تسجيل الدخولLedakan cahaya yang memancar dari tubuh Putri Elloist di dasar Jurang Dunia Hampa benar-benar melampaui nalar alam semesta.Gelombang energi perpaduan antara keemasan suci dan perak kebiruan itu menyapu bersih miasma pekat di sekelilingnya, menciptakan sebuah domain murni di tengah neraka ketiadaan.Jutaan entitas Orb yang sebelumnya merayap dan menghisap darah sang Putri Mahkota, kini menjerit tanpa suara.Mereka terpental mundur, tak sanggup menyentuh aura absolut yang kini membakar setiap inci kegelapan di ruang singgasana obsidian tersebut.Di atas tahta sedingin es, Elloist perlahan bangkit berdiri. Rasa sakit yang sebelumnya merobek-robek kewarasan dan dagingnya kini menguap tak bersisa. Tubuhnya terasa seringan kapas, namun menyimpan daya hancur yang luar biasa masif.Gadis itu menyentuh sudut matanya yang terasa hangat. Tepat di sebelah goresan cahaya keemasan yang melambangkan Kekuatan Penyembuh Level SSS, kini muncul s
Di dalam dimensi Cermin Ketakutan Absolut, udara yang tadinya dipenuhi bau anyir darah dan keputusasaan perlahan mulai bergetar.Tabib Anand berdiri tegak. Dada bidang pria bersuku rusa itu mengembang, membusungkan tekad yang telah dibakar kembali oleh kehangatan Bulu Emas Phoenix di balik jubahnya.Ketakutan akan amnesia sang istri, ketakutan akan hilangnya kekuatan sukunya, semuanya ia telan bulat-bulat."Kau pikir bisa melawan takdirmu, Rusa Lemah?" ejek Malazir, iblis bertopeng tengkorak bermata biru es itu melayang mendekat.Tongkat tulangnya diayunkan, bersiap menghancurkan sisa-sisa akal sehat Anand. "Jiwamu sudah hancur! Menyerahlah pada kegilaan!"Namun, Tabib Anand tidak menjawab dengan kata-kata. Pria berparas lembut itu memejamkan kedua matanya, memusatkan seluruh sisa mana suci di intisari jiwanya.Bibir sang tabib perlahan terbuka, dan sebuah nada tunggal mengalun membelah dimensi kutukan tersebut.
Tawa melengking Malazir menggema, memantul di dinding-dinding ilusi yang berlumuran darah. Di dalam dimensi Cermin Ketakutan Absolut tersebut, Tabib Anand jatuh berlutut hingga lututnya menghantam lantai batu yang dingin. Tangannya meremas rambut cokelat keemasannya sendiri, tubuhnya gemetar hebat menahan hantaman visual yang merobek-robek kewarasannya. Mayat Pangeran Alexander dan Jenderal Marcus tergeletak hancur di sudut ruangan. Sementara di atas ranjang yang terbakar, sosok Putri Elloist memuntahkan darah hitam, mengutuk kelalaian Anand dengan suara yang menyerupai bisikan iblis dari dasar neraka. "Ini salahmu ... Kau membunuh kami semua, Anand ..." racau ilusi Elloist, wajahnya yang pucat pasi memancarkan kekecewaan yang luar biasa dalam. Bagi pria berhati lembut seperti Anand, dituduh sebagai penyebab kematian orang-orang yang ia cintai adalah sebuah siksaan yang lebih kejam daripada dikuliti hidup-hidup. Air mata m
Cengkeraman tulang belulang berlapis bayangan itu mencekik leher Tabib Anand dengan kekuatan yang tak masuk akal. Udara di tenggorokan pria bersuku rusa itu terputus seketika. Tubuhnya yang terbalut jubah medis terangkat perlahan ke udara, ditarik menjauhi altar tengkorak tempat ia baru saja berhasil menggenggam Bulu Emas dan Bulu Merah Phoenix."Ukh ... a-akh!" Anand meronta. Kedua tangannya yang masih mendekap erat dua helai bulu suci itu berusaha menggapai dan mencongkel jari-jari kerangka yang mencekiknya.Hawa dingin yang menusuk tulang rusuknya membuat pandangan Anand mulai berkunang-kunang. Ia mendongak dengan susah payah, menatap wajah di balik topeng tengkorak bertanduk domba tersebut. Sepasang rongga mata itu menyala terang. Namun, ada sesuatu yang ganjil. Api yang menyala di rongga mata makhluk ini bukanlah berwarna hijau zamrud seperti Malakor yang ia lihat di ruang depan, melainkan berwarna biru es yang memancarkan kekosongan absolut.
