungguh-sungguh!"

Pangeran Alexander menatapnya dengan sorot semakin tertarik. "Bagaimana jika ternyata kamu berbohong? Bukankah itu salah satu kepandaianmu?" Namun, suaranya sarat akan penghinaan.

Wajah Elloist seketika merah padam. Kesal. Namun, apa yang Sang Pangeran katakan benar adanya. Ia lantas berdecak kecil.

"Anggap aku sekarang sudah menyadari semua kesalahanku dan di sini aku sedang berusaha memperbaikinya. Jadi, aku mohon padamu, Pangeran Alexander. Tolong pinjamkan Si Black untukku," pinta Elloist dengan tulus.

Pangeran Alexander yang semula tengah menyusun semua kata-kata pedas yang akan ia lontarkan selanjutnya, jika sang istri tidak diakui di depannya ini berniat melakukan taktik aneh kembali seperti yang sudah-sudah, seketika bungkam.

Ia benar-benar tidak percaya akan mendengar ucapan penuh permohonan dari wanita terangkuh di dunia ini.

Mata pria itu bahkan terbelalak beberapa saat, sebelum kembali memberikan sorot datar pada sang istri.

"Apa buktinya jika kamu benar-benar akan menyelamatkannya?"

Elloist terdiam sesaat, sebelum kemudian melakukan hal tidak terduga. Ia membuka cravat luar yang ia kenakan, membuat sang suami bergegas mengarahkan tangannya pada gagang pedang, khawatir wanita itu kembali berulah.

Namun, apa yang ia sangka justru tidak terjadi.

Elloist justru mendekat sambil mengeluarkan kotak kaca kecil transparan berisi sebuah batu berukuran sedang, berwarna ungu kehitaman yang Pangeran Alexander kenali dengan betul itu apa.

"Apa maksud—"

"Inilah bukti kesungguhan ku! Batu Jiwa Sang Naga milikmu, aku kembalikan!" potong Elloist cepat sambil meraih tangan sang suami, lalu meletakkan kotak tersebut dengan tatapan penuh tekad.

Elloist perlahan mundur selangkah. Senyum manisnya tersungging tipis. "Jadi, Pangeran bersedia meminjamkan Black padaku, bukan?"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (13)
goodnovel comment avatar
Muji Lestari
Alexander mulai tertarik dengan putri nih yg biasa penuh dengan aura kebencinan PD putri sekarang sedikit berubah
goodnovel comment avatar
Muji Lestari
ayo Alexander pinjamkan pada putri biar tidak terlambat menyelamatkan anand
goodnovel comment avatar
eany ajjach
semoga niat baik el membuahkan hasil
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • (Bukan) Putri Buruk Rupa Menaklukkan 4 Suami Penguasa   95

    Di dalam dimensi Cermin Ketakutan Absolut, udara yang tadinya dipenuhi bau anyir darah dan keputusasaan perlahan mulai bergetar.Tabib Anand berdiri tegak. Dada bidang pria bersuku rusa itu mengembang, membusungkan tekad yang telah dibakar kembali oleh kehangatan Bulu Emas Phoenix di balik jubahnya.Ketakutan akan amnesia sang istri, ketakutan akan hilangnya kekuatan sukunya, semuanya ia telan bulat-bulat."Kau pikir bisa melawan takdirmu, Rusa Lemah?" ejek Malazir, iblis bertopeng tengkorak bermata biru es itu melayang mendekat.Tongkat tulangnya diayunkan, bersiap menghancurkan sisa-sisa akal sehat Anand. "Jiwamu sudah hancur! Menyerahlah pada kegilaan!"Namun, Tabib Anand tidak menjawab dengan kata-kata. Pria berparas lembut itu memejamkan kedua matanya, memusatkan seluruh sisa mana suci di intisari jiwanya.Bibir sang tabib perlahan terbuka, dan sebuah nada tunggal mengalun membelah dimensi kutukan tersebut.

  • (Bukan) Putri Buruk Rupa Menaklukkan 4 Suami Penguasa   94

    Tawa melengking Malazir menggema, memantul di dinding-dinding ilusi yang berlumuran darah. Di dalam dimensi Cermin Ketakutan Absolut tersebut, Tabib Anand jatuh berlutut hingga lututnya menghantam lantai batu yang dingin. Tangannya meremas rambut cokelat keemasannya sendiri, tubuhnya gemetar hebat menahan hantaman visual yang merobek-robek kewarasannya. Mayat Pangeran Alexander dan Jenderal Marcus tergeletak hancur di sudut ruangan. Sementara di atas ranjang yang terbakar, sosok Putri Elloist memuntahkan darah hitam, mengutuk kelalaian Anand dengan suara yang menyerupai bisikan iblis dari dasar neraka. "Ini salahmu ... Kau membunuh kami semua, Anand ..." racau ilusi Elloist, wajahnya yang pucat pasi memancarkan kekecewaan yang luar biasa dalam. Bagi pria berhati lembut seperti Anand, dituduh sebagai penyebab kematian orang-orang yang ia cintai adalah sebuah siksaan yang lebih kejam daripada dikuliti hidup-hidup. Air mata m

  • (Bukan) Putri Buruk Rupa Menaklukkan 4 Suami Penguasa   93

    Cengkeraman tulang belulang berlapis bayangan itu mencekik leher Tabib Anand dengan kekuatan yang tak masuk akal. Udara di tenggorokan pria bersuku rusa itu terputus seketika. Tubuhnya yang terbalut jubah medis terangkat perlahan ke udara, ditarik menjauhi altar tengkorak tempat ia baru saja berhasil menggenggam Bulu Emas dan Bulu Merah Phoenix."Ukh ... a-akh!" Anand meronta. Kedua tangannya yang masih mendekap erat dua helai bulu suci itu berusaha menggapai dan mencongkel jari-jari kerangka yang mencekiknya.Hawa dingin yang menusuk tulang rusuknya membuat pandangan Anand mulai berkunang-kunang. Ia mendongak dengan susah payah, menatap wajah di balik topeng tengkorak bertanduk domba tersebut. Sepasang rongga mata itu menyala terang. Namun, ada sesuatu yang ganjil. Api yang menyala di rongga mata makhluk ini bukanlah berwarna hijau zamrud seperti Malakor yang ia lihat di ruang depan, melainkan berwarna biru es yang memancarkan kekosongan absolut.

  • (Bukan) Putri Buruk Rupa Menaklukkan 4 Suami Penguasa   92

    Lorong batu yang gelap dan sempit itu seolah menelan Tabib Anand hidup-hidup. Bau anyir darah, lumut busuk, dan miasma ketiadaan menyumbat paru-parunya pada setiap tarikan napas.Di belakangnya, gema ledakan api hitam Pangeran Alexander dan raungan beringas Jenderal Marcus terdengar semakin samar, teredam oleh ketebalan dinding labirin yang terus bergeser secara mekanis.Rasa bersalah yang luar biasa masif mencengkeram dada Anand. Meninggalkan dua panglima perang yang tengah mempertaruhkan nyawa untuk menjadi perisai daging baginya adalah sebuah pengkhianatan terhadap solidaritas mereka.Logikanya berteriak menyuruhnya kembali, merapal perisai, dan bertarung hingga tetes darah terakhir. Namun, langkah kakinya justru terus bergerak maju, mengikuti pendaran cahaya biru pucat dari arwah Rion yang melayang beberapa jengkal di depannya.Anand sendiri tidak mengerti mengapa ia bersedia mengikuti roh anak kecil ini. Mungkin karena instingnya se