Lorong batu yang gelap dan sempit itu seolah menelan Tabib Anand hidup-hidup. Bau anyir darah, lumut busuk, dan miasma ketiadaan menyumbat paru-parunya pada setiap tarikan napas.Di belakangnya, gema ledakan api hitam Pangeran Alexander dan raungan beringas Jenderal Marcus terdengar semakin samar, teredam oleh ketebalan dinding labirin yang terus bergeser secara mekanis.Rasa bersalah yang luar biasa masif mencengkeram dada Anand. Meninggalkan dua panglima perang yang tengah mempertaruhkan nyawa untuk menjadi perisai daging baginya adalah sebuah pengkhianatan terhadap solidaritas mereka.Logikanya berteriak menyuruhnya kembali, merapal perisai, dan bertarung hingga tetes darah terakhir. Namun, langkah kakinya justru terus bergerak maju, mengikuti pendaran cahaya biru pucat dari arwah Rion yang melayang beberapa jengkal di depannya.Anand sendiri tidak mengerti mengapa ia bersedia mengikuti roh anak kecil ini. Mungkin karena instingnya se
Hembusan angin beracun yang menyapu ruang bundar di pusat labirin itu seketika menjelma menjadi arena pembantaian yang memekakkan telinga.Deklarasi perang dari Pangeran Alexander dan Jenderal Marcus tidak sekadar menjadi ancaman kosong.Kedua panglima perang terkuat Kerajaan Moon itu melesat maju secara bersamaan, membelah udara mematikan dengan kecepatan yang melampaui kedipan mata."Mati kau, Tulang Rongsokan!" raung Marcus beringas. Sang Leopard Buas melompat tinggi ke udara, menukik tajam dengan ayunan cakar zamrud yang memancarkan aura pemotong baja.Di saat yang sama, Alexander meluncur dari arah bawah. Pedang obsidiannya yang berkobar oleh api naga hitam pekat menyapu lantai, menciptakan gelombang sabit api yang siap membelah wujud arwah raksasa itu menjadi dua bagian.Serangan kombinasi dari udara dan darat itu sangat sempurna, sebuah manuver mematikan yang biasanya sanggup meruntuhkan satu batalion pasukan elit hanya d
'Apa aku benar-benar tidak bisa menyelamatkan suamiku sendiri?' Elloist semakin frustrasi. Ia tanpa ssadar mengacak-acak rambutnya. Sementara itu, Nyonya Celeste justru berjalan ke arah Tabib Anand, meraih ujung rantai yang terhubung pada lehernya, lalu menariknya sedikit kuat hingga pria itu t
Nyonya Celeste terpana sebentar, sebelum menyunggingkan senyum culas. "Well! Well! Well! Aku pikir siapa yang datang mengganggu—" Ia perlahan menoleh ke samping, membuat seorang pelayan wanita mendekat dan memberikan sebuah sapu tangan. "Ternyata sang putri buangan," hinanya pedas. Nyonya
"Apa?!" pekik Elloist keras. "Benar, Yang Mulia," sahut pengawal itu terbata-bata sambil menatap ke arah Elloist dengan sorot takut. Ia bahkan berusaha keras menahan tangis. Bagaimanapun juga ia merasa berhutang budi pada sang tabib yang telah menyelamatkan nyawa putrinya di masa lalu. "Kok
Elloist menangis tersedu-sedu. Penampakan yang ia pikir sebelumnya adalah hantu, ternyata wajahnya sendiri. Bertepatan dengan itu, Momo kembali muncul, terbang berputar-putar mengelilingi kepala Elloist hingga debu perak sekilas terlihat berterbangan mengikutinya. [Tuan rumah jangan bersedih!