  • (Bukan) Putri Buruk Rupa Menaklukkan 4 Suami Penguasa   91

    Hembusan angin beracun yang menyapu ruang bundar di pusat labirin itu seketika menjelma menjadi arena pembantaian yang memekakkan telinga.Deklarasi perang dari Pangeran Alexander dan Jenderal Marcus tidak sekadar menjadi ancaman kosong.Kedua panglima perang terkuat Kerajaan Moon itu melesat maju secara bersamaan, membelah udara mematikan dengan kecepatan yang melampaui kedipan mata."Mati kau, Tulang Rongsokan!" raung Marcus beringas. Sang Leopard Buas melompat tinggi ke udara, menukik tajam dengan ayunan cakar zamrud yang memancarkan aura pemotong baja.Di saat yang sama, Alexander meluncur dari arah bawah. Pedang obsidiannya yang berkobar oleh api naga hitam pekat menyapu lantai, menciptakan gelombang sabit api yang siap membelah wujud arwah raksasa itu menjadi dua bagian.Serangan kombinasi dari udara dan darat itu sangat sempurna, sebuah manuver mematikan yang biasanya sanggup meruntuhkan satu batalion pasukan elit hanya d

  • (Bukan) Putri Buruk Rupa Menaklukkan 4 Suami Penguasa   90

    Guncangan hebat yang merobek fondasi kuil bawah tanah itu terasa seolah bumi tengah memuntahkan isi perutnya.Rune-rune kuno yang terukir di lantai batu kini menyala dengan warna merah darah yang menyilaukan, memancarkan hawa panas yang membakar oksigen.Di tengah kekacauan tersebut, kantung sutra berisi Bulu Emas Phoenix, kunci satu-satunya untuk menyelamatkan Elloist, kembali terlempar jauh, berguling menembus celah lantai yang retak dan menghilang dari pandangan."TIDAK! BULU ITU!" jerit Tabib Anand histeris, berusaha menerjang maju.Namun, sebelum Anand sanggup mengambil satu langkah pun, sebuah ledakan miasma yang luar biasa pekat meledak tepat dari pusat ruangan.Asap hitam pekat itu berputar layaknya angin tornado, menelan arwah Rion yang tengah menjerit kesakitan akibat rantai kutukan yang menarik dadanya ke udara.Suhu di dalam ruang bundar itu anjlok drastis hingga melampaui titik beku. Pangeran Alexander dan

  • (Bukan) Putri Buruk Rupa Menaklukkan 4 Suami Penguasa   6

    'Apa aku benar-benar tidak bisa menyelamatkan suamiku sendiri?' Elloist semakin frustrasi. Ia tanpa ssadar mengacak-acak rambutnya. Sementara itu, Nyonya Celeste justru berjalan ke arah Tabib Anand, meraih ujung rantai yang terhubung pada lehernya, lalu menariknya sedikit kuat hingga pria itu t

  • (Bukan) Putri Buruk Rupa Menaklukkan 4 Suami Penguasa   5

    Nyonya Celeste terpana sebentar, sebelum menyunggingkan senyum culas. "Well! Well! Well! Aku pikir siapa yang datang mengganggu—" Ia perlahan menoleh ke samping, membuat seorang pelayan wanita mendekat dan memberikan sebuah sapu tangan. "Ternyata sang putri buangan," hinanya pedas. Nyonya

  • (Bukan) Putri Buruk Rupa Menaklukkan 4 Suami Penguasa   3

    Elloist menangis tersedu-sedu. Penampakan yang ia pikir sebelumnya adalah hantu, ternyata wajahnya sendiri. Bertepatan dengan itu, Momo kembali muncul, terbang berputar-putar mengelilingi kepala Elloist hingga debu perak sekilas terlihat berterbangan mengikutinya. [Tuan rumah jangan bersedih!

  • (Bukan) Putri Buruk Rupa Menaklukkan 4 Suami Penguasa   1

    "Ugh ... sakit sekali kepalaku." Sambil memegangi kepalanya yang terus berdenyut, Ellyn membuka matanya perlahan. Tadi, karena terlalu kesal melihat Putri Elloist, tokoh protagonis di drama yang ia tonton, mati begitu saja di tangan pangeran Ivander karena kebodohannya sendiri, Ellyn melempar gel

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status